Master Of World

Master Of World
Belum


__ADS_3

Wajah yang begitu tenang bagaikan tengah tertidur. Mata wanita itu terpejam, menyandarkan tubuhnya pada batu di sungai yang dangkal. Bagaikan mengistirahatkan dirinya yang memang terlalu memaksakan diri menggunakan sihir yang memakan banyak energi.


Tiba-tiba pelukan seseorang terasa, kala pemuda itu memeluk tubuhnya erat."Sena..."


Ini benar-benar Enkai, sang pemuda yang kini memeluknya, ikut berlutut duduk di arus sungai yang dangkal.


"A...aku akan berhenti menjadi Hunter. Kita pulang ya? Tidak peduli apapun. Kita akan membuka banyak cabang restauran ayam goreng," ucapnya berusaha tersenyum.


"Iya..." Sena membalas pelukannya. Fikirannya benar-benar kelu saat ini, dirinya merasa rapuh. Apa boleh menikmati saat-saat seperti ini sesaat saja? Jika ingatan Arata kembali, ini mungkin hanya akan menjadi kenangan baginya dalam kegelapan.


"Jangan pergi lagi." Enkai tersenyum padanya, melerai pelukan mereka. Sesaat dua orang itu terdiam, hingga pada akhirnya sang pemuda bergerak ragu memejamkan matanya. Mendekatkan bibir mereka.


Pasangan suami-istri yang menikah di usia yang tergolong muda. Itulah mereka, pemuda yang tidak akan melepaskannya kali ini. Menatap beberapa saat kemudian bertaut, apa yang ada difikiran Sena saat ini? Memberikan lebih banyak energi pada Enkai. Membayar semua hutangnya pada Arata 2300 tahun lalu. Sebuah luka menyakitkan hingga tubuh Arata harus musnah.


Setidaknya dengan sedikit energinya, mungkin 0,2% energi Arata akan kembali. Dua orang yang terjatuh dalam air sungai yang sedikit lebih dalam. Ciuman yang terlepas mereka kembali saling menatap.


Hawa dingin air sungai benar-benar menusuk, kali Sena berjinjit menikmati bibir pemuda ini. Sinar biru aneh mengalir dari ciuman mereka tanpa disadari Enkai. Menikmati detik demi detik ini kala kedua jantung itu berpacu.


Tidak ada kata yang terucap, bibir yang kelu untuk mengatakan apapun. Tali sabuk pakaian Enkai ditarik oleh Sena, sebuah simpul yang terlepas.


"Sena?" tanya Enkai tidak mengerti dengan perubahan sifat wanita pemalu ini. Namun ini benar-benar Sena, bukan orang lain yang menyamar, dirinya dapat merasakannya. Bagaimana detak jantung, betapa gugupnya wanita ini.


Bibir Enkai kembali dinikmatinya, melepaskan tali pakaiannya sendiri. Wanita ini sengaja, memberikan energinya yang tidak banyak melalui hubungan badan. Ini pertama kali, benar-benar pertama kali untuknya.


Tidak ingin kehilangannya lagi, Enkai membalas perlakuannya. Dengan naif-nya menganggap Sena akan selamanya bersamanya jika mereka menjadi pasangan suami istri sesungguhnya. Usia yang terlalu muda untuk seukuran manusia, hanya 20 tahun di kehidupan mereka kini.


Wajah kedua orang ini terlihat begitu muda. Berbeda dengan 2300 tahun lalu. Wanita dan pria yang sudah dewasa, dengan segala sifat romantis mereka.

__ADS_1


Namun, dua orang ini terlihat begitu ketakutan dan kesepian. Begitu berbeda dengan dahulu, saling menggoda, sama-sama picik.


Iba? Begitulah menatap kedua orang yang bagaikan dapat dikatakan remaja ini."Jangan pernah pergi..." pinta Enkai kala menanggalkan pakaian Sena sepenuhnya. Air matanya mengalir, menghirup aroma ini. Mengecup setiap lekuk tubuhnya yang terlihat.


"Em..." Jawaban dari Sena, hanya jawaban pasif. Mengetahui kala ingatan Arata kembali perasaan pemuda ini juga akan berbeda. Ingin meneteskan air matanya, tapi tidak bisa ini adalah kesalahannya. Malam terindah yang akan dilewatinya, meski setelah ini Arata akan membencinya.


Menjambak pelan rambut pemuda itu, tidak tau harus bagaimana. Beberapa sinar biru terlihat dari dalam air, kemampuan spiritual Enkai meningkat tanpa disadarinya. Begitu juga dengan Sena yang semakin melemah. Memberikan energinya perlahan.


Sepasang tubuh yang masih ada di dalam air, bibir mereka kembali bertaut. Saling memeluk, benar-benar saling merindukan, perasaan gelisah yang bercampur menjadi satu kala ingin memilikinya.


Sena dapat dikatakan manusia, tapi juga tidak. Terlahir kembali dari pasangan manusia. Sedangkan Enkai? Sepenuhnya dari awal bukanlah manusia. Dirinya dari awal adalah Arata.


2300 tahun yang lalu, kala tubuh Arata menghilang. Sejatinya hanya bagaikan tertidur, menjadikan kekuatannya yang lemah sebagai pelengkap kunci segel dimensi, untuk mengurung raja neraka, serta monster dan iblis yang ingin menyerang alam tengah, agar para dewa turun dari alam atas. Karena itu, rasa bersalah serta keinginannya membuat kesadaran terdalamnya mengetahui Hime sudah kembali.


Mengembalikan wujudnya agar memiliki raga, dari hanya kekuatan berupa segel, menjadi Enkai bayi mungil dengan kemampuan spiritual yang benar-benar lemah. Bagaimana pun kekuatan spiritualnya sudah rusak, hanya dapat kembali menjadi Arata secara bertahap.


"Aku tidak ingin di tempat ini!" teriak Arata, marah, kesal pada dirinya sendiri menjadi satu. Untuk kedua kalinya Hime akan mati karena dirinya. Memerlukan waktu berapa lama untuk bertemu. Batas waktu yang tidak dapat dihitung, atau mungkin selamanya tidak bertemu dengannya lagi.


Perasaan yang kacau, alam bawah sadar kini sulit dikendalikan karena kemarahan Arata. Air disekitar gazebo naik, dimensi kecil aneh itu bagaikan mengalami keretakan. Sedikit lagi, maka Hime akan mati. Hingga tiba-tiba semua yang ada di alam bawah sadar itu kembali tenang. Namun, Arata tidak terlihat lagi.


Dalam alam bawah sadarnya kini gazebo yang dikelilingi kolam teratai telah kosong. Menyisakan dua kursi tanpa seorangpun duduk di dalamnya.


Kesadaran dan ingatan yang menyatu, kala menyadari perlahan wanita ini akan mati. Pupil mata Enkai tiba-tiba berubah menjadi merah.


"Hime..." Ucapnya mengingat segalanya, dirinya dan Enkai adalah orang yang sama.


Sena hanya tersenyum tidak menyadari Arata telah kembali. Enkai kembali memeluknya dalam air sungai yang dingin. Kembali berada di jarak nol antara pria dan wanita. Kala sepasang tubuh itu saling mendekap.

__ADS_1


Dirinya merindukan wanita ini, ingin memilikinya. Tidak peduli pada apapun.


Hawa yang hangat kala jembatan liur itu tercipta. Lidah serakah bergerak tidak tentu arah. Sinar berwarna biru kecil itu kembali terasa. Arata menyadari segalanya, Hime kembali mencoba memberikan semua energinya, dengan berhubungan.


Pengalaman traumatis? Inilah pengalaman traumatis dalam hidupnya. Lebih tepatnya merasakan energi Hime melemah karena arak beracun kemudian padam tanpa bekas. Seperti hari ini, sedikit lagi wanita ini akan mati.


Karena itu wajahnya tersenyum, mengembalikan energi diam-diam kala wanita ini tidak waspada, menjatuhkan wanita ini kedalam air sungai yang terdalam bersama tubuhnya.


"Apartemen?" gumam wanita itu tidak mengerti. Kini mereka sudah keluar dari Dungeon.


"Tentu saja kamu harus pulang..." Kalimat yang terucap dari bibir Enkai yang kini ada diatas tubuhnya.


"Kenapa bisa teleportasi keluar dari Dungeon? Kemampuan Arata yang kembali baru 1,2 %." Batin Sena tidak mengerti sama sekali, teleportasi antara dimensi sulit dilakukan. Itulah mengapa Enkai tidak dapat menggunakan kekuatannya saat keluar dari labirin.


Pemuda yang ada diatas tubuhnya tersenyum. Namun, tidak boleh gegabah kali ini, jika Sena mengetahui dirinya sudah kembali maka wanita ini akan kembali mengulangi kesalahan yang sama, mengorbankan diri, demi rasa bersalahnya.


"Takut?" tanya Enkai, melepaskan lembar demi lembar pakaian mereka yang masih tersisa.


Wanita yang kebingungan, seharusnya energi tubuhnya akan segera habis, lalu dirinya akan mati. Tapi kenapa belum habis? Mungkin itulah yang ada dibenaknya.


Benar-benar keras kepala wanita yang satu ini. Mereka benar-benar melakukannya, suara rintihan bercampur peluh terdengar. Setiap Sena memberikan energinya, maka pemuda itu akan menyalurkan kembali tanpa diketahui oleh-nya. Benar-benar mempermainkan wanita ini.


Sama saja dengan 2300 tahun lalu. Wanita ini begitu mudah dibohongi.


Tubuhnya diguncang berkali-kali, menebarkan benih yang akan menjadi keturunannya juga berkali-kali. Yang ada di fikiran Enkai, mengikat wanita ini, agar tidak mati atau terluka saat dengannya. Benar-benar menyayangi pelayan Dewi dengan kemampuan rendah ini. Walaupun kemampuannya sendiri tidak lebih baik. Baru kembali sekitar 1%.


Sedangkan apa yang ada di fikiran Sena."Kenapa aku belum mati juga..." batinnya, dalam dekapan pemuda yang tidak pernah lelah.

__ADS_1


__ADS_2