Master Of World

Master Of World
Tipuan


__ADS_3

Biji tanaman yang ditinggalkan dengan sedikit energi olehnya. Penyebabnya? Tentu saja sedikit bagian biji yang sempat retak akibat giginya.


Tunas kecil yang tubuh perlahan. Benar-benar kecil, hingga perlahan membesar menjadi pohon yang cukup tinggi. Kala tahun demi tahun berlalu, sebatang pohon yang tidak pernah rubuh apapun yang terjadi.


Beberapa anak-anak manusia bermain didekatnya. Memakan buah-buahan yang dihasilkan olehnya. Tapi apa sebatang pohon akan memiliki hati? Mungkin hanya memiliki kesadaran roh yang pasif, selebihnya tidak memiliki hati atau apapun.


*


Tempat seperti apa sejatinya neraka? Jika mengatakan tempat yang dipenuhi dengan hawa jahat, tentu saja itu benar.


Seperti yang ada di dunia manusia modern, jika mendengar penjara maka tempat mengerikan dengan banyak penjahat yang terbayang. Begitu juga dengan neraka, yang jutaan kali lipat lebih mengerikan dari penjara yang hanya dijaga oleh sipir.


Tempat ini dijaga oleh penghuni-penghuninya berupa monster dan iblis. Tujuan mereka, menyiksa roh manusia kemudian membangkitkannya kembali. Lalu kemudian kembali disiksa hingga hutang perbuatan buruk mereka berakhir.


Lalu apa yang dilakukan raja neraka dengan putranya? Tentu saja mendidiknya dengan baik."Jangan berikan belas kasih! Apa mereka punya belas kasih saat membunuh!" perintah sang ayah yang memiliki pupil mata merah.


Arata mengangguk, pemuda yang berdiri diatas kereta kencana. yang ditarik menggunakan tali yang dikaitkan pada kulit 10 roh manusia.


Splas!


Suara cambuk berduri terdengar, membuat roh-roh ini merintih kesakitan. Itulah suku iblis, dapat tersenyum bagaikan tidak memiliki hati. Tapi memang apa yang diharapkan dari tempat penghukuman?


Terkadang rasa bosan menghinggapi hatinya. Diusia yang begitu muda, selain keterampilan, ayahnya menyuguhkan bergulung-gulung pekerjaan yang seharusnya dilakukan sang ayah.


"Mari kita lihat, namamu Imoera, terlibat dalam perang kerajaan. Membunuh 24 orang secara berantai, bahkan mengubur potongan mayat mereka tanpa sedikitpun mendoakan atau minta maaf. Begitu?" tanya Arata, seorang anak yang tengah memakai pakaian ayahnya yang kebesaran.


Roh manusia itu tertegun."Raja neraka semuda ini?" tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


"Aku sedang mengalami eksploitasi anak. Hukum dia! Tidak perlu memberi ampunan, goreng 3400 hari! Beri garam! Kemudian kubur dibawah lapisan salju selama 4 tahun. Berikutnya!" Perintah Arata, kembali membenarkan letak posisi mahkota ayahnya yang kebesaran.


Tapi inilah kenyataannya, memiliki putra yang jenius. Sang ayah harus bersantai bukan? Tidak menyadari masalah akan terjadi kala anaknya remaja nanti. Pria sombong dengan pemikiran gila tidak masuk akalnya seperti itulah Arata akan tumbuh.


Tapi bagaimana Arata dapat bersinggungan dengan alam atas hingga nyawanya terancam? Ada alasan tertentu, namun awal perdebatan dengan alam atas telah dijelaskan.


*


Kembali pada saat ini.


Mengembalikan kemampuannya adalah prioritas Enkai. Dirinya sudah biasa dihajar oleh ayahnya. Tentunya itu untuk meningkatkan kemampuannya dengan cepat di usia remajanya. Semakin terpojok maka potensi tidak terbatasnya akan semakin terasah.


Betapa kejamnya ayahnya, itulah yang ada di otak Enkai saat ini. Tapi apa boleh buat, pada akhirnya dirinya memasuki hutan tanpa perbekalan apapun. Namun ada yang aneh, dua orang berjalan mengikutinya.


"Kenapa kalian ikut!?" tanya Enkai mengenyitkan keningnya menatap ke arah Kairi dan Arashi.


"Kami setia kawan!" Kairi yang ketakutan tetap berlari mengikuti Enkai dengan bawang putih sebagai kalungnya dan kayu yang diikatnya membentuk tanda salib.


Wajah Enkai tersenyum, setidaknya menjadi anak angkat keluarga Zen tidak buruk juga. Dirinya dapat memiliki teman. Sesuatu yang lumayan sulit dimilikinya di neraka.


Langkah demi langkah, banyak peserta lain yang memilih jalan memutar. Namun ada juga yang terbang. Dan bisa ditebak untuk peserta yang terbang. Anak panah melesat menusuk tubuh mereka.


Kairi menelan ludahnya. Monster dengan level yang begitu tinggi."Apa kita tidak sebaiknya mengambil jalan memutar saja?" tanya Arashi ketakutan.


"Tidak! Ini berbeda dengan dulu. Dulu cukup mudah membuat formasi. Tapi sekarang harus memakai bendera." Enkai menghela napas kasar, memberikan beberapa bendera kecil pada mereka.


"Aku belajar trik ini dari seseorang yang lemah (Hime). Kemampuan rohnya benar-benar payah, jadi dia melakukan ini. Sebarkan bendera tepat di arah delapan penjuru mata angin! Tapi ingat pesanku! Kalian tidak boleh melihat ke arah wajah lawan bicara kalian. Walaupun nanti wajahku yang muncul, jangan sekali-kali melihat wajahnya. Cukup lihat ke arah kakinya." Peringatan dari Enkai.

__ADS_1


"Aku mencari lumayan banyak informasi ketika pertandingan dimulai. Monster kelelawar tidak akan menyerang jika kita tidak melihat wajahnya. Dia dapat menyamar menjadi siapa saja, menggoda hasrat terbesar ketinggian kalian. Terbang juga terlalu beresiko, karena mata dengan otomatis mengamati wilayah sekitar. Jadi jalan satu-satunya, hanya membuat formasi." Jelas Enkai pada Kairi dan Arashi yang tidak mengerti sama sekali. Tangan mereka masing-masing membawa empat bendera kecil dengan lambang aneh yang berbeda.


"Ta...tapi..." Ucap Kairi gugup.


"Asalkan tidak melihat wajahnya!" tegas Enkai pada kedua sahabatnya.


Pada akhirnya ketiga orang itu menyebar ke penjuru hutan yang cukup luas. Dengan tangan gemetar Arashi melangkah, dirinya tertunduk tidak berani melihat ke area sekitarnya.


"Agghhh!"


"Tolong!"


Suara teriakan peserta lain terdengar, dirinya berjalan semakin menelan ludahnya. Matanya hanya menatap ke arah kupu-kupu putih milik Enkai yang membimbing langkahnya. Tangannya gemetar, cipratan darah mengenainya kakinya. Mungkin cipratan darah peserta lainnya.


Namun, langkahnya terhenti kala suara seseorang didengarnya."Arashi, ibu merindukanmu..."


Benar-benar suara ibunya seseorang yang baru beberapa bulan lalu meninggal akibat penyakit yang sudah lama diidapnya. Air matanya mengalir masih tertunduk melihat ke arah kakinya sendiri. Terlihat juga kaki renta sang ibu yang telah tiada.


"Arashi, peluk ibu! Kamu tidak merindukan ibu? Lihatlah aku ibumu..." Kata-kata itu terucap dari seseorang yang ada di hadapannya. Air mata Arashi mengalir semakin deras, benar-benar monster si*lan mempermainkan emosinya. Seandainya dirinya tidak pergi ke kota, mungkin dapat menemani ibunya di detik terakhirnya.


"Kamu bukan ibuku. Karena ibuku setiap hari membawa sapu. Memukulku yang pembangkang!" Teriak Kairi berlari tanpa menoleh sama sekali, mengikuti kupu-kupu putih milik Enkai. Mungkin godaan yang berhasil untuknya.


Wajah wanita yang menyerupai ibunya itu berubah perlahan, menjadi sosok kelelawar seukuran manusia. Tidak melihat wajahnya berarti tidak dapat menjadi makanannya.


Banyak godaan lagi setelahnya. Pemuda yang menangis berusaha menancapkan satu persatu bendera kecil sesuai suruhan Enkai.


Sedangkan di tempat lain, Kairi menelan ludahnya. Kaki putih mulus ini, suara indah ini, ditambah bau makanan yang menyengat. Godaan terbesar untuknya sudah pasti Sena.

__ADS_1


"Kairi? Kita makan bersama ya? Sebenarnya aku menyukaimu. Tapi aku terpaksa menikah dengan psikopat seperti Light! Dia tidak punya hati. Berbeda denganmu yang lembut." Suara manja Sena, membuat Kairi menelan ludahnya. Ingin menoleh, wanita ini tidak memakai alas kaki, sedikit naik pandangannya ternyata hanya memakai bikini.


Kairi kembali tertunduk, malah godaan semakin besar lagi. Kala wanita itu bergelayut manja di lengannya. Ini adalah tipuan yang indah. Dapatkah dirinya menoleh?


__ADS_2