Master Of World

Master Of World
Sifat


__ADS_3

"Aghh!"


"Aghh! Ya terus begitu! Terus!"


"Akan aku cabut!"


"Aghh!"


Suara dari orang-orang yang berusaha menarik belati berlian yang menembus bahu Enkai. Tapi tidak ada yang berhasil, terlalu keras menancap di pohon. Pemuda itu belum juga dapat lepas setelah lebih dari 30 menit.


Hingga Furohito datang berjalan mendekati mereka, tangan kirinya membawa seekor monster kecil. Sedangkan tangan kanannya menarik belati berlian yang menancap di bahu Enkai.


Brak!


Sekali tarik dengan satu tangan belati berlian itu terlepas. Benar-benar wajah polos tanpa dosa.


"Lumayan dalam..." gumamnya membuat semua orang keheranan. Pria yang benar-benar lugu tapi super power.


Bug!


Furohito kembali membuat drama."Aku lemah, tidak berdaya. Tolong papahlah warga sipil ini," tingkah menggemaskan darinya.


"Warga sipil kepalamu!" Umpat Kairi, membantu Enkai bangkit.


"Kalian tidak iba padaku? Jika bukan karena aku dan Magie (monster kecil). Monster tadi masih beregenerasi. Magie yang malang, jasa kita tidak diperhitungkan..." Keluh Furohito, bermanja-manja pada makhluk berbulu putih di tangannya.


Makhluk yang hanya mengeluarkan suara menggemaskan bagaikan burung kecil.


"Tidak peduli apapun! Sebaiknya sekarang kita bawa Light ke rumah sakit! Dia sudah kehilangan terlalu banyak darah. Bagaimana kalau---" Kalimat Sora disela.


"Aku ingin pulang." Hanya itulah kalimat yang diucapkan Enkai. Membuat pintu ruang dimensi.


*


Apartemen yang tidak begitu luas. Kotak P3K dan kapas berserakan. Enkai saat ini tengah tertidur di kamar dengan piyama bermotif beruangnya. Sedangkan rekan-rekannya yang lain tengah mengobati diri, dibantu oleh Sena dan Arashi di ruang tamu.


Es batu, perban, semprotan pereda bengkak, semuanya ada di sana. Wajah yang tertunduk mengobati luka-luka pada tubuh Sora. Sedangkan Kairi tengah mengobati Arashi.

__ADS_1


"Light, apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit?" tanya Sora bersikeras.


"Benar lukanya begitu dalam, jika tidak ditangani maka---" Kalimat Kairi disela.


"Tubuh kami istimewa, aku juga baru menyadari dia juga sama." Ucap Sena dengan sengaja menggores tangannya menggunakan pisau buah. Darah menetes, tapi meskipun lambat, luka itu tertutup perlahan.


"Kenapa bisa!? Apa kalian Alien?" Tanya Kairi antusias.


Sena hanya menggeleng sembari tersenyum, kembali mengobati luka di tubuh Sora. Wajah yang benar-benar cantik, jemari tangannya putih dan lembut, tutur kata yang halus. Sora menelan ludahnya sendiri. Jika dirinya seorang pria mungkin akan jatuh cinta pada wanita ini. Adik Light benar-benar sangat lembut, pantas saja kakaknya begitu tampan dan dingin.


Perpaduan yang cocok bukan? Sebagai saudara, adik yang lembut, dan kakak yang dingin. Dua bersaudara dengan wajah yang rupawan. Itulah yang tersetting di otaknya saat ini.


Wanita ini tetap tersenyum lembut, mengobati luka di sekujur tubuhnya.


"Apa tipe kemampuanmu?" tanya Sena pelan. Kini mengobati luka di punggung Sora.


"Es, aku dapat membekukan," jawaban dari Sora.


"Tolong bantu Enkai ya? Aku tidak begitu paham tentang Hunter. Tapi aku tahu ini pekerjaan yang berbahaya. Aku tidak dapat menjaganya. Jadi hanya dapat mengandalkan kalian untuk menjaganya." Sena masih tersenyum membuat semua orang menoleh padanya.


Semua orang terdiam sesaat, sedangkan Furohito juga tetap diam meminum secangkir teh. Bagaikan hanya mendengarkannya saja.


Arashi dan Kairi menahan air mata mereka. Mereka anak tunggal yang disayangi kedua orang tua mereka masing-masing. Tapi memutuskan untuk merantau ke kota di usia 18 tahun. Hanya ingin mencari peruntungan, agar dapat mengirim uang lebih untuk orang tua mereka. Namun, tetap saja setiap berkunjung orang tua mereka akan memaki dengan cerewet, tentang kehidupan mereka. Sepasang orang tua yang benar-benar peduli, walaupun tinggal terpisah.


Saat datang orang tua mereka akan membersihkan apartemen yang kacau balau. Membawa pakaian mereka ke laundry. Setelah pergi pun menitipkan sedikit uang. Walaupun cerewet, orang tua mereka tetap peduli.


Mata mereka menelisik, apartemen yang cukup bersih. Walaupun tidak begitu mewah. Sena dan Enkai, dua orang dari keluarga kaya yang terlihat sudah mandiri dari kecil. Ternyata ini cerita di baliknya. Mungkin itulah yang ada dalam benak mereka.


Sedangkan Sora sebagai penegak kebenaran dan keadilan. Wanita karier, cantik mandiri, berkepribadian kuat, tentu saja akan melindungi seorang adik selembut dan sebaik ini.


"Aku akan melindungi kalian mulai sekarang. Kita adalah teman bukan?" tanya Sora, sedangkan Sena mengangguk sembari tersenyum tulus.


Wanita yang datar, tidak pernah hidup memperjuangkan miliknya. Jadi jika Enkai menyukai Sora, dirinya hanya dapat menghela napas jika pada suatu saat nanti Enkai pergi meninggalkan apartemen untuk menikah setelah berpisah dengannya.


Pernikahan ini tidak diinginkan oleh Enkai. Mungkin hanya sebagai alasannya agar dapat lepas dari keluarga Zen. Semua sudah mereka pernah bicarakan pada malam pernikahan mereka. Jadi, tidak akan ada sebuah penyesalan. Enkai sendiri yang mengatakan dari awal agar tidak ada kesalahpahaman.


Dirinya memang harus sadar diri. Jadi jika sedih, sudah pasti akan terjadi. Namun tidak ada seorang pun yang dapat mencegah hujan turun.

__ADS_1


Hingga sekitar satu jam setelahnya mereka sudah membersihkan diri. Harum aroma masakan tercium. Satu meja dipenuhi dengan makanan. Dimulai dari kepiting raksasa, kalkun, lobster, steak, soup, udang, spaghetti, pizza, bahkan dessert yang belum dihidangkan. Masih diletakkan di lemari es di dapur, berupa fruit salad dengan ice cream di bagian atasnya lengkap dengan hiasan cherry dan daun mint.


Hidangan yang akan di sajikan setelah makanan utama habis. Gila! Benar-benar gila, hidangan bagaikan hotel bintang lima. Siapa sangka Sena dapat seperti ini.


Tampilan yang mewah menggugah selera. Membuat mereka menelan ludahnya kasar. Sudah bersiap-siap untuk makan.


"Selamat menikmati!" Ucap Sena tersenyum ramah.


Empat orang ini termasuk Furohito makan bagaikan orang kesetanan.


Hingga Sora dengan mulut penuhnya berucap."Dik, dimana kakak iparmu?" tanyanya masih mengira Sena adalah adik Enkai.


"Kakak ipar?" Sena mengenyitkan keningnya.


"Iya, apa dia orang yang galak? Aku dengar-dengar dari Kairi dan Arashi apartemen ini milik kakak iparmu. Bukannya bagaimana melihat gadis manis sepertimu tinggal di tempat sekecil ini membuatku tidak tega. Bagaimana jika kamu dan kakakmu tinggal di tempatku saja?" Ucap Sora tulus, menatap wanita sebaik dan polos ini. Lagipula dia adiknya Light, masakannya juga super enak.


Semua orang terdiam sesaat. Suasana yang benar-benar hening. Hingga pada akhirnya Enkai keluar dari kamarnya. Duduk di kursi meja makan. Tanpa bicara satu patah katapun langsung makan dengan lahap.


"Kalian suka masakan istriku? Jangan ragu untuk makan banyak!" Ucap Enkai tersenyum tanpa dosa. Makan dengan cepat dan lahap mungkin akibat dari terlalu banyak kehilangan darah.


"Dia istrimu?" tanya Sora tersenyum dipaksakan. Dengan cepat Enkai mengangguk.


"Namanya Sena, dia pintar memasak. Karena itu aku juga ingin menjadi koki sepertinya." Ucap seorang Hunter aneh.


Sora hanya dapat terdiam sesaat dunianya bagaikan retak menjadi dua.


"Ini, makanlah yang banyak." Kalimat yang diucapkan gadis manis ini penuh senyuman. Kala meletakkan makanan dalam piring Sora.


Siapa yang akan tega menyakiti makhluk tidak berdosa seperti ini?


"Jika terlalu pedas, aku juga membuat sisi kanan dengan bumbu berbeda. Tolong kedepannya jaga Enkai dengan baik ya? Dia sebenarnya baik, hanya saja terkadang kesulitan mengontrol emosinya." Kali ini gadis itu lebih manis lagi. Membawa pisau besar, memotong kepiting raksasa tanpa ampun. Kemudian meletakkan isi dagingnya pada piring Sora.


"Sifat kalian mirip!" celetuk Arashi, menunjuk pada Furohito dan Sena.


Memang benar-benar sama, terlihat tidak berdaya. Tapi tangan sekecil ini, membunuh kepiting raksasa kemudian memasaknya, tidak akan ada yang menyangka.


Berpura-pura, lebih tepatnya sok lemah. Padahal lebih mandiri dari siapapun. Dua orang dengan watak yang hampir sama Furohito dan Sena.

__ADS_1


__ADS_2