Master Of World

Master Of World
Karena Aku Lapar


__ADS_3

Tiga puluh menit pesta berlangsung. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang bergerak terlebih dahulu. Tim Hunter yang diketuai oleh Midori bagaikan enggan menunjukkan kemampuan mereka.


Matanya menelisik menyadari ada Dark Hunter di tempat ini. Lebih tepatnya menyadari keberadaan pria yang mengawasi dari sendi bangunan.


Pemuda itu tetap menatap segalanya dari atas sana, topeng Inari terpasang menutupi wajahnya.


Tuan Hiderashi kini tengah duduk di samping Ryu. Satu meja dengan Midori.


"Tuan, apa tidak sebaiknya mengundang Dark Hunter yang ada di atas untuk bergabung?" tanya Midori penuh senyuman.


Hiderashi menghela napas kasar, mengikuti keinginan Midori. Bagaimana pun keselamatan dirinya tergantung pada mereka.


"Turun!" perintahnya pada Enkai.


Sekelebat pemuda itu terlihat memasuki celah dimensi. Kemudian tiba-tiba muncul berdiri di belakang Hiderashi.


"Ayo duduk dan minum bersama." Ucap Midori dengan senyuman yang mengembang.


"Aku tidak minum, karena itu dapat merusak fokus. Aku sedang bekerja, jika tidak ada keperluan lain, aku undur diri..." Ucap Enkai terdengar keren. Dalam hatinya mengeluh menahan rasa laparnya, menatap lobster besar serta kepiting raksasa yang ada di atas meja.


"Namamu siapa? Mau bergabung ke pasukan pemerintah? Kapten Eiji sedang mencarimu." Ryu mengenyitkan keningnya, tidak buruk juga memiliki junior yang dapat diandalkan.


"Tidak, apa memakai seragam itu sudah terlihat hebat? Aku dapat membunuhmu dengan mudah." Nada bicara pemuda itu kini terdengar dingin, sedikit tersenyum. Semakin meyakinkan Ryu, dia bukan pemilik restauran ayam goreng yang cengengesan dan ceroboh.


"Aku Hunter yang bekerja pada pemerintah! Berani-beraninya kamu---" Bentakan Ryu disela.


"Ryu! Diam!" Midori memberi perintah. Menatap tajam pada Enkai, senyuman mengembang di bibir Midori yang menawan."Sudah dipastikan siapa yang akan menenangkan misi hari ini. Omong-ngomong apa kemampuan kelompokmu?"


"Apa penting kalian tau?" tanya Enkai.


"Itu penting, jika kami kewalahan, mungkin kelompok kalian dapat membantu membersihkan area pertarungan." Cibir Midori dengan senyuman yang semakin mengembang.


"Kian, dia temanku Hunter level B, kekuatannya dapat menghentikan waktu tiga detik per hari. Dia sudah satu minggu tidak menggunakan kekuatannya. Jadi tersisa 21 detik." Midori memperkenalkan Kian. Kian tersenyum dengan bangga, meminum red wine di gelasnya hingga tandas.


"Ryu, Hunter level C, tipikal kekuatannya membuat perisai. Kami juga sudah memiliki alat khusus untuk menangkap iblis yang menyamar. Kalian hanya perlu membersihkan area pertarungan. Mungkin aku dapat membayar kalian satu juta dibagi tiga." Kalimat yang diucapkan Midori, dengan wajah yang mendekat benar-benar merendahkan.


"Jadi apa tipikal kekuatan kelompokmu? Apa kamu terlalu malu untuk mengatakannya?" tanya Kian.


"Mengeluarkan gas metana (kentut) dari p*ntatnya. Satu lagi dapat melihat menembus berbagai benda dalam jarak 10 meter." Jawaban Enkai terus terang.


Suasana hening sejenak. Benar-benar hening, hingga Kian terbatuk-batuk sambil tertawa. Sama dengan Ryu dan Midori, mereka tidak henti-hentinya tertawa.


Namun kupu-kupu dengan sayap dari besi tiba-tiba ada di leher Ryu, Midori dan Kian. Enkai hanya diam tanpa mengucapkan apapun, tapi bagaikan seperti ancaman tanpa kata-kata.


Ryu dan Kian terdiam tidak berani untuk bergerak, tidak ingin leher mereka dilukai. Sementara Midori masih tersenyum menatap sinis.

__ADS_1


Krak!


Ketiga kupu-kupu yang ada di leher Kian, Ryu dan Midori terjatuh sayapnya rusak tergulung. Kemudian ke-tiganya lenyap seiiring dengan Enkai yang memang menarik mereka.


"Siapa namamu?" tanya Midori.


"Light," jawaban datar dari Enkai, matanya masih menatap ke arah ketiga kupu-kupunya yang mulai dilenyapkan olehnya.


"Apa kamu tidak tau? Aku dapat mengendalikan benda-benda dari metal. Jadi membunuh kupu-kupumu sangat mudah bagiku." Midori mendekat, beberapa benda tajam dari metal melayang mendekati tubuh Enkai.


Kian dan Ryu menahan senyuman mereka. Ingin menertawakan pemuda ini.


"Dark Hunter ingin mengalahkan Hunter yang direkrut pemerintah? Jangan bermimpi." Sindir Kian.


"Temui kapten Eiji, jika beruntung kamu mungkin akan masuk menjadi junior." Ryu mulai tertawa kecil.


"Agh!" Suara jeritan Midori tiba-tiba terdengar, wanita itu roboh di lantai, memegangi dada kirinya.


Tang!


Tang!


Tang!


Ruang dimensi kecil ditembus jemari hingga pergelangan tangan Enkai."Apa sakit?" tanya pemuda itu tersenyum. Tangannya yang terulur masuk ke ruang dimensi, kini tengah memegang jantung Midori.


"Ka...kamu!" bentak Midori, merasakan rasa sakit di dada kirinya.


"Aku sudah bilang dapat membunuh kalian. Tutup mulut kalian atau ingin mati disini." Kalimat yang diucapkan bibirnya, kembali menarik tangannya dari celah lubang dimensi yang kecil. Kemudian berjalan meninggalkan meja para Hunter yang direkrut pemerintah.


"Midori! Kamu kenapa?" tanya Ryu berusaha membantu Midori bangkit.


Keringat dingin membasahi tubuh wanita itu, dirinya masih ketakutan hingga kini memegang dada kirinya."Di...dia hampir membunuhku. Di...dia bukan manusia," gumamnya gemetar.


Matanya menatap Enkai yang bergerak dengan tenang. Memasuki ruang celah dimensi kemudian menghilang pergi entah kemana.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Kian tidak mengerti.


"Tangannya ada di jantungku tadi! Kamu tidak dengar! Aku hampir mati!" teriak Midori murka.


"Sebaiknya tenang dulu. Tolong segera tangkap iblis yang menyamar, karena dia semakin mengancam nyawaku," pinta Tuan Hiderashi, terlihat tidak tenang, mengawasi sekitarnya.


*


Lorong-lorong gelap ditelusuri Enkai. Pemuda yang berpapasan dengan seorang pelayan pria di tengah lorong, menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Arashi..." panggilnya.


Arashi yang mengenakan seragam pelayan segera menoleh. Pemuda yang tengah mendorong troli yang dipenuhi dengan makanan.


Ruang dimensi yang tidak begitu besar terbentuk di dekat Enkai.


Bug!


Kairi yang tengah berada di ventilasi tiba-tiba terjatuh di dekat mereka."Kenapa ingin bertemu tidak bilang-bilang dulu!? Setidaknya aku punya persiapan sebelum pindah tempat!" bentak Kairi memegang pinggangnya yang sakit.


Enkai melepaskan sarung tangannya, berjalan ke arah wastafel. Menggosok tangannya dengan bersih.


"Kenapa cuci tangan?" tanya Arashi penasaran.


"Tadi baru memegang jantung manusia. Tanganku masih kotor. Jika ingin makan harus cuci tangan dulu." Jawaban datar dari Enkai.


"Psikopat!"


"Psikopat!"


Itulah yang ada di fikiran Arashi dan Kairi menatap ke arah ketua tim mereka. Dua orang yang berusaha tersenyum, tidak ingin menyinggung orang mengerikan ini.


Enkai berjalan mengambil sepiring makanan di troli kemudian makan di pojokan tanpa dosa. Dirinya benar-benar lapar, karena terlalu semangat mencari uang. Apa Sena juga sudah makan? Mungkin wanita si*lan itu sedang makan kue ikan hangat dengan kacang merah di dalamnya yang dijual di pinggir jalan.


"Kamu memanggil kami hanya untuk melihatmu makan?" tanya Arashi menahan rasa geramnya.


Enkai mengangguk."Aku belum makan, aku adalah warga negara miskin yang hanya makan ayam goreng setiap hari."


"Ayam goreng, makanan untuk warga negara miskin?" geram Kairi tidak habis fikir.


"Intinya kalian dapat informasi apa saja?" tanya Enkai masih makan di pojok ruangan dengan tenang.


Arashi menghela napas kasar."Tuan Hiderashi memiliki seorang pelayan kepercayaan. Namanya Naogumi, dia bekerja selama belasan tahun di tempat ini. Orang yang paling aku curigai adalah pelayan ini. Tingkah lakunya benar-benar mencurigakan, beberapa kali wanita itu mengawasi tuan Hiderashi dari jauh."


Sedangkan Kairi mengenyitkan keningnya."Yang berkacamata itu kan? Dia memang bukan manusia. Lidahnya sempat keluar cukup panjang."


Enkai terdiam menghela napas kasar."Lalu bagaimana Tuan Hiderashi menyikapi tentang pelayan kepercayaannya?"


"Tuan Hiderashi seperti menjauh beberapa minggu ini dari pelayannya. Aku mendapatkan informasi ini dari para koki." Jawab Arashi.


Pemuda itu menghabiskan makanannya dengan cepat, kemudian menjilat sisa makanan di bibirnya sendiri. Wajahnya tersenyum sejenak."Jangan menangkapnya, kita harus hati-hati. Cari informasi lebih banyak lagi."


"Tapi jika tim pemerintah menangkapnya terlebih dahulu---" Kalimat Arashi disela.


"Biarkan mereka menangkapnya dan menanggung malu. Firasatku mengatakan imbalan misi kali ini akan semakin besar." Enkai tersenyum meletakkan piringnya yang telah kosong. Kemudian berjalan menjauhi area ballroom.

__ADS_1


__ADS_2