
Dhuar!
Dhuar!
Suara letupan yang tidak berhenti, diiringi dengan deru petir dan hujan, bagaikan badai. Enkai menghela napasnya, ini murni serangan para Hunter. Sedangkan para monster dapat unggul masih dalam posisi bertahan.
Bagaimana cara melewati penjaga ini? Tentu saja, mengatakan identitasnya sebagai Light dan menghubungi Akihiro rencana yang sempurna bukan?
Benar-benar rencana yang sempurna tapi dirinya melupakan soal wanita bar-bar ini.
Krak!
Krak!
Dengan cepat dua Hunter level A itu ditahan pergerakannya oleh Sena. Menumbuhkan akar dan daun yang menembus jalanan beraspal. Tanaman yang merambat, mengikat tubuh dua Hunter di hadapannya.
"Tolong!"
"Tolong!"
Kedua Hunter tersebut menggeliat tidak dapat lepas dari pohon yang menjerat mereka dengan akar-akarnya.
"Kamu lihat kan? Betapa aku menyukai Arata. Jadi sebaiknya kamu melatih diri, tingkatkan kemampuanmu. Agar aku lebih memandangmu!" tegas Sena berjalan pergi mendahului Enkai.
"Baik! Aku akan berusaha!" Ucap Enkai penuh senyuman.
"Wanita k*parat! Ingin membohongi suamimu? Seolah-olah kamu berselingkuh dan menyukai pria lain?" geramnya dalam hati. Ingin rasanya mengumpat dan berteriak pada istrinya tapi sayangnya tidak bisa.
Tidak boleh membuat wanita ini curiga sama sekali. Memang dua orang picik yang kebetulan harus hidup bersama. Dua orang yang semakin mendekat.
Brak!
Seorang Hunter terlempar, membentur dinding bangunan. Terhempas di sebelah mereka. Hampir saja mereka kena.
Seekor monster memakai pakaian pelayan yang memiliki tiga ekor tersenyum."Aku akan membunuh kalian!" Ucapnya menjerit murka. Tugasnya memang menjaga gerbang Dungeon bukan?
__ADS_1
Enkai mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar. Tanda teratai hitam terlihat di dahinya walaupun hanya beberapa detik, monster wanita berpakaian minim yang mengerti segera menunduk memberi hormat."Maaf saya tidak tau," ucapnya mengetahui lambang anggota keluarga kerajaan.
Sena mengenyitkan keningnya, melirik ke arah Enkai. Tapi pemuda itu mengangkat bahunya, bagaikan tidak tahu-menahu.
Kembali melangkah, selangkah demi selangkah. Lapisan es ada di jalan sekitar mereka, beberapa kali Enkai terpeleset, kemudian berpegangan pada tembok. Benar! Sora ada disana, menembakkan serangan pada iblis di hadapannya. Iblis yang dapat menghilang bagaikan asap kemudian muncul kembali.
"Light!" panggilnya antusias. Seseorang yang dikatakan menghilang kini kembali terlihat. Namun sejenak senyumannya memudar menyadari Sena ada disana. Wanita manis, yang membuatnya tidak dapat mendekati Light.
Sang monster tersenyum ingin mendekati kemudian menebas tubuh Sora. Enkai mengerahkan kupu-kupunya, memberikan tabir pelindung. Sang iblis yang ingin menebas pada akhirnya sama sekali tidak dapat melakukannya.
Kemudian entah darimana Sena bergerak, mengalahkan sang iblis dengan wujud bagaikan manusia itu sekali serang. Tubuh sang iblis setinggi dua meter itu diangkatnya bagaikan beras.
"Ayo!" Ucap Sena pada Enkai.
Enkai tersenyum, mengikuti langkah istrinya. Tidak banyak bertanya ataupun protes. Hanya mengikuti langkahnya. Sedangkan Sora yang ada dibelakangnya hanya diam tertegun, menatap sang wanita bertubuh tidak terlalu tinggi membawa iblis level tinggi di bahunya. Benar-benar wanita bar-bar, dengan bentuk tubuh dan wajah yang manis.
*
Akihiro mengamati segala sudut area pertempuran menggunakan drone. Setiap sudut sedang diamatinya melalui pusat komunikasi. Hampir semua sudut dapat dipukul mundur oleh iblis dan monster.
Pada akhirnya dua orang yang ada di pusat komunikasi memperbesar penangkapan gambar objek. Terdapat Sora dengan beberapa rekan timnya yang lain tersadar disana.
Akihiro mulai menghubungi mereka melalui radio komunikasi."Sora! Ini Akihiro!"
"I...iya," Ucapnya menjawab panggilan radio komunikasi yang terhubung dengan earphonenya.
"Dimana iblis yang kalian lawan?" tanya Akihiro.
"Light dan Sena yang membawanya." Jawaban dari Sora membuat Akihiro, lebih terperinci lagi, menggerakkan drone yang berada dengan tempat komunikasi.
Dan benar saja, itulah sumber informasi tentang tempat ini. Tempat yang kini sudah menjadi arena perang.
Pusat komunikasi dengan beberapa orang dari kalangan militer berada di sana. Merencanakan segala macam serangan. Bukan hanya dari negara ini, namun Hunter dari negara lain sudah terlibat dirinya tidak dapat gegabah.
Tapi ada apa dengan kedua orang ini? Seharusnya Sena menghilang bukan? Menurut laporan Light? Tapi wanita itu memakai pakaian serba hitam dengan seekor iblis di bahunya. Lengkap dengan Enkai yang mengikutinya. Sebenarnya apa yang terjadi?
__ADS_1
"Hancurkan!" perintah Sena pada Enkai menatap drone yang mencoba mengambil gambar mereka dari dekat.
Srak!
Srak!
Srak!
Dan benar saja, hal terakhir yang terlihat adalah wajah Enkai yang tersenyum, diiringi kupu-kupu besi yang mungkin memotong drone menjadi beberapa bagian.
"Sial! Persiapkan transportasi untukku menunju area perempuan nomor 348!" teriak Akihiro memberikan perintah. Dirinya benar-benar tidak mengerti saat ini, prilaku Light bagaikan berubah dan Sena sendiri? Wanita itu memikul iblis yang lebih besar dari tubuhnya? Apa yang sebenarnya terjadi.
*
Kembali di area pertarungan dua orang yang masih berjalan perlahan menunggu lampu lalulintas berubah menjadi hijau untuk penyeberang jalan. Walaupun sejatinya tidak akan ada mobil yang lewat akibat radius 1 kilometer dari rumah itu memang sudah diungsikan.
"Lama sekali..." keluh Sena menatap ke arah lampu lalu lintas.
"Sabar saja, setelah lampu hijau, kita menyeberang! Harus taat aturan lalu lintas." Ucap Enkai masih berada di sampingnya.
Pada akhirnya lampu lalu lintas untuk penyeberang jalan berubah menjadi hijau. Kala Sena akan menyebrang. Lima buah teng besar lewat membuat langkahnya terhenti. Menunggu teng lewat, tapi sialnya lampu penyebarangan jalan kembali berucap merah."Manusia tidak ada adab!" teriak Sena murka, harus kembali menunggu lampu berubah menjadi hijau.
"Benar-benar tidak beradab!" Ucap Enkai penuh senyuman mengerahkan kupu-kupu hitamnya yang sekeras berlian memotong kelima teng hingga yang tersisa dari kelima teng itu hanya puluhan prajurit yang tidak memakai pakaian, akibat pakaian mereka yang ikut terpotong.
"A...apa tadi!?" tanya salah seorang prajurit menutupi tubuhnya yang tidak berbalut sehelai benangpun.
"Ti... tidak tau! Mungkin monster level tinggi!" Jawab tentara lainnya, sama-sama tidak mengenakan apapun duduk di serpihan teng dengan wajah dongkol.
Pada akhirnya lampu kembali berubah hijau. Sena dan Enkai kembali melangkah, menuju halte bis. Kali ini tidak terjadi apapun, namun lama menunggu bis tidak lewat sesuai jadwalnya. Tidak peduli orang-orang yang sudah diungsikan, yang difikiran mereka, tidak mungkin supir bis ikut mengungsi bukan?
Tapi memang benar tidak ada bis."Kita jalan kaki saja!" Sena bangkit masih dengan iblis yang ada di bahunya.
"Iya!" Enkai melangkah mengikutinya penuh semangat. Wajahnya terlihat ragu untuk berucap, tapi ini harus diucapkan olehnya."Kamu menyukai Arata?"
"Tentu saja! Sangat menyukainya! Hingga aku menghabiskan setiap malam dengannya. Kamu tau dia lebih hebat darimu. Bahkan di ranjang!" Suara tawa Sena terdengar aneh, membuat Enkai mengenyitkan keningnya. Ingin menangis rasanya melihat akting wanita ini. Benar-benar akting yang buruk. Bahkan semalam adalah pengalaman pertama mereka.
__ADS_1
"Sombong..." Hanya satu kata yang diucapkan Enkai berusaha tersenyum.