
Derap langkah terdengar pasukan Hunter garis depan. Beberapa pelayan yang berasal dari klan monster dan iblis juga ada disana. Lengkap dengan seorang pria yang memakai jubah perang berwarna hitam.
Dhuar!
Dhuar!
Dhuar!
Beberapa serangan udara diluncurkan, kali ini kelihatan pihak pemerintah kehilangan akal. Senjata dunia fana tidak akan mempan pada mereka. Tidak ada satupun yang terluka bahkan menyisakan luka gores. Rumah itu masih berdiri kokoh. Beberapa Hunter level S menyerang dari jarak dekat.
"Nuklir!" Teriak salah satu Hunter menembakan sinar aneh yang mungkin setara dengan ledakan nuklir. Namun ada yang aneh seorang pria yang berasal dari klan iblis menahannya, menggunakan kotak transparan. Ledakan terlihat dalam kotak aneh.
Prang!
Ketika kotak pecah maka semua serangan bom nuklir tadi menghilang.
Pria berpakaian hitam itu mulai mengantuk."Ayolah! Apa hanya ini kemapuan kalian? Rumah ini bahkan belum tergores!" Ejeknya.
"Monster br*ngsek!" Seorang Hunter terbang dengan memegang drone besar pada salah satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain, menembakan ribuan bola api padanya.
Dhuar!
Dhuar!
Dhuar!
Kepulan asap membumbung tinggi, Hunter yang masuk ke peringkat 10 besar dunia itu tersenyum. Pasti monster-monster ini sudah musnah begitulah dalam fikirannya.
"Mau mendirikan sauna?" tanya sang pria yang berpakaian perang. Tersenyum ke arahnya.
Srash!
Dengan sekali tebasan jari, drone yang dipegang sang pria hancur, meledak. Membuatnya terjatuh dari ketinggian 15 meter, tidak sadarkan diri akibat mengalami cidera.
Namun pria yang tidak tidur akibat terus menerus mendapatkan serangan lemah itu menguap beberapa kali. Mengingat dirinya kekurangan tidur belakangan ini, bagaikan penulis yang terkena tekanan darah rendah. Karena jarang bisa marah.
Hingga dari kepulan asap terlihat Sena yang tengah menggendong salah satu iblis bagaikan beras di bahunya.
"Nona! Ini berbahaya!" Ucap salah seorang Hunter mencegah.
"Minggir!" Sena mendorong sang pemuda tanpa menyentuhnya. Namun, pemuda itu terdorong hingga membuatnya membentur reruntuhan gedung yang ada di seberang jalan.
__ADS_1
"A...apa kalian Hunter bantuan? Kenapa tidak memakai seragam?" tanya Hunter lainnya.
Tapi mereka tidak menjawab, hanya melangkah lebih dekat. Dengan Enkai yang mengikuti Sena dari belakang.
Brug!
Wanita itu menjatuhkan tubuh iblis yang ada di bahunya."Aku memukulnya pelan! Tapi dia pingsan!" Cibir Sena.
Semua Hunter yang berada di jarak 20 meter dari tempat lapang itu mengenyitkan keningnya. Menyusun strategi untuk menyelamatkan dua orang warga sipil terlihat dari pakaian mereka.
"Silahkan masuk!" Ucap pria itu memberi jalan pada Sena. Sedangkan Enkai yang hendak menyusulnya, bagian belakang pakaiannya ditarik menggunakan satu tangan.
Sesuai suruhan Furohito, harus menipu agar pemuda ini mau menaikkan level kemampuannya. Tidak peduli curut, ataupun putra mahkota. Yang jelas baginya melaksanakan tugas sebaik-baiknya.
"Pa ...paman, istriku masuk. Kenapa aku tidak boleh masuk?" Tanya Enkai padanya.
"Istri? Putri mahkota adalah istri pria lemah sepertimu? Pangeran mahkota kami sudah menikahinya 2300 tahun yang lalu. Dia kebanggaan kerajaan kami, satu-satunya yang pandai dalam sastra, memiliki kemapuan tinggi menjadi dewa, dapat menciptakan dimensi maupun planet. Semudah menggoreng sayap ayam baginya!" Pujian sekaligus hinaan yang keluar dari mulut sang pria yang memakai pakaian serba hitam. Membuat Enkai berusaha tersenyum melihat kepergian Sena.
Level kemampuannya saat ini memang berada di bawah sang jenderal yang tengah mengangkat sedikit tubuhnya. Pada akhirnya Enkai memperlihatkan tanda teratai hitam di dahinya. Tanda keluarga kerajaan."Paman tidak lihat di dahiku?" tanyanya agar diijinkan masuk menemui Sena.
"Dahimu kotor!" Ucap pria yang masih memakai jubah perangnya itu, pura-pura tidak tahu dan tidak peduli.
Peletak!
Suara sentilan yang benar-benar menggema. Dahi Enkai dengan sengaja disentil hingga pria itu terlempar ke arah Hunter yang berada di hadapannya. Enkai benar-benar terjatuh, menyeka sedikit bibinya yang mengeluarkan darah, mungkin akibat tulang belakangnya yang sempat patah.
Tapi semakin tinggi tingkat kemampuannya semakin cepat juga pemulihannya. Walaupun baru 1,2% tapi luka Enkai sembuh dalam beberapa detik saja. Ditambah luka di dahinya yang sejatinya menyebabkan keretakan pada tulang tengkoraknya. Semua kembali seperti semula.
Wajah Enkai tersenyum, menyeka sisa darah di sudut bibirnya. Beberapa Hunter yang ada disana merasa heran dengan pemuda yang seakan tidak bisa mati ini.
"Jendral! Kau ku pecat!" Teriak Enkai menunjuk-nunjuk bagaikan memecat karyawan restauran ayam goreng milik istrinya.
"Memang kamu yang menggajiku! Yang aku hormati hanya raja neraka! Tidak boleh masuk untuk yang kedua kalinya! Kecuali kamu dapat memukul wajahku!" Hinaan dari sang jendral kapan lagi dapat menghina putra mahkota? Lagipula ini perintah raja.
"Baik! Aku akan mencabik-cabikmu!" Enkai mulai melayang, matanya sedikit bersinar ini kekuatan Arata. Sama juga dengan kekuatan dirinya. Jemarinya bergerak dengan cepat membuat tebasan ke arah wajah sang jendral.
Srash!
Srash!
Srash!
__ADS_1
Benar-benar serangan jarak jauh, cahaya putih berbentuk sabit terlihat terus-menerus berusaha menebas sang jendral. Tapi sang jenderal tersenyum menangkis semua serangan menggunakan pedangnya.
Kala itu semua Hunter bersiap-siap untuk ikut menyerang. Tapi ada aneh monster dan iblis yang berada di dekat sang jendral memasang bendera formasi di setiap sudut rumah.
Bendera formasi yang terbang di atas rumah. Bendera yang aneh, tidak lama kemudian lambang aneh juga terlihat di langit
Tempat-tempat yang sempat terpotong akibat terkena serangan Enkai, perlahan mulai pulih seperti semula. Bagaikan perkelahian tidak terjadi sama sekali.
Dengan cepat Enkai melancarkan ribuan kupu-kupunya mengoyak tubuh sang jendral. Namun pria berpakaian serba hitam itu tiba-tiba, menghilang.
Srak!
Tubuh Enkai ditikamnya menggunakan pedang dari belakang, pria yang muntah darah. Mungkin pedang yang mencapai lambungnya.
Srak!
Kala pedang dicabut, tubuh pria itu jatuh ke tanah. Semua mengira dirinya sudah mati, terkecuali sang jendral.
Tapi seperti dugaan, luka pada tubuh Enkai memudar kemudian lenyap."Aku menyukai bau darah! Terutama darahmu!" teriak Enkai dengan pupil mata memerah khas suku iblis.
Semua orang tertegun, level kemampuan yang tidak biasa, pria itu bangkit walaupun ada sobekan di bagian sweater pakainya akibat tikaman pedang tadi.
Terlihat dari wajahnya yang tersenyum, mulai bangkit dari tempatnya terjatuh."Kita mulai lagi!" Enkai merebut pedang salah satu Hunter, mulai melayang. Pertarungan yang terjadi di udara. Sementara di bawah sana, para Hunter juga kembali menyerang monster dan iblis kali ini dari jarak yang cukup dekat.
Tang!
Tang!
Tang!
Suara pedang beradu terdengar dari atas sana. Bergerak cepat, benar-benar cepat, hingga yang terlihat hanya kilatan cahaya saja.
Pertarungan yang sejatinya tidak seimbang.
Srak!
Bruak!
Tubuh Enkai dihempaskan dengan ayunan pedang yang kuat. Membuat pemuda itu terjatuh ke trotoar, menyisakan retakan di area tempat dirinya terjatuh."Bagus juga!" Ucap Enkai tersenyum menantang, wajannya tersenyum. Apa yang ada di otaknya saat ini? Menangkap Sena sebelum keluar dari labirin. Dirinya kembali menginginkan wanita itu di tempat yang berbeda.
Pemikiran absurb yang aneh. Seharusnya dirinya lebih konsentrasi untuk mengalahkan orang ini.
__ADS_1