
Asap sisa ledakan yang menghilang, menyisakan dedaunan dan pepohonan yang mati dalam jarak radius 500 meter dari lingkaran reaksi ledakan. Kala asap mengepul, wajah anak itu terlihat.
Seiring dengan langkahnya mendekat, rerumputan dapat hidup kembali. Bahkan pepohonan yang hancur juga kembali hidup. Kairi masih gemetar hingga saat ini, jujur saja celananya benar-benar basah. Sedangkan Arashi yang memiliki penglihatan yang lebih tajam terdiam sejenak. Mengetahui anak ini menggunakan energi dalam dirinya. Apa akan memiliki efek samping? Kekuatan yang ada dalam diri anak itu terlihat lebih khusus.
Berbeda dengan Hunter atau monster yang dapat menghasilkan energi. Anak ini hanya memiliki energi cadangan yang cukup besar. Namun tidak menghasilkan energi. Itu artinya kolam seluas apapun tanpa hujan jika digunakan terus-menerus akan mengering.
Setiap langkah menghidupkan tanaman yang mati bahkan lebih banyak menyerap energinya lagi. Arashi menatap cemas, pada anak yang berjalan penuh senyuman. Struktur energi tubuh yang mirip dengan Sena. Apa orang ini Sena? Atau memiliki hubungan dengan Sena? Itulah yang ada di fikiran Arashi sedikit melirik pada Enkai.
"Kamu berhasil." Ucap anak itu tersenyum, wilayah sekitar mereka yang hancur akibat serangan sang anak kini kembali seperti semula. Sang anak yang mengembalikan segalanya menggunakan aura kehidupannya. Atau lebih tepatnya kolam energi yang dimilikinya.
Sedangkan Enkai tersenyum pada sang anak. Arashi dan Kairi bagaikan diselimuti medan energi setelah dihinggapi kupu-kupu.
"Ka...kamu tidak apa-apa?" tanya Arashi cemas. Jika menggunakan kemampuannya, bukankah anak ini hanya ingin menghabiskan energinya? Dalam kata lain mengakhiri hidupnya.
"A... Arashi kamu seharusnya mencemaskanku. Atau setidaknya Enkai, dia menyerang kita dengan membabi buta." Kairi masih duduk di atas tanah hingga saat ini. Mengingat betapa sadisnya anak cantik yang manis ini.
"Itu tadi kemampuanmu? Bisa aku mempelajarinya?" tanya Enkai antusias, tidak mempedulikan kata-kata Arashi.
"Tidak, aku akan mengajarimu yang lebih bagus. Sesuatu yang sesuai dengan kemampuanmu." Jawaban dari sang anak.
"Jika seperti ini, aku akan dapat menjemput Sena dengan mudah sebelum white day. Saat white day tiba, aku akan mentraktirmu dan Sena makan bersama. Bagaimana pun kamu sudah membantuku untuk membawa Sena pulang." Ucap Enkai penuh semangat, untuk belajar dari anak ini.
"Kalian jalan duluan, dekat dengan sungai akan ada rumah kayu kecil. Aku akan segera kembali." Sena yang masih berpura-pura menjadi anak kecil berjalan pergi. Wanita yang menyadari, Arashi sudah mulai curiga dan memandang aneh padanya.
__ADS_1
Namun, permainan ini belum berakhir. Segalanya akan berakhir saat ingatan Arata kembali. Seperti janjinya, menembus kesalahannya dengan berbagai cara.
Anak yang kembali memasuki area hutan. Arashi terdiam tidak melepaskan pandangannya sama sekali. Mengikuti langkah Kairi yang menarik tangannya.
Hutan yang gelap, dengan berbagai pepohonan tinggi menjulang. Seseorang tiba-tiba hadir di belakang Sena."Mencariku?" tanya Furohito.
"Apa ada cara mempererat ingatan Arata kembali?" tanya Sena padanya.
Furohito menggeleng."Kondisimu berbeda dengannya. Kamu roh pohon yang memiliki kekuatan spiritual, kemudian mati dan mendapatkan kesempatan reinkarnasi setelah 2300 tahun. Sedangkan Arata? Dia mengunci dirinya dalam ingatan terdalam. Dapat kembali perlahan, sebenarnya ada dua metode untuk mengembalikan ingatan dan kesadarannya. Intinya menyatukan, Arata dan Enkai, dua kepribadian yang sejatinya adalah satu orang. Metode pertama mengembalikan setidaknya 50% kemampuannya. Metode kedua, membuatnya mengalami kejadian traumatis."
"50%? Kamu bercanda kan? Dia pernah iseng membuat dimensi lain. Menciptakan beberapa planet dalam dimensi ciptaannya. Kemudian menghancurkannya sembari tertawa sumbang." Sena memijit pelipisnya sendiri, mengingat kelakuan pemuda itu untuk menunjukkan kemampuannya.
Berusaha membuat Hime kagum. Tapi bukannya kagum, wanita itu malah mengatakan kepalanya pusing. Benar-benar kelakuan bagaikan anak kecil yang mencari perhatian. Tapi itulah yang disukai dari Hime dahulu. Tingkahnya yang selalu ingin dipuji semua orang.
"Tapi mengumpulkan bola energi sebanyak apapun tidak akan dapat mengembalikan 50% kekuatan mengerikan Atara! Mungkin perlu waktu ribuan tahun, baru kekuatannya dapat mencapai 50%!" teriak Sena, seorang anak kecil imut yang menunjuk-nunjuk ke arah Furohito dengan jari kecilnya.
"Buat dia mengalami kejadian traumatis dalam hidupnya. Picu kemarahannya, walaupun sebentar tapi kekuatannya akan mencapai 50%. Walaupun pada akhirnya akan berangsur kembali ke angka 20% tapi setidaknya ingatannya akan kembali. Masa lalu sebagai Arata maupun masa sekarang menjadi Enkai." Jawaban dari Furohito.
"Membuat Arata marah!? Memang kamu bisa menghentikannya jika sudah marah!? Dia tidak pernah marah! Tapi aku bisa membayangkan bagaimana jika makhluk itu marah!?" Ucap Sena lagi, mengacak-acak rambutnya sendiri terlihat frustasi.
"Sama, aku juga tidak dapat menghentikannya. Karena itu aku pergi dulu..." Jawaban tanpa beban dari Furohito yang bergegas melarikan diri. Tapi dengan cepat tangan kecil Sena menarik kakinya. Mengayun-ayunkan tubuhnya, kemudian melemparkannya hingga membentur bebatuan besar.
"Hime...kamu tega..." rintih Furohito dengan tubuh masih menempel pada batu besar. Kacamata modern yang dipakainya bahkan terlihat patah.
__ADS_1
"Semua tugas diberikan padaku? Siapa yang tega disini!?" bentak Sena.
"Tapi kamu senang kan? Cinta, napsu, rasa serakah adalah hal umum yang ada dalam diri manusia. Kali ini kamu terlahir sebagai manusia, menyukainya dari pertama kali melihatnya. Hal yang menyenangkan dapat bersama dengan orang yang kamu cintai, sebelum mati..." Furohito menghela napas kasar.
Sedangkan Sena mengangguk, menadahkan tangannya kala menerima selembar daun kering berguguran."Aku bahagia, terimakasih..."
*
Rumah kayu yang tidak begitu besar. Namun semua hal terdapat disana termasuk pakaian pria. Namun, pakaian yang serupa dengan monster dan iblis yang ada di tempat ini.
Tubuh yang lelah, pada akhirnya semua orang tertidur sesaat setelah berganti pakaian.
Namun tidak dengan Enkai, anak aneh itu belum pulang sama sekali. Pemuda yang ingin terus berlatih untuk pertandingan yang akan diadakan beberapa hari lagi.
Kupu-kupu miliknya yang mulai dilatihnya melakukan berbagai hal.
Brak!
Tebing batu besar terpotong berkeping-keping akibat ribuan kupu-kupu miliknya. Yang merubah sayap mereka menjadi pisau berlian tajam.
Wajah tersenyum, benar-benar merasa akan memenangkan kompetisi. Tapi kala dirinya menelusuri anak sungai mencari tempat latihan lagi. Langkahnya terhenti, seorang wanita terlihat di sana. Memasukkan tubuhnya ke dalam air, pakaian sutra berwarna putih.
Merendam dirinya, samar-samar matanya terlihat tertutup, bagaikan beristirahat. Tapi hanya sesaat Enkai terpaku. Seorang wanita cantik, dengan rambut panjang yang basah, menikmati cahaya bulan.
__ADS_1
Wajah yang benar-benar dikenali olehnya. Sang pemuda semakin mendekat memastikan penglihatannya."Sena..." gumamnya.