Master Of World

Master Of World
Tujuan


__ADS_3

Srak!


Srak!


Srak!


Cipratan darah ada dimana-mana bahkan melumuri beberapa pohon energi yang ada disana. Beberapa monster kelelawar yang memakai gaun merah menyerang Enkai sekaligus. Namun mata pemuda itu menunjukkan sedikit sinar.


Dhuar!


Semacam lapisan pelindung terbentuk di sekitar tubuhnya. Membuat para monster dan iblis terlempar mundur. Bahkan ada dengan tubuh yang terkoyak.


Tidak pernah semarah ini, itulah dirinya. Menyeringai menebas satu persatu monster kelelawar menyerupai Hime.


Sementara tangan kecil Sena membimbing tiga orang wisatawan."Jangan melihat! Kalian hanya perlu menunduk!" perintahnya. Tiga orang yang pada akhirnya menunduk dengan tangan Akihiro yang masih merekam menggunakan handycam.


Sedangkan Sena yang membimbing jalan. Membawa pedang yang entah didapatkannya dimana. Menebas, wajah imut Enkai yang tengah memakai topeng Inari yang muncul di hadapannya Lebih tepatnya monster kelelawar yang menyamar menjadi Enkai.


Anak itu mengenyitkan keningnya. Benar-benar banyak monster kelelawar yang datang. Semuanya menggenakan gaun merah dengan wajah menyerupai Hime.


"Arata benar-benar membenciku." Sang anak yang memijit pelipisnya sendiri. Mengira kala nyawa Enkai dalam bahaya, ingatan Arata akan bangkit beberapa saat. Mungkin hanya beberapa menit. Hingga mengangkat tangannya untuk menebas perwujudan dirinya.


"Dasar br*ngsek!" teriak Enkai menebas satu persatu monster di hadapannya. Darah mengotori pakaiannya yang putih. Pupil matanya memerah, dewa yang memiliki darah iblis itulah dirinya. Jadi wajar saja jika ini terjadi, kemarahan yang tidak terkendali.


Srash!


Srash!


Hingga salah satu dari monster itu hendak menikam Enkai dari belakang. Sena, lebih tepatnya sang anak, bergerak cepat, melindunginya.


Sesaat Enkai terdiam, menyadari keberadaan anak itu di tempat ini. Sena yang tengah menyamar menjadi anak kecil. Jika ketahuan ingatannya sudah pulih, maka Sena akan mencari cara untuk menebus rasa bersalahnya. Jadi hanya satu hal yang dapat dilakukannya dalam kekuatannya yang telah kembali 4,2%.


Brug!

__ADS_1


Pemuda itu berpura-pura tidak sadarkan diri. Sedikit mengintip, Sena yang tengah menggantikannya menghabisi puluhan monster kelelawar yang berdatangan.


"Pingsan?" gerutu Sena dengan wujud anak berusia 5 tahun masih bertarung dengan monster kelelawar di hadapannya.


Bergerak cepat menebas para monster yang mulai meniru wujud Enkai, lengkap dengan topeng Inari-nya.


"Tidak ada habis-habisnya!" keluh Sena mengingat energi yang dimilikinya mempunyai batasan tertentu. Wanita yang tidak dapat memulihkan energinya. Jika sudah mulai terkuras.


Anak yang melompat mengambil ancang-ancang. Satu persatu monster itu roboh di tangannya.


Srak!


Kuku-kuku sang monster mengoyak lengannya hingga hampir terputus. Namun, Sena kembali menggunakan energinya. Membuat lukanya sembari dengan cepat. Tapi tetap saja Enkai yang berpura-pura tidak sadarkan diri kini cemas. Jika energinya habis maka wanita ini akan mati. Apa tidak sebaiknya dirinya jujur saja? Itulah pertimbangan dalam hatinya.


Namun segalanya berubah kala bendera yang terletak di delapan penjuru mata angin melayang.


"Ada yang memasang formasi. Apa Arata?" gumam Sena, mengira kesadaran pemuda itu kembali dalam beberapa menit.


Tanda Ying dan Yang terlihat di langit, tanda bersinar membentuk lingkaran dengan aksara kuno. Gerakan tangan aneh dilakukan Sena, menjadikan dirinya sebagai inti formasi.


"Hantu, iblis, monster, manusia, dewa, dewi. Segalanya akan berlutut..." Kalimat yang diucapkan olehnya."Langit tidak akan diam, semuanya akan memakan yang berdosa."


Bait terakhir yang diucapkannya. Teratai yang terbuat dari cahaya terbentuk di bagian atas tanda Ying dan Yang. Kemudian turun meluncur dengan cepat. Menghilang bagaikan menyerap ke dalam segala penjuru hutan.


Para monster kelelawar mulai berubah kembali ke wujud asli mereka. Tidak tertarik untuk menghisap darah atau memakan daging lagi. Lebih tepatnya seluruh energi mereka terserap hingga letih, tertidur dalam wujud kelelawar berukuran kecil.


Jutaan energi terpencar, terserap ke dalam pepohonan di area sekitar. Menjadi energi untuk monster lainnya yang melakukan pertapaan. Itulah yang terjadi jika Hime membuat formasi ini. Berbeda dengan Arata, jika pemuda itu menjadi pusat formasi energi yang telah diserap formasi tidak akan dilepaskan. Namun, menjadi miliknya.


Itulah mengapa Hime dan Arata, bagaikan berjalan di jalan kegelapan dan cahaya.


Tubuh anak itu turun perlahan terjatuh di atas tanah. Kala itu juga Enkai yang berpura-pura tidak sadarkan diri terbangun mendekap sang anak.


"Istirahatlah..." ucapnya pada Sena, yang pada akhirnya memejamkan matanya. Tidak menyadari energinya yang hampir habis akibat melawan monster dan menjadi pusat formasi, dipulihkan oleh Enkai. Pemuda yang menyerap sedikit energi di sekitarnya agar wanita ini dapat bertahan hidup lebih lama.

__ADS_1


Akihiro yang menyadari pada monster kelelawar sudah tidak menjadi ganas. Kini mulai melihat ke arah depan. Tepatnya memutar kembali rekaman handycamnya. Matanya menatap kagum, seorang anak kecil, namun bagaikan Dewi dimatanya.


"Jika kalian ingin tetap ikut. Jangan memperlambat langkah kami." Ucap Enkai meletakkan tubuh anak itu di punggungnya.


Akihiro, Jasper dan Nicole hanya berjalan mengikuti mereka. Dunia baru yang misterius, itulah Dungeon dalam fikiran mereka saat ini.


Hembusan napas nyaman menandakan Sena telah tertidur. Hanya senyuman yang terlihat di wajah Enkai.


"Sebenarnya apa itu Dungeon?" Pertanyaan dari Jasper.


"Dungeon, tempat kesayangan Hime." Jawaban singkat dari Enkai.


"Tempat kesayangan?" Akihiro bagaikan bertanya pada Light yang tengah menggantikan Sena memandu jalan mereka.


"Benar, dalam hitungan detik Dungeon diciptakan oleh seorang dewa. Namun, satu persatu tanaman khayangan di tempat ini ditanam oleh tangan seorang pelayan Dewi. Orang yang tidak pernah mengeluh hingga bersedia tinggal di neraka tanpa protes sama sekali. Dungeon, tempat ini selama 2300 tahun ternyata menjadi lebih indah dari khayangan..." Gumam Enkai.


Kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh tiga orang yang mengikutinya. Akihiro hanya merekam tidak ingin terkena masalah.


Sedangkan Nicole dan Jasper mengamati situasi. Tidak mungkin bagi para Hunter untuk masuk atau menyerang tempat ini. Semua yang ada disini merupakan monster level tinggi. Ditambah dengan adanya dewa, seorang putri mahkota serta raja neraka. Sudah pasti mereka memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jendral yang berjaga di depan kediaman Furohito.


Apa mungkin manusia dapat membuat perjanjian damai dengan monster dan iblis? Itulah yang ada di fikiran Akihiro saat ini. Satu lagi, tentang siapa sebenarnya Light. Pria yang diikuti olehnya. Sudah pasti orang ini bukan manusia, seperti anak dalam gendongannya.


"Light, sebenarnya kamu siapa?" Pertanyaan yang membuat Enkai menghentikan langkahnya.


"Aku? Aku adalah koki di restauran ayam goreng. Jika bisa memilih, aku tidak ingin membuat Midori dan teman-temannya tersinggung saat itu. Kalau difikir-fikirkan lagi, tidak ada yang menyenangkan dari menjadi Dark Hunter atau Dewa. Cukup hidup sebagai orang biasa..." Kata-kata yang diucapkan olehnya.


*


"Tolong!" Teriak Kairi dikejar oleh kawanan serigala.


Sedangkan Arashi terdiam. Seorang wanita cantik tengah menggodanya disisi hutan yang lain dengan Kairi. Seorang anak kepala suku yang merasa Arashi sudah memasang formasi yang menyelamatkan mereka dari monster kelelawar yang mengganas."Pahlawan muda kamu harus menikah dengan putriku." Ucap kepala suku, yang berasal dari ras iblis.


"Light br*ngsek!"

__ADS_1


"Light br*ngsek!"


Teriak kedua orang itu dari sisi hutan yang berbeda. Lagi-lagi mereka dilupakan oleh sang sahabat laknat.


__ADS_2