
Seorang pria berpakaian merah terlihat disana. Di tangannya terlihat sebuah seruling, monster berbentuk burung api itu terlihat di atas tubuhnya. Tinggi badan sang burung api mungkin mencapai gedung 20 lantai. Hawa panas membakar membuat tidak satupun tanaman hidup di dekat tempat itu. Kecuali tanaman khusus, rumput dewa yang menyerap energi panas.
"Nak jangan terlalu dekat!" perintah Onigumo pada dua orang yang mengaku sebagai kakak beradik.
Enkai mengangguk, pemuda itu menurut. Kini hanya berada dekat dengan Sena. Mencari celah untuk menghancurkan monster api di hadapan mereka.
"Kraakk!"
Suara burung api terdengar, bentuk ekor yang begitu mirip dengan merak. Namun dapat terbang tinggi. Jika dilihat sekilas dari bawah dan burung tersebut terbang tinggi. Mungkin akan terlihat bagaikan matahari ke dua yang ada di langit.
"Lubang hitam!" Teriak Onigumo yang berasal dari klan iblis. Hendak menyerap sang monster burung api ke dalam lubang hitam aneh yang dibentuknya di langit. Ini bukan pertarungan yang mudah, pertarungan yang benar-benar sulit. Hawa panas mulai terserap, bersamaan dengan itu Tsuya mengeluarkan pedang energi dan jari tangannya.
Srak!
Sayap burung api terpotong.
Brak!
Sang burung yang jatuh tepat di tanah. Untuk pertama kalinya dua klan itu bekerja sama, wajah mereka tersenyum.
"Mereka hebat!" puji Enkai.
"Hanya dengan satu gerakan jari Arata dapat mengalahkan mereka. Untuk apa kagum? Ini hanya permulaan." Sinis anak itu bagaikan mengetahui semuanya. Memakan kue kukus yang entah dibawanya dari mana.
"Permulaan?" Enkai mengenyitkan keningnya.
"Pria berpakaian merah adalah boneka yang digerakkan dengan energi. Sedangkan burung api kekuatan dari seruling milik Arata yang dimainkan boneka berpakaian merah. Dengan kata lain mereka adalah sistem keamanan otomatis." Ucap sang anak tersenyum.
Bersamaan dengan itu sang pemuda berpakaian merah memainkan melodi dari serulingnya. Burung api terlihat lebih ganas, sayapnya yang terpotong kembali tumbuh, bahkan hawa panas yang terserap lubang hitam kini kembali menyala. Benar-benar mengerikan, hawa panas menyengat, bagaikan memasuki oven.
"Seberapa kuat sebenarnya Arata?" tanya Enkai pada anak yang berada di sampingnya.
"Bisa dibilang melebihi level dewa biasa, dapat menciptakan dimensi dengan mudah. Kekuatan tempur yang sulit ditandingi. Aku tidak berlebihan jika mengatakan Arata dapat membunuh mereka hanya dengan menggerakkan satu jarinya." Sang anak menghela napas berkali-kali, masih menikmati kudapan miliknya.
"Berapa usiamu?" tanya Enkai mulai curiga.
"Aku sudah lupa. Mungkin sekitar 6500 tahun." Jawaban dari sang anak membuat Enkai mengenyitkan keningnya."Mereka hampir kalah! Saatnya kamu yang menghadapinya."
__ADS_1
Sena mendorong Enkai ke arah sang monster kala melihat kedua makhluk itu tidak sadarkan diri. Akibat sayap sang burung api yang menancap bagaikan pedang yang terbakar.
Hawa panas dirasakan olehnya. Hendak melarikan diri, itulah yang dilakukan Enkai tanpa perencanaan yang matang.
Sayap burung raksasa itu kembali dikepakkan. Ratusan bulu sayap terbawa angin. Setajam pedang yang terbakar. Pusaran api terlihat. Hawa yang benar-benar panas.
Enkai melompat mundur, lebih cepat menggunakan pijakan tidak terlihatnya. Namun, monster itu meraung-raung, pusaran angin berlapis api melontarkan bulu setajam besi yang terbakar.
Srak!
Srak!
Srak!
Tubuh pemuda itu terkoyak. Sekitar sebelas pedang tertancap di tubuhnya. Panas, benar-benar panas. Kulitnya yang tertancap pedang mulai terbakar.
Dirinya menunduk, kesadarannya menghilang. Hal terakhir yang dilihatnya, sang anak yang hanya menatap dirinya dengan cemas.
"Disini lagi..." gumamnya, menatap gazebo itu lagi, kala kesadarannya menghilang. Pria yang terlihat berusia sedikit lebih dewasa darinya menuangkan teh. Rambut mereka sama-sama putih, wajah yang mirip, sejatinya serupa. Hanya saja wajah Enkai terlihat lebih muda.
"Jenuh dengan tempat ini? Tapi ini adalah alam bawah sadarmu. Aku dan kamu adalah orang yang sama." Ucap sang pria dengan tenang, meminum teh miliknya sendiri.
Pemuda itu terdiam sejenak, menyadari dirinya antara nyata dan tidak. Sebuah kesadaran yang terkunci, belum dapat menyatu dengan sempurna. Saat ini wujudnya hanyalah ingatan.
"Aku tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Tapi jika nyawamu terancam aku dapat membantumu, walaupun hanya beberapa menit." Ucap sang pria tersenyum lembut padanya.
"Apa aku dapat mempercayaimu?" tanya Enkai memincingkan matanya.
"Sudah aku katakan kita orang yang sama. Aku tidak akan melakukan hal yang merugikanmu. Boleh aku mengambil alih? Hanya beberapa menit." Ucap sang pemuda, terdiam sejenak. Raut wajahnya benar-benar tenang.
"Katakan dulu, apa maksudnya kita adalah orang yang sama?" pertanyaan dari Enkai pada pemuda di hadapannya.
"Saat kesadaran yang sebenarnya kembali. Kita akan menjadi satu orang, karena aku hanya kesadaran yang tersegel." Ucapnya menghilang meninggalkan Enkai seorang diri di dalam gazebo yang dikelilingi kolam teratai.
Onigumo dan Tsuya sudah mulai sadar menatap ke arah remaja yang baru mereka kenal. Darah menetes dari tubuh yang hampir terbakar habis. Kulit-kulitnya melepuh, bahkan pakaiannya hampir habis terbakar.
"Onigumo! Ayo tolong dia!" Ucap Tsuya tidak ingin membiarkan warga tidak berdaya mati sia-sia.
__ADS_1
Onigumo mengeluarkan pedang besar. Mustahil memang untuk mengalahkan burung api raksasa yang tengah mengamuk. Namun dirinya tidak dapat membiarkan orang ini mati.
Srak!
Satu pedangnya yang terbuat dari bulu lagi tertancap pada tubuh Enkai. Cipratan darah semakin banyak saja. Berubah menghitam, entah kenapa tubuhnya belum menjadi abu juga.
"Mati kau!" teriak Tsuya, berusaha menyerang monster bersamaan dengan kilat yang memang merupakan kemampuannya.
Brak!
Onigumo dan Tsuya kembali terlempar dalam sekali serang. Membentur batu di dekat tempat Sena berada saat ini.
"Nak maaf kami tidak dapat menolong kakakmu." Ucap Tsuya yang mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Aku tidak meminta kalian menolongnya." Senyuman terlihat di wajah sang anak.
Tsuya dan Onigumo saling melirik tidak mengerti dengan situasi saat ini.
Dan benar saja, mata Enkai yang tertutup tiba-tiba terbuka mengeluarkan sinar aneh. Pupil matanya berubah menjadi hijau, rambutnya memanjang dalam waktu beberapa detik. Pakaiannya yang telah koyak terbentuk kembali oleh energi. Membentuk pakaian sutra putih.
"Rupanya kalian?" Ucap Arata, mengibaskan dua jarinya.
Dhuar!
Dhuar!
Dhuar!
Suara ledakan yang terdengar nyaring. Bagaikan pedang. Sebuah tebasan memanjang terlihat, mungkin dengan panjang sekitar tiga kilometer disekitar area hutan.
"Groar!" Suara sang burung api dengan tubuh terbelah. Namun seiring suara seruling yang bertiup, tubuh sang burung api beregenerasi dengan cepat.
Tidak banyak bicara burung api yang hendak menyerangnya dilempar menggunakan satu tangan menuju angkasa. Namun angkasa dimensi, sedikit mirip dengan di bumi, dimensi yang memiliki ruang hampa udara, bintang dan planet bagaikan di tata Surya.
Srat!
Dengan cepat Arata berada di belakang sang burung api. Menyikut menggunakan sikunya, membuat sang burung api terjatuh dan menabrak boneka pria yang memainkan seruling sebelumnya.
__ADS_1
"Hanya ini?," gumam Arata yang tidak memiliki ingatan Enkai. Menatap ke arah monster yang hancur. Beberapa detik lagi maka waktunya akan habis. Pedang yang menancap di tubuh Enkai, telah dikeluarkan olehnya, perlahan luka parah itu juga tertutup. Matanya sedikit melirik.
"Hime." Ucap Arata menoleh ke arah anak membulatkan matanya.