Master Of World

Master Of World
Yang Jelas Buku


__ADS_3

Enkai mencabut salah satu selebaran yang ada di segala penjuru. Seminggu lagi kompetisi untuk menjadi pengawal pribadi Hime.


Pengawal pribadi? Sejak kapan orang seperti Hime membutuhkan pengawal pribadi? Entah apa yang ada di fikiran mereka. Matanya melirik ke gerbang yang benar-benar besar. Terlihat seperti istana dalam Dungeon.


"Kelihatannya kamu iblis yang baru dibawa Furohito. Perkenalkan namaku Aoyama dan ini temanku Hireguchi. Omong-ngomong kenapa kamu diperbolehkan membawa manusia ke dalam Dungeon?" tanyanya tidak mengerti.


"Mereka sudah seperti keluarga bagiku," kalimat dari Enkai posesif, menjaga Kairi dan Arashi. Pupil matanya memerah namun hanya sekejap.


"Jangan marah begitu, kami tidak memakan manusia. Mungkin terakhir kali kami makan manusia adalah 2300 tahun yang lalu. Itupun karena Arata mendapatkan perlakuan tidak adil." Jawaban enteng darinya. Pernah makan manusia? Kalimat yang membuat Arashi dan Kairi menelan ludahnya.


"Siapa sebenarnya Arata?" tanya Enkai ingin tahu lebih spesifik tentang iblis atau dewa yang harus dihadapinya.


"Arata? Dulu dia kebanggaan kami, seorang putra mahkota, wajahnya jarang terlihat, karena lebih sering berkeliling alam bawah menggunakan tandu. Tapi, sayangnya Arata lebih memilih menjadi dewa. Dimensi ini dibuat olehnya. Dungeon, sebagai hadiah pernikahan darinya 2300 tahun lalu. Tidak tau sejarah ya?" Hireguchi mengenyitkan keningnya.


"Tentang Hime, apa dia manusia?" pertanyaan dari Enkai terdengar ragu.


"Bukan, kalian mengenalnya? Jika tujuan kalian membawa nona Hime kembali, tidak akan bisa." Keduanya monster yang tersenyum, bagaikan bersiap-siap mencabik-cabik tubuh mereka. Mata mereka memerah menatap sinis.


"Tidak kami hanya bertanya, karena dia tidak memiliki rupa seperti monster atau iblis." Jawaban cepat dari Enkai sembari tersenyum.


"Nona Hime pada awalnya hanya sebuah pohon di dunia manusia. Seorang dewi yang dihukum kebetulan berteduh dibawanya. Memakan buah dari pohon tersebut, bahkan berteduh kala badai menerjang di bawahnya. Saat masa hukuman sang dewi selesai, sebagai rasa terimakasih, sang Dewi memberikan sedikit kemampuan spiritualnya. Saat itulah nona Hime dapat memiliki wujud spiritual kekal sebagai pelayan Dewi. Tanpa perlu melakukan pertapaan puluhan ribu tahun."


"Jujur, sebenarnya nona Hime sering mengerjakan tugas yang enggan dilakukan sang Dewi di alam tengah. Membatu manusia, atas nama sang Dewi, bahkan merubah wujudnya menjadi Miku kuil. Agar kuil sang Dewi memiliki lebih banyak pengikut. Dia memang hanya roh pohon yang dirubah menjadi pelayan, begitu polos dan penurut, mungkin hanya bagaikan boneka bagi sang Dewi. Saat itulah tuan Arata bertemu dengannya, mereka berkeliaran di alam tengah dan merencanakan pernikahan. Bahkan tuan Arata merendahkan dirinya untuk dapat membawa nona Hime ke neraka bersamanya." Jelas Aoyama panjang lebar, tidak semua informasi didengarnya secara langsung. Hanya berupa desas-desus.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Arashi antusias, bagaikan anak kecil mendengar cerita dongeng.


"Tidak tau, tiba-tiba raja neraka marah besar, memerintahkan untuk menyerang alam tengah. Nona Hime dikabarkan meninggal, sedangkan tuan Arata mengalami luka dalam akibat keracunan, berusaha menghentikan ayahnya. Kami semua disegel selama 2300 tahun oleh tuan Arata. Beberapa monster dengan level kemapuan tinggi dimasukkan ke dalam Dungeon. Diberi perintah untuk mengasah diri. Tujuan kami menyerang alam atas..." Jawaban dari Hireguchi, terdengar serius penuh dendam.

__ADS_1


Enkai, Arashi dan Kairi saling melirik. Ini merupakan konspirasi besar, mereka hanya akan membawa Sena kabur tanpa sepengetahuan Arata. Lalu tamat, biarlah para monster dan iblis berperang atas nama kebenaran dan keadilan.


Mereka bertiga hanya manusia biasa, Hunter yang kebetulan lewat, dan yang monster-monster ini bawa pergi juga kebetulan istrinya Enkai. Setelah bertemu dengan Sena, mereka memang benar-benar harus kabur meninggalkan tempat ini.


Apa para iblis dan monster ini sudah gila? Berperang melawan dewa?


"Omong-ngomong apa ini pendaftaran terbuka?" tanya Enkai menatap ke arah selebaran di tangannya.


Mereka saling melirik, kemudian mengangguk."Kamu mau ikut?" tanya Aoyama, hanya dijawab dengan anggukan oleh Enkai.


"Kalau begitu kamu harus berjuang lebih banyak lagi. Kemampuanmu masih dibawah kami. Belum lagi empat keluarga bangsawan juga akan mengirim orang-orang terbaik di keluarga mereka." Hireguchi mulai duduk, menghela napas berkali-kali.


"Apa menjadi pengawal, posisi yang benar-benar diincar?" tanya Enkai penasaran.


Hireguchi mengangguk."Berhubungan langsung dengan keluarga kerajaan. Tentu semua orang dari ras yang telah tinggal dalam Dungeon menginginkannya. Menjadi penjilat hingga raja neraka memberikan posisi tertinggi pada keluarga mereka."


"20 tahun." Jawaban jujur dari mulut Enkai, ditanggapi dengan tawa oleh mereka.


"Pantas saja usiaku tahun ini 3468 tahun dan usia Aoyama 4256 tahun." Jelas Hireguchi.


Arashi dan Kairi menghela napas mereka. Merasa sebagai bayi yang tinggal di panti jompo, dengan kakek awet muda berkemampuan super.


"Tandu putra mahkota melintas! Semuanya minggir!" teriak beberapa prajurit dan kasim.


Semua monster dan iblis menurut, mulai berlutut, menunduk tidak berani melihat ke atas. Dua tandu melintas, di dalam tandu yang terdepan sedikit tertiup angin.


Seorang pemuda berambut putih panjang duduk disana. Sedangkan di tandu ke dua, Sena tengah duduk dengan tenang. Angin yang menyingkap kain putih transparan.

__ADS_1


Enkai yang masih berdiri tertegun dipaksa untuk ikut berlutut oleh Aoyama. Tapi pemuda itu tetap bangkit, berlari mengejar tandu.


"Sena!" teriaknya, dihentikan oleh pengawal, yang langsung menebas tubuhnya."Sena!" teriakan terakhirnya.


Apa yang sebenarnya ada dalam tandu. Furohito memakai rambut palsu berwarna putih panjang."Tidak turun?" tanyanya pada Sena yang berada dalam tandu terpisah.


"Dia tidak dapat terluka. Jika dia tidak belajar, maka dia akan kembali murah hati seperti dulu." Ucap Sena, menatap ke arah satu titik.


"Kamu ingin dia membencimu?" tanya Furohito lagi. Sena terdiam dirinya benar-benar cemas.


Srash!


Angin bertiup dari tandu kedua. Tidak ada yang menyadari tandu kedua telah kosong. Seorang anak kecil perempuan, mungkin satu-satunya makhluk yang tidak memberi hormat saat itu. Berlari cepat ke arah Enkai yang telah tidak sadarkan diri.


Kairi dan Arashi hendak mengikuti Aoyama yang menawarkan tempat.


"Tunggu! Paman aku tersesat..." Ucap Sena dengan wujud anak kecil menangis sesenggukan.


"Kami sedang membawa orang terluka!" Bentak Arashi.


Wajah memelas, bagaimana pun Hime memiliki kemampuan sihir yang tinggi. Merubah wujud menjadi anak kecil? Bukan sesuatu yang sulit untuknya."Aku mohon, aku akan membantu kalian menaikkan level kemampuan dengan cepat."


"Untuk apa kami percaya padamu?" tanya Aoyama.


"Tentu harus percaya, aku mempunyai buku milik kerajaan." Jawaban dari Sena, mengeluarkan buku yang ditulis oleh Arata, sebelum hari pernikahan mereka. Apa isi buku itu? Hanya puisi dan omong kosong. Tapi yang terpenting ada lambang keluarga kerajaan. Maka semuanya akan takluk.


"Kamu boleh ikut kamu." Pada akhirnya Aoyama hanya menghela napas kasar. Rasa penasaran menghinggapi dirinya tentang apa yang ada dalam buku, dilengkapi dengan segel keluarga kerajaan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2