
Anak itu mengenyitkan keningnya, sedikit melirik ke arah Enkai yang mengalihkan pandangannya, seakan masa bodoh! Tidak mau tau."Be... belum ada. Belum aku fikirkan," jawab sang anak gelagapan.
Emosi yang tidak stabil, adalah penyebabnya Sena kesulitan memikirkan pengembangan kemampuan orang ini. Tapi Arashi yang memiliki emosi lebih stabil akan mudah mengembangkan kemampuannya yang sekarang.
Selama ini Arata tidak pernah memiliki teman, mungkin dapat dikatakan hanya Furohito yang ada di sampingnya. Mungkin kedua orang ini dapat menjadi teman sekaligus pelayannya. Itulah yang ada dalam harapan Sena.
Harapan yang benar-benar tulus, berganti dengan senyuman mengerikan. Membayangkan Arashi dan Kairi menjadi pelayan Arata yang sudah bangkit nantinya.
Apa yang akan terjadi? Mungkin dua kekuatan yang mengerikan, dari dua orang yang saat ini terbilang lemah. Matanya sedikit melirik ke arah Arashi, yang kembali mengarahkan tangannya, mengeluarkan rantai walaupun kesulitan. Mungkin suatu saat dapat menjadi pelayan dewa yang mengerikan, mengeluarkan ratusan rantainya, menjerat ratusan orang menggunakan satu tangannya.
Sedangkan Kairi? Sena menghela napas kasar, kembali melirik ke arah Enkai. Jika ingatannya sudah kembali mungkin akan memiliki rencana tersendiri untuk Kairi. Seseorang dengan emosi tidak stabil seperti Arata.
"Jadi aku tidak ada?" Ucap Kairi memelas.
"Tidak, lain kali saja!" jawaban acuh dari Sena penuh senyuman dengan wajah imut tanpa dosa, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya menunjukkan tanda perdamaian.
"Pilih kasih!" Kairi bersungut-sungut, tapi anak itu sedikit berbisik padanya.
"Kalau itu aku mau, walaupun hanya satu jam." Ucap Kairi terkekeh.
"Kamu menjanjikan apa padanya?" tanya Enkai.
Anak itu mengulurkan tangannya, palu kayu aneh terlihat.
Bug!
Kepulan asap putih menyembur dari bawah kaki Kairi. Kala kepalanya dipukul menggunakan palu kayu. Seketika dalam beberapa detik kala asap itu menghilang wujud Kairi berubah.
Seorang wanita terlihat, wajahnya yang cantik putih bersih, senyuman yang menawan, rambut lurus sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Memakai pakaian panjang bagaikan putri.
__ADS_1
Benar! Wujudnya berubah menjadi Sena, walaupun hanya bertahan satu jam.
Bug!
Kepulan asap terlihat, dari tangan sang anak yang menegang palu kayu. Hanya sejenak palu itu menghilang.
"Kenapa kamu berubah menjadi Sena!?" Ucap Enkai mengenyitkan keningnya.
"Menghapuskan merindukanmu." Jawaban dari Kairi yang tengah, merapikan letak dua benda yang menonjol di bagian atas tubuhnya.
"Ternyata segini ukurannya, lumayan besar juga ya?" Batin Kairi dengan wajah mesumnya, berniat akan membuka pakaian di depan cermin nanti. Rasa sakit hatinya karena tidak mendapatkan kemampuan seolah-olah menghilang berganti menjadi kebahagiaan tidak terkira.
Brak!
Enkai menendang punggungnya hingga Kairi tersungkur. Lalu menginjak-injaknya murka."Aku tau isi fikiran busukmu! Setelah ini kamu akan melihat cermin kan!? Kemudian meraba semua bagian tubuhmu! Dengar! Satu jam ini jangan raba bagian tubuh manapun! Atau membuka pakaianmu!" teriak Enkai tidak rela, walaupun bukan Sena asli, tapi tetap saja setiap lekuk tubuh di balik pakaian itu sudah dipastikan sama.
Semua orang yang melihatnya hanya dapat heran melihat kelakuan kedua orang ini. Tidak adanya yang bicara membiarkan mereka bertengkar. Tentu saja dengan Kairi menjadi korban KDRT dari Enkai.
*
Satu persatu nama peserta yang lolos dicatat. Seperti biasanya Furohito hanya duduk di atas balkon luas lantai dua bersama raja neraka dan seorang wanita yang menyerupai Sena.
Berpura-pura menjadi Arata. Pemuda yang menghela napas kasar, sedikit melirik pada orang di sampingnya."Jadi bagaimana? Hanya sekitar 4% yang kembali."
"Biarkan dia menghadapi monster dan iblis lainnya. Jika tidak sampai 50% juga, hadapi dia di final. Kalau perlu bunuh Hime di hadapannya." Jawaban dari raja neraka yang menginginkan putranya segera kembali.
"Aku mengerti..." Kalimat yang diucapkan Furohito, masih menggunakan rambut palsu berwarna putih, meminum teh yang disuguhkan pelayan kaisar. Mengapa tidak menggunakan kemampuan sihirnya untuk merubah warna rambut? Tentu saja agar hemat energi, bagaikan lebih baik menggunakan gas dari pada kayu bakar.
*
__ADS_1
Hanya mengikuti alur, itulah yang dilakukan Enkai kini. Tapi bagaimana dengan ke-lima orang ini?
Akihiro masih merekam gambar. Entah berapa baterai cadangan yang dibawa olehnya. Sementara Jasper dan Nicole hanya mengikutinya saja.
"Sebaiknya jangan mengikuti kompetisi ini." Saran dari sang anak untuk mereka.
"Kami akan ikut. Jika terlalu menyeramkan kami akan mengaku kalah." Akihiro tersenyum mengusap-usap pucuk rambut sang anak.
"Terserah kalian, sebagai Hunter tugas kalian memang mengalahkan iblis dan monster bukan? Tapi jika mati, jangan menyalahkan ku." Pupil mata Enkai kembali memerah seolah-olah, siap untuk bertarung kapan saja.
"Tidak akan Hunter pemerintah tidak mungkin dikalahkan Dark Hunter sepertimu." Tegas Jasper benar-benar kesal pada pemuda ini.
Tong!
Suara gong yang tidak begitu besar berbunyi. Arena pertandingan out door. Lebih tepatnya tidak ada aturan sama sekali. Dari 350 perserta yang mengikuti kompetisi tahap pertama, 75 bendera berhasil direbut. Sedangkan 136 peserta kompetisi mengalami cidera akibat monster kelelawar.
Mengapa ada begitu banyak monster dan iblis yang mengikuti kompetisi berbahaya ini? Tentu saja untuk menaikkan status keluarga mereka. Selain itu pil penambah energi akan didapatkan setiap lolos satu tahap, sebagai hadiah.
Pil energi yang benar-benar berharga hanya alkemis dari ras iblis khusus yang dapat membuatnya. Kala hadiah tahap pertama diberikan, semua peserta segera memakannya. Menambah energi tubuh mereka.
Lapangan luas menjadi tempat area kompetisi. Kursi dan meja khusus diletakkan untuk raja neraka, seseorang yang memakai rambut palsu berwarna putih dan wanita dengan wajah menyerupai Sena.
Entah Enkai harus mengeluh pada siapa lagi. Ayahnya membuat kesepakatan dengan sahabat, dan kekasihnya untuk menipunya. Hanya satu hal yang dapat dilakukannya, pura-pura tertipu.
Pertarungan tahap pertama dimulai dalam tiga area yang diberi pembatas lapisan energi. Agar kekuatan serangan tidak berdampak keluar. Salah satu diantara ketiga tempat tersebut terdapat Arashi yang menelan ludahnya.
"Bagaimana ini?" Gumamnya panik, jika di dunia manusia biasanya Hunter bermain keroyokan untuk mengalahkan monster maka disini harus satu lawan satu.
Pemuda yang mengangkat tangannya ingin menyerah sebelum bertaruh. Menatap ke arah sang iblis yang memiliki tinggi empat meter.
__ADS_1
"Arashi! Hadiah untuk lolos babak ini, adalah dupa kehidupan. Kamu dapat bertemu dengan roh orang mati selama beberapa jam!" teriak Sena dari luar sana memberi semangat pada Arashi. Jika kemampuan Arashi berkembang. Maka akan semakin banyak lagi orang yang membela Arata nantinya.
Enkai mengenyitkan keningnya."Tunggulah sampai malam! Aku akan datang ke kamarmu dan memberikan pelajaran!" batinnya ingin rasanya memukul ****** Sena, yang terlampau nakal sebagai anak kecil.