
Arashi terdiam banyak hal yang ada difikirkannya saat ini. Dirinya ingin menyerah, benar-benar ingin menyerah. Menatap monster di hadapannya.
Tinggi empat meter dengan tubuh berwarna abu-abu. Gigi berisikan taring runcing, liur menetes dari ujung-ujung giginya. Kuku tajam, yang dapat menghancurkan tubuhnya.
Arashi hendak mengangkat tangan untuk menyerah.
"Si*l!" gerutu Sena menggunakan kemampuannya. Aliran udara ada di sekitar kakinya. Matanya terpejam, dengan tangan membuat segel tertentu.
Sedangkan Arashi yang hendak mengangkat tangan mengurungkan niatnya. Tiba-tiba saja, wanita renta yang selalu memakai pakaian tradisional lusuh itu terlihat.
Wanita yang kesulitan berjalan akibat kakinya yang kerap membengkak. Mungkin karena penyakit jantung dan paru-paru yang diidapnya.
"Arashi..." panggil wanita itu menoleh ke arah rumah tradisional dengan lantai yang terbuat dari kayu.
"Aku mau pergi ke kota, kali ini aku bersungguh-sungguh!" Ucap dirinya tegas, ini hanya memory tapi itu disadari olehnya.
"Ja... jangan pergi..." kalimat yang tidak dapat diucapkan Arashi, mungkin ingin menasehati dirinya sendiri di masa lalu. Atau mungkin ini adalah penyesalan baginya?
"Pergi ke kota?" Sang ibu yang membawa kayu bakar di punggungnya yang mulai bungkuk, mengeluarkan ranting. Kemudian memukulnya."Apa yang kamu cari di kota!? Lebih baik bantu ibu beternak ayam! Semua orang butuh makan! Memerlukan ayam!" geram sang ibu, terlihat wajahnya yang pucat berusaha tersenyum segalak mungkin.
"Sakit! Tidak mau!" teriak Arashi saat itu, tetap keras kepala, berkemas untuk pergi ke kota. Entah apa yang dicarinya.
Bayangan masa lalu berubah, menjadi kala ibunya terbaring lemah, merindukannya."Apa Arashi menelfon?" tanya sang ibu yang telah terbaring di ranjang rumah sakit.
Ayahnya menggeleng."Katanya sibuk, dia tidak dapat pulang."
Wanita tua yang memakai alat bantu pernapasan itu melirik ke arah buah persik yang sempat dipetik untuk putranya. Wajahnya berusaha tersenyum, namun air matanya mengalir merindukan putranya.
"I...ibu." Arashi menitikan air matanya, memanipulasi ingatan. Sihir yang sejatinya juga dikuasai Sena.
Matanya menatap ke arah monster berukuran 4 meter tersebut. Anak itu mengatakan hadiah utama adalah benda yang dapat mempertemukannya dengan roh orang mati.
Ambisi, tetap tenang untuk menghabisi itulah Kairi. Rantai keluar dari kedua telapak tangannya. Rantai dengan sinar aneh berwarna merah.
Brug!
Brug!
__ADS_1
Brug!
"Kamu manusia, mau apa berada dalam Dungeon?" tanya sang monster pada Arashi.
"Manusia? Aku Hunter." Ucap Arashi tepat pada saat kompetisi dimulai. Monster itu mengeluarkan tombak berselimut api.
Berlari mendekat ke arah Arashi. Pemuda itu hanya menghindar berusaha melompat sejauh mungkin dari serangan sang monster.
Salah satu ras bangsawan? Itulah asal monster di hadapannya. Monster yang tiba-tiba mengangkat tombaknya bersamaan dengan turunnya puluhan bola api dari atas langit.
Pemuda yang berusaha menghindar secepat mungkin. Benar-benar bagaikan hujan meteor yang jatuh ke bumi.
Dhuar!
Dhuar!
Dhuar!
Ledakan yang terjadi membuat Kairi ingin masuk ke area pertarungan yang dilapisi pelindung khusus."Arashi!" panggilnya. Menitikan air matanya, dapat ditebak olehnya sahabatnya itu pasti sudah mati. Air matanya mengalir, seharusnya dirinya tidak berbuat jahat pada Arashi dengan menggunakan sikat gigi sahabatnya untuk menyikat kloset.
Tidak seharusnya juga, dirinya mencuri pakaian Arashi. Saat Arashi sedang di kamar mandi, tidak seharusnya juga dirinya menyebut Arashi sebagai pria yang terlalu lurus, tidak dapat diajak bercanda bagaikan robot.
Namun kala kepulan asap bekas pertarungan itu padam. Arashi terlihat di sana masih berdiri tegap. Matanya terbuka mengeluarkan cahaya aneh, namun kala cahaya padam, pupil matanya memerah mengingat biji buah yang dimakannya adalah tanda bukti dirinya menjadi pelayan dewa yang menjaga perbatasan dunia manusia dan akhirat.
Senyuman aneh benar-benar bengis, seperti bukan Arashi, tersungging di wajahnya.
"Bocah br*ngsek! Kamu hanya manusia!" teriak sang monster, pada akhirnya membentuk medan energi yang aneh.. Mengumpulkan energi pada mulutnya. Menembak ke arah Arashi.
Hawa yang benar-benar dingin. Ini adalah hawa kematian. Kala pupil mata itu menatapnya segalanya terlihat lebih mengerikan lagi
Tembakan energi yang cukup besar dari sang monster. Tapi anehnya Arashi tidak menghindar, tapi menyerap serangan Tubuhnya sulit dikendalikan olehnya.
"Ini adalah napsu pelayan dewa milik Arata." Gumam sang anak yang berdiri didekat Akihiro.
"Napsu?" Akihiro mengenyitkan keningnya seakan meminta penjelasan.
"Napsu pelayan Dewi kesuburan, memiliki keinginan untuk terus menumbuhkan tanaman. Tapi apa napsu dari pelayan dewa yang bertugas menjaga perbatasan alam tengah dan atas?" Ucap Sena hanya tersenyum. Tidak diduga, keinginan kuat akan membuat Arashi seperti ini.
__ADS_1
"Menarik paksa roh makhluk hidup?" Akihiro mengenyitkan keningnya.
Sena mengangguk."Memiliki keinginan besar untuk membawa roh makhluk hidup yang memiliki banyak dosa, tinggal di neraka."
*
Arashi tersenyum.
Srang...
Srang...
Srang...
Suara rantai yang diseret dari kedua tangannya. Benar-benar mengerikan, bahkan lebih mengerikan daripada dewa kematian yang berada di bawah pengawasan raja neraka.
Dewa kematian hanya bertugas membawa roh makhluk hidup ke alam baka. Bukan mencabut nyawa mereka secara paksa. Tapi makhluk ini berbeda. Semakin tenang maka hawa dingin dari kematian semakin terasa.
Entah kenapa monster dengan tinggi empat meter itu tiba-tiba ketakutan. Mengelukan senjata cakram besi berukuran besar. Melemparkan ke arah Arashi. Namun, tidak menghindar sama sekali, cakram raksasa itu menembus tubuh Arashi.
"Aku akan membunuhmu! Manusia laknat!" teriak sang monster, menembakkan lebih banyak serangan dari tangannya.
Tapi kali ini entah Arashi bergerak cepat atau bagaimana. Semua serangan dihindarinya, lebih tepatnya dirinya sesekali terlihat menghilang dari pandangan, kemudian muncul lagi.
Apa yang ada di fikirannya? Seolah-olah semua informasi tentang kemampuannya diketahui olehnya.
Telapak tangannya yang terhubung dengan rantai, menyentuh tanah. Seketika ratusan rantai kecil muncul dari bawah tanah yang dipijak sang monster. Ratusan rantai menjeratnya."Apa yang kamu lakukan!?" teriak sang monster, pada pria yang bahkan tidak membawa satupun senjata.
"Semoga di kehidupan yang akan datang lebih beruntung." Ucap Arashi bersamaan dengan rantai yang menarik roh monster itu secara paksa.
"Agghhh!" teriak sang monster pupil matanya perlahan menjadi berwarna putih. Toh itu menjerit tidak bersedia meninggalkan tubuhnya.
Satu tangan monster yang masih dapat bergerak, membuat kode yang dimengerti pengawas pertandingan. Monster itu menyerah sepenuhnya.
"Pemenangnya adalah Arashi!" Ucap sang pengawas. Bersamaan dengan dirinya yang membuat tanda jari khusus yang diajarkan Sena.
Bersamaan dengan itu ratusan rantai yang menjerat tubuh sang monster menghilang.
__ADS_1
Hembusan napas tidak beraturan terdengar dari sang monster. Dirinya ketakutan, benar-benar ketakutan, menyadari rohnya yang hampir terlepas.
Matanya menatap ke arah Arashi. Wajah tersenyum dingin, keluar dari lapisan pelindung.