
Semua orang menelan ludahnya menatap kemapuan manusia ini. Tapi apa dapat dikatakan sebagai manusia? Tidak, biji pohon surga yang dialiri energi Arata. Hime yang menanamnya 2300 tahun lalu sebelum pernikahan mereka. Tepat di pusat inti Dungeon, ada dua pohon disana. Setelah buah dipetik pohon akan langsung mati.
Dewa yang tidak dihormati dan tidak memiliki pelayan. Itulah Arata suaminya, karena itu Hime menanam tanaman langka, dapat mengubah makhluk hidup menjadi pelayan dewa, sesuai dengan energi yang ditinggalkan sang dewa kala pohon kecil tersebut ditanam.
Masih ada satu pohon. Wajah Sena tersenyum, tentu saja akan diberikannya pada Kairi suatu saat nanti. Kala Arata kembali, membiarkan Arata sendiri yang memberikan pada salah satu pelayannya.
Sedangkan Enkai mengenyitkan keningnya melirik ke arah Sena. Anak ini benar-benar nakal, tidak diduga olehnya, akan memberikan buah dari pohon yang berusia 2300 tahun pada Arashi.
Tapi apa kemampuan buah yang satunya? Haruskah Kairi yang dijadikan bahan percobaan? Semuanya masih difikirkan oleh Enkai.
Namun satu hal yang menarik perhatiannya. Tanda tato aneh terbentuk di tangan kanan Arashi. Itu artinya Arashi terikat dengan perintahnya, mempercayai dan menghormatinya, bagaikan sebuah kepercayaan buta. Segalanya pasti memiliki resiko bukan?
Karena itu juga, dirinya celaka 2300 tahun yang lalu. Karena Hime selaku pelayan Dewi, hanya mempercayai dan patuh pada junjungannya. Menerima hadiah dan memberikannya pada Arata tanpa fikir panjang.
Tapi kini tanda Dewi tanaman tidak ada di tangan kanan Sena. Apa karena melewati siklus reinkarnasi perjanjiannya dengan sang Dewi juga hilang?
Pemuda yang menyipitkan matanya penasaran. Berjalan mendekati sang bocah kecil."Nak mau aku antar ke kuil Dewi tanaman? Di bagian barat ada kuil besar, ada banyak bunga teratai juga." Ucap Enkai antusias, kuil yang memang dibangunnya 2300 tahun lalu mengingat Hime yang terikat pada majikannya. Dapat dikatakan mengalahkan rasa cintanya pada Arata. Rasa kasih yang dibentuk karena perjanjian antara pelayan dan majikannya.
"Mungkin iya. Bagaimana jika kita merobohkan kuil itu?" Ucap Sena tersenyum penuh kebencian.
"Dia benar-benar terlepas dari kutukan pelayan dan majikan." Batin Enkai menghela napas kasar memijit pelipisnya sendiri.
Arashi anak penurut dan baik hati kini melangkah keluar dari area pertarungan. Berjalan mendekat ke arah Enkai."Apa ada perintah tuan?"
"Bersikap biasa saja." Jawaban dari Enkai memijit pelipisnya sendiri.
Arashi menghela napasnya."Entah kenapa aku menjadi ingin patuh pada makhluk br*ngsek sepertimu. Omong-ngomong mana hadiahnya?"
__ADS_1
"Nanti akan dibagikan oleh kasim." Jawaban dari Sena.
*
Tidak semua peserta mendapatkan giliran kompetisi hari ini. Seperempat peserta telah gugur.
Semua orang telah beristirahat di kamar yang disediakan. Hanya Arashi yang mendapatkan jadwal hari ini. Sedangkan Enkai dan beberapa Hunter lain mendapatkan giliran besok.
Kompetisi yang sejatinya tidak begitu berarti baginya. Hanya saja dirinya ingin mengetahui apa sebenarnya rencana dari Furohito, ayahnya dan Sena. Mengapa ingin mengembalikan ingatannya? Mengapa mereka tidak kembali ke neraka sampai sekarang?
Kala malam menjelang, mata anak itu terbuka. Berjalan menelusuri lorong, lantai yang terbuat dari kayu, design bangunan klasik khas keluarga kerajaan. Ditambah dengan kolam bunga teratai. Walaupun ada yang aneh, hanya teratai hitam dan putih yang mekar di tempat ini.
Pemuda yang kini memakai pakaian putih itu perlahan mengikuti langkah Sena. Ingin mengetahui apa yang akan dilakukannya? Mengapa berbuat sejauh ini untuk mengembalikan dirinya seperti semula? Padahal tidak ada yang salah menurutnya dengan hidup sebagai koki restauran ayam goreng milik istrinya.
Pemuda yang berusaha keras menyembunyikan auranya.
"Aku sudah memutuskan untuk menerima saran mu. Mengembalikan Arata secara paksa. Tapi, jika seperti ini maka---" Kalimat sang raja neraka disela.
Sena menggeleng."Aku akan selamanya menjadi kelemahan bagi Arata. Karena itu, ini lebih baik. Seperti yang anda ketahui ini akan mendatangkan tekanan untuk Arata. Hingga ingatan dan kesadarannya akan menyatu. Cara yang paling instan..."
"Hime, terimakasih... Arata hingga saat ini tidak mengetahui betapa nyawanya terancam setelah keluar dari dalam Dungeon. Selama hidupnya, para dewa akan mencari celah untuk membunuhnya. Apa yang mereka harapkan dari dewa yang memiliki darah iblis di dalamnya?" Ucap raja neraka, menepuk bahu Hime.
"Apa penelitian yang aku dan Furohito kembangkan berhasil?" tanya Sena berhati-hati.
Raja neraka mengangguk."Kita dapat menyerang langsung ke alam atas. Menebar rasa takut di khayangan agar putraku lebih dihargai dan tidak ingin disingkirkan lagi."
Enkai membulatkan matanya. Mereka hanya ingin melindunginya? Menyerang langsung ke alam atas? Itu berarti mengantar kematian. Enkai terduduk di lantai kayu, entah berapa korban yang akan mati. Jemari tangannya gemetar, apa yang akan dilakukan ayah, sahabat dan kekasihnya hal yang mengerikan baginya.
__ADS_1
Pemuda yang melangkah gontai memikirkan segalanya. Mungkin jika kemampuannya kembali sepenuhnya ayahnya tidak akan secemas ini. Tidak tahu tempat yang harus ditujunya dan keputusan apa yang akan diambilnya.
Tidak melanjutkan mendengarkan pembicaraan mereka. Raja neraka tiba-tiba memeluk Sena."Maaf, tapi jika tidak begini akan sulit."
"Baik, hamba mengerti..." ucap Sena tersenyum dengan air mata mengalir.
Ini adalah rencananya, sebuah usulan darinya dengan keyakinan Arata akan melupakannya cepat atau lambat. Hanya membuat dirinya cidera parah, Furohito yang akan melakukannya. Mengapa melakukan semua ini? Mengembalikan kemampuan Arata setidaknya 50%, mungkin hanya itu yang dapat dilakukannya untuk menebus kesalahannya.
"Jika Arata kembali, ayah tidak akan membiarkannya membunuhmu. Mulai sekarang kamu sudah kuanggap seperti putriku." Ucap raja neraka melepaskan pelukannya.
Sena hanya terdiam tidak menjawab. Setelah Arata kembali, tidak akan ada yang dapat menghalanginya untuk membunuhnya. Dirinya akan mati disini ditangan suaminya.
Seperti kehidupan yang dulu, mungkin akan lebih baik di kehidupan yang akan datang kembali menjadi sebatang pohon di alam tengah.
*
Sedangkan di tempat lain, Enkai menatap ke arah langit, ada dua buah bulan disana. Beserta ribuan bintang. Tempat aneh yang memiliki dua satelit alami berbeda itulah Dungeon. Di ciptakan olehnya untuk menyenangkan Hime yang akan tinggal di neraka bersamanya.
Tapi menyerang alam atas untuk balas dendam, sekaligus melindunginya? Hal yang benar-benar gila baginya.
"Enkai..." Sena kali ini muncul, bukan sebagai anak-anak lagi. Tapi wujudnya semula, wanita cantik yang memakai pakaian sutra.
Pemuda yang menoleh menatap ke arahnya. Wajah menyebalkan itu tersenyum tanpa dosa. Namun, entah kenapa dirinya merindukannya.
"Tidak bisakah kita kembali pulang? Tinggal di tempat semula, kita tinggal di apartemen. Menjual ayam goreng, aku memiliki tabungan yang cukup. Tidak akan menjadi Hunter lagi." Ucap Enkai menatap ke arahnya.
Namun, Sena hanya tersenyum, kemudian memeluknya. Tidak ada balasan dari Enkai, hanya sang wanita yang bersandar padanya.
__ADS_1
"Akan kembali seperti semula. Aku janji..." Ucap Sena tersenyum. Enkai melepaskan pelukan wanita yang mendekapnya. Sedikit menunduk, memegang tengkuk wanita ini. Dengan cepat, mendaratkan bibirnya, benar-benar merindukannya. Wanita pemalu yang terkadang membuatnya tidak dapat berkata-kata.