
Apa yang sebenarnya terjadi?
Beberapa jam yang lalu...
Dua orang yang baru saja sampai, berjalan di tengah salju yang benar-benar tebal. Menembus tempat dengan banyak dahan pohon tanpa daun yang terlihat.
"Kenapa kamu membantuku?" Sena mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Karena kebetulan kita searah. Tujuanku menangkap monster kecil yang ada di gunung ini." Jawaban dari Furohito.
"Monster kecil?" Wanita yang tidak mengerti sama sekali masih berjalan sambil sesekali menatap ke arahnya.
"Benar, dia peliharaan seorang temanku aku akan membawanya dalam Dungeon." Furohito kini masih tersenyum entah kenapa.
"Dungeon?" Sena semakin penasaran saja, tentang pekerjaan Furohito sebagai Hunter.
Furohito mengangguk."Dungeon, dimensi yang dipenuhi dengan monster dan iblis. Itu tempat yang indah, mau tinggal di dalamnya?" tanya Furohito.
Dengan cepat Sena menggeleng."Aku masih ingin hidup!"
"Tapi suatu hari nanti, kamu akan memohon untuk tinggal di dalamnya. Pergi darinya..." batinnya sudah menyiapkan segalanya.
"Apa tempat ini aman?" tanya Sena, ragu.
Furohito mengangguk."Disini walaupun terkadang terjadi badai, tapi cukup aman untuk---"
Brak!
Longsoran salju yang cukup besar terjadi di dekat mereka. Membuat Furohito kesal, senyuman dipaksakan masih menyungging di wajahnya. Baru saja dirinya mengatakan tempat ini aman, tapi bencana besar sudah terjadi.
"Longsor! Apa ini ada hubungannya dengan misi Enkai?" tanya Sena, mengenyitkan keningnya menatap monster melompat-lompat di atas longsoran salju.
"Mungkin monster si*lan!" Furohito tersenyum, mengeluarkan pedang beracun dari kulit telapak tangannya.
Hendak mengejar sang monster. Sedangkan Sena terdiam sejenak, melihat dari arah pinggiran. Warna hitam pakaian kontras dengan salju, itulah yang sering dikenakan Enkai. Tubuh yang terpelanting beberapa kali. Wanita itu tidak dapat menyelamatkannya. Longsoran yang belum berhenti penyebabnya.
Hingga dirinya berusaha untuk berlari mengejar. Matanya terus mengamati, kemana tubuh itu akan bermuara.
__ADS_1
Brug!
Hingga longsoran terhenti. Sena mencoba mencari di tempat terakhir tubuh Enkai yang sebelumnya ditatapnya dari jauh. Panik, benar-benar panik, dirinya takut jika tubuh itu terkubur terlalu dalam. Kedinginan dan kesulitan bernapas.
Namun sebuah keberuntungan, di dekat sebuah pohon tua tubuh itu terhenti. Mungkin derasnya longsoran salju tertahan oleh pohon tersebut. Tubuh yang hanya terlihat bagian wajah hingga dada. Dengan cepat Sena membuka topeng yang dipakai Enkai. Wajahnya tersenyum, namun air matanya mengalir. Orang ini masih hidup, setidaknya dirinya tidak sendiri. Enkai akan masih tetap ada untuknya.
"Dia disini..." Ucap Sena pada Furohito yang datang menghampirinya.
"Aku hanya dapat mengantarmu. Selanjutnya tergantung padamu." Furohito mengamati keadaan sekitar. Mungkin bukan monster tadi yang dicarinya. Namun, tujuannya sudah dekat.
Sena mengangguk, bersamaan dengan Furohito menunjukkan arah padanya."Berjalan ke arah barat, sekitar 50 meter ada gedung kecil terbengkalai. Disana lebih aman daripada disini. Dia juga sepertinya luka parah."
"Terimakasih..." Sena tersenyum padanya, hanya dibalas dengan senyuman oleh Furohito.
Pemuda yang segera bergerak kala melihat samar-samar cahaya putih di tengah rimbunnya salju. Salah satu koleksi dalam Dungeon, mungkin itulah yang ada di fikirannya.
Sementara Sena memeluk Enkai. Tubuhnya terasa benar-benar dingin. Perlahan pemuda itu berusaha memapahnya. Tapi terlalu sulit.
"Dosamu banyak hingga kamu seberat ini!" gerutu Sena membiarkan tubuh Enkai diatas salju setelah mencoba memapah sekitar 10 meter. Napas wanita itu terengah-engah.
"Berat! Aku kurang olahraga. Mulai besok setidaknya aku akan membiasakan diri lari pagi...." gerutunya lagi. Tetap menyeret tubuh Enkai.
Hingga 40 meter berikutnya dirinya sampai. Benar-benar faktor keberuntungan tempat ini tidak begitu jauh. Suhu tubuh yang tinggi diperiksanya. Ada jejak darah di bagian perut, wanita yang membuka pakaian Enkai. Melihat sendiri, luka yang dalam itu tertutup dengan sendirinya.
Wanita yang tidak heran sama sekali, karena dirinya mengalami hal yang serupa. Mungkin ada banyak orang yang juga mengalami hal serupa? Itulah yang ada di fikirannya. Sena mengambil termos kecil yang memang terkait di pinggangnya. Didalamnya terdapat teh hangat. Meminumkannya pada Enkai juga sulit. Jadi wanita itu memutuskan untuk mencuri kesempatan mencium pemuda ini. Wajahnya tersenyum menyeringai, mulutnya sudah penuh dengan teh.
Dan benar saja, dirinya mencium Enkai dengan dalih memberikan minum. Menutup mulutnya sendiri, merasa malu dengan perbuatan tidak beradabnya.
Tapi suhu tubuh pemuda yang tengah demam itu tidak turun sama sekali. Bagaimana ini? Tidak ada penghangat sama sekali, bahkan pakaian Enkai basah.
Pada akhirnya Sena menelan ludahnya sendiri. Skin to skin, cara menghangatkan diri yang dapat dilakukannya. Membuka seluruh pakaiannya, mungkin hanya menyisakan pakaian dalam. Wanita yang memeluk tubuh Enkai.
Tidak ada napsu atau apapun. Hanya berharap demam pemuda ini mereda. Berbalut selimut tua yang usang. Dua orang yang mulai tertidur lelap.
*
Entah jam berapa saat ini tapi diluar sana sudah cukup terang. Enkai mengepalkan tangannya, kenapa dapat seperti ini?
__ADS_1
Gilanya Sena memeluknya semakin erat. Tubuh bertemu dengan tubuh, pemuda yang memijit pelipisnya sendiri."Dia bukan wanita..." gumamnya.
Tapi tidak dapat mengsugesti dirinya sendiri. Wanita itu semakin menggosok-gosokan wajahnya pada dada bidang pemuda itu. Mata Enkai melirik ke arah wajah Sena, menelan ludahnya sendiri.
Sejenak mengalihkan pandangannya. Pemuda yang meraba bagian perutnya. Seperti biasanya lukanya telah sembuh. Tapi bagaimana dirinya bisa berakhir di tempat ini?
Matanya menelisik, bentuk tubuh pria dan wanita memang jauh berbeda. Menghilangkan napsunya, ini benar-benar hangat. Dirinya enggan bergerak, udara di luar selimut terasa lebih dingin. Semakin erat memeluknya maka semakin hangat.
Hingga Sena membuka matanya, kemudian menatap ke arah Enkai."Maaf! Aku hanya ingin meredakan demammu..." ucapnya gelagapan. Tidak mungkin mengatakan menyukainya, bagaimana jika pria ini, menghindar kemudian pergi?
Enkai menghela napas kasar berkali-kali. Wajahnya tersenyum."Terimakasih," hanya itulah ucapannya.
Pemuda yang mulai bangkit memungut pakaiannya sendiri. Kemudian mengenakannya."Lain kali jangan begini lagi. Kita hanya teman."
Dengan cepat Sena yang masih berada di bawah selimut mengangguk, menyanggupi. Dua orang yang sama-sama menghela napasnya. Entah apa yang ada di fikiran mereka.
"Omong-ngomong kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Enkai.
"Bermain dengan Furohito." Jawaban singkat dari Sena tertunduk.
"Sena, sudah aku katakan jangan terlalu dekat dengannya. Dia---" Kalimat Enkai disela.
"Dia mengantarku kemari karena aku mencemaskanmu. Bisa berhenti menjadi Hunter?" tanya Sena tertunduk ragu.
Enkai menggeleng, menghela napas berkali-kali mencoba menjelaskan."Awalnya aku hanya ingin mencari pekerjaan yang menghasilkan. Tapi sekarang terlalu banyak orang yang bergantung, kamu mengerti kan?" tanyanya. Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Sena.
"Bagus, jaga rahasia tentang ini ya?" pintanya, tapi Sena hanya kembali mengangguk.
"Sena! Aku bawakan makanan!" Suara cempreng Furohito terdengar membuka pintu tiba-tiba.
"Kamu belum pakai baju?" lanjut Furohito, menatap Sena yang masih ada di balik selimut.
"Tentu saja dia belum! Keluar!" bentak Enkai, menendangnya keluar dari ruangan. Kemudian menutup pintu dengan kasar.
"Dasar..." Furohito tersenyum di bawah salju yang turun perlahan. Semua sudah tersedia, hanya memberikan harapan pada wanita itu. Rasa sakit di bagian akhir, setelah itu tergantung bagaimana tujuannya tercapai.
Hampir lengkap, sebuah tempat impian yang indah. Tempat tinggal yang diciptakan seseorang, Dungeon. Bagaikan benteng pertahanan tidak tertembus.
__ADS_1