
Menjalani kehidupan seperti manusia biasa mungkin itu lebih baik baginya. Ada terlalu banyak beban di pundaknya. Kemarahan ayahnya, juga dengan beberapa dewa di alam atas mungkin sudah turun, berbaur dengan manusia untuk mengawasinya.
Dirinya hanya perlu hidup seperti biasanya setelah ini. Tapi tentunya yang terpenting mengembalikan semua yang ada dalam Dungeon ke neraka.
Bukannya bagaimana, namun alam bawah tengah tidak seimbang. Semua monster dan iblis penghuninya tersegel selama 2300 tahun. Bagaimana kemarahan alam setiap dimensi? Tentu akan mencari penghuninya yang sebenarnya.
Kehancuran akan segera terjadi, dengan kata lain. Alam tengah dan neraka akan menyatu, cepat atau lambat dikarenakan kekosongan pada alam bawah. Tapi satu hal dalam otak Enkai saat ini."Masa bodoh!"
Begitu menyenangkan baginya, dapat kembali bersama dengan wanita ini. Tidak mudah mendekatinya, jika difikir-fikir perlu waktu 236 tahun barulah menjadi sepasang kekasih.
Segalanya masih ada dalam ingatannya. Kala dirinya menatap kesal ke arah pelayan Dewi yang menyamar menjadi Miko kuil. Benar-benar wanita penurut, datar dan menyebalkan yang merebut perhatian warga sekitar.
Dua orang picik yang saling bersaing untuk mendapatkan perhatian manusia yang sejatinya tidak begitu penting bagi Arata. Masih teringat di benaknya, kala dirinya pamer menghentikan letusan gunung. Semua orang memuji-mujinya.
Tapi wanita itu, malah menghidupkan tanaman di tengah gurun, membuat perubahan ekosistem. Dua orang yang saling bersaing dan membenci dengan kelicikan mereka masing-masing, saling mengumpat dan menjelek-jelekkan setiap bertemu.
Namun, ada kalanya dirinya kembali ke perbatasan alam tengah dan neraka sebagai dewa penjaga perbatasan. Menatap Hime yang kembali ke khayangan untuk datang kembali kala musim semi akan tiba, atau bencana kelaparan terjadi barulah pelayan Dewi itu turun ke alam tengah. Saat itulah Arata menyadari dirinya menginginkan wanita ini. Apa Hime juga sama? Menyisir rambut sang Dewi di khayangan, sambil memikirkan dewa arogan yang bahkan tidak pernah dianggap ada oleh dewa lainnya di alam surga.
Itulah yang terjadi selama 236 tahun. Hingga mereka benar-benar dekat, menjadi pasangan kekasih. Hime mulai terbiasa dengan sifat Arata yang berlebihan dan narsis, sedangkan Arata lebih senang lagi menggoda wanita ini.
Wanita yang kini telah menjadi miliknya. Mendekapnya erat setelah entah berapa kali melakukannya. Enkai tertawa sendiri, bagaimana pun dirinya seharusnya tidak begitu banyak memiliki napsu bukan? Apa ini sifatnya karena keturunan dari ayahnya yang berasal dari bangsa iblis?
Seorang wanita yang tidak tidur sama sekali semalaman. Benar-benar tidak diijinkan tidur olehnya. Baru saja terlelap beberapa saat yang lalu. Dirinya tertawa kecil merasa takjub, inilah wajah Hime saat ini. Tetap sama namun terlihat terlalu muda."Bocah!" ucapnya gemas.
Tidak menyadari wajahnya saat ini juga masih bocah berumur 20 tahun. Dirinya perlahan bangkit meraih handuk dan piyama Teddy bear miliknya di dalam lemari pakaian. Membawanya ke kamar mandi, kemudian kembali dengan perasaan lebih segar.
Pemuda yang berfikir tentang apa yang selanjutnya harus dilakukan olehnya? Matanya sedikit melirik ke arah Sena. Mulai memijit pelipisnya sendiri, mencabut kata-katanya? Tapi rasa bersalah itu masih ada, Sena mungkin akan berbuat lebih buruk lagi di belakangnya.
__ADS_1
Jadi satuhal yang akan dilakukannya. Pura-pura tidak tahu.
Dhuar!
Suara ledakan terdengar, radius 1 kilometer dari rumah yang dimiliki Furohito sudah luluh lantak. Sedangkan rumah itu masih berdiri kokoh. Enkai melihat dari apartemen tempatnya dan Sena tinggal. Belasan monster dan iblis melawan ribuan pasukan Hunter.
Kemampuan iblis dan monster memang berkembang pesat. Setelah cukup lama berada dalam Dungeon. Enkai mulai mendekat, wanita yang tidak dapat memproduksi energinya sendiri.
Bibir pemuda itu mendekat kala usai menghisap sedikit energi matahari. Mencium bibir wanita yang terlelap, cahaya kekuningan terlihat dari bibir yang terhubung. Wajah pucat wanita itu terlihat lebih segar dalam beberapa detik."Sena, bangun aku lapar," Ucap Enkai penuh senyuman.
"Emmgh...iya, wanita itu bangkit. Ingat! Dirinya bukan sepenuhnya manusia. Memakai handuk dan meraih setelan piyama dengan motif beruang yang disiapkan Enkai, kemudian berjalan menuju kamar mandi, guna membersihkan dirinya.
Semua sama saja, bagaikan pasangan muda yang menikah. Mungkin jika dibandingkan dengan 2300 tahun lalu jauh berbeda. Pakaian sutra berwarna merah bersulamkan benang emas, hiasan rambut dari emas. Dengan perjamuan dari puluhan pelayan yang menunggu di depan kamar pengantin.
Tapi ending yang bagaikan bencana. Kala Furohito memasuki kamar pengantin setelah mendengar bentakan Arata. Melihat dengan mata kepalanya sendiri Hime menuruti keinginan majikannya. Hal yang terjadi setelahnya? Arata menyesali amarahnya yang hanya sesaat, tubuh Arata yang lemah akibat keracunan. Memeluk gaun pengantin yang terjatuh diatas tumpukan abu.
Sesekali tertawa, dan menggodanya. Inilah kehidupan yang diinginkan Arata. Bukan sebagai dewa, atau putra mahkota. Hanya sebagai orang biasa yang tinggal di apartemen.
Dhuar!
Dhuar!
Dhuar!
Suara ledakan beberapa kali terdengar, beberapa penghuni apartemen mulai mengungsi, terdengar teriakan. Mungkin area pertarungan meluas. Tapi tetap dengan prinsip masa bodoh, Enkai tetap menikmati sarapannya.
"Ada ledakan." Ucap Sena.
__ADS_1
"Jangan difikirkan, mereka mau bertarung, mau mati bukan urusanku. Masa bodoh!" Kata-kata dari mulut Enkai sembari menikmati seafood buatan Sena.
Wanita yang menyipitkan matanya. Arata belum kembali, jika sudah kembali pasti akan segera pergi. Bagaimana cara mengembalikannya? Baru hanya 1,2% energi Enkai saat ini. Bagaimana cara mencapai 50%?
Lalu kenapa dirinya tidak mati? Seharusnya dengan memberikan seluruh energinya, kekuatan Enkai meningkat. Apa memang tidak dapat menyalurkan energi melalui berhubungan badan? Lalu bagaimana caranya?
Wajah tengil tersenyum pemuda itu ditatapnya. Dua orang yang tidak setia kawan meninggalkan Arashi dan Kairi.
"Kamu tidak menjemput teman-temanmu?" tanya Sena.
Enkai mengenyitkan keningnya, baru menyadari dua orang yang benar-benar dilupakan olehnya. Benar-benar teman laknat!
"Aku juga harus kembali dalam Dungeon." Lanjut Sena tiba-tiba.
"Kenapa harus kembali?" Tanya Enkai menghentikan aktivitas makannya.
"Tentu saja karena aku memilih Arata dari kamu yang lemah. Dengar! Semalam hanya karena kita terhanyut perasaan! Jangan dianggap serius!" Ucap wanita itu menunjuk-nunjuk menggunakan sumpit.
"Wanita picik penipu. Kita lihat siapa yang akan menang..." batin Enkai berusaha tersenyum.
"Kita akan kembali ke dalam Dungeon, setelah sarapan. Aku akan mengikuti ujian menjadi pengawal pribadi sang putri mahkota." Kalimat penuh senyuman dari Enkai.
Sena mengenyitkan keningnya menatap curiga. Tidak ada kemarahan sama sekali. Namun, tingkat kemampuan Enkai bertambah sedikit, dirinya merasakannya.
*
Pada akhirnya mereka berjalan menuju rumah milik Furohito. Mengapa tidak menggunakan pintu dimensi saja? Tentunya agar Sena tidak lebih curiga lagi. Semalam mungkin sebuah kebetulan dapat membuat pintu dimensi, dari Dungeon ke alam tengah. Tapi jika dilakukan lagi, Sena akan menyadari Arata sudah kembali.
__ADS_1
"Warga sipil tidak diijinkan masuk!" Ucap Hunter yang berjaga di area pertarungan.