Master Of World

Master Of World
Strategi Apa


__ADS_3

Seorang wanita yang berjalan, wajahnya tersenyum menghirup harum aroma bunga. Ada beberapa bunga yang sudah mulai mekar, bunga mawar berwarna merah menjadi pilihannya. Wajah rupawan yang tersenyum, membawa sebuah paperbag yang cukup besar.


Balon dan hal-hal aneh lainnya terlihat disana. Benar-benar terasa gugup, hendak menyatakan perasaannya pada seorang pria.


*


Satu persatu balon berbentuk hati yang telah terisi dengan gas helium, disusunnya di atas langit-langit ruang tamu apartemen yang kecil.


Benar-benar memperhatikan detail, dekorasi ruangan dipenuhi dengan mawar merah. Bahkan termasuk lantai, bau cupcake yang hangat tercium. Dirinya mulai mendinginkannya. Hari valentine yang dinantikan olehnya.


Dirinya tidak pandai bicara, jadi hanya menyatakan perasaannya lewat kartu yang diletakkannya di samping cup cake.


Sea food, itulah yang pemuda itu sukai. Bau aroma masakan telah tercium. Seperti janjinya tepat pukul setengah 10 malam mereka akan makan malam bersama. Cup cake coklat yang indah terhidang di atas meja. Dengan harum aroma kopi yang khas.


Kini tinggal menunggu, setelah itu mengenakan pakaian baru dan merias dirinya. Mengatakan perasaannya di hari kasih sayang. Apakah akan berbalas?


Wanita yang tetap menunggu berusaha tersenyum. Jika ditolak, kemudian masih menjadi sahabat sudah cukup untuknya. Namun, dirinya akan tetap mencoba, bagaimana pun hasilnya.


Srak!


Pintu balkon tiba-tiba terbuka. Mengalihkan perhatian Sena, mengira orang yang ditunggunya datang lebih awal, namun sejenak senyumannya pudar. Hanya Furohito yang datang, tersenyum padanya.


"Menunggu Enkai?" tanya Furohito, dijawab dengan anggukan oleh Sena.


"Semua perbuatanku. Dua monster level tinggi yang terlepas kali ini." Kalimat yang terucap dari bibir Furohito, sembari duduk, meminum segelas air. Tanpa rasa malu dan canggung.


"A...apa maksudnya?" tanya Sena tidak mengerti.


"Ini perbuatanku dari awal. Yang ada dalam fikirannya hanya melindungi orang-orang, umat manusia, jalan lurus penuh pembenaran yang difikirkannya. Dia tidak memiliki kasih sayang. Hanya makhluk dingin, yang bergerak pada jalan kebenaran. Tidak mempedulikan orang-orang disekitarnya." Furohito tersenyum, kembali menenggak air putih. Bagaikan enggan untuk menyentuh satupun makanan di atas meja.


"Enkai tidak seperti itu. Dia hanya terlalu sibuk. Dia sudah berjanji, dia akan pulang." Kalimat dari Sena dengan bibir bergetar.


"Mari kita bertaruh, aku akan menyelamatkan Enkai, atau tidak. Tergantung apa kamu mau menyetujui taruhan ini." Kata-kata tenang dari Furohito.

__ADS_1


"Ke... kenapa seperti ini? Kamu sudah berjanji akan membantuku menjaganya kan? Kamu bukan orang seperti ini!" Sena tertunduk dengan air mata mengalir. Tidak mengerti dengan pemuda di hadapannya.


"Kamu juga bukan orang seperti ini!" Bentak Furohito untuk pertama kalinya, kemudian menurunkan nada bicaranya. Air matanya ikut mengalir."Sena, sebaiknya kita menunggunya hingga pukul 12 malam. Jika sifat dinginnya belum berubah, dia tidak akan datang, memilih menyelamatkan manusia si*lan yang memujinya. Aku akan mengembalikan hal yang kamu lupakan. Setelahnya tergantung keputusanmu."


"Furohito?" Sena menatap ke arah pemuda di hadapannya. Tidak mengerti sama sekali.


"Terlalu baik dan mudah percaya adalah kelemahanmu. Dan itu tidak akan bisa diterima Arata. Pada akhirnya kamu akan hanya menjadi orang terbuang. Aku tidak akan melakukan apapun, hanya menunggu dengan tenang kedatangan Enkai di tempat ini..." Hanya itulah kalimat yang diucapkan Furohito. Bangkit dari tempatnya duduk kemudian berbaring di sofa, menatap langit-langit ruangan yang dipenuhi balon berbentuk hati. Sedangkan Sena memilin jemarinya sendiri, meragukan Enkai akan pulang. Belakangan ini memang begitu, pemuda yang selalu mengingkari janjinya.


Apa hari ini akan sama?


*


Hutan yang begitu lebat. Apa yang sebenarnya mereka hadapi? Entahlah masih tidak terlihat hingga sampai saat ini.


Sora yang memimpin jalan melangkah lebih cepat. Menyadari jika mungkin ada tenggat waktu sebelum kabut ilusi itu muncul lagi. Beberapa orang berlarian terlihat, bahkan ada Hunter yang mencakar-cakar tubuhnya sendiri. Tempat yang bagaikan dipenuhi orang-orang tidak waras, akibat kabut ilusi yang sebelumnya. Walaupun kini telah telah menghilang, mungkin masih memiliki efek samping bagi para korban.


Ular itu pada akhirnya terlihat, ular putih raksasa dengan diameter mencapai 3 meter. Panjang tubuhnya? Entahlah.


"Atur serangan!" Perintah Sora, kala keempat rekan timnya mengatur formasi.


Wajahnya benar-benar terlihat seperti manusia biasa. Berbeda dengan monster lainnya yang masih menyisakan bentuk hewannya. Monster kali ini memiliki level kekuatan yang jauh lebih tinggi. Wajahnya tersenyum, memegang kipas putih yang tertutup bagaikan kaum bangsawan di masa lampau.


"Ka...kamu siapa?" tanya Eiji ragu, menerka-nerka makhluk ini manusia atau bukan.


"Namaku Hiroshi dan monster belalang di hutan sebelah barat adalah saudara angkatku. Namanya Hiroyuki." Jawaban tenang dari sang pemuda yang tersenyum.


Tidak pernah melihat monster dengan wujud sempurna seperti manusia. Sora mundur selangkah, merasa ada aura tidak biasa dari orang aneh ini.


"Gelang api..." Eiji mengeluarkan kemampuannya hendak mengikat sang monster. Sesuai rencana Jasper kemudian menebas tubuh Hiroshi bersamaan dengan Midori mengendalikan beberapa pedang menusuk tubuhnya.


Monster yang tertunduk, puluhan pedang menembus tubuhnya. Lehernya terluka hampir putus.


Trang!

__ADS_1


Pedang-pedang yang ditusukkan Midori tiba-tiba bergerak sendiri keluar dari tubuh sang pemuda. Luka tertutup, termasuk luka di lehernya, begitu juga dengan gelang api milik Eiji, hanya dengan sedikit gerakan dapat dihancurkan olehnya.


Wajahnya tersenyum cerah, seperti tidak pernah terjadi apapun."Kalian mau menemaniku di hutan ini? Sambil menunggu Furohito datang?" tanyanya.


Sora beringsut mundur. Tidak pernah terdeksi monster dengan kemampuan sekuat ini. Tidak memangsa korbannya, tapi memiliki kemampuan yang begitu mengerikan."Lari!" perintah darinya, menyadari apapun rencana mereka akan gagal untuk menghadapi monster mengerikan ini.


Jasper tidak mendengarkan, terlalu bersemangat untuk menghadapinya. Namun, Sora, Midori dan Eiji sudah mulai berlari.


"Pedang angin!" teriak Jasper, bersamaan dengan itu angin kencang yang benar-benar tajam berhembus. Benar-benar aneh, mengeluarkan sinar perak, berbetuk bulan sabit.


Hiroshi tersenyum, membuka kipasnya, membalikkan serangan sekali kibasan. Membuat Jasper terpental, dengan tubuh membentur pohon.


Monster tersebut, berjalan semakin dekat. Memegang kepala Jasper, merebut tingkat kesadarannya. Tubuh pemuda itu bergetar sejenak. Kemudian terdiam dengan tatapan kosong bagaikan orang tidak waras.


"Membuat rusuh, hanya itu tugasku..." gumam Hiroshi penuh senyuman. Monster yang sebelumnya memang tinggal dan betapa dalam Dungeon.


Monster-monster level tinggi yang memang dikumpulkan Furohito. Karena itulah selama ini hanya monster-monster level rendah yang ada di dunia manusia. Pemuda itu yang melatih mereka bagaikan membuat prajurit dengan daya tempur tinggi. Entah apa tujuannya...


*


"Bagaimana?" tanya Enkai pada Arashi, mengamati semuanya dari jarak aman.


"Sora dan dua orang lainnya melarikan diri, sedangkan Jasper hanya duduk di atas tanah. Ini aneh..." Ucap Arashi menyadari ada yang aneh pada Jasper.


"Apa tipikal kemampuannya?" tanya Enkai pada Arashi.


"Menyembuhkan lukanya sendiri dalam waktu singkat, menggangu alam bawah sadar orang lain, membalikkan serangan menggunakan kipasnya, selebihnya aku tidak tahu..." Jawaban Arashi.


"Aku tidak dapat kembali tepat waktu." Enkai menghela napas kasar, menganggap ini hal yang biasa. Dirinya memang terbiasa terlambat pulang untuk makan malam dua bulan ini. Walaupun begitu, Sena selalu terbangun menemaninya makan malam. Lebih tepatnya menatapnya sedang makan hanya untuk sekedar mengobrol.


"Tidak apa-apa. Walaupun informasi ini masih terlalu minim. Kita dapat mengatur strategi..." Ucap Enkai optimis.


"Strategi apa Arata?" tanya sang monster kini ada tepat di belakang Enkai. Wajah pemuda yang tenang penuh senyuman.

__ADS_1


Enkai membulatkan matanya, menyadari monster yang tadinya berada cukup jauh kini ada di belakangnya.


__ADS_2