Master Of World

Master Of World
Mengorbankan


__ADS_3

Tidak seperti monster lainnya. Monster ular kali ini benar-benar tidak berisik. Selain kabut ilusi entah apa lagi kemampuannya. Pasalnya tidak ada yang dapat mendekatinya, monster yang berada tepat di kaki gunung. Kawasan hutan yang begitu lebat.


Lembab, itulah kondisi saat ini. Salju memang telah mencair, udara terasa sedikit lebih hangat. 7 orang yang telah menyiapkan diri hendak menjalankan misi mereka.


Seperti rencana Enkai akan membuat pintu dimensi ke ruang hampa udara dan menjadi bantuan jika keenam orang ini gagal menghentikan sang monster.


Cukup jauh, beberapa rasi bintang terlihat. Serta sebuah asteroid yang melintas. Bertepatan dengan itu, tekanan udara berubah. Semuanya mengalir masuk ke dalam ruang dimensi yang terhubung dengan ruang angkasa.


Kabut terhisap seperti dalam rencana. Tapi begitu juga dengan tubuh mereka.


"Light! Tutup gerbangnya!" teriak Kairi ketakutan dengan tubuh terangkat, memegang dahan pohon. Sedangkan Arashi saat ini berpegangan pada kaki Kairi.


"Beban!" Keluh Midori menggunakan sepatu besi, mengendalikannya agar dapat mencengkeram tanah. Eiji, melebarkan gelang apinya, memegang sebuah batu besar, Sora tentunya membekukan bagian bawah kakinya. Sementara Jasper sendiri memiliki kekuatan tipe angin, melompat dan melayang di udara.


Brot!


Kairi kentut secara tidak sengaja, membuat Arashi hampir tidak sadarkan diri. Tangannya yang memegang kaki Kairi terlepas.


"Arashi!" teriak Kairi. Tubuh Arashi terhenti kala pijakan tidak terlihat menarik tubuhnya, bagaikan dinding kecil.


"Pecundang..." geram Jasper merasa kedua orang ini hanya menunda misi.


Pintu ruang dimensi tertutup. Tubuh Arashi dibaringkan oleh Enkai. Pemuda yang benar-benar tidak sadarkan diri akibat Kairi.


"Maaf!" Kairi menangis terisak memeluk sahabatnya. Namun kata-kata sinis yang didengarnya tidak ada kalimat prihatinnya sedikit pun.


"Kalian kalau menyusahkan lebih baik pulang saja!" Midori tersenyum sinis berjalan melewati mereka.


"Loser!" Satu kata dari Jasper.

__ADS_1


"Light, tidak seharusnya kamu mempertahankan rekan tim yang menyusahkan." Eiji menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak berguna, gunakan otak kalian sebelum hanya menyusahkan Light!" Geram Sora pada mereka. Namun wajannya tiba-tiba tersenyum pada Enkai."Light, ayo masuk! Setelah misi ini berhasil, bagaimana jika kita merayakannya di hotel berbintang? Aku yang akan mentraktirmu..."


Kairi hanya tertunduk, memeluk tubuh Arashi yang tidak sadarkan diri air matanya mengalir. Tidak berani menoleh pada Enkai, tepatnya begitu menyakitkan kala mendapatkan penghinaan seburuk ini. Lebih memalukan dari pada dikalahkan kala menjalankan misi oleh Hunter level D. Entah kenapa dirinya merasa tidak seharusnya hadir di tempat ini.


"Masuklah! Aku terlalu lelah setelah bekerja seharian." Ucap Enkai berbaring di atas batu besar.


"Light! Ini pekerjaanmu! Tidak ingatkah kamu pada royalitas!? Banyak orang-orang tidak bersalah yang---" Kata-kata Eiji disela.


Pemuda itu bangkit, tidak ada senyuman yang terlihat di wajahnya. Kupu-kupu berlian hitam terbang di sekitar leher ke empat orang tersebut."Kami hanya dark Hunter. Istilah kasarnya pembunuh bayaran, tidak ada royalitas sama sekali. Kami tidak peduli pada masyarakat sipil. Tidak seperti kalian yang memiliki royalitas tinggi."


"Tugasku sudah selesai, hanya melenyapkan kabut. Tugas kalian apa? Sampah..." lanjutan darinya tersenyum menyeringai.


"Br*ngsek!" Jasper hendak melayangkan tinjunya. Namun ditahan oleh Sora.


"Kamu ingin mati!?" bentak Midori pada Jasper.


"Dia dapat mer*mas jantungmu! Dia bisa membunuhmu dengan mudah!" teriak Midori sedikit gemetaran, mengingat hal yang terjadi di rumah Tuan Hiderashi.


"Jasper jangan sembarangan bergerak. Lihat kupu-kupu hitam di hadapanmu? Kupu-kupu itu dapat membuat lehermu putus. Tergores sedikit saja pada sayapnya yang beracun kamu akan mati." Kalimat dari Sora tidak bergerak sama sekali."Light! Aku minta maaf jika kami memiliki kesalahan. Hentikan ini ya?"


Keempat kupu-kupu hitam itu kembali terbang ke dekat tubuhnya. Bersamaan dengan itu Enkai mencoba untuk berbaring di atas batu."Ajari mereka untuk menjaga mulut mereka. Misi kali ini kami dibayar oleh Tuan Hiderashi. Jadi jika kalian masih saja tidak menjaga mulut, aku akan membuat misi kali ini gagal."


"Light! Meninggalkan misi untuk orang seperti mereka!? Apa kamu tidak memiliki royalitas? Bagaimana dengan nasib orang-orang yang masih terpengaruh ilusi!? Apa kamu tidak peduli!? Sudah aku duga kamu bukan orang yang dapat diandalkan!" Suara bentakan dari Eiji.


Enkai tertawa kecil."Royalitas? Aku memang tidak memilikinya. Ingat status kami, kami adalah Dark Hunter, artinya pembunuh bayaran yang misinya kebetulan untuk membantu tentara. Jika aku ingin, aku dapat menyebarkan asap beracun ke dalam hutan. Membunuh monster tidak peduli pada orang-orang yang ada di dalam hutan. Kami Dark Hunter tidak memiliki rasa kasih dan royalitas. Hingga dapat dihina dan mengorbankan nyawa hanya untuk kenaikan pangkat kalian."


Kalimat yang benar-benar terdengar sinis, wajah pemuda tersenyum masih berbaring di atas batu.

__ADS_1


"Br*ngsek! Aku akan membunuhmu kali ini!" geram Jasper, melangkah merasa benar-benar terhina. Di semua negara sama saja, Dark Hunter adalah orang-orang rendah yang gagal dalam ujian. Sudah sepatutnya menghormati Hunter pemerintah yang memiliki kemampuan lebih tinggi.


"Light, ikutlah dengan mereka. Aku yang akan menjaga Arashi disini." Ucap Kairi dengan nada suara bergetar.


"Aku akan ada disini. Mereka sampah yang akan meninggalkan teman mereka yang lemah atau terluka. Siapa tau aku akan terluka dalam misi. Kemudian mereka mendorongku untuk masuk ke dalam perut ular." Suara tawa terdengar dari bibir Enkai, tawa sinis terkesan mengejek.


"Sampah kau bilang!? Kamu yang lebih buruk dari sampah. Mengorbankan nyawa orang hanya untuk egomu!" Suara Eiji menggebu-gebu.


"Tentang nyawa dan royalitas yang kamu banggakan. Coba ingat, berapa nyawa rekan satu tim kalian yang mati dalam misi, hanya karena kalian menjadikan mereka sebagai umpan." Jawab tenang dari Enkai, bahkan enggan menoleh ke arah mereka.


"Mereka adalah pahlawan yang berharga. Jasa mereka akan selalu dikenang, mereka mati penuh kebanggaan..." Sela Eiji.


"Kebanggaan kepalamu! Mereka memang mati penuh kebanggaan. Tapi mereka juga mengutuk kalian, mendoakan agar kalian mati dalam misi. Agar dapat merasakan hinaan dan rasa sakit saat kematian hanya karena royalitas si*lan. Aku melepaskan misi ini untuk kalian. Kami hanya akan menjadi pasukan bantuan jika kalian memerlukan bantuan. Tapi orang-orang jenius seperti kalian tidak akan memerlukan kemampuan warga sipil seperti kami..." sarkas Enkai penuh senyuman.


"Br*ngsek!" Jasper semakin geram saja, hendak mendekati Enkai, mungkin menghajarnya. Tapi tanpa diduga, Sora mencegahnya. Wanita yang menunduk 90 derajat.


"Maaf, ini kesalahanku, aku harap kamu tidak tersinggung dengan kata-kata kami," ucapnya.


Enkai tidak menjawab sama sekali. Hanya diam, itulah yang dilakukan. Masih tidur di atas batu, berusaha memejamkan matanya. Dibawah terpaan sinar matahari tipis.


Keempat orang itu memasuki hutan, membiarkan ketiga Dark Hunter ada di sisi luar hutan.


Sora menghela napas kasar kala memasuki hutan. Air matanya mengalir, Enkai benar entah berapa orang rekan timnya yang terbilang lemah meninggal karena dijadikan umpan atau ditinggalkan kala tengah terluka. Wanita yang mulai memejamkan matanya berdoa dalam hati penuh rasa bersalah."Maaf..." hanya itulah rasa sesalnya yang terucap. Menatap ke arah langit, apa mungkin orang-orang yang telah mati itu akan memaafkannya?


*


"Light! Apa kamu akan melepaskan misi untuk kami? Tapi orang-orang yang terlanjur terjebak ilusi? Juga bayaran dari Tuan Hiderashi---" Kalimat yang diucapkan Kairi terpotong.


"Aku berangkat bersama kalian pulang juga harus bersama kalian. Tenang saja setelah Arashi sadar kita akan mulai memasuki hutan. Menjadikan mereka tumbal untuk mengetahui kemampuan apa saja yang dimiliki monster ular. Aku tidak akan mengorbankan rekan timku, hanya akan mengorbankan nyawa mereka," Kalimat mengerikan dari Enkai membuat Kairi menelan ludahnya.

__ADS_1


"Benar-benar psikopat sejati..." batinnya.


__ADS_2