
Ambisi raja neraka untuk membalas segalanya. Kadang kala, memang harus melumpuhkan logika putranya yang terlalu baik.
"Light! Hentikan!" Ucap Arashi berusaha mendekat tapi tidak membawakan hasil. Aura yang terlalu kuat, lebih tepatnya Arata belum mengeluarkan kemampuannya sama sekali. Namun dapat membuat Arashi terlempar.
Rambut putih pendek kini memanjang dalam waktu singkat. Tanda aneh berbentuk teratai hitam ada di dahinya. Tubuh Sena yang terangkat ke udara perlahan berangsur pulih hanya dengan mengisi energi wanita itu yang terkuras.
Seekor kupu-kupu terbang menjaganya, memulihkan lukanya sepenuhnya.
"Arata, sekarang saatnya untuk---" Kalimat raja neraka terpotong. Diluar dugaan beberapa kupu-kupu putih milik Arata terbang di sekitar ayahnya bagaikan sebuah ancaman.
"Ayah belum mengerti? Aku tidak ingin balas dendam. Ingatanku sudah kembali lebih awal." Ucap Arata pada sang ayah.
Monster dan iblis yang berada di sana mulai berbisik-bisik tidak mengerti dengan situasi yang ada di hadapan mereka. Arata? Bukankah pria ini hanya manusia biasa yang masuk ke dalam Dungeon? Jika dia Arata, siapa yang berada di samping raja neraka?
Senyuman menyungging di bibir Furohito. Melepaskan rambut palsunya."Energi cahaya dan bayangan." Ucapnya, bersamaan dengan aliran udara aneh muncul di bawah kakinya.
Rambut itu sedikit tersingkap, tiba-tiba Sena yang pada awalnya mengapung di dekat Enkai berada dalam dekapan Furohito.
"Kembalikan!" perintah dari Arata, terdengar dingin. Darah iblis bercampur dewa penuh kemarahan, itulah dirinya saat ini.
"Tidak, aku mengenalmu lebih dari siapapun. Tidak peduli alam di luar sana hancur. Tapi tempat ini tidak akan kamu hancurkan." Kalimat yang diucapkan oleh Furohito, menatap perbedaan besar pada Arata. Benar-benar berbeda dari 2300 tahun yang lalu.
Cuaca cerah berubah menjadi badai. Begitu juga dengan diluar Dungeon. Dampak dari terbentuknya sang dewa iblis, inilah yang ditakutkan oleh khayangan hingga benar-benar mewaspadai Arata. Tapi tanpa mereka sengaja, merekalah yang membuat Arata murka saat ini. Membuat masalah lebih awal.
"Aku akan membunuhmu..." Arata tersenyum menyeringai. Mengarahkan seekor kupu-kupunya pada Furohito. Aneh benar-benar aneh. Kupu-kupu putih yang berubah menjadi iblis dengan tingkat kemampuan setara pelayan Dewa. Memiliki wajah rupawan menyerang Furohito dengan membabi buta.
Tapi apa bisa? Dirinya melangkah mundur.
Srash!
Serangan yang menghancurkan bangunan sekali tebas oleh makhluk jelmaan kupu-kupu putih milik Enkai.
__ADS_1
"Hampir saja..." Furohito tersenyum mempermainkannya. Masih membawa tubuh Sena di bahunya bagaikan karung beras.
"Kenapa kamu bertindak sejauh ini?" tanya Arata yang hanya terdiam menyerap lebih banyak energi, belum dapat bergerak sama sekali. Semakin murka maka semakin gila tingkat energi yang diserapnya dari alam.
"Aku sahabatmu. Tentu saja demi kebaikanmu. Aku akan menikahi Hime..." gurauan darinya penuh tawa. Tentu saja Furohito tidak akan serius dengan kata-katanya. Sena bukanlah tipenya, benar-benar bukan, hanya sahabat yang bagaikan adiknya.
"Br*ngsek!" Bentak Arata. Beberapa kupu-kupu hitam menjadi cakram beracun yang besar berdiameter sekitar dua meter, kilatan petir ada dalam setiap cakram. Berusaha menyerang Furohito yang terus menghindar.
Furohito meraih kacamatanya, membenarkan letaknya. Berpindah dengan cepat, bahkan membalikkan serangan hanya dengan mengibaskan tangannya yang tidak memegang senjata sama sekali.
Kacamata minus yang kebesaran, harus membetulkan letaknya beberapa kali. Bergerak sambil membawa Sena memang cukup sulit. Dari kecil dirinya sudah terlatih untuk menghentikan dan mengendalikan emosi Arata.
Sebenarnya menjaganya untuk cukup stabil. Tapi kali ini perintah raja neraka, ingin membuat putranya murka. Semakin murka maka kekuatan yang sulit ditekan.
Dalam kejadian ini siapa yang paling antusias? Tentu saja kameraman. Akihiro saat ini berada di belakang pepohonan yang hancur."Luar bisa!" Ucapnya kagum akan hasil gambar yang didapatkannya, melebihi kwalitas film action Hollywood maupun Bollywood.
"Kita harus pergi! Jika tidak kita bisa mati!" Ucap Jasper cemas.
"Kita ini Hunter! Sedangkan mereka itu monster! Apa yang ditakutkan!?" Ucap Akihiro masih saja antusias, walaupun pakaiannya sudah sedikit koyak.
Angin tajam, diiringi petir aneh dari beberapa cakram hitam.
Menyambar pada jarak yang begitu dekat, benar-benar dekat.
"Kita memang Hunter! Tapi mereka bukan monster biasa! Mereka lebih mengerikan daripada jendral yang berjaga di luar rumah Furohito!" Bentak Jasper pada atasannya, bagaikan tiga orang wartawan yang tengah merekam badai yang menerjang di sebuah kawasan.
"Apa yang kalian takutkan? Kalau kalian mati, tinggal suruh Arashi kembali menghidupkan. Lagipula belum mati kan? Jika sudah mati baru boleh protes dan lari menyelamatkan diri." Jawaban remeh dari Akihiro masih merekam, bagaikan jiwa sutradara film, dari sang petinggi militer itu menggebu-gebu.
"Ayah! Perintahkan Furohito, berhenti bermain-main denganku!" Ucap Arata kesal.
Namun tidak diindahkan, apa yang sebenarnya raja neraka inginkan. Beberapa monster dan iblis telah melarikan diri dalam jarak puluhan kilometer dari amukan sang putra mahkota.
__ADS_1
Kemarahan yang sejatinya kekanak-kanakan. Jemari tangan raja neraka mengepal. Wajahnya semakin tersenyum, melihat peningkatan kemampuan putranya yang bahkan melebihi 2300 tahun lalu.
Tidak mengerahkan seluruh kemampuannya. Tidak ingin Dungeon tempat tinggal impiannya hancur. Namun dari kemarahan sang dewa iblis, mungkin para dewa sudah terpancing.
*
Tepat di luar Dungeon saat ini, badai besar terjadi. Retakan tanah ada dimana-mana mengeluarkan lahar. Air laut naik perlahan, langit menjadi benar-benar gelap. Kerusakan dua alam itulah yang terjadi.
Sedikit lagi, neraka yang memiliki nyawa, akan menyatu dengan dunia manusia. Akibat iblis dan monster penghuninya hampir menghilang total selama 2300 tahun. Situasi yang cukup sulit, alam bawah (neraka) yang merangkak berusaha menyatu dengan alam tengah mencari penghuninya.
Hampir tidak ada batasan antara alam manusia dengan neraka kini. Roh-roh dalam penghukuman berkeliaran, mencari korban manusia.
Situasi yang buruk. Hingga sinar turun dari langit. Pintu alam atas terbuka, ratusan dewa turun ke dunia manusia. Kaisar langit, yang terlihat benar-benar tidak senang.
Tapi hanya sesaat, kala gelombang energi itu terasa. Pria yang mengenyitkan keningnya, menggunakan kemampuannya mencegah penyatuan alam bawah dan alam tengah.
"Apa yang terjadi?" tanya kaisar langit tidak mengetahui apa yang terjadi 2300 tahun ini.
"Yang mulia... mohon ampun---" Kalimat seorang dewa yang berucap di belakangnya di sela.
"Apa!?" bentak sang kaisar. Tidak mendapatkan laporan apapun sama sekali.
"2300 tahun yang lalu. Anak raja neraka, membuat permohonan pernikahan. Ta...tapi pangeran langit dan Dewi alam memberikan hadiah arak beracun. Dia dan istrinya meminumnya, raja neraka yang tidak terima putranya diracuni dan kematian menantunya, menembus segel alam tengah. Menyerang alam tengah, Arta mengorbankan nyawanya menyegel monster dan iblis---lalu---." Sang dewa terdiam sejenak, melirik raut wajah pangeran pertama dan Dewi alam yang terlihat tidak suka padanya.
"Jangan pedulikan mereka! Lanjutkan kata-katamu!" tegas kaisar langit.
"20 tahun yang lalu segel rusak. Iblis dan monster berkeliaran di alam tengah. Tapi hanya sebagian, raja neraka, iblis, dan monster dengan level kemampuan tinggi tidak ada di alam tengah. La...lalu tentang gelombang energi dan terciptanya dewa iblis, mungkin karena kemarahan Arata yang bangkit kembali terpancing." Ucap sang dewa yang berada di belakang kaisar langit.
Kaisar langit menghela napas kasar. Dirinya hanya dapat memperlambat bencana. Dalam artian memperlambat menyatunya alam tengah dengan alam bawah. Satu-satunya cara untuk menghentikan semua kekacauan ini adalah mengembalikan keseimbangan alam.
Mengembalikan monster dan iblis ke alam bawah dengan suka rela. Tapi bagaimana caranya? Raja neraka adalah iblis yang keras kepala. Tidak dapat dibunuh olehnya. Dan satu lagi, peningkatan kemampuan dewa iblis (Arata) yang sulit dihentikan.
__ADS_1
"Pangeran pertama!" Ucap kaisar langit memanggil putranya.
"I...iya ayah," sang pangeran menunduk ketakutan. Sudah mengetahui keputusan yang diambilnya tanpa sepengetahuan ayahnya adalah kesalahan besar.