Master Of World

Master Of World
Takut


__ADS_3

Pemuda itu benar-benar tersenyum. Menatap ke arah pria di hadapannya. Wajah tanpa ekspresi yang sejak dulu diperlakukan buruk bagaikan telah menghilang. Sedangkan Haruo ikut tersenyum menatap senyuman di wajah putra angkatnya, mengira semua akan baik-baik saja kembali seperti sediakala.


Siapa yang akan tahan, bekerja di restauran ayam goreng, tidak memiliki kendaraan sama sekali, serta tinggal di apartemen kecil, perabotan bahkan beberapa hasil dari mengambil di tempat pembuangan barang-barang tidak terpakai. Itulah yang ada di fikiran Haruo kini.


Sena memilin jemarinya sendiri menarik tangannya dari genggaman tangan Enkai."A...aku, sebaiknya aku pulang saja. Kalian boleh bicara berdua dulu. Maaf..." ucapnya menunduk.


Hari ini akan tiba, sesuatu yang sudah diduganya. Kala Enkai memutuskan memiliki pasangan lain maka pemuda itu akan pergi. Wanita itu tersenyum, senyuman dalam kepura-puraan, bagaikan sebuah topeng yang menutupi ekspresi dari wajah aslinya.


"Maaf, mengganggu," hanya dua kata itu yang terakhir diucapkannya kala melangkah pergi. Satu persatu langkah dilaluinya. Semua kalimat dan kata-kata itu hanya karena separuh wajahnya yang memang rusak. Jadi tidak akan ada penyesalan atau menyalahkan orang lain.


"Tunggu! Aku tidak membawa uang untuk membayar bis. Tunggu aku bicara dengannya dulu. Kamu mau membiarkanku berjalan kaki pulang di tengah cuaca sedingin ini? Sengaja ingin aku kedinginan hingga aku meminta tubuh ini dihangatkan?" tanya Enkai tersenyum cerah ke arah Sena. Membuat Sena membalikkan badan, menghentikan langkahnya. Wanita yang membulatkan matanya, benar-benar malu rasanya.


"A...aku tunggu di depan!" Ucapnya hendak melarikan diri.


Tapi tanpa diduga pemuda itu kali ini bangkit, menahannya, memeluk tubuhnya."Ayah, dengar sendiri bukan? Aku sudah menidurinya. Mungkin anakku ada disini."


Jemari tangan Haruo mengepal. Matanya menatap ke arah Sena, membawa Enkai kembali, seluruh keluarga Zen akan menentangnya. Apalagi membawa serta putri keluarga Wen, tidak akan ada yang setuju, jika wanita menjijikkan ini masuk. Dua orang benalu yang akan tinggal di tempat ini.


Tapi sekali lagi, ini adalah jimat keberuntungannya. Tidak apa, asalkan Enkai masuk ke keluarga Zen tidak akan masalah. Dirinya dapat membuatkan rumah kecil di tanah kosong area belakang rumah. Jadi hanya perlu diberi makan, melarang mereka masuk ke kediaman utama.


"Kalau begitu bagaimana jika kalian tinggal bersama disini saja?" Haruo mengenyitkan keningnya, wajahnya tersenyum saat ini.


Enkai berjalan mendekat kali ini senyuman tidak terlihat di wajahnya."Setelah bertahun-tahun menjadi anak angkat yang berbakti. Menggantikan putra kandung untuk tinggal di penjara, menjadi supir pribadi yang tidak digaji selama 2 tahun. Setelah menikah ingin menjadikan istriku sebagai pelayan di rumah ini? Lalu aku apa? Mungkin kalian akan kemana menjadikanku supir pribadi gratis."


"Bu... bukan begitu. Siapa yang mengajarimu begini? Enkai kamu itu dulu anak baik! Kenapa sekarang membantah!? Apa kerena wanita ini? Ayah sudah bilang dapat mencarikan yang lebih cantik dengan pendidikan yang lebih tinggi darinya!" bentak Haruo.


Pemuda itu tertawa kecil meremehkan."Lebih cantik dan lebih berpendidikan? Lalu dia akan menjadi tali yang mengendalikanku untuk tinggal di rumah ini. Wanita seperti itu akan mengeluh setiap hari mengatakan kenapa aku menjadi suami yang menyusahkan, suami berlalu mantan narapidana, mungkin terakhir dia akan menertawakanku sebagai supir pribadi keluarga Zen."

__ADS_1


Tawa Enkai terhenti, berganti dengan senyuman cerah."Tuan, hutang budiku sudah berakhir saat hari aku bebas dari penjara. Karena itu pernikahanku dengan Sena hanya formalitas agar aku dapat keluar dari keluarga Zen. Memilih menjadi supir pribadi tanpa dibayar? Mendengar kata benalu dari ibu angkat setiap hari? Menjadi bahan pelampiasan rasa kesal anak kandung? Aku sudah gila jika ingin kembali. Menggoreng ayam setiap hari, setidaknya hanya tertinggal aroma amis di tubuhku. Tapi di keluarga ini, hanya amis darah yang kucium." Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Enkai.


Pemuda yang kembali berjalan mendekati Sena."Ayo pulang, seperti yang aku katakan. Aku ingin makan gurita malam ini."


Sena mengangguk, hanya mengangguk. Wanita yang berinisiatif memegang jemari tangan Enkai. Mengetahui bagaimana perasaan pemuda di sampingnya, mungkin sama sepertinya yang hanya orang buangan.


"Enkai! Kamu tidak akan bahagia. Jika---" Kalimat Haruo dipotong.


"Jangan melewati batas..." Hanya itulah yang terucap dari bibir Enkai. Pemuda yang tersenyum sembari melangkah pergi.


Tidak diduga olehnya ini bahkan lebih buruk dari perkiraannya. Matanya memerah, air mata yang tertahan. Kala melewati pagar rumah keluarga Zen, rasa takut menghinggapi dirinya. Mengingat hanya dapat menunduk diam dahulu. Sena memeluknya dari belakang di tengah hujan salju yang benar-benar dingin. Sena menyandarkan kepalanya pada punggung Enkai."Ini benar-benar hangat."


Bukan kata-kata yang menghibur. Namun pemuda itu merasa lebih baik, merasakan ada seseorang di sisinya. Hanya dapat menghela napasnya menonggakkan kepala, merasakan salju yang menerpa tubuhnya.


"Aku ingin bersamamu..." kalimat yang diucapkannya tanpa menoleh pada Sena yang masih memeluknya dari belakang. Merasa lebih lega kini.


Segalanya ditatap oleh seseorang. Pemuda yang berlalu melewati mereka, membenahi posisi topi yang dipakainya. Apa dia hanya seorang figuran? Memakai mantel, meminum kopi hangat, wajahnya tersenyum.


Gerbang terbuka sendiri kembali melangkah masuk. Beberapa pelayan menyambutnya."Tuan!" Ucap beberapa pelayan tersebut. Sekilas terlihat normal, namun ada yang memiliki mata bagaikan reptil. Ada pula yang mengeluarkan beberapa tentakel dari balik pakaiannya.


Semua yang tinggal di tempat ini bukan manusia. Jika ada satu manusia, sudah tentu akan menjadi bahan makanan untuk mereka.


Topi dan mantel masih dipakainya walaupun ada di dalam ruangan. Kala memasuki ruang bawah tanah. Tangannya memegang tempat lilin, menerangi sekitar lorong. Altar yang cukup besar terlihat, dengan sebuah buku sihir disana. Lilin diletakkannya pada tempat khusus.


Buku tua dibuka olehnya. Tulisan kuno yang indah ada di buku mantra kusam, sekilas bersinar kala dibuka. Puluhan kunang-kunang bersinar didekat sang pemuda.


"Awan putih menghilangkan jejak langkah, badai pasir menerpa, kala itulah sebuah pintu terbuka menjadi jalan dari sesuatu yang menghilang." Kalimat yang dibaca sang pemuda.

__ADS_1


Sebuah pintu gerbang besar tercipta, bersamaan dengan buku tua yang ditutupnya. Pemuda yang membuka topinya, memasukkan ular kecil dengan tanda teratai di dahinya.


Gerbang yang benar-benar besar ratusan monster meraung-raung di dalamnya. Dari sisi luar hanya terlihat sebuah labirin, dengan ujung ruangan dimensi yang cukup mengerikan.


Tangan pemuda itu mengeluarkan benang merah yang aneh. Mengapung terulur masuk, menjerat seekor monster, menyeretnya untuk keluar.


"Tuan!" monster bertubuh gempal itu memberi hormat. Dengan tubuhnya yang diikat.


"Berapa makhluk dalam Dungeon sudah kamu bunuh?" tanyanya dengan bibir tersenyum menyeringai.


"A... ampuni aku..." Kalimatnya terbata-bata.


"Ada tugas terakhir untukmu sebelum mati. Temui seorang pria bernama Akihiro (pemimpin pasukan khusus)." Ucap sang pemuda, yang memang dari awal melepaskan beberapa monster.


"Apa dia enak?" tanya monster gemuk dengan kulit hijau itu.


"Aku malas menghadapimu. Jadi biarkan mereka yang mengatasimu." Senyuman menyungging di wajah sang pemuda.


"Kai!" Ucapnya memberi tanda aneh pada makhluk di hadapannya. Makhluk yang akan datang untuk membuat masalah baru pada Akihiro.


*


Mata Enkai tiba-tiba terbuka, beberapa minggu ini setelah pertikaiannya dengan Hunter pemerintah dirinya selalu seperti ini. Napasnya tidak teratur, merasa ada sesuatu yang terusik dalam dirinya.


Sebuah mimpi yang benar-benar buruk, seseorang terbakar di hadapannya hingga menjadi abu. Pemuda yang meraih air putih di atas meja. Matanya menatap ke arah Sena yang tertidur.


Apa malam ini dirinya harus membuat kekacauan di keluarga Zen? Membuat mereka tidak dapat berdiri lagi, atau menghancurkan mereka diam-diam.

__ADS_1


Pemuda yang membuka piyama bermotif Teddy bearnya. Ingin membalas keluarga Zen malam ini. Tidak menyadari Sena yang terbangun, kini pura-pura tidur. Jantungnya berdegup kencang menyadari Enkai membuka pakaian.


"Apa dia mau melakukannya? Tidak mungkin kan?" batin Sena, ketakutan.


__ADS_2