Master Of World

Master Of World
Ego


__ADS_3

Menggeledah seisi apartemen. Namun tidak menemukan satu jejak pun sama sekali. Pemuda yang menghela napas kasar terdiam sejenak, memikirkan apa sebenarnya tujuan dari sang monster.


Hingga Sora yang memang ditugaskan dengannya menerima laporan."Kami menemukannya! Dia berada di wilayah prefektur Kanagawa, turun di halte bis 15 menit yang lalu. Tepatnya halte bis nomor 325." Laporan yang diterima Sora melalui earphone.


"Light! Prefektur Kanagawa! Terakhir terlihat turun dari halte bis nomor 325!" Ucap Sora, dengan cepat Enkai membuat celah dimensi. Menuju langsung ke tempat halte bis yang dimaksud.


Mata pemuda itu menelisik, ini dekat dengan tempat Sena bekerja sambilan sebagai kasir di sebuah minimarket. Pemuda yang tidak mempedulikan apapun, segera berlari menuju minimarket. Namun, dirinya menghela napas lega kala menyadari ada seseorang di belakang meja kasir.


"Kamu kenapa? Apa sudah menemukan jejaknya?" tanya Sora.


"Tidak apa-apa, ayo cari di tempat lain." Jawab Enkai bergerak pergi, tanpa memastikan sama sekali.


Sedangkan wanita yang berdiri di belakang meja kasir itu mengenyitkan keningnya. Sena yang seharusnya menunggunya datang untuk pertukaran sift sudah tidak ada. Sedangkan tasnya tertinggal.


"Apa mungkin dia ada urusan?" gumam sang wanita yang memakai seragam yang sama dengan Sena tidak mengerti. Menyimpan tas milik Sena di bawah meja kasir.


*


Beberapa belas menit yang lalu...


Takut, itulah perasaannya saat ini. Tangannya gemetar, wanita yang menitikan air matanya. Monster ini menunjukkan dirinya secara terang-terangan.


"Awalnya makananku malam ini adalah seorang pria bernama Akihiro. Tapi siapa sangka tadi siang ada makhluk langit sepertimu..." Kalimat yang diucapkan sang monster tersenyum tidak wajar. Hingga wajah Shin robek hingga ke bagian pipi.


Sena melangkah mundur. Kemudian berlari dengan cepat, meninggalkan minimarket tempatnya bekerja paruh waktu. Memegang phonecellnya dengan panik sembari berlari.


"Enkai! Angkat! Aku mohon!" Gumamnya dengan napas yang tidak teratur menitikan air matanya tiada henti.


Wajah pemuda berseragam biru itu yang robek kembali seperti semula. Berlari mengejar langkah kaki Sena.


"Tolong ada monster!" Ucap Sena minta bantuan pada polisi yang tengah mengatur lalu lintas. Namun polisi itu malah menahan pergerakan Sena.


"Kami sudah menangkapnya!" Ucap sang petugas pada Hunter di hadapannya. Mengira Sena adalah monster menyamar yang dikenal Shin.


"Terimakasih," Shin tersenyum, mematahkan tangan Sena. Wanita yang meringis, menitikan air matanya. Tubuhnya ditarik paksa.


"Tolong! Dia bukan manusia! Dia akan membunuhku!" teriak wanita itu menangis histeris. Tapi siapa yang akan percaya? Dari rupa sudah jelas terlihat seorang Hunter yang berlari mengejar seorang wanita dengan wajah yang rusak.


Tubuhnya tetap diseret paksa oleh sang pemuda.


Brug!


Gudang tua yang sepi menjadi tempatnya berada saat ini. Mata monster yang telah merasuki tubuh Shin itu menelisik."Nona! Kita pernah bertemu sekali." Ucapnya tertawa mengerikan.


"Aku tidak pernah bertemu denganmu." Ucap Sena ketakutan, beringsut mundur memegangi lengannya.


"Tidak aku sangka, aku mendapatkan makanan langit sepertimu. Kamu tidak mengingatku? Tentu saja, karena saat itu kamu berada di atas tandu." Sang iblis menunjukkan wujud aslinya. B*bi hitam pekat, dengan tinggi mencapai empat meter. Sedangkan tubuh Shin terlihat tergeletak tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Tolong!" teriak Sena berusaha bangkit, memegang, kayu hendak memukul sang monster, mencari celah untuk melarikan diri. Namun cairan lengket bagaikan slime keluar dari mulut sang monster, bagaikan sungai mengalir terus menerus. Menghentikan gerakan Sena itulah cairan pencernaan sang monster. Akan dihisap kembali kala mangsanya sudah terjerat.


"Enkai tolong..." pintanya terisak namun pemuda itu tidak muncul. Hingga satu janji diingatnya."Furohito... Furohito..." panggilnya putus asa.


Suara lonceng aneh terdengar dalam keheningan. Pemuda yang menebas lapisan lendir aneh menjijikkan itu. Menghilangkan setengah lendir dengan tebasan pedang aneh di tangannya.


"Furohito!" sang monster beringsut mundur ketakutan.


"Kamu tidak ingat status dan ingin memakannya? Mau aku jadikan makanan monster lain dalam Dungeon?" pertanyaan dari Furohito mengacungkan pedangnya.


Sena terdiam sembari tertunduk. Saat itulah Furohito menoleh, mengangkat tubuh sang wanita yang kesakitan akibat lengannya yang patah. Meninggalkan sang monster tanpa berkata apapun lagi.


Melayang, pemuda ini benar-benar melayang. Tapi fikiran Sena terlalu kosong untuk memperhatikan segalanya. Dirinya terlalu takut.


"Bagaimana jika dia membunuh manusia lain?" tanya Sena pada Furohito, setelah pergi cukup jauh dari tempat tersebut.


"Baik, jika itu keputusanmu..." Jawaban dari Furohito kembali menuju tempat tersebut. Pemuda yang hanya tersenyum ramah. Ada di pihak siapa dirinya? Entahlah...


*


Sementara, Enkai dan Sora kini berhasil menemukan tempat sang monster berada.


"Aku tidak ingin berhadapan denganmu." Ucap sang monster kala keduanya memasuki gudang.


"Kamu takut?" tanya Sora tersenyum menyeringai mengeluarkan aura dingin dari tangannya.


Wanita yang mendekati monster berbentuk b*bi tersebut. Tidak menyadari mata monster tersebut masih bergerak.


Srak!


Lendir berselimut es menjadi lebih padat. Namun, keadaan memburuk kini lendir tersebut dapat digerakkan sang monster bagaikan senjata padat.


"Terlalu gegabah!" keluh Enkai, tanpa ada niatan menolong Sora yang tengah bertarung mati-matian.


Hingga pada akhirnya menyadari tempat ini dipenuhi dengan zat kimia yang mudah terbakar.


Namun, satu hal harus dilakukannya terlebih dahulu. Melumpuhkan sang monster. Ribuan kupu-kupu putih terbang di sekitar Enkai. Sang pemuda yang mulai membuat pijakan tidak terlihat.


Bruk!


Sora tidak dapat bangkit setelah tubuhnya dibanting menabrak tembok dengan kencang.


"Sesuatu seperti vacum cleaner." Gumam Enkai berfikir.


Pemuda yang membuat ruang dimensi, menembus ruang hampa di ruang angkasa. Seketika tubuh monster itu tertarik, lebih tepatnya tersangkut pada ruang dimensi yang tidak begitu besar.


"Agghhh!" Erangnya tidak dapat bergerak.

__ADS_1


Enkai segera memapah Sora. Dua orang yang melayang menggunakan pijakan tidak terlihat.


"Mati!" Ucap Enkai pergi membawa Sora, sembari menjatuhkan korek api. Sesuatu yang selalu dimilikinya sebagai seorang koki.


Dhuar!


Ledakan besar terjadi kala api menyentuh zat kimia. Saat itu Furohito menurunkan Sena, di atap gedung dekat dengan lokasi pabrik.


"Dia tidak pernah berubah selalu memandang sesuatu dari fisik." Gumam Furohito menatap Enkai turun dari pijakannya masih memapah Sora. Berjalan meninggalkan lokasi.


Sena melihat segalanya dari atas sana. Permintaan tolong darinya yang tidak menadapatkan tanggapan. Apa karena wajahnya yang cacat?


"Furohito apa aku bisa sembuh? Apa aku dapat memiliki kemapuan seperti mereka?" tanya Sena dengan air mata yang mengalir memegang lengannya yang mungkin retak atau patah.


Pemuda itu mengangguk."Tentu saja," senyuman terlihat di wajahnya."Apa kamu mulai serakah?"


"Iya..." Sena mengangguk, menginginkan Enkai tidak pernah meninggalkannya.


"Tapi hati seseorang tidak pernah dapat ditebak. Jika ingin pergi darinya katakan padaku. Aku memiliki tempat yang layak untuk kamu tinggali. Bukan sebagai sahabat yang menginginkan cinta, tapi benar-benar sebagai sahabat." Kalimat yang diucapkan Furohito, menyentuh kening Sena dengan telapak tangannya.


Tanda teratai hitam terlihat di dahi wanita itu, tapi hanya sejenak, sebelum tanda tersebut menghilang. Cahaya putih hangat, dari ratusan kunang-kunang yang ada di sana.


Setengah wajahnya yang memang buruk dari semenjak dilahirkan perlahan sembuh mengikuti setengah wajahnya yang lain.


"Tentang luka di lenganmu kamu menyadarinya bukan? Kurang dari 24 jam luka itu akan sembuh dengan sendirinya." Ucap sang pemuda yang seakan mengenal baik tentang Sena.


Sena mengangguk, dari kecil jika terluka tubuhnya akan segera pulih dengan cepat. Benar-benar aneh, wanita yang menonggakkan kepalanya. Wajahnya yang cantik terkena redupnya cahaya bulan.


"Apa ada wanita secantik ini?" pujian dari Furohito penuh senyuman. Sena hanya diam terpaku, tidak mengetahui wajahnya saat ini.


"Tentang kemampuan, kemampuanmu lebih tinggi dari Enkai saat ini." Lanjutnya.


"Aku harus pulang," Ucap Sena menunduk, berusaha turun dari atap tanpa bantuan Furohito. Masih memegangi lengannya yang terluka. Berjalan seorang diri keluar dari lorong gang dengan penerangan yang minim.


*


Seorang pria memandang fisik saja? Tepat pukul 2 pagi Enkai kembali ke dalam apartemen. Sena telah tertidur lelap, dengan posisinya yang tidur menyamping.


Enkai tersenyum puas, kala membeli sepasang phonecell baru malam ini. Pemuda yang baru tersadar tidak mengangkat panggilan Sena kala kembali mengaktifkan phonecellnya.


Tertidur memeluk Sena dari belakang, sembari tersenyum. Akan memberikan salah satu phonecell ini padanya. Bayaran dari Akihiro? Tentu saja cukup besar untuk disimpannya. Membuka cabang usaha yang baru nanti.


Sena membuka matanya, wanita itu terdiam. Membiarkan Enkai memeluknya dari belakang."Benar-benar cantik..." ucapan yang bermakna kagum sekaligus sadar diri, mengingat seorang wanita yang mungkin sudah merebut hati pria yang disukainya.


Sebuah pernikahan, namun hanya memiliki hubungan seperti sahabat itulah mereka. Tidak dapat menghalangi kala hati pemuda ini telah berada pada wanita lain.


Mungkin menyembuhkan wajahnya hanya bagian dari egonya.

__ADS_1


__ADS_2