
Napas wanita itu terengah-engah, terbangun dari tidurnya. Matanya menatap ke arah cahaya bulan. Mimpi macam apa yang baru dialaminya?
Sedangkan Enkai masih tertidur di sampingnya. Hanya mimpi buruk, hanya mimpi buruk, tidak mungkin pria ini membencinya hingga menginginkan kematiannya bukan?
Sena kembali tertidur, memeluk pemuda ini. Wajahnya tersenyum, sebentar lagi valentine day. Dirinya akan membuatkan muffin coklat dengan campuran coffee. Mencoba membuat aroma yang tidak begitu pekat. Terasa manis, namun tidak menyengat.
Mengatakan perasaannya, entah akan diterima atau tidak. Tapi kali ini, dirinya akan bersungguh-sungguh mengucapkannya. Untuk pertama kalinya menyukai seorang pria. Jika ditolak pun tidaklah mengapa baginya. Kembali menjalani hari sebagai seorang sahabat. Dan membiarkannya pergi jika sudah menemukan orang yang dicintainya.
*
Telah memasuki bulan Februari, lapisan salju juga perlahan mencair. Udara terasa lebih hangat. Apa bunga akan mekar? Begitulah yang ada di batin Sena saat ini.
Resep yang benar-benar enak, walaupun hanya sekedar ayam goreng dan beberapa jenis makanan lainnya, membuat restauran mereka cukup ramai. Hampir tidak ada kursi yang kosong, beberapa pekerja paruh waktu juga pada akhirnya dipekerjakan olehnya.
Melayani pelanggan satu persatu. Tidak ada satupun yang terlewat. Berlari membawa order dan pesanan. Keluh kesah mereka dua bulan yang lalu, akibat tidak ada pengunjung sama sekali mulai terlupakan.
Teng!
Suara lonceng yang ada di depan pintu pertanda ada pelanggan yang masuk. Segalanya terlihat indah benar-benar masa depan impian bagi Sena. Tidak ingin Enkai menjadi Hunter lagi, hanya menjadi koki di restauran milik mereka. Walaupun cukup sulit untuk melarangnya.
Seperti siang ini. Tepat pada tanggal 14 February...
"Sena, Kairi dan Sora menghubungiku. Tuan Hiderashi..." Kalimat dari Enkai disela.
"Apa kamu bisa berhenti menjadi Hunter?" gumam Sena dengan suara bergetar, mencemaskan keselamatan nyawa pemuda ini.
Enkai menghela napasnya sembari melepaskan appron-nya."Kamu tau kan? Dulu awalnya memang karena uang. Tapi sekarang banyak orang yang memerlukanku."
"Termasuk aku..." batin Sena, menatap mata pemuda di hadapannya.
__ADS_1
Sena mengangguk berusaha tersenyum, walaupun sulit."Aku dapat menangani restauran sendiri. Ingat pulang sebelum pukul 10 malam. Dan jaga diri," ucapnya.
Enkai mengangguk, tidak menyadari itulah senyuman terakhir wanita ini. Entah kapan senyuman itu akan tersungging untuk dirinya lagi. Wanita yang pada akhirnya akan berpaling setelah mengetahui semua kenyataannya.
*
Enkai menaiki bis menuju apartemen, layaknya orang normal. Tidak ingin dianggap aneh, atau terlalu banyak orang yang mengetahui identitasnya sebagai Light.
Seperti biasanya, mengganti pakaiannya di apartemen. Kemudian menembus pintu ruang dimensi, bergerak langsung menuju tempat janji temu.
Dengan topeng Inari yang masih terpasang. Berjalan menelusuri lorong HO, menuju tempat Akihiro berada. Ada yang aneh kali ini, dengungan suara alarm terdengar, semua orang sibuk berlari kesana-kemari.
Enkai masih berjalan memastikan ini misi yang sulit kali ini.
Kala pintu dibuka, beberapa Hunter lain milik pemerintah berada di sana. Lebih tepatnya selain Arashi, Kairi dan Sora, juga terdapat Eiji, Midori dan Jasper, seorang pria berkewarganegaraan asing, dengan rambut pirang dan mata coklat keemasan. Hunter yang didatangkan dari luar negeri.
Misi kali ini memang tidak dapat ditangani langsung oleh semua orang di pasukan khusus. Ada penyebab tersendiri, pasukan khusus, sebagian besar tengah menangani misi lain. Tiba-tiba ada ratusan monster yang berkeliaran di tengah hutan sebelah barat. Monster yang juga memiliki tingkatan level kekuatan yang tinggi. Dapat membelah diri dalam hitungan detik. Monster berbentuk belalang seukuran manusia yang entah datang dari mana menyibukkan mereka sejak malam.
Dapat diperkirakan lingkaran tubuh monster itu mencapai tiga meter, panjangnya? Entahlah. Namun monster ular yang benar-benar besar.
Enkai yang datang paling akhir mulai duduk. Mendengarkan penjelasan dari pria berpakaian wanita di hadapannya. Seperti alasan biasanya Akihiro sedang belajar bagaimana caranya untuk menyamar dengan baik. Tapi pria berotot memakai pakaian wanita dan sepatu hak tinggi? Ingin rasanya Enkai mengambil gambar Akihiro kemudian menunjukkannya pada Sena. Agar mereka dapat tertawa bersama, saat makan malam nanti.
"Jangan menganggap remeh! Pasukan yang sebelumnya aku kirim tidak kembali sampai sekarang!" tegas Akihiro, pada semua orang.
"Aku memiliki elemen angin. Kita dapat menyusun rencana sebelum berangkat ke hutan timur." Ucap Jasper, Hunter level S. Prajurit bantuan dari negara lain.
"Tidak bisa, kita tidak tau apa efek samping kabut ilusi akan permanen. Jika menggunakan elemen angin maka kabut ilusi akan tersebar ke tempat lain. Bahkan menyebar dengan cepat. Ratusan, mungkin jutaan orang akan menjadi gila." Enkai menghela napas kasar ikut bicara kali ini.
"Apa kamu punya strategi lain?" tanya Jasper.
__ADS_1
Enkai mengangguk kemudian tersenyum."Vacum cleaner raksasa. Kemampuanku membuat ruang dimensi yang menembus langsung ke semua tempat. Karena itu, tembus ke luar angkasa. Udara akan terhisap dengan cepat tanpa bekas. Jadi hanya tinggal untuk menghadapinya. Setelahnya biar kalian yang mengatur strategi." Kalimat darinya membuat semua orang mulai berdiskusi. Tentunya hanya Kairi dan Arashi yang memilih untuk diam. Mereka hanya akan mendengar arahan dari Enkai.
Midori, Eiji, Sora, bahkan Jasper. Empat orang jenius, sudah dipastikan Kairi dan Arashi akan makan gaji buta.
*
Hutan yang benar-benar luas, ular putih raksasa bersembunyi di tempat ini. Rencana yang tersusun rapi, tapi dengan entengnya Kairi duduk di atas batu, ditemani oleh Arashi.
"Kalian tidak dilibatkan dalam rencana mereka?" tanya Enkai pada kedua sahabatnya.
"Tidak, saat rapat tadi, segera setelah mengatakan akan menggunakan ruang hampa udara untuk menyerap kabut. Kamu tidur, jadi tidak mendengarkan kelanjutannya. Kami hanya Hunter level D, yang gagal dalam ujian. Mereka tidak menganggap kami ada, saat ini kami merasa rendah." Jawab Kairi.
"Kenapa harus merasa rendah? Ada aku disini. Kalian orang yang paling berguna." Enkai tersenyum di hadapan mereka.
"Mudah mengatakannya, ketika memiliki sahabat atau kekasih yang memiliki status lebih tinggi, terkadang bukan merupakan sebuah keberuntungan. Tapi sebuah kecemasan dan hanya ingin menunduk, jika kamu akan memilih rekan yang lain." Arashi berbaring merasakan sinar matahari setelah musim dingin yang panjang.
"Aku bukan orang seperti itu," Enkai menarik jemari tangan mereka untuk bangkit.
"Aku malas! Seharusnya aku merayakan valentine day dengan pacarku saja." Gumam Kairi enggan untuk beranjak.
"Valentine day? Itu hari ini?" Pertanyaan dari Enkai, dijawab dengan anggukan oleh mereka.
"Wanita adalah makhluk yang super aneh. Memberikan hadiah di valentine day. Kemudian mengharapkan balasan pada white day (tradisi bagi pria di Jepang, memberikan hadiah balasan pada wanita yang memberi mereka coklat pada Valentine day)." Celetuk Arashi yang bangkit pada akhirnya. Benar-benar sang jomblo sejati.
"Apa Sena membuatkan coklat untukmu?" tanya Kairi penasaran. Matanya melirik ke arah empat orang yang tengah mempersiapkan misi. Mereka yang pengangguran masih mempunyai waktu untuk mengobrol.
"Aku tidak menyukai makanan manis. Selain itu kami tidak lebih dari sahabat." Jawab Enkai singkat.
"Hei! Hei! Kamu tidak menyukai makanan manis! Tapi harus bersikap seolah-olah menyukainya. Biar aku katakan, wanita tidak akan menyukai pria dingin yang hanya pandai menggodanya." Nasehat dari Kairi.
__ADS_1
"Kami hanya teman. Menikah untuk terbebas dari keluarga adalah komitmen kami." Kalimat yang saat itu diucapkan Enkai, benar-benar kalimat ringan yang penuh dengan senyuman.