
Sena yang terdiam sejenak, melangkah menelusuri lorong. Matanya sedikit melirik ke arah Furohito."Benar-benar bawahan yang setia," sindirnya.
"Benar-benar wanita yang setia." Furohito menyindir balik, pada akhirnya mereka hanya dapat menghela napas kasar.
Dua orang yang kembali berjalan menelusuri lorong. Beberapa monster dan iblis dengan level tinggi terlihat. Terkurung dalam dimensi yang dibuat Arata selama 2300 tahun. Raja neraka dan Furohito lah yang memilih satu persatu diantara mereka untuk masuk dalam Dungeon.
Tentu saja, hanya monster dan iblis dengan level tertinggi dan dapat diatur dalam tim yang mereka ambil. Tujuannya? Menyerang istana langit.
Dua makhluk yang melakukan berbagai macam hal untuk meningkatkan kemampuan monster dan iblis.
"Setelah mendengar semua yang aku katakan. Apa kamu akan bergabung?" tanya Furohito.
"Tentu saja." Jawaban penuh senyuman dari Sena. Mengingat menit demi menit sebelum ajal menjemputnya dahulu.
"Furohito, apa raja neraka akan mengampuniku?" tanya Sena ragu, jemari tangannya mengepal air matanya mengalir. Tempat yang benar-benar indah dimensi yang dibuat benar-benar luas. Inilah Dungeon, hadiah pernikahannya.
"Pewaris tahtanya mati karenamu. Dia pasti marah besar, bicaralah pelan-pelan, minta maaf padanya. Selain itu, kamu akan menjadi umpan bagi Arata untuk memasuki Dungeon, kamu masih berguna. Jika Arata masuk ke dalam Dungeon, raja neraka akan melompat kegirangan." Jawaban dari Furohito, tertawa terbahak-bahak.
"Jangan berkata seperti itu. Enkai tidak akan masuk ke dalam Dungeon. Hatinya masih sama seperti dulu, mengorbankan hidupnya untuk menolong orang-orang yang tidak dikenalnya. Lalu mencampakkan orang-orang yang benar-benar menyayanginya." Sena menghela napas kasar.
"Salahmu sendiri jatuh cinta pada orang seperti itu. Tapi apa rencanamu setelah ini?" tanya Furohito, dengan senyuman yang memudar.
"Ini berasal dari kesalahanku. Karena itu juga aku yang akan mengakhirinya. Jika raja neraka memberiku perintah untuk berada di garis depan. Akan aku lakukan, dia mati karenaku. Jadi aku akan membalas dendam atas namanya, menggunakan sisa rohku." Gumam Sena tersenyum dengan wajah yang lebih damai.
"Dia (keturunan raja neraka) sudah terlahir kembali. Kamu dapat tinggal bersamanya dan---" Kalimat Furohito disela.
"Aku tidak bisa menemuinya lagi. Akan lebih baik jika aku dihukum mati atau menjadi prajurit di medan perang saat melawan khayangan nanti." Sena menghela napas kasar. Pada akhirnya ruangan itu terlihat juga.
"Itu pilihanmu. Terserah padamu, termasuk saat ini. Kamu lebih memilih meninggalkan Arata." Furohito membuka pintu di hadapannya.
Pada akhirnya sang raja iblis terlihat. Pria yang terlihat berusia 30-an tahun. Padahal aslinya sudah berusia ribuan tahun.
"Hime..." panggil sang pria yang tetap duduk di tahtanya.
__ADS_1
"Saya datang hari ini untuk menebus kesalahan saya. Furohito sudah menceritakan segalanya. Ini memang kesalahan saya, benar-benar kesalahan saya." Ucap Sena menitikan air matanya.
"Tetap tinggal dalam Dungeon. Putraku akan datang. Jadi---" Kalimat sang raja neraka disela.
"Bolehkah aku menembus kesalahanku? Aku ingin ikut serta menyerang istana langit. Jika aku mati tidak akan ada penyesalan yang tersisa." Bibir Sena bergetar, dirinya ragu untuk berucap. Namun, ini memang harus dikatakan olehnya.
Pria paruh baya itu mengangguk, putranya memang terlalu sombong dan egois. Mungkin itulah asal dari keputusan Hime (Sena).
"Kamu akan mati di medan perang atau dapat juga dihukum mati karena mengkhianati istana langit." Ucap sang raja neraka.
Sena mengangguk."Mereka yang mengkhianatiku terlebih dahulu. Dia tidak pantas mati, 2300 tahun yang lalu..." gumamnya dengan air mata yang mengalir.
*
"Lama sekali..." gumam Furohito, kini berada di depan kediaman keluarga Wen. Sudah 12 hari tapi Arata belum menemukan petunjuk tentang Dungeon. Ini tidak menyenangkan sama sekali, benar-benar tidak menyenangkan.
Lalu apa yang harus dilakukannya? Tentu saja memberikan petunjuk. Bayangan hitam di belakang tubuh Furohito bergerak sendiri. Serta seekor ular kecil berwarna hitam yang keluar dari balik lengan pakaiannya. Memasuki kediaman keluarga Wen. Tidak lama kemudian suara teriakan terdengar.
Suara teriakan dari Manabu (ayah kandung Sena) dan Daisuke (adik kandung Sena). Mata kedua orang itu menghitam sejenak. Sebelum pada akhirnya kembali seperti semula.
Tidak menyadari langkahnya diikuti Daisuke dengan bagian mata menghitam sempurna."Apa tugasku?" tanya sang ular hitam yang telah ada dalam tubuh sang pemuda.
"Tugasmu, masuk menjadi Hunter, memata-matai Hunter pemerintah." Jawaban dari Furohito pada Daisuke yang telah dirasuki monster.
"Aku mengerti." Hanya itulah jawabannya tertunduk.
Sedangkan bayangan hitam yang memasuki tubuh Manabu, kini membuat pria itu tersenyum. Pria paruh baya yang melompat dari balkon rumahnya. Menuju ke apartemen milik Sena. Guna menemui Enkai.
*
Tepat pukul 8 malam, Enkai sudah tiba di apartemen.
Tak!
__ADS_1
Ketika lampu dinyalakan sosok itu sudah terlihat di dalam sana. Seorang pria paruh baya yang duduk di sofa. Dengan mata hitam sempurna.
"Arata," ucapnya tersenyum menyeringai, mengetahui pemuda ini sudah pasti akan menyerangnya. Tapi apa benar?
"Arata?" tiba-tiba raut wajah kusut Enkai berubah menjadi ceria. Memeluk bahkan mencium pipi ayah mertuanya."Furohito yang mengirimmu? Pada akhirnya ada petunjuk!" teriaknya kegirangan sambil, mengalungkan pedang pada leher sang monster. Ratusan kupu-kupu hitam ada di sekitarnya bersiap menyerang.
"Dimana Sena!? Berikan semua informasi yang kamu ketahui!" Ancamannya. Sekelebat mata Enkai memerah. Tapi hanya sekelebat tanpa disadarinya.
"Mau bermain denganku dulu?" tanya sang monster keluar dari tubuh Manabu. Monster dengan wujud bayangan hitam itu, kemudian berkumpul menjadi satu. Berubah wujud menjadi seorang pemuda dengan pakaian perang berwarna hitam pekat.
Mata pemuda yang hitam sempurna. Bersiap menyerang menggunakan pedang miliknya, bagai anak kecil, bagaikan sebuah kesenangan. Pria itu tertawa sampai mengayunkan pedangnya hendak membantai Enkai.
Enkai menghindar, ruangan yang benar sempit, menyulitkan pergerakan mereka."Jangan rusak furniture nya! Ini aku dan Sena kumpulkan dengan susah payah!" Ucap Enkai saat pedang sang monster menebas sofa.
"Apa ini mahal?" tanya sang monster dengan lugunya.
"Tentu saja! Jangan rusak furniture!" teriak Enkai. Entah mengapa monster itu menurut.
Mereka bertarung sambil menghindari rusaknya furniture. Menyerang menggunakan kupu-kupunya. Sedangkan pemuda di hadapan Enkai dapat menjadi asap hitam transparan yang ditembus kupu-kupu.
Tang!
Tang!
Tang!
Dua orang yang beradu pedang. Tangan Enkai masuk ke dalam ruang dimensi. Hendak mencengkeram jantung yang monster. Tapi tidak ada jantung, pria yang hanya terdiri dari udara dingin.
Kesempatan yang tidak dilewatkan sang monster. Kala Enkai lengah pemuda itu dipojokan mundur.
Tang!
Tang!
__ADS_1
Kali ini bukan suara gesekan pedang melainkan suara vas bunga yang hampir terjatuh akibat tidak sengaja tersenggol Enkai. Dua orang yang kemudian kompak menyelamatkan vas bunga. Lalu kembali bertarung. Pernahkan melihat monster selugu ini?