
Misi kali ini dimulai, ruang dimensi dibuat. Benar-benar kemapuan yang praktis. Dapat mundur kapan saja dari misi jika menginginkannya. Tempat yang tengah diterjang badai salju tidak dapat bergerak di cuaca seperti ini.
Empat orang yang pada akhirnya duduk menghangatkan diri di dalam goa yang dikelilingi es di bagian dinding dan atapnya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Kairi pada Enkai.
"Kalian tidak bisa berfikir sendiri? Jangan selalu menunggu komando!?" Geram Sora menatap kedua orang di hadapannya.
"Mereka hanya bertindak pelan-pelan. Tidak ingin gegabah. Itulah kelebihan mereka daripada Hunter pasukan khusus. Jika yang bersamaku semuanya dari pasukan khusus, hanya perdebatan yang akan terjadi. Tidak dapat diajak kerjasama sama sekali, hanya berfikir sendiri, saling berkompetisi." Jawaban dari Enkai yang tengah meminum teh hangat.
"Omong-ngomong kamu keluar uang berapa untuk biaya operasi plastik istrimu?" Tanya Arashi, Enkai terbatuk-batuk menyemburkan teh dari mulutnya.
"Di...dia sudah menikah? Istrinya seperti apa?" tanya Sora tersenyum cerah.
"Aku ingin menginjak istrimu!" batinnya.
"Istrinya? Dia dulunya memiliki luka bakar yang menjijikkan. Tapi tiba-tiba berubah menjadi cantik." Celetuk Kairi.
"Jangan membicarakannya!" Ucap Enkai, dengan guratan senyuman malu-malu yang aneh di bibirnya.
"Lihat sendiri kan!? Dia bahkan membatasi jam kerja hingga 2 malam. Agar bisa tinggal di ranjang dengan istrinya!" Arashi tersenyum, menunjuk-nunjuk ke arah Enkai dengan sumpitnya.
"Wanita s*aln! Wanita penggoda!" Lagi-lagi umpatan yang tertahan dalam fikiran Sora.
"Light, berapa kali kamu melakukannya dalam satu malam?" tanya Kairi penasaran.
Senyuman Enkai memutar. Tidak mungkin dirinya mengatakan bersahabat dengan istrinya sendiri."Ikuti perintahku! Kalian tetap disini, jika badai salju sudah reda, aku akan kembali membuat celah dimensi untuk kalian."
"Aku ikut, kekuatanku tipe es. Jadi akan sangat berguna untuk---" Kalimat Sora disela.
"Simpan banyak tenaga, aku akan mengandalkanmu nanti..." Enkai tersenyum cerah, kemudian masuk ke celah dimensi, meninggalkan ketiga orang yang masih berada di depan api unggun.
"Dia melarikan diri karena kita bertanya soal ranjang..." gumam Kairi menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan kapten tim mereka. Sementara Sora menghela napas berkali-kali, tertegun hanya dengan ucapan biasa.
*
Sementara Enkai menghela napas berkali-kali."Akhirnya dapat melarikan diri juga," gumamnya berjalan di tengah badai salju yang menerpa.
Tidak ada satupun informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jejak langkahnya terlihat di tengah salju yang tebal. Benar-benar terasa dingin.
Kupu-kupu putih diterbangkannya ke semua penjuru arah. Mencari informasi lebih banyak lagi, tentang musuh yang dihadapinya. Ingin mengetahui lebih banyak tentang segalanya yang ada di tempat ini.
__ADS_1
Tidak banyak terlihat benda, hanya suhu yang semakin lama semakin dingin saja.
Tak!
Enkai tiba-tiba mengenyitkan keningnya, menyadari sesuatu.
Tak!
Tak!
Tiga kupu-kupu putih miliknya terpotong sesuatu yang tipis dan melayang. Senyuman terlihat di wajahnya, lingkaran aneh ada di kakinya sering dengan masuknya Enkai ke dalam ruang dimensi yang baru dibuatnya.
Wilayah yang sama, hanya hamparan salju, tapi tiga kupu-kupunya terpotong. Kala Enkai hendak bergerak, meraih kupu-kupunya yang terpotong, dirinya menyadari satu hal. Tempat ini dikelilingi oleh jaring besi tipis.
Jemari tangannya terluka tergores benang besi yang hampir transparan. Tempat yang benar-benar aneh. Kupu-kupu putih didatangkannya dari semua arah, berubah menjadi kupu-kupu besi. Namun, sayang sekali, benang tipis yang tajam itu tidak dapat terputus. Kupu-kupunya lah yang pada akhirnya terpotong.
"Tempat ini berbahaya..." gumamnya, hendak pergi usai mencari informasi tentang wilayah yang dikelilingi ribuan benang besi ini.
Namun suara seseorang menghentikannya."Makanan..." gumam seseorang wanita tersenyum menyeringai dengan pupil mata hitam, urat-uratnya menghitam, serta mulutnya mengeluarkan asap hitam setiap bicara.
Jaring aneh keluar dari mulutnya, tajam, benar-benar tajam. Enkai berusaha menghindar.
Srash!
"Ingin melarikan diri? Tidak akan aku biarkan!" Teriak sang monster mulai menumbuhkan 8 kakinya yang berpadu lendir. Pant*tnya memanjang ke belakang kini terlihat bagaikan laba-laba, tapi dengan kulit dan bentuk tubuh seperti manusia. Lidahnya menjulur panjang, meludah tepat ke ruang dimensi yang dibuat Enkai. Membuat pintu dimensi itu hancur dari bagian atas yang terkena liur bersifat korosif.
Tidak bisa seperti ini, dirinya mengeluarkan pedangnya. Pedang milik kepala desa yang dulu memang diberikan padanya.
Tang!
Tang!
Tang!
Walaupun sulit, pedang yang terbuat dari baja khusus itu berhasil memutuskan benang besi. Enkai berusaha mendekati sang monster hendak menyerangnya.
Bergerak cepat, karena mundur pun tidak bisa dilakukannya saat ini. Hanya satu harapannya, menghabisi monster ini dengan cepat. Kemudian pulang sebelum pukul 2 pagi.
Tapi tidak semudah itu. Sang monster memegang pedang Enkai dengan tangan kosong. Kemudian mematahkannya, wajah sang monster yang tersenyum.
Pedang dari tulang keluar telapak tangan sang monster.
__ADS_1
Srak!
Tubuh Enkai ditembusnya, pedang yang menembus bagian perut hingga punggung.
Srak!
Pedang kembali dicabut sang monster dari perut Enkai.
Uek!
Pemuda yang memuntahkan darah dari mulutnya. Tersungkur di atas salju, semakin banyak saja, salju berubah merah. Pertanda darahnya yang terus mengalir.
Tatapan matanya kosong. Enkai menyadari ini adalah sisa kesadaran terakhirnya. Lukanya terlalu parah.
Pintu dimensi yang tidak dapat dibuatnya untuk melarikan diri akibat cairan korosif yang membuat pintu tertutup dengan cepat itu kembali dibukanya. Walaupun tidak dapat terbuka lebar, masih tidak dapat digunakan untuk melarikan diri, juga dengan alasan cairan korosif yang dapat merusak tubuhnya masih berlumuran di sekitar pintu dimensi.
"Lahar!" Ucapnya menembus perut gunung berapi. Membuat lelehan lava panas, jatuh langsung di atas sang monster.
Sang monster dapat menghindar. Tapi sayangnya serangan tadi membuat pondasi gunung salju tersebut roboh, salju bagian tengah gunung meleleh akibat lava panas.
Brak!
Brak!
Brak!
Longsor salju yang besar terjadi. Sang Monster terlihat melompat-lompat menyelamatkan diri. Tidak sempat untuk membawa makannya lagi.
Sedangkan Enkai, terbawa oleh salju. Tubuhnya terasa kedinginan benar-benar kedinginan. Pada akhirnya yang tersisa hanya keheningan. Kala hanya bagian wajahnya yang tidak tertutup salju.
Apakah dirinya akan mati?
"Dia disini..." Suara seseorang terdengar samar-samar di telinganya.
"Aku hanya dapat mengantarmu. Selanjutnya tergantung padamu." Suara orang lainnya, terdengar seperti suara pria.
Wanita itu, mengangguk. Tubuhnya yang lemah, bagaikan berusaha dikeluarkan dari salju. Samar dirasakannya, wanita ini memeluknya.
Apa ini? Orang ini bahkan lebih pendek darinya? Tetap berusaha memapahnya. Terasa tubuhnya yang seperti diseret paksa. Cukup jauh, seseorang yang terjatuh beberapa kali, karena berat badannya yang melebihi berat wanita ini.
Enkai berusaha membuka matanya. Tempat yang terlihat seperti pos penelitian. Dalam peta yang diberikan Akihiro memang terdapat tempat seperti ini. Pos penelitian yang sudah lima tahun ditinggalkan. Hanya bangunan kosong. Entah berapa jam dirinya tidak sadarkan diri, kepalanya terasa berat. Tubuhnya tertutup selimut tua yang tidak terlalu tebal. Tapi ada yang aneh, ada tangan yang melingkar di dada bidangnya. Sejak kapan dirinya tidak memakai pakaian.
__ADS_1
"Sena!?" teriak Enkai menatap wanita yang sama saja dengan dirinya. Tidak memakai pakaian. Memeluk tubuhnya erat, dalam posisi tertidur.