
Wanita yang menadahkan tangannya. Dirinya memiliki kemampuan? Sesuatu yang membuatnya tertegun. Menyadari dirinya tidak mungkin dapat bekerja sebagai Hunter dengan kemampuan ini. Namun, kemampuan yang benar-benar indah.
Kala melihat puluhan pohon bunga sakura mekar bagaikan musim semi.
*
Beberapa jam berlalu, berita menggemparkan bahkan tersebar melalui media sosial dan televisi. Beberapa orang bahkan menikmati gugurkan bunga sakura di tengah hamparan salju, membawa minuman hangat, datang dari tempat yang jauh bersama keluarga atau orang terkasih.
Para peneliti datang dari beberapa negara, benar-benar peristiwa langka yang membawa kehebohan. Karena itu pengunjung kedai ayam goreng mereka yang berada di dekat sana mulai ramai seperti sedia kala. Suatu kasus yang dilupakan, kala ingin menikmati indahnya sebuah keajaiban.
Sena tidak lagi bekerja paruh waktu di minimarket. Dirinya benar-benar sibuk mengurus restauran bersama Enkai. Kehidupan biasa-biasa saja seperti impiannya, dengan wajahnya yang tidak rusak dan pemuda ini tetap ada di sampingnya.
Sebuah kebahagiaan baginya. Hingga Furohito tiba-tiba muncul, tersenyum padanya."Mau menemaniku makan malam?" tanyanya kala rolling door restauran ditutup oleh Sena.
"Enkai sudah menunggu, jadi---" kalimatnya disela.
"Kalau begitu, tanyakan padanya apa dia mau ikut? Kita bertiga bisa makan bertiga di warung tenda, ada kedai takoyaki yang baru buka!" Ucap Furohito, menunjuk ke arah utara.
Sena menghela napas kasar, mencoba menghubungi Enkai. Tapi sama saja, segera setelah restauran tutup pemuda itu pergi dengan alasan bekerja sambilan. Bukankah penghasilan restauran sudah cukup? Mencoba menghubunginya lagi, tapi tetap saja tidak bisa.
"Dia mengambil misi lagi. Jika ada apa-apa padanya, bisa kamu menyelamatkannya?" tanya Sena pada Furohito, membaca pesan dari Enkai, mengatakan dirinya akan pulang malam untuk mengantarkan koran.
"Kenapa? Seharusnya kamu sendiri yang melakukannya." Tanya Furohito, menggelengkan kepalanya, bagaikan menunjuk ke arah pepohonan yang memiliki daun dan bunga di musim dingin.
"Kemampuanku hanya ini. Lagipula ada seseorang yang lebih penting baginya. Suatu hari nanti, dia tetap seperti orang lain, akan pergi." Ucap Sena tertunduk.
"Aku tidak dapat menebak hati seseorang. Ada saatnya seseorang mengatakan mencintainya, ingin mati rasanya kala tidak bertemu dengannya. Ada juga saat rasa kepercayaan itu pudar, mengumpat bagaikan iblis, membuat seseorang yang dicintainya tertekan hingga mati. Mencintai juga berarti melukai." Furohito menepuk bahu Sena. Benar-benar bagaikan sahabat.
"Sudah! Jangan sedih! Ayo kita makan takoyaki dengan potongan gurita!" teriak Furohito semangat, menarik tangan Sena menuju warung tenda. Tempat makan terbuka di pinggir jalan raya. Senyuman terlihat di wajah pemuda itu menatap helaian sakura yang gugur di sekitar warung.
Menusukkan pedang yang paling menyakitkan hati gadis ini, agar dia menyadari segalanya. Agar hatinya kebas, tidak dapat merasakan apapun.
__ADS_1
Pemuda yang sesekali menatap ke arah langit, membenci segalanya. Kembali makan dan tertawa dengan Sena, tidak ada cinta atau napsu. Yang ada hanya ambisi.
"Aku tau malam ini Enkai akan menjalankan misinya dimana. Kamu mau membantunya?" tanya Furohito, dengan cepat Sena mengangguk.
*
Enkai segera meletakkan phonecellnya diatas meja. Setelah mengirim pesan pada Sena. Memakai topeng Inari hendak menjalankan misi berikutnya. Tapi sebelum itu, Enkai meraih roti isi, hanya itu makan malamnya.
"Aku ingin libur..." gerutunya menghela napas berkali-kali, pemuda yang meminum segelas susu. Kemudian membuat ruang dimensi. Langsung ke tempat Kairi dan Arashi berada saat ini.
Dimana mereka berada? Tentu saja kantor pusat HO. Pemuda yang membuat ruang dimensi langsung menembus ke lobby.
"Akhirnya kamu sampai juga!" Ucap Kairi merangkul Enkai. Sedangkan Arashi hanya mengenyitkan keningnya. Benar-benar merasa tidak nyaman, ada begitu banyak Hunter pemerintah di sini. Mereka menatap sinis, tentu saja ada yang terasa aneh dengan kedatangan dark Hunter.
"Kenapa kalian kemari?" tanya salah seorang Hunter. Terlihat dari lencananya level S.
Enkai tidak menjawab, dirinya hanya diam berjalan diikuti Arashi dan Kairi.
"Komandan Akihiro yang memanggil mereka. Kenapa!?" tanya Sora menatap sinis, mengeluarkan aura kejamnya. Wanita yang terbiasa berbuat kasar saat melatih bawahannya.
"Sora..." Pemuda itu menunduk memberi hormat, menatap atasannya.
"Light, kamu sudah sampai? Apa sudah makan malam?" tanya Sora semakin menempel padanya. Benar-benar menunjukkan perhatian pada dark Hunter yang statusnya bahkan lebih rendah dari pasukan biasa. Wanita yang bergelayut manja padanya.
"Sudah!" Jawaban dari Enkai, mendorong kepala Sora. Wanita yang benar-benar agresif, bukannya apa-apa. Wanita seperti inilah yang membuat dirinya sering dihajar ketika SMU.
Mengingat masa lalunya yang kelam. Pangeran sekolah, itulah sebutannya yang selalu mendapatkan beasiswa penuh, dengan wajah rupawan tanpa ekspresi, membuat para wanita agresif ini penasaran untuk mengejarnya.
Berteriak setiap hari, bangkunya selalu dipenuhi hadiah dan coklat. Namun, dibalik itu pria-pria yang kesal wanita incarannya mendekati Enkai, menghajarnya di belakang sekolah. Tidak terkecuali anak sah keluarga Zen, saudara angkatnya.
Karena itu, dirinya seolah membenci wanita seperti ini. Lebih tepatnya menghindarinya. Wanita yang dipuja banyak pria, walaupun tidak menjalin hubungan, namun memberi harapan pada beberapa orang.
__ADS_1
Karena itu, lebih baik menjauhi makhluk yang namanya wanita. Anggap saja mereka pria. Jadi Sora yang tengah memeluk manja lengan Enkai, dengan bentuk tubuh menawan, bibir tipis yang indah, rambut panjang pirang. Berubah menjadi pria berotot sangar bagaikan Rambo dengan alis yang tebal.
"Aku tidak punya banyak waktu. Bisa kita ke ruangan Akihiro sekarang?" tanya Enkai.
Wanita dengan rok mini dan seragam biru ketatnya itu berjalan membimbing mereka. Sepatu hak tinggi, kaki jenjang yang membuat semua pria menelan ludahnya. Sudah diduga oleh Enkai, semua pria akan membencinya. Dirinya benar-benar tidak menyukai semua makhluk yang bernama wanita.
Lalu bagaimana dengan Sena? Apa mungkin dalam imajinasi Enkai, Sena juga adalah pria? Tanyalah pada rumput yang bergoyang.
*
Ruangan yang cukup luas, suara tembakan ada dimana-mana. Ini adalah area latihan tembak. Beberapa orang berseragam biru, maupun memakai baju dinas tentara normal ada disini. Menembak sasaran mereka dengan akurat.
Akihiro kali ini memakai pakaian rapi bahkan setelan tuxedo putih seperti pengantin pria. Pria eksentrik itu tersenyum."Selamat datang..." ucapnya tersenyum ramah bagaikan pengantin pria.
"Kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Sora berusaha tersenyum.
"Belajar menyamar untuk menjadi mata-mata." Kata-kata serius baginya.
"Kita melawan monster! Bukan manusia!" bentak Sora dalam hati.
"Ini misi untuk kalian. Sora akan mengikuti kalian sebagai bantuan. Misi kali ini ada di hutan tengah gunung. Beberapa warga sekitar menghilang satu persatu. Tim pasukan khusus yang aku kirim, bahkan hanya meninggalkan kamera mereka. Tapi anehnya tidak ada memory di dalamnya. Memory nya sudah dicuri. Tidak ada informasi dan jejak apapun. Jika mengirim pasukan dalam jumlah besar, takutnya akan ada longsor. Gunung ini rentan terhadap bencana longsoran salju. Karena itu aku mengandalkan kalian." Jelas Akihiro tidak memberikan penjelasan yang jelas tentang monster yang akan mereka hadapi.
"Kampret!"
"Kampret!"
"Kampret!"
Batin Sora, Kairi dan Arashi, berusaha tersenyum menerima misi tidak jelas.
"Apa tidak sebaiknya, gunung es itu disiram lahar dari atas? Memulai peradaban baru disana. Ikhlaskan nyawa para sandera dan warga desa." Saran Enkai.
__ADS_1
"Psikopat..." gumam Kairi.