
Jaring-jaring besi yang terputus. Akan lebih cepat untuk mengalahkannya. Karena itu Enkai mengacungkan pedangnya. Membuat gerakan unik. Menggerakkan ujung pedangnya mundur ke belakang. Pijakan tidak terlihat membuatnya masih mengapung di udara.
Furohito menipiskan bibir menahan tawanya, bagaikan mengingat sesuatu. Dejavu, mungkin itulah yang dialaminya.
Matanya menatap ke arah gerakan Enkai. Benar-benar sama bahkan serupa dengan pria yang sempat bertarung dengannya. Masa muda yang benar-benar indah.
Dan benar saja, gerakan yang unik. Mengarahkan pedang, membuat sedikit energi itu keluar.
Srak!
Garis lurus tiba-tiba tercipta di atas salju. Memutuskan salah satu kaki dari sang laba-laba.
Enkai menatap aneh, tubuhnya memang beberapa detik yang lalu, bagaikan mengingat sesuatu. Apa ini kemapuan barunya? Tapi Hunter biasanya hanya memiliki satu kemampuan. Namun dirinya lebih dari satu, bahkan tiga.
Sang monster tersenyum. Bagian perutnya mengeluarkan sinar putih. Membuat kali ini Furohito meletakkan phonecellnya, membulatkan matanya. Mengeluarkan pedang dari kulit telapak tangan kanannya.
Sang monster menumbuhkan salah satu kakinya lagi, meraung dengan mulut yang mengeluarkan asap hitam. Energinya bagaikan bertambah. Perhatian makhluk itu kini beralih pada Enkai.
"Bekukan!" teriak Sora menggunakan kemampuannya, mencengkeram kaki sang monster menggunakan es, perlahan merambat hingga bagian tubuh. Sedangkan Kairi masih menyemburkan gas metana, berusaha memutuskan benang-benang yang dikeluarkan sang monster.
Srak!
Satu ayunan udara dari sang monster membuat kedua orang itu terlempar beberapa meter, membentur pohon.
Arashi yang hanya mengandalkan penglihatannya saja menghubungi Enkai melalui earphone, kala melumuri benang menggunakan cat merah."Bahan benangnya berubah. Kali ini benang berlian! Tidak akan dapat memotongnya dengan api."
Enkai mengepalkan tangannya. Kali ini hanya dapat menggunakan modal nekat saja. Melarikan diri juga percuma. Kekuatan fisik sang monster juga bertambah.
"Agghhh!" sang monster tersenyum, berbentuk manusia namun dengan empat mata kecil di dahinya. Bentuk giginya benar-benar menyerupai laba-laba.
Bergerak cepat membawa pedang tulang. Enkai melompat turun, dirinya tidak pernah menggunakan pedang sama sekali. Namun, gerakan tubuhnya bagaikan seseorang yang telah memiliki banyak pengalaman bertarung.
Pemuda itu mencoba bertahan. Sesekali menyerang, pertarungan yang sejatinya tidak seimbang. Beberapa kali tubuh Enkai tergores, pemuda yang sedikit bergerak mundur. Membuat posisi seperti sebelumnya, mengayunkan pedangnya ke belakang, kemudian ke depan dengan cepat. Sedikit energi aneh yang asing dirasakannya dari dalam tubuhnya.
Srak!
__ADS_1
"Agghhh!" Tubuh sang monster terbelah menjadi dua. Namun, kala sinar putih itu kembali terlihat dari dalam perut sang monster. Tubuh sang monster seakan beregenerasi dengan cepat. Kembali seperti semula. Kemapuan yang juga semakin tinggi.
Kali ini sang monster bergerak cepat. Melempar beberapa belati yang terbuat dari berlian keras.
Srak!
Srak!
Srak!
Tubuh Enkai terkena salah satu serangan. Lengannya tertancap belati berlian yang cukup besar. Tertembus langsung hingga ke pohon di belakangnya. Tidak dapat bergerak sama sekali. Belati berlian yang sulit dicabut, setelah tertancap terlalu dalam.
"Agghhh!." Sang monster semakin mendekat saja. Sedangkan Enkai tertunduk, tatapan matanya mulai kosong. Dalam sebuah bayangan dirinya tersenyum, tempatnya berada bagaikan gazebo kecil di tengah kolam teratai.
Seorang pria dengan rambut putih panjang berada di sana meminum teh dengan tenang. Sedangkan dirinya duduk di hadapannya.
"Paman siapa?" tanyanya.
"Aku? Kita orang yang sama..." Satu kalimat darinya, mengucap pucuk kepala Enkai. Ribuan kupu-kupu putih berada di belakang orang ini.
"Orang yang sama?" tanya Enkai.
Kupu-kupu kecil yang ada di tangan sang pria berubah menjadi sebutir telur, telur yang menetas menjadi ulat dalam waktu singkat, menggulung dirinya dengan kepongpong kemudian kembali menjadi kupu-kupu kecil.
Enkai terdiam sejenak."Aku tau jawabannya!" ucapnya antusias.
"Tidak, kamu tidak tau!" Pria dengan rambut putih panjangnya itu menggeleng dengan cepat, mengetahui orang ini salah sangka. Seolah mereka memiliki satu tubuh, satu pemikiran, dan satu roh. Benar-benar orang yang sama.
"Aku tau cara mengalahkannya! Terimakasih..." Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Enkai sebelum dirinya menghilang dari gazebo. Sedangkan pria berambut putih panjang itu memijit pelipisnya sendiri, menggebrak meja."Kenapa aku tidak sedikit lebih pintar! Tidakkah dia mengerti kalau kita orang yang sama!" teriak pria itu kesal.
Bagaikan masuk ke tingkat kesadaran terdalamnya. Tatapan mata Enkai yang kosong kembali seperti semula. Pemuda yang tersenyum penuh rencana. Terinspirasi dari paman dalam mimpinya. Kita anggap saja dalam imajinasinya. Tidak menyadari wajah mereka sama, hanya model rambut yang berbeda.
Furohito sudah bangkit dari cabang pohon. Kakinya berdiri di atas cabang pohon yang cukup besar. Mengeluarkan pedang dari telapak tangannya. Pedang yang menusuk langsung dari bagian dalam telapak tangannya. Bukan manusia? Itulah dirinya.
Kala monster itu mendekat hendak menebasnya. Enkai memegang pedang tulang milik sang monster, hingga melukai tangannya.
__ADS_1
Plak!
Kali ini dirinya tidak menyerang menggunakan pedang. Menepuk kasar bahu sang monster. Meninggalkan beberapa ekor kupu-kupu putih biasa disana.
Sang monster yang tidak mengerti dengan tipe serangan Enkai mundur beberapa langkah. Matanya sedikit melirik, sekitar lima ekor kupu-kupu itu menghilang, hanya menyisakan lima butir telur yang masuk langsung ke dalam kulit sang monster.
Furohito menyadari segalanya. Wajahnya terlihat gusar. Dengan cepat melompat dari dahan pohon. Lebih tepatnya melayang, menebas perut sang monster dengan akurat. Seekor monster kecil dipenuhi bulu berwarna putih melompat dari dalam perut sang laba-laba yang dibedah.
Apa sebenarnya yang diburunya hari ini? Seekor monster kecil yang mengeluarkan cahaya putih. Kala longsoran salju terjadi monster itu berusaha mati-matian dikejarnya. Sayangnya sang monster laba-laba yang berhasil menangkap, kemudian menelan monster kecil itu bulat-bulat. Monster kecil yang memiliki kemampuan regenerasi dan menambah daya kekuatan monster lain yang menyentuhnya.
Segera setelahnya, luka di perut sang monster tertutup kembali. Mungkin pengaruh sang monster berbulu kecil masih ada.
Monster berbulu yang melompat dengan cepat dari Furohito yang berusaha menangkapnya.
"Dasar! Monster kecil tidak tahu terimakasih!" Furohito berlari mengikutinya tidak peduli pada pertarungan yang terjadi. Melompat dari pohon ke pohon. Entah dimana pemuda yang bahkan tadinya kesulitan untuk memanjat. Monster kecil seukuran telapak tangan yang gesit.
Sementara semua orang menatap heran pada Furohito. Pemuda yang terlihat murka, mengejar monster yang sejak semalaman berusaha diburunya. Mengejar sembari mengumpat.
"Furohito si*lan! Kalau punya kemampuan, seharusnya membantu kami! White Hunter kepalamu!" Umpatan dari Kairi yang berusaha bangkit, ketakutan saat ini. Matanya melirik ke arah Sora yang tidak sadarkan diri akibat benturan, Light tidak dapat bergerak karena lengannya masih tertancap belati berlian. Sedangkan Arashi, jika tidak ada arahan dari Light tidak akan bergerak. Siapa yang tidak akan panik. Ini sudah pasti mereka semua akan mati.
Tapi ada yang aneh, Arashi pelan-pelan terlihat tersenyum ke arah monster laba-laba
Sang monster laba-laba tidak memiliki kemampuan regenerasi lagi, akibat Furohito berhasil mengeluarkan monster kecil dari perutnya. Entah kenapa monster laba-laba tiba-tiba menjerit. Terlihat kesakitan, kala itulah Enkai ikut menyunggingkan senyuman dibibirnya. Sama seperti Arashi.
Mata Arashi yang tajam mengetahui segalanya. Kupu-kupu putih yang berubah menjadi telur, menetas. Menggeliat menjadi ulat karnivora, memakan tubuh sang monster dari dalam.
Briak!
Dalam hitungan menit kelima kupu-kupu menjadi ulat raksasa. Merobek habis tubuh sang monster laba-laba memakannya hingga tidak tersisa.
Awalnya dirinya ragu, tapi setelah dicoba rencana ini berhasil. Namun ada yang aneh, kelima ulat itu berwarna hitam. Mungkin kontaminasi dari racun yang dimiliki sang laba-laba.
"Menjijikkan!" teriak Kairi pada akhirnya muntah melihat ke lima ekor ulat tersebut yang masih saja, mencoba memakan habis sisa tubuh dari monster laba-laba.
Kala sisa tubuh itu habis, kepongpong raksasa terbentuk. Sama seperti sebelumnya, dalam hitungan menit, kepongpong terbuka. ratusan kupu-kupu kecil berwarna hitam keluar dari dalam kepongpong. Kupu-kupu beracun yang indah, dengan sayap yang terbuat dari berlian hitam, memiliki ketajaman yang melebihi kupu-kupu besi.
__ADS_1
Inilah kemampuan barunya. Kemampuan yang dianggap hanya sebagai pesulap oleh penilai ujian Hunter pemerintah, ternyata lebih dari itu. Kupu-kupu ini dapat menyerap dan menjadikan kemampuan monster yang dimakannya sebagai kemampuannya sendiri.
Dalam artian."Kemapuan tidak terbatas..." gumam Enkai, menatap kagum pada kupu-kupu putih dan hitam yang ada di sekelilingnya.