
Mitos, jimat pembawa keberuntungan, siapapun tidak akan mempercayainya. Mungkin hanya kepala keluarga Zen yang masih meyakini segalanya. Tangannya memegang phonecell dengan erat. Bagaimana bisa ada dokter yang menggunakan ijazah palsu di rumah sakit mereka? Ditambah pemberitaan besar-besaran dari media.
Lalu tiba-tiba saja ada kasus malpraktek dari rumah sakit mereka di kota lain. Kebingungan, rusaknya reputasi sedang dialaminya saat ini.
Hingga suara ketukan pintu terdengar. Seorang pelayan masuk membimbing seorang biksu tua yang seminggu ini sudah dicari olehnya, selaku kepala keluarga Zen.
"Tuan maaf mengundang anda malam-malam begini." Ucap Haruo (kepala keluarga Zen) pada sang biksu penuh senyuman.
Biksu yang sudah lama tinggal di pegunungan itu, terdiam sesaat kemudian menghela napas kasar."Kalian memperlakukannya dengan buruk?" Satu pertanyaan darinya, wajannya terlihat tenang tidak tersenyum maupun terlihat sinis sama sekali.
"Emm...itu... sebenarnya hal itu yang ingin saya tanyakan. Enkai memutuskan untuk menikah dan ke luar dari rumah tinggal dengan istrinya di tempat lain. Apa keberuntungan keluarga Zen akan berakhir karena kepergiannya? Jika iya, apa tuan biksu dapat memberikan jimat untuk mengatasinya?" tanya Haruo penuh harap.
Sang biksu menghela napas kasar, pakaiannya benar-benar sederhana, bahkan menolak semua pemberian kepala keluarga Zen saat menjemputnya.
"Ada kalanya ketika seorang dewa melangkah jejak kakinya akan meninggalkan bunga teratai yang indah. Tingkat kesabaran yang tinggi dimilikinya, tapi ketika memutuskan untuk berhenti melangkah, maka teratai yang mengiringi langkahnya, sebelumnya juga akan layu." Kalimat ambigu yang tidak dimengerti sang kepala keluarga.
"Jadi maksudnya biksu akan memberiku jimat berbentuk bunga teratai?" tanya Haruo antusias, tidak benar-benar mengerti.
"Aku bukan seseorang yang dapat membuat jimat. Hanya dapat memberikan saran. Anak itu sudah dewasa dan melangkah sendiri seperti yang kamu katakan. Biarkan dia melangkah, jangan hentikan hanya agar kemakmuran kalian kembali. Sudah banyak kesempatan dalam kesabaran yang diberikannya. Biarkan dia melangkah, karena keserakahan hanya akan mendatangkan kehancuran." Itulah kalimat yang diucapkan sang biksu dalam raut wajah tenang.
Pria tua yang bangkit dari sofa menggunakan tongkatnya, hendak meninggalkan ruangan. Merasa tidak ada yang perlu dibicarakannya lagi.
"Pak! Tuan biksu! Maksudku guru! Apa tidak bisa memberikanku jimat saja untuk menggantikan anak itu!? Aku akan membayar berapapun!" Ucapnya menghadang jalan sang biksu.
"Kesempatan langka, tidak semua orang di dunia ini mendapatkan kesempatan sepertimu. Sayang sekali..." Hanya itulah yang dikatakan sang biksu melangkah pergi. Pria tua yang tidak terikat dengan hal-hal duniawi lagi.
Bug!
__ADS_1
Pintu ruangan Haruo tertutup, sang biksu tua telah melangkah pergi. Meninggalkan Haruo yang menunduk terdiam, seharusnya dirinya tidak mendengarkan kata-kata istrinya.
"Ini sudah jaman modern! Jangan percaya mitos! Lagipula anak itu keluar dari penjara, dia malah akan membawa sial! Karena merusak reputasi keluarga kita! Nikahkan dia dengan putri keluarga Wen, dengan begitu kita tidak perlu menampung benalu!" Ingatan Haruo mengingat kata-kata istrinya yang meyakinkannya dulu.
Tangannya gemetar ketakutan saat ini. Usaha impor emas dan berlian adiknya juga mengalami kerugian beberapa waktu ini. Mulai dari penipuan rekan bisnis, hingga kasus plagiat yang dilakukan desainer perusahaan. Semuanya memiliki benang merah yang terikat, itulah yang ada dalam benaknya saat ini.
Takut jika kehidupan buruk itu kembali, kala keluarga Zen hanya memiliki toko obat kecil. Kesulitan bahkan untuk sekedar membeli kue ikan pinggir jalan. Setiap hari hanya dapat makan berlakukan sayur-sayuran. Kehidupan yang benar-benar sulit. Apa yang terjadi jika ini terus berlangsung?
Dirinya harus mendapatkan Enkai kembali ke dalam keluarga Zen. Memutuskan tali pernikahan dengan keluarga Wen. Putri keluarga Wen berwajah buruk rupa. Enkai akan menyetujui untuk meninggalkannya.
Ini sudah menjadi keputusannya, Haruo mulai bangkit. Banyak putri keluarga terhormat dengan wajah rupawan, Enkai akan menurut, kembali tinggal ke kediaman keluarga Zen setelah dinikahkan lagi. Lagipula keberadaan Enkai sudah cukup buruk, dirinya tidak akan bersedia memasukkan putri keluarga Wen ke rumah ini.
Pria itu tengah bersiap-siap menemui Enkai di apartemen kecil milik putri keluarga Wen (Sena). Namun kala hendak mengenakan jam tangannya, gerakannya terhenti. Suara ketukan pintu terdengar dari luar sana.
"Tuan, maaf Enkai datang mengunjungi anda. Dia sendang ada di lantai satu." Ucap dari pelayan kala dirinya membukakan pintu.
"Dengar! Untuk sementara waktu, panggil dia tuan muda. Aku ingin Enkai kembali ke rumah ini." Perintah Haruo pada pelayan di hadapannya.
Tapi kali ini, menyuruh mereka memanggil tuan muda?
*
Tersenyum, itulah yang dilakukan Sena saat ini. Kue yang dibelinya diletakkannya di atas meja dalam paperbag coklat. Untuk pertama kalinya mengunjungi keluarga Enkai setelah pernikahan.
Walaupun hubungannya dengan Enkai bagaikan hanya sekedar sahabat, namun pemuda itu sudah menemani hari-harinya beberapa minggu ini. Setidaknya dirinya tidak seorang diri lagi, memiliki teman untuk sekedar bercerita.
Hanya teman, karena separuh wajahnya yang rusak. Tidak akan ada yang menyukai wanita buruk rupa, karena itu lebih baik sadar diri dari mimpi lebih awal.
__ADS_1
"Aku harus memanggil paman atau tuan pada ayahmu?" tanya Sena mengenyitkan keningnya.
"Panggil dia br*ngsek," jawaban dari Enkai acuh tak acuh. Memakan kue rumput laut kering yang dihidangkan pelayan.
Mungkin terlalu akrab dengan kepala keluarga Zen, itulah yang ada di fikiran Sena. Tujuannya kemari benar-benar untuk menghormati mereka. Bagaimanapun dirinya dan Enkai telah menikah. Wajah wanita itu tersenyum cerah. Dapat menduga-duga bagaimana Enkai dicintai di rumah ini. Pemuda humoris dengan wajah rupawan dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Tapi apa benar? Ini tempat terburuk bagi Enkai. Jika dapat memilih lebih baik dirinya dibesarkan di panti asuhan saja. Setidaknya tubuhnya tidak harus dipukuli, tidak juga merasakan penghinaan dari mereka.
Pria paruh baya itu turun dari lantai dua pada akhirnya datang menemui mereka.
Pemuda itu menghela napas tersenyum, setidaknya ayah angkatnya masih memberinya muka, dengan bersedia bertemu dengannya dan Sena.
"Enkai! Lama tidak pulang? Apa kamu sehat-sehat saja? Makanan di sana pasti tidak lebih enak daripada disini." Ucap Haruo seakan peduli.
"Aku memakan ayam goreng setiap hari hingga bosan, jadi Sena terkadang membuatkan sea food untukku. Memang benar-benar rasa yang berbeda, karena disini aku hanya memakan makanan sisa yang sudah dingin. Tentu saja makanan di rumah keluarga Zen yang hanya sisa sayuran lebih lezat." Sarkas Enkai, sembari tersenyum masih duduk di samping Sena.
"Anak si*lan ini! Sejak kapan dia bisa berkata sinis sambil tersenyum tidak bersalah," batin Haruo, berusaha menampakan deretan gigi putihnya. Menahan rasa geram yang menjalar dalam jiwa raganya. Senyuman yang benar-benar memuakan dari anak angkatnya. Lebih baik tanpa ekspresi seperti dulu, namun dapat menurut tanpa bantahan.
Haruo menghela napas kasar, menetralkan amarahnya."Enkai, ayah minta maaf padamu," ucapnya tertunduk pada akhirnya.
"Minta maaf?" Enkai mengenyitkan keningnya.
Sena menghela napas kasar, merasakan suasana yang tidak mengenakkan. Mungkin mencairkan suasana jauh lebih baik."Paman, aku membawakan kue, tapi aku tidak tau rasa apa yang paman sukai jadi---"
Brak!
"Kamu tidak tau sopan santun! Jika ada orang yang bicara, jangan menyelanya!" bentak Haruo, merasa wanita ini benar-benar menjijikkan terutama wajannya.
__ADS_1
"Aku mengerti," Sena tetap tersenyum, seperti tidak terjadi apapun. Namun tangan Enkai memegang jemari tangannya erat. Ketakutan jika harus sendiri lagi, apa wanita aneh ini akan meninggalkannya?
"Enkai, ayah yang merencanakan perjodohan bahkan pernikahanmu di usia yang terlalu dini. Jadi ayah ingin meminta maaf. Kembalilah ke rumah, ayah akan mencarikan wanita yang lebih cantik darinya. Memberikanmu status putra kedua keluarga Zen. Tidak perlu merendahkan dirimu dengan mengikuti wanita dari keluarga Wen." Kalimat yang diucapkan Haruo. Enkai terdiam kemudian tersenyum.