
Bau harum aroma masakan tercium. Pemuda yang terbangun kemudian membersihkan dirinya. Perlahan melangkah dengan tubuh yang lebih segar menuju meja makan.
Seorang wanita terlihat menunggunya, mungkin mempersiapkan bekal untuk mereka nanti. Tangan Enkai mengambil alat makan, menatanya di atas meja.
"Hari ini apa menu makan siangnya?" tanya Enkai basa basi. Ingin memulai pembicaraan untuk minta maaf.
"Tauge, telur gulung dan udang." Jawaban dari Sena tanpa menoleh.
"Wanita ini! Tidak bisa berbalik sedikit saja," batin Enkai tersenyum menahan rasa geramnya.
"Semalam kamu pulang jam berapa? Aku lihat pakaian kerjamu kotor." Tanya Enkai mencari celah untuk minta maaf.
"Aku jatuh kemarin..." Sena masih menata lauk pada bento mereka.
"Aku minta maaf, karena kemarin tidak menjawab panggilanmu. Aku sedang bekerja paruh waktu sebagai pengantar koran. Jika perlu bantuan, aku akan membantumu sekarang. Jadi, ini sebagai tanda permintaan maafku." Enkai menyodorkan salah satu dari phonecell pasangan yang dibelinya kemarin.
"Simpan saja, aku sudah minta tolong pada orang lain. Tidak ada masalah lagi." Jawaban jujur dari Sena. Dari nada bicaranya tidak marah sama sekali. Tapi ada yang aneh, wanita itu mengepang rambutnya. Tidak menyisakan rambut di bagian depan untuk menutupi wajahnya.
"Siapa yang membantumu? Apa rekan kerjamu?" tanya Enkai.
Sena menoleh padanya, dua kotak bento yang telah selesai dikemas. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Enkai. Wajah wanita itu tidak terlihat bekas luka sama sekali. Senyumannya semakin terlihat menawan, beberapa helai anak rambut keluar dari kepangannya, kecantikan yang benar-benar natural. Sebelum dia menyadari apa yang diucapkan wanita si*lan ini."Furohito, dia kebetulan lewat dan membantuku."
"Fu... Furohito? Kenapa tidak menungguku datang!? Kamu sudah menghubungiku jadi---" Kalimat Enkai disela.
"Jadi apa?" tanya Sena tidak menunduk lagi, namun juga tidak genit. Tersenyum menatap ke arah Enkai seperti menunggu apa yang akan diucapkan pemuda itu. Apa ini yang selalu dilakukan Sena saat wajahnya tertunduk? Memperhatikan setiap kata-kata Enkai. Pemuda yang menelan ludahnya, jantungnya berdegup cepat saat ini, untuk pertama kali wanita itu terang-terangan melihat matanya.
"Jadi, ingat! Walaupun kamu sekarang cantik, tapi jangan mudah tergoda oleh pria. Tidak semua pria baik sepertiku. Furohito adalah yang terburuk! Jangan dekat-dekat dengannya! Dia mungkin bermaksud membawamu ke ranjangnya!" tegas Enkai, bagaikan mempengaruhi anak kecil.
Sena mengangguk."Hubunganku dengannya, sama dengan hubungan kita. Hanya sebagai sahabat," ucapnya dengan wajah bagaikan mentari pagi. Tapi hati yang terasa sakit mengingat pemuda ini telah memiliki wanita yang disukainya.
"Aku merasa tertusuk dengan kata sahabat." Batin Enkai berusaha keras tersenyum.
"Sena aku ingin dada," Ucap Enkai tersenyum menggodanya.
"Ini," Kali ini wanita itu mengambilkan dada ayam. Tidak ada perasaan salah salah paham, sedikitpun. Karena sekali lagi, Enkai sudah memiliki wanita yang disukainya.
"Kamu tidak salah paham lagi? Wajahmu tidak memerah." Enkai bangkit mendekati wanita itu. Dirinya tidak bisa seperti ini, wanita ini harus malu hingga melarikan diri ke kamar, barulah dirinya puas.
"Tidak," jawaban datar dari Sena sembari makan.
__ADS_1
"Tidak?" Enkai mengenyitkan keningnya, berdiri di hadapan Sena yang duduk, salah satu tangannya berada di sandaran kursi.
"Iya tidak..." jawaban Sena lebih normal lagi. Pria ini hanya memberikan harapan palsu. Walaupun dirinya masih berharap pada orang ini.
"Gemas..." Kalimat dari Enkai mengecup bibir Sena sekilas. Benar-benar respon cepat dari tubuhnya. Dua orang yang gelagapan kemudian sama-sama menggaruk-garuk kepala menoleh ke arah lain.
"A...aku perlu ke kamar mandi!" Ucap Enkai cepat.
"Dapur belum aku bereskan!" Kalimat dari Sena. Dua orang yang gelagapan tidak tau harus apa.
Suasana yang tidak terlalu canggung, kala bis yang mereka tumpangi berjalan. Cukup padat kali ini, dua orang yang berdiri tidak mendapatkan tempat duduk.
"Bagaimana kamu bisa sembuh?" tanya Enkai ragu untuk bertanya.
"Mungkin keajaiban, saat bangun sudah seperti ini." Alasan dari Sena, membuat pemuda itu bungkam, tidak tau harus membicarakan apa lagi.
Hingga dua orang pria yang duduk berbisik-bisik. Hanya samar, namun dapat terdengar.
"Kamu bangun! Aku ingin duduk di sampingnya. Setidaknya mengajaknya berkenalan..." bisik seorang pemuda pada temannya. Matanya sedari tadi memang berpusat pada Sena. Tidak hanya dia namun hampir semua pria yang ada dalam bis.
"Iya!" geram temannya hendak bangkit. Tapi tanpa diduga Enkai merangkul bahu wanita itu.
Wanita yang lebih berani dan pria yang semakin posesif. Sena berjinjit mengecup pipinya. Mengetahui dirinya akan ditolak suatu saat nanti, tapi ini seperti mimpi yang indah baginya. Enkai hanya tersenyum, tidak mengatakan apapun. Bis yang melaju, kala keduanya terdiam dalam kebisuan.
*
Tidak seperti biasanya. Kertas order bertumpuk membuat Enkai yang biasanya santai tidak dapat keluar dari dapur sama sekali. Tugasnya menggoreng ayam, dan memanggang daging burger. Sedangkan bumbu dan sauce sudah mereka siapkan sebelum restauran buka.
Apa penyebab semua kekacauan ini?
"Namamu Sena kan? Boleh kita menjadi teman dekat. Berapa nomor teleponmu?"
"Kamu cantik..."
"Berapa usiamu,"
Prilaku semua orang berubah, benar-benar berubah. Wajah yang bahkan mengalahkan kecantikan selebriti. Beberapa orang bahkan mengambil gambar dengannya.
Sena terlihat tersenyum, terlalu canggung. Seumur hidupnya hanya hinaan dan rasa jijik yang didapatkannya. Matanya sedikit melirik ke arah dapur. Hanya pemuda itu yang tidak mencelanya dulu, tapi sudah ada orang lain di hatinya.
__ADS_1
Hingga waktu makan siang terlewat, dua makhluk itu datang. Suasana restauran yang dipadati Hunter pemerintah kini terlihat lebih sepi.
Dua orang yang duduk di meja paling pojok. Kedua teman Enkai, Sena tidak begitu mengingat namanya.
"Maaf, mau pesan apa?" tanya Sena, melayani dengan hati yang ikhlas dan penuh senyuman.
"Kamu pegawai baru disini? Perkenalkan namaku Kairi." Ucap Kairi mengulurkan tangan.
Plak!
Arashi memukul tangan Kairi. Kemudian tersenyum padanya."Mau bergabung makan bersama kami. Tenang saja, bosmu tidak akan marah. Kami adalah temannya."
"Kalian mau pesan apa?" tanya Sena kembali, menahan rasa geramnya.
"Dua milk shake. Satu lagi tolong panggilkan Enkai kemari. Kami ada urusan dengannya, sekalian memintamu padanya. Boleh aku melamarmu?" tanya Kairi cengengesan.
Raut wajah Sena berubah."Aku pemilik restauran ini..." ucapnya berlalu pergi menuju dapur.
"Pemilik? Dia istri keduanya Light?" tanya Kairi pada Arashi.
Arashi sendiri membulatkan matanya."Dia istrinya yang kemarin. Mungkin operasi plastik!" jawabnya mengusap-usap wajahnya kasar. Panik dengan kata-katanya sendiri.
Sebuah map ada di tangan mereka. Pertanda ada misi baru dari Kyo. Mungkin karena Enkai tidak datang ke kasino tadi malam.
Pemuda itu berjalan mendekat kemudian duduk. Sembari membawa dua gelas milik shake.
"Light, a...ada misi..." Ucap Arashi salah tingkah.
"Sebelum itu, mari kita bicarakan mas kawin jika ingin melamar istriku." Wajah pemuda itu tersenyum, tapi guratan penuh dendam terlihat di wajahnya.
"Mampus!" Hanya itulah kalimat yang ada dalam fikiran Arashi dan Kairi.
Sedangkan Sena memperhatikan dirinya ada yang berbeda setelah wajahnya sembuh. Perlahan berjalan ke area belakang restauran. Tanah kosong, area paru-paru kota terlihat di sana. Seluruh pohon besar tidak memiliki daun kala musim dingin menyapa.
Wanita yang meraba, batang pohon tua. Hanya ingin, ingin mengasihaninya. Namun, ada yang aneh setiap ranting tiba-tiba memiliki daun. Bahkan memunculkan pucuk bunga, mekar dengan cepat. Seperti keinginan Sena.
Bunga sakura indah yang berguguran di tengah hujan salju yang turun. Wajah Sena tersenyum, sang wanita yang berlari menghampiri setiap pohon. Hal yang sama terjadi, tanaman bagaikan terbangun dari hibernasi olehnya.
Musim semi di tengah salju...
__ADS_1