Master Of World

Master Of World
Kesalahan


__ADS_3

Bergerak mundur itulah yang dilakukannya. Menjatuhkan kedua temannya ke dalam ruang dimensi yang ada dalam jarak sekitar satu kilometer dari tempat tersebut, termasuk dirinya.


Hiroshi? Pemuda itu hanya terdiam sambil tersenyum, tidak ikut masuk mengejar ke dalam ruang dimensi tempat Enkai melarikan diri. Kembali turun dari pohon tempat keempat ketiga orang tersebut sebelumnya bersembunyi. Hiroshi berjalan dengan tenang menyusui hutan. Wajahnya tenang bagaikan berwisata untuknya, memang pemandangan yang indah kala musim semi akan tiba.


*


"Hampir saja!" Kairi menghela napas lega, terduduk di tanah.


Sedangkan Arashi mengamati wilayah sekitar atas arahan Enkai. Tidak diduga olehnya, monster itu bahkan memiliki kecepatan tinggi. Pada akhirnya Enkai mengirim kupu-kupu hitam dan putih, menyebar ke segala sudut hutan mencari lokasi sang monster.


Ada yang mengganjal dalam fikirannya hingga kini. Bisa saja sang monster ikut memasuki celah dimensi. Tapi kenapa tidak dilakukannya?


Matanya menelisik, tidak seperti monster atau iblis lainnya yang berkeliaran di dunia manusia. Monster ini tidak memakan daging atau menghisap roh, hanya membuat kesadaran manusia berkurang atau menghilang. Apa tujuannya sebenarnya? Satu hal yang tidak dimengerti olehnya.


Ribuan kupu-kupu yang menyebar ke segala penjuru hutan. Kini dirinya setidaknya dapat merasakan lokasi dari sang monster.


Srash!


Kupu-kupu kristal berwarna hitam menyayat pipi sang monster. Percobaan pertama untuk menyerangnya dari jauh, berharap dapat menyebarkan racun.


Namun di luar dugaan, kupu-kupu itu dihancurkan olehnya dengan sekali r*masan, bagaikan kupu-kupu rapuh, tidak peduli dengan racun atau apapun. Luka Hiroshi dapat sembuh dengan mudah. Monster level tinggi memang berbeda dengan monster biasa. Bertapa ribuan tahun, tidak menggunakan jalan singkat dengan memakan roh atau daging manusia menjadi penyebabnya.


"Tidak berhasil." Gumam Enkai yang kini berjarak sekitar satu kilometer dari tempat sang monster, menyadari kupu-kupu hitam miliknya dihancurkan dengan mudah. Mengubah menjadi telur juga tidak dapat. Ada semacam pelindung khusus di area tubuh monster ini.


Benar-benar sulit di hadapi.


"Aku yang jaga! Kalian semua yang bersembunyi!" teriak Hiroshi, sang monster bagaikan anak kecil yang bahagia, berjalan sesekali melompat-lompat. Kata-katanya menggema ke seluruh penjuru hutan. Jika bertemu dengan monster ini sudah pasti mengalami nasib yang serupa dengan Jasper.


Pemuda yang melangkah untuk menangkap satu persatu Hunter. Akan lebih baik jika menangkap Arata di bagian akhir, itulah yang ada di fikiran Hiroshi saat ini.


Sora bersembunyi di pinggir sungai, memasukan tubuhnya ke dalam air es yang hampir mencair. Sementara Eiji, bersembunyi di balik pohon, mencari cara menyerang sang monster, mengikutinya diam-diam. Dirinya harus mampu, tidak peduli soal nyawa. Tipikal orang yang idealis itulah Eiji.

__ADS_1


Midori? Wanita itu melarikan diri mencari jalan keluar dari hutan. Dengan dalih akan melapor ke kantor HO, padahal sifat egois timbul dalam dirinya sendiri. Ingin selamat bagaimanpun caranya. Tapi apa bisa?


Keringat mengucur dari pelipisnya. Dirinya beberapa ratus meter lagi akan keluar, napasnya tersengal-sengal. Sudah menemukan jalan yang sempat dilaluinya. Wajahnya tersenyum optimis.


"Sayang..." Suara berat, terdengar merdu dari monster dengan wujud manusia sempurna itu, keluar dari balik pohon tepat di hadapan Midori."Kamu lumayan, mau bersenang-senang denganku?"


"Ti... tidak! Aku tidak mau!" Midori mencoba melarikan diri. Tapi pemuda yang bergerak terlalu cepat, terlalu agresif, bagaikan seorang playboy dengan banyak pengalaman. Kini kembali berada di hadapan Midori yang kembali masuk ke dalam hutan.


"Sayang kenapa kamu pergi? Apa aku kurang tampan?" tanya Hiroshi menggoda.


Midori yang ketakutan terjatuh dengan kaki yang lemas."Ti... tidak! Jangan! A..." Teriakan yang memekik, pada akhirnya meninggalkan Midori yang tertawa-tawa sendiri. Kewarasan wanita cantik dengan tubuh menggoda itu benar-benar menghilang. Bagaikan penghuni rumah sakit jiwa.


"Tidak menarik." Gumam Hiroshi pergi meninggalkannya, wanita dengan mental yang lemah. Cukup mudah untuk mengalahkannya.


Bagaikan permainan petak umpet kematian. Semua orang gemetar ketakutan saat ini. Bergerak dalam tim dengan resiko ditemukan lebih mudah. Tidak menyadari, Hiroshi sudah mengetahui lokasi semua orang.


Termasuk Eiji yang mengikutinya. Pemuda itu menelan ludah kasar, monster dengan level tinggi yang keji. Itulah Hiroshi di fikirannya. Tangan dan kakinya gemetar, tapi mati-matian mencoba untuk lebih senyap lagi. Tidak ingin membuat suara sama sekali.


Benar, ost Crayon Shinchan yang dinyanyikan olehnya. Membuat Eiji terjatuh seketika dari pohon. Akibat terkejut dan menahan tawanya.


"Ketahuan..." Kalimat yang diucapkan Hiroshi, yang kini berada tepat di hadapan Eiji. Pemuda yang merasakan sakit akibat baru saja terjatuh dari pohon.


"Gelang api!" ucapnya mencoba mengeluarkan kemampuannya sekali lagi.


Brak!


Tapi tetap saja gelang api yang melingkar di tubuh Hiroshi, hancur tidak berbekas.


"Monster! Kamu akan mati! Membusuk dalam tanah dan---" Kalimat Eiji disela.


"Hei! Hei! Hei! Karena kalianlah ini semua terjadi. Jika Arata tidak menyegel kami, dendam dalam hati ini mungkin sudah aku lampiaskan di alam tengah. Menghabisi semuanya..." Pupil mata monster itu memerah, membuat kesadaran Eiji tiba-tiba memudar. Pemuda yang tiba-tiba saja menangis tanpa sebab. Benar-benar aneh, sedangkan Hiroshi hanya tersenyum. Kembali berjalan menelusuri hutan.

__ADS_1


Menyanyikan lagu dengan lebih lantang lagi."Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali. Semua-semua dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib. Aku ingin terbang bebas di angkasa. Hei! Baling-baling bambu..."


Kali ini ost Doraemon, mungkin pengaruh dari Furohito yang sering membawa benda-benda dari dunia manusia ke dalam Dungeon. Monster kekanak-kanakan, dengan wajah rupawan, melompat-lompat dengan ceria menelusuri hutan. Bagaikan sang kancil yang bijak, padahal dirinya adalah ular putih.


*


Bulan begitu terang malam ini. Sena hanya dapat tertunduk diam. Matanya sedikit melirik ke arah Furohito.


"Mau aku menyelamatkannya?" tanya Furohito mulai bangkit. Menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul 12 malam.


"Enkai..." Sena terlihat ragu.


"Dia tidak akan mati. Lebih tepatnya tidak bisa. Walaupun aku mengirimkan monster yang akan dapat mengalahkannya dengan mudah." Furohito tersenyum hangat pada wanita di hadapannya.


"Lalu kenapa kamu membujukku. Aku---" Sena terdengar ragu. Bibirnya bergetar saat ini, memilin jemarinya.


Furohito menghela napas kasar."Ini tidak merugikanmu. Aku hanya ingin kamu mengingat sesuatu. Mengapa ada luka bakar di wajahmu."


Pemuda yang tidak meminta ijin lagi. Dahi Sena disentuhnya, tubuh mereka dikelilingi kunang-kunang. Ingatan yang perlahan pulih, tentang menjadi pelayan seorang Dewi, bahkan detail segalanya.


"Agghh..." wanita itu berteriak sembari menangis. Bagaikan merasakan akhir hidupnya, kala tenggorokannya terbakar. Api aneh yang menyebar ke seluruh tubuhnya.


Selanjutnya Sena hanya dapat menangis. Wanita yang memeluk Furohito."A...aku tidak ingin tinggal di tempat ini. Aku ingin mengurung diriku dalam Dungeon. Ti... tidak aku ingin mati saja. Istana impian, dia bilang istana impian---" kalimat darinya terisak.


"Tidak ingin bertemu Arata lagi?" tanya Furohito. Dijawab dengan anggukan oleh Sena.


"Aku mengetahui dan melihat segalanya. Ini bukan kesalahanmu..." Furohito tersenyum, mengusap pucuk kepala Sena.


Sejenak senyuman itu berubah."Raja neraka juga ada dalam Dungeon setelah kekacauan terjadi. Minta maaf lah padanya, walaupun dia memintamu mempertaruhkan nyawamu."


Sena mengangguk menyanggupi. Air matanya masih mengalir. Dirinya tidak ingin mengingat segalanya. Tapi ini memang kesalahannya, hanya kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2