
Gunung di wilayah Utara, itulah tempat yang harus dilewatinya. Musim kawin monster kelelawar? Enkai menghela napasnya, masih mengingat semua informasi tentang monster ini.
2300 tahun yang lalu mereka terbang dan menghisap darah setiap musim kawinnya. Menghabiskan energi para monster dan iblis. Bahkan roh manusia yang tidak sengaja melintas di neraka. Karena itu setiap musim kawin, dirinya akan membuat formasi khusus untuk menekan kemampuan mereka yang semakin mengganas kala musim kawin tiba.
Sebuah pengaturan di neraka yang tidak beres, terkadang menyita waktu bermainnya dengan Hime. Karena itu dirinya menikahi Hime setelah 236 tahun menjalin hubungan sebagai kekasih. Agar tidak perlu mengurusi urusan seperti ini, benar-benar merepotkan. Jika Hime tinggal di neraka bersamanya dapat membantunya sekaligus bermain dengannya.
Lagi-lagi Enkai menghela napasnya, dirinya kali ini tidak dapat membuat formasi sama sekali. Mengingat level kemampuannya kini benar-benar rendah. Tapi harus bagaimana? Dirinya juga tidak tau, bagaimana perkembangan kemampuan iblis kelelawar selama 2300 tahun ini. Akan seperti apa pasukan monster ganas itu.
Tong!
Suara gong berbunyi pertanda para peserta diperbolehkan untuk berangkat. Dengan cepat Jasper, Nicole dan Akihiro yang merekam, berlari, berusaha untuk menang, tiga orang yang paling bersemangat. Namun mereka sedikit melirik, tidak ada yang berlari sama sekali. Para peserta terlihat tenang, bahkan ada yang berbelanja di pasar yang mereka lewati sebelum pertandingan.
Termasuk salah satunya Enkai. Pria itu malah asik berbicara sambil berjalan dengan salah satu peserta kompetisi. Padahal jumlah bendera di puncak gunung sudah pastinya terbatas.
"Kenapa tidak lari?" tanya Akihiro berbalik, mendekati Enkai.
"Bertanding juga butuh persiapan, kalian tidak lihat peserta lainnya?" Jawab Enkai mengenyitkan keningnya.
Perhatian Jasper, Nicole dan Akihiro beralih pada peserta lainnya. Enkai benar, ada yang memasuki tempat ahli alkemis, ada juga yang sibuk membuka buku sambil berjalan, ada juga yang membeli pedang berukuran besar. Ini yang namanya masuk dalam persiapan.
"Hutan gunung Utara yang harus dilewati ada sekelompok monster kelelawar di musim kawinnya. Mereka akan memakan darah dan daging apapun yang masuk ke wilayah mereka. Hanya saat musim kawin saja mereka ganas, selebihnya tidak sama sekali. Tujuannya untuk memiliki lebih banyak energi untuk melahirkan dan berkembang biak." Penjelasan singkat dari Enkai pada tiga orang di hadapannya.
Tiga orang yang saling melirik mengenyitkan keningnya."Kita atur strategi..." Akihiro memutuskan.
"Tidak semudah itu! Mereka ada ratusan, dengan level kemapuan setara dengan monster laba-laba yang aku kalahkan di gunung salju. Kalian bertiga ingin melawan mereka!?" Cibir Enkai mengenyitkan keningnya.
Akihiro menelan ludahnya, melirik ke arah Jasper dan Nicole. Sejatinya tidak yakin dengan kemampuan kelompoknya. Apalagi ada ratusan jumlah kelelawar.
Anak perempuan yang sebelumnya selalu bersama Enkai tiba-tiba memegang celana panjang yang dipakai Akihiro."Paman pergi denganku ya?"
"Nak, kamu tidak seharusnya---" Kalimat Nicole yang gemas menarik pipi sang anak terhenti.
Brug!
Dengan sekali bantingan pemuda itu jatuh tersungkur oleh sang anak."Seharusnya apa?" tanya Sena dengan tatapan dingin. Menarik kerah bagian belakang pakaian Nicole yang tersungkur di tanah. Kemudian menyeret tubuh Nicole dengan tangan kecilnya.
"Nak! Tunggu! Itu berbahaya!" teriak Akihiro melihat sang anak menyeret Nicole keluar melalui gerbang kota.
"Tidak kalian tidak akan aman jalan bertiga! Kalian akan lebih aman bersamaku. Ayo kita buktikan pada kakak rambut putih kita lebih hebat!" teriak Sena bersemangat.
Sedangkan Enkai memijit pelipisnya sendiri. Sena benar, ketiga orang itu memang lebih aman bersama Sena. Mengingat tingkat kemampuan Sena yang saat ini masih berada di atasnya. Entah apa yang ada di otak ayahnya hingga merencanakan semua ini.
Pemuda yang mengenyitkan keningnya. Memang terasa samar namun dipastikan ada beberapa utusan dewa yang mengikutinya kala berada di dunia manusia. Apa ini yang ditakuti ayahnya? Mereka kembali mengincar nyawanya?
__ADS_1
Entahlah, dirinya hanya perlu mengasah kemampuan lebih banyak lagi. Berada diantara ras dewa dan iblis itulah dirinya. Dewa yang 2300 tahun yang lalu paling banyak memiliki pengikut, tidak disangka sejatinya makhluk paling mengerikan.
Tidak membawa senjata sama sekali. Dirinya ingin menyelidiki terlebih dahulu wilayah tersebut. Tapi apa yang sejatinya terjadi hingga nyawanya diincar para dewa?
*
Sekitar 8000 tahun lalu, seorang Dewi penjaga danau melahirkan bayi mungil. Bayi yang seharusnya rapuh, karena berasal darinya dan seorang manusia.
Pria penyayang yang katanya bekerja di sebagai penggembala domba. Tapi apa benar? Tepat pada saat kelahirannya, sebuah kenyataan didapatkan sang Dewi. Cermin di hadapannya retak, kala dirinya melirik. Yang menjadi suaminya bukan dari ras manusia, namun raja neraka.
Wajah yang sama, hanya saja memakai pakaian merah bersulamkan benang emas."Putraku sudah lahir..." ucapnya terlihat senang.
Sang Dewi melangkah mundur, ketakutan wajahnya pucat pasi."Ke... kenapa kamu memakai pakaian itu?"
"Maaf berbohong. Tapi jika tidak berbohong, kamu tidak akan mau dekat denganku bukan?" Raja neraka tersenyum, ditemani dua orang kasim yang ada di belakangnya."Bawa anak itu bersama istriku. Kita akan tinggal di neraka."
Wajah Dewi yang memiliki status rendah itu pucat pasi. Tinggal di neraka? Tempat yang benar-benar tercemar dengan jeritan roh manusia. Monster-monster dan iblis menjijikan juga akan ada di sana. Egonya tidak mengijinkannya untuk mengikuti pria yang telah membohonginya.
"I... ikatan jodoh kita berakhir sampai disini!" teriak sang Dewi dengan air mata mengalir, mendekap putra yang baru beberapa jam lalu dilahirkannya.
"Ber... berakhir?" Sang raja neraka mengenyitkan keningnya."Aku lebih rendah dari manusia di matamu?"
Sang Dewi mengangguk."Memang lebih rendah dari manusia. Raja neraka sekalipun, asalkan tinggal di tempat tercemar juga akan tercemar!"
Mata sang Dewi menelisik, menatap bayi dalam gendongannya. Tanda teratai hitam samar muncul di dahinya.
Brug!
Raja neraka tersenyum, jemari tangannya gemetar meraih putranya yang terjatuh di lantai. Syukurlah anak ini bukan makhluk yang rapuh. Sang anak yang masih tertidur diraih olehnya.
"Memang bukan anakmu. Tapi ini putraku, dengar baik-baik jangan pernah katakan di depan putraku. Jika dia memiliki ibu yang mengerikan sepertimu." Sang raja neraka, membawa putranya. Pusaran angin aneh terlihat. Sang raja neraka bersama para kasimnya menghilang kembali ke alam bawah.
"Agghhh!" Sang Dewi berteriak kesal, dirinya tidak menyangka dapat dibohongi hingga seperti ini. Berfikir yang dinikahinya hanya manusia, namun lebih buruk, pria yang berasal dari ras iblis.
*
Apa yang terjadi setelahnya? Arata dibesarkan oleh ayahnya. Tinggal dan belajar tentang sihir di neraka. Bisa dibilang jenius muda, menyerap ilmu dengan mudah. Mungkin mengingat ibunya yang berasal dari alam atas.
Hingga pada sebuah perjamuan besar, raja neraka diundang. Arata yang masih muda ikut bersamanya. Beberapa putra dan putri dari para dewa juga hadir.
Semuanya dapat berbaur dengan mudah kecuali dirinya.
"Dia berasal dari ras iblis! Kenapa bisa hadir disini?"
__ADS_1
"Setelah ini menunjukkan bakat, entah apa yang dapat ditujukan putra raja neraka."
"Seperti biasanya, dewa mengalahkan iblis itulah jalan kebenaran."
Tidak ada yang diucapkan Arata, hanya duduk di samping ayahnya yang memang tidak dihormati di khayangan. Memakan kue yang begitu enak baginya. Sang ayah yang membelai rambutnya. Seakan memintanya agar tidak mendengarkan kata-kata orang lain.
Anak yang tidak mengetahui, ibu kandungnya kini menjadi selir dari salah satu dewa. Membawa anak kebanggaan mereka dalam perjamuan yang sama.
Anak dari kaisar langit juga hadir, sekaligus mungkin sebagai ajang terpilihnya penerus sang kaisar langit.
Beberapa jam berlalu, acara akan segera dimulai. Para keturunan dari dewa dipersilahkan untuk maju satu persatu. Terdapat bola penguji disana, tentang besarnya potensi seseorang.
Cara pengujian yang cukup mudah, hanya dengan memasukkan sedikit tenaga dalam. Maka warna bola akan berubah sesuai potensi, dari kepekatan warna juga akan terlihat seberapa baik potensi pengembangan nantinya.
Mungkin akan menjadi acuan bagi putra-putri para dewa akan mendapatkan penempatan tugas nantinya.
"Xuan! Putra Dewi bunga. Memiliki bakat air, potensi pengembangan level 8!"
"Isao! Putra Dewa Matahari. Bakat petir, potensi pengembangan level 5!"
"Katsuo! Pangeran ke tiga, putra kaisar langit. Bakat api, potensi pengembangan level 10!"
"Atsushi! Pangeran pertama, putra kaisar langit. Bakat ganda air dan petir, potensi pengembangan level 10!"
Semua orang cukup terkejut, bakat ganda memang jarang ditemukan. Dari warna bola yang berubah menjadi biru dan putih pekat memang benar mencapai level 10, level yang tertinggi.
"Pangeran pertama memang hebat!"
"Pantas saja, anak kaisar langit!"
"Mungkin dia yang akan meneruskan tahta ayahnya!"
Arata hanya menghela napasnya masih duduk di samping ayahnya. Diantara yang lainnya usianya lah yang paling muda. Juga yang akan diuji paling akhir mengingat ayahnya yang hanya raja akhirat dari ras iblis. Mungkin ayahnya hanya pelengkap, hingga diundang. Memang seharusnya mereka yang dari ras iblis tidak diundang bukan?
Anak yang masih memakan teh sembari memakan kue dengan manisnya. Wajahnya yang rupawan namun tegas diwarisi dari ayahnya. Aura cerah diwarisi oleh ibunya, benar-benar anak manis yang memiliki pesonanya tersendiri.
Pada akhirnya giliran Arata yang maju, setelah menunggu diantara ratusan anak para dewa. Tidak ada satu orangpun yang melihatnya dengan serius. Anak raja neraka, akan terus berada di neraka. Memangnya perlu diuji? Memang memiliki potensi apa selain membuat kekacauan? Mungkin itulah yang ada di benak orang-orang.
"Hanya menyentuhnya, lalu kembali duduk di samping ayah sambil memakan kue," itulah yang ada dibenaknya. Tidak tegang atau penuh harap seperti anak dewa lainnya.
Kala bola itu disentuhnya. Perpaduan warna semua elemen terlihat, bersinar terang dan pekat. Sinar yang begitu terang, diakhiri dengan perubahan bola menjadi berwarna hitam, dengan menampakan bagaikan gugusan planet di dalamnya.
Semua orang terkejut, termasuk seorang dewa yang bertugas mengamati hasil. Ini belum pernah terlihat sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya anak k*mpret ini. Melompat turun dari panggung yang cukup tinggi untuk seukuran tubuhnya. Kemudian kembali duduk dan memakan kue di samping ayahnya.
Seorang dewa yang bertugas membaca hasilnya berucap dengan bibir bergetar."Arata! Putra raja neraka. Semua elemen, ditambah bakat pencipta. Potensi pengembangan level tidak terbatas."