Master Of World

Master Of World
Tidak Diakui Oleh Ayah


__ADS_3

Prang!


Pada akhirnya frame foto pernikahan pecah. Enkai benar-benar terpojok melawan monster ini. Pedang yang digunakannya berwarna hitam pekat. Monster yang tersenyum padanya.


Bagaimana caranya agar dapat menang? Dirinya hanya dapat menggunakan otak. Pada akhirnya dirinya bergerak, membiarkan tubuhnya tertusuk pedang. Menyalakan vacum cleaner yang ada di samping monster.


Hingga kupu-kupu hitam bergerak untuk menyerang sang monster, mengingat sang monster tidak akan dapat merubah dirinya menjadi asap, karena vacum cleaner yang tetap menyala.


Tang!


Tang!


Sang monster menangkis serangan dari kupu-kupu hitam. Hingga beberapa bagian tubuhnya tergores. Tapi monster tersebut malah semakin bersemangat.


"Arata! Aku senang!" teriakannya. Persis seperti monster berwujud ular putih, menganggap pertarungan sebagai permainan.


Srash!


Srash!


Tubuh sang monster terkoyak. Hingga Enkai menghentikan segalanya tidak ingin monster ini mati. Sang monster yang tiba-tiba terduduk di atas lantai. Tidak dapat melawan lagi, namun wajahnya tersenyum.


"Dimana Sena?" pertanyaan dari Enkai.


"Dungeon," Jawaban sang monster, tersenyum memberikan kertas dengan alamat di dalamnya. Kemudian kembali memasuki tubuh Manabu. Bagaikan itu adalah tubuh barunya.


"Furohito akan menyiapkan perjamuan untukmu disana. Senang bertemu denganmu lagi." Senyuman terlihat dari wajah sang monster.


Tidak peduli, itulah Enkai saat ini, tidak peduli apapun yang akan dilakukan sang monster dengan menggunakan tubuh Manabu. Dirinya bukan Hunter lagi. Itu sudah diputuskan olehnya, perset*n dengan perdamaian dunia.


Namun sejenak dirinya berfikir, menghela napas berkali-kali. Sudah pasti di dalam sana akan banyak monster level tinggi. Bagaimana jika memanfaatkan unit pasukan khusus milik pemerintah?


Senyuman menyeringai di wajahnya. Senyuman picik yang memuakkan.


Senyuman picik yang memuakkan? Mungkin sama seperti 2300 tahun yang lalu.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi hingga menimbulkan dendam antara raja neraka pada khayangan? Tentu saja, karena anak tunggalnya mati pada akhirnya.


*


Sudah dua hari Kairi menyalin beberapa buku kuno dan membersihkan ruangan dalam kuil sebagai hukuman untuknya. Pemuda yang menghela napas berkali-kali, tidak pandai sama sekali jika tentang kaligrafi.


Sedangkan Shim Jiro, cucu pemilik kuil tengah mengawasinya sembari memakan semangka segar.


"Tidak semuanya diceritakan oleh kakekmu kan?" tanya Kairi masih penasaran tentang Arata.


Jiro mengangguk."Kakek hanya menceritakan hal baik tentang Arata. Sebenarnya dia tidak begitu baik,"


"Tidak begitu baik?" Kairi terlihat lebih antusias.


"Jika ada uang aku akan memberimu lebih banyak informasi." Jiro tersenyum menyeringai.


"Berapa nomor rekeningmu? Satu miliar cukup?" tanya Kairi, bagaimana pun juga jika Enkai tidak bekerja dirinya juga tidak dapat bekerja. Karena itu menemukan istri tukang selingkuh adalah prioritasnya saat ini.


Jiro membulatkan matanya, terbatuk-batuk akibat terkejut."Sangat cukup!" ucapnya penuh semangat.


"Ceritakan dulu! Baru akan aku transfer!" tegas Kairi.


"Kenapa?" tanya Kairi tidak mengerti.


"Dia bukan sepenuhnya dewa, ibunya dewi yang dihukum mati, sementara ayahnya raja neraka yang berasal dari ras iblis. Aku tidak tau dengan jelas, yang pasti keberadaannya tidak pernah diakui. Karena itu dia tidak tinggal di khayangan, tapi lebih sering tinggal di dunia manusia. Menunjukkan dan menyombongkan diri, bahwa dirinya lebih baik dari para dewa yang tinggal di khayangan." Cerita kelam dari Jiro, membuat Kairi menelan ludahnya.


"Jadi dia berkemungkinan besar berkomplot dengan iblis dan monster bukan?" tanya Kairi, sudah lebih mencurigai lagi. Musuh utama mereka adalah Arata.


"Intinya Arata adalah dewa yang gila pengakuan. Dia ingin semua umat manusia hanya memujinya. Pada dasarnya dia tidak jahat, bahkan pada akhir hidupnya dia menyegel seluruh penghuni neraka." Jelas Jiro, yang kini memberikan selembar kertas pada Kairi."Ingat transfer!"


"Kalau Dungeon, kamu pernah mendengarnya?" tanya Kairi lagi, tapi pemuda itu hanya menggeleng. Tidak ada informasi yang tersisa, hanya itulah yang aku ketahui.


"Informasi tidak berguna!" Komat-kamit mulut Kairi mengomel, sambil mengirim uang menggunakan phonecellnya pada rekening Jiro.


"Terimakasih..." Pemuda yang tengah memakan semangka itu pergi pada akhirnya setelah mengecek saldo rekeningnya.

__ADS_1


Sedangkan Kairi, menghela napas berkali-kali. Jika Arata hidup kembali. Mungkin saja dialah musuh terbesar mereka. Ini menjadi semakin rumit dan sulit. Bagaimana caranya melawan dewa?


Pemuda yang melangkah, sejatinya tidak ada yang aneh dari kuil ini. Bahkan terkesan terlalu nyaman, berada di atas perbukitan tempat yang tenang. Pemandangan dari atas, kala melihat ke arah tebing bagaikan berada di atas langit. Mengingat tempat yang berada di dataran tinggi. Bahkan terlalu tinggi.


Mungkin yang tertulis dalam sejarah memang benar. Arata merupakan dewa yang gila pengakuan, karena itu membuat kuil tanpa nuansa gelap sedikitpun. Tidak ingin ada yang mengatakan dirinya berasal dari neraka.


Pemuda itu kemudian mencari sinyal mencoba menghubungi Enkai. Beberapa kali panggilannya tidak diangkat. Bahkan sudah dua hari dirinya ditinggalkan oleh Arashi dan Enkai."Teman k*parat!" teriaknya murka.


Benar-benar dua orang yang tidak setia kawan. Pemuda yang hanya dapat menunggu mereka datang. Mengingat tangga kuil yang begitu tinggi, ditambah jalan desa dan sulitnya mencari kendaraan.


Lalu dimana kedua sahabat tidak tahu dirinya?


*


Pemuda yang memakai pakaian santai, bersiap membawa ransel, diikuti pemuda lainnya yang juga membawa ransel bagaikan akan mengadakan piknik. Tidak mau mengambil resiko, itulah dasar prinsip hidup Enkai, setelah pengalamannya menentang Hunter dibawah pemerintah.


Karena itu kali ini dirinya akan dengan sopan, mengajukan laporan sebagai warga sipil yang baik.


"Aku ingin bertemu dengan tuan Akihiro," ucapnya ramah pada resepsionis.


"Maaf untuk pengajuan laporan penemuan lokasi iblis atau monster, kami juga membuat pelayanan secara online. Tapi jika ingin mengajukan laporan secara langsung, silahkan masuk ke dalam ruangan sebelah kiri." Sang resepsionis tersenyum seperti biasanya. Dirinya tidak akan mengurusi laporan yang dianggapnya tidak begitu darurat.


"Aku perlu bicara langsung pada tuan Akihiro." Enkai kembali berucap sopan.


"Maaf, tuan Akihiro sedang ada tamu. Sebaiknya anda masuk ke ruangan pembuatan laporan." Wanita itu kembali menjawab dengan sopan.


Hingga beberapa petinggi militer melewatinya. Namun sejenak mereka menghentikan langkah."Kamu anak tuan Akihiro yang dulu tersesat ke ruang rapat kan?" tanyanya mengingat-ingat.


Enkai terdiam sejenak, mengingat kelakuannya. Saat ajudan Akihiro dirasuki monster berbentuk b*bi raksasa. Kemudian dirinya menghela napas kasar, memang harus melanjutkan drama ayah dan anak yang tertunda.


Senyuman di wajahnya menghilang. Matanya memerah, bagaikan menahan air mata yang hendak mengalir. Menggenang di kantung matanya, berusaha tidak mengalir. Anak yang begitu tegar."Ayahku, Akihiro belum mau mengakuiku sebagai anak," ucapnya tertunduk, dengan bibir bergetar.


Arashi mengenyitkan keningnya, menahan tawanya. Entah kenapa hari ini Enkai tidak menggunakan ruang dimensi untuk berpindah tempat. Tidak ada yang tahu apa yang ada di fikiran gila orang ini.


"Tidak bisa seperti ini! Biarpun Akihiro adalah atasanku! Dia tidak bisa mengabaikan putranya! Tenanglah, paman akan mengantarmu padanya. Sekaligus bertindak tegas pada pria br*ngsek itu! Berani menghamili, tapi tidak mau merawat putranya!" Ucap sang petinggi militer menggebu-gebu, merangkul bahu Enkai. Membimbingnya ke tempat Akihiro berada saat ini.

__ADS_1


Enkai hanya tertunduk."Terimakasih paman," ucapnya dengan air mata yang mengalir pada akhirnya.


Satu kata untuk aktingnya."Sempurna!" celetuk Arashi kagum.


__ADS_2