
Hujan salju berhenti sekitar satu jam setelahnya. Enkai kembali memakai topeng Inari. Menghela napas kasar."Sebaiknya kamu pulang. Sebentar lagi aku akan menyusul."
Wanita yang benar-benar penurut, hanya mengangguk setelah mengenakan kembali pakaiannya.
Furohito telah berdiri menyandar pada kusen pintu yang terbuka."Aku dan Sena akan ikut denganmu. Tenang saja, kami tidak akan menggangu. Anggap saja sebagai figuran."
"Monster kali ini berbahaya. Jadi---"
"Kami hanya menyaksikannya saja. Ayolah..." Furohito memohon, merengek seperti anak kecil.
"Tidak boleh, Sena akan pulang bersamamu." Jawaban tegas Enkai.
Sena menghela napas kasar."Aku akan pulang, biarkan Furohito ikut. Setelah ini kalian harus pulang. Kita makan bersama di rumah. Aku akan membuat masakan yang banyak."
*
Pada akhirnya Enkai menerima semuanya. Pintu ruang dimensinya sudah pulih seperti semula. Mungkin menyesuaikan waktu seperti tubuhnya. Sena pulang menggunakan pintu dimensi, langsung menuju apartemen.
Wanita yang tersenyum membuat berbagai hidangan.
Sedangkan Furohito masih mengikuti Enkai seperti anak *njing yang melekat."Kenapa tidak mengikuti Sena?" tanya Enkai penasaran.
"Tujuanku bukan Sena." Itulah yang menjadi jawaban Furohito.
Pada akhirnya Enkai membawanya ke tempat tiga rekannya yang lain. Sudah beberapa jam dari kepergian Enkai. Arashi dan Kairi tertidur, sementara Sora mengatur banyak strategi. Begitulah pasukan khusus tidak akan buang-buang waktu.
"Enkai!" teriak Sora mendekat, bersamaan dengan kedua orang lainnya yang terbangun.
"Dia siapa?" tanya Arashi.
__ADS_1
"Namaku Furohito. Jadi ini yang namanya Hunter!? Perkenalkan aku juga Hunter, tapi bekerja untuk kesenangan pribadi saja. Jadi jika ditanyakan apa aku dark Hunter atau Hunter milik pemerintah. Aku adalah white Hunter..." Ucap pemuda rupawan itu tertawa-tawa bagaikan orang konyol.
Ketiga orang yang memutar bola mata malas. Apalagi Enkai yang hanya dapat memijit pelipisnya sendiri. Melihat kelakuan ajaib orang ini.
"Namaku Kairi, ini Arashi, dan ini Sora." Jelas Kairi pada pria di hadapannya.
"Namaku Furohito. Nanti saat kalian bertarung aku akan merekam sebagai kenang-kenangan. Ingat! Jangan anggap keberadaanku. Aku ada di sini hanya karena rasa penasaran." Furohito tersenyum ke arah mereka.
"Sudah abaikan dia. Kita punya masalah besar. Monster kali ini memiliki tiga senjata, cairan korosif di tubuhnya, benang besi, dan pedang tulang. Jadi aku tidak dapat menggunakan pintu ruang dimensi padanya. Cairan korosif miliknya entah kenapa dapat merusak pintu ruang dimensi." Jelas Enkai, mengingat hal yang kemarin terjadi. Menghancurkan jantung dari sang monster? Juga tidak dapat dilakukannya, darah sang monster juga mungkin mengandung cairan korosif yang lebih kuat.
"Mudah, aku sudah mengatur strategi. Arashi dan Kairi akan menjadi umpan mengalihkan perhatiannya. Sedangkan aku akan membekukan pergerakannya. Terakhir gunakan kupu-kupumu untuk menebas tubuh sekaligus lapisan es yang aku buat!" Rencana yang di fikirkan Sora dengan matang.
"Kamu ingin mengorbankan Arashi dan Kairi?" tanya Enkai padanya.
"Ini tim! Mereka harus berguna dalam tim! Jika gugur saat bertugas pun---" Kalimat Sora disela.
"Aku punya strategi lain..." Enkai menghela napas kasar mulai menjelaskan."Besi lemah pada api, karena itu jika mengandalkan Kairi, akan lebih mudah. Penglihatan Arashi lebih tajam, tugasmu melumuri benang dengan cairan khusus. Benang miliknya bahkan lebih tajam dari pada sayap kupu-kupu besi milikku. Jika terkena tubuh, tidak dipungkiri kemungkinan tubuh kalian dapat terpotong menjadi dua."
Sora menelan ludahnya sendiri, benang tipis yang lebih tajam daripada sayap kupu-kupu besi milik Light. Pasti akan dengan mudah memotong es. Jika menggunakan rencananya, mungkin bukan hanya Kairi dan Arashi yang mati, tapi juga dirinya dan Light.
Semakin bertambah kagum saja, tidak ada pria yang dapat berfikir sematang ini. Pria yang membuatnya tidak berkutik.
"Jadi?" Kairi kembali bertanya.
"Aku hanya orang biasa di hadapan monster kali ini. Tidak dapat menggunakan pintu ruang dimensi atau kupu-kupu besi lagi." Enkai menghela napas kasar."Kalian dapat menghadapinya, aku akan memotong jaring dan tubuhnya. Melakukan serangan jarak dekat. Tugas kalian lakukan serangan jarak jauh. Alihkan perhatiannya, membuatnya sibuk. Tapi pastikan kalian ada dalam jarak yang aman. Tidak ada yang boleh terluka! Jika misi ini berhasil aku akan mentraktir kalian makan" Tegas Enkai.
"Siap!"
"Siap!"
__ADS_1
Dua orang yang berucap bersamaan. Walaupun ayam goreng tapi sudah lumayan. Tidak ada yang menyangka, Sena tengah tertegun ketika ke pasar. Melihat keping berukuran raksasa. Wanita yang menelan ludahnya tersenyum, entah berapa orang yang akan datang. Dirinya benar-benar memborong banyak bahan makanan. Meliburkan restaurannya hari ini.
*
Langit masih terang kala misi itu dimulai. Sedangkan Furohito berusaha naik ke pohon yang lebih tinggi dengan bantuan Kairi.
"Menyusahkan!" teriak Kairi, berusaha mendorong Furohito dari bawah.
"Kamu tidak punya rasa kasih pada warga sipil yang tidak memiliki kemampuan? Aku hanya ingin mengambil gambar! Aku wartawan! Wartawan!" Tingkah konyol mereka berdua. Hingga akhirnya Furohito berhasil duduk di dahan pohon.
Sebelumnya Enkai telah mengirim kupu-kupunya menyelidiki lokasi monster itu saat ini. Benang besi ada di sekitar lokasi. Dekat dengan sebuah lereng. Pemandangan menjijikkan terlihat, kala sang laba-laba telah mengikat belasan orang dengan benang besinya. Digantung pada pohon terbesar di tempat tersebut. Monster yang tengah memakan salah satu dari korbannya. Mereka semua masih hidup, hanya lumpuh akibat racun. Cara mengawetkan makanan, agar dapat menjadi makanan cadangannya.
Mulut berlumuran darah, korban yang tengah dimakannya hidup-hidup telah tewas, hanya menyisakan potongan jari. Pada akhirnya dihabiskan dalam satu suapan. Monster ganas yang bagaikan tersenyum menatap ke arah mereka. Gigi-giginya berlumuran darah manusia.
Kairi menelan ludahnya. Untuk pertama kalinya dirinya melihat monster semengerikan ini.
"Nice!" dengan penuh semangat Furohito mengambil gambar dari dahan pohon. Benar-benar pria aneh tidak tahu diri.
Pada akhirnya rencana tersebut di mulai. Arashi yang bergerak terlebih dahulu membawa cat berwarna merah, menggunakan menglihatannya yang tajam. Bahkan mengetahui, perangkap benang besi dalam salju.
Monster yang tersenyum bergerak dengan kedelapan kakinya. Empat mata cadangan kecil terlihat di dahinya. Wajah manusia tapi sejatinya hanya monster laba-laba.
Beberapa benang besi coba ditembakkannya.
"Laba-laba panggang!" teriak Kairi mengeluarkan gas metana. Wajahnya terlihat penuh penghayatan. Sedangkan Sora menutup hidungnya sendiri sambil melempar pemantik api. Semburan besar terjadi, benar saja benang besi dapat lumer oleh api.
Laba-laba yang gesit dapat menghindar dari api. Enkai menghela napas memegang pedangnya. Bertarung jarak dekat dengan monster ini merupakan hal yang berbahaya.
Tidak menyadari Furohito yang melihat segalanya tersenyum."Laba-laba busuk, bunuh dia..." gumamnya menyeringai dengan suara kecil.
__ADS_1