
Hanya dapat menghentikan waktu selama 10 detik. Kemudian kembali terjeda 15 menit untuk menggunakan kemampuannya.
"Kamu tidak terpengaruh?" tanya Akihiro kala waktu kembali berjalan seperti semula.
Enkai mengangguk, memakan kue tradisional yang ada di hadapannya."Jangan libatkan Sena." Hanya itulah yang diucapkannya.
"Bergabung ke unit pasukan khusus. Maka aku tidak akan mengganggumu." Akihiro menghela napas kasar.
"Terlalu menjijikkan," itulah yang diucapkan Enkai, menghentikan kunyahannya.
"Menjijikkan!? Apa maksudmu---" Bentak sang ajudan, kala Akihiro mengangkat satu tangannya pertanda agar pemuda yang ada di belakang tubuhnya diam.
"Kenapa kamu bilang bergabung ke pasukan Hunter pemerintah menjijikkan?" tanya Akihiro tidak mengerti.
"Aku gagal dua kali dalam ujian, setidaknya jika keluarga Zen tidak bersedia membiayai kuliahku, menjadi Hunter jalan satu-satunya untuk hidup yang lebih baik. Mereka mengatakan aku lebih cocok menjadi pesulap, kemampuanku hanya melarikan diri dan menciptakan kupu-kupu putih. Seperti ini..." Ucap Enkai, bersamaan dengan ribuan kupu-kupu putih beterbangan di sekitarnya.
Benar-benar begitu indah, kala Akihiro dan sang ajudan menyentuhnya hati terasa hangat dan lebih tenang. Namun, pemuda dengan raut wajah berubah dingin itu kembali makan seakan tidak peduli.
Tidak terlihat rasa kagum seperti Akihiro dan sang ajudan.
"Jadi itu alasanmu?" tanya Akihiro.
Enkai menggeleng."Aku belum menyerah, ingin mengikuti ujian tahun depan. Tapi kalian membakar peralatan restauranku, saat aku meminta ganti rugi hanya hinaan yang aku dapatkan. Senjata api bahkan diarahkan pada pelipisku. Jadi daripada aku yang mati, lebih baik kalian yang mati." Kalimat darinya, mengingat peluru yang dipindahkan ke dalam perut Morie.
"Sejak saat itu pemerintah membela Hunter, dengan menyudutkan restauran milik istriku di hadapan media. Aku sudah terbiasa, tapi tidak dengan Sena, restauran kebanggaannya benar-benar sepi, semua orang memojokkan kami. Bahkan saat terjadi kekacauan di pusat kota, kalian menolak menyelamatkan Sena. Kenapa semua orang diselamatkan, sedangkan Sena tidak?" Pertanyaan dari Enkai, ekspresi wajahnya datar memakan makanan di hadapannya.
Sekarang Akihiro mengerti, mengapa pemuda ini terkesan begitu membenci Hunter pemerintah. Anggota keluarga yang hampir mati? Mungkin itulah penyebabnya."Aku minta maaf karena semua itu. Jadi---"
"Seragam biru itu terlalu menjijikkan. Jika membutuhkan bantuanku, aku akan membantu kalian. Tapi sebagai Dark Hunter, tentunya dengan bayaran yang sesuai." Enkai bersikap tenang, tidak menatap ke arah mata Akihiro sama sekali. Membenci orang-orang ini, sangat membenci mereka.
Akihiro menghela napas kasar, menadahkan tangannya. Kala itulah sang ajudan menyodorkan sebuah dokumen yang cukup tebal pada tangan Akihiro.
__ADS_1
"Ini! Satu-satunya kasus yang tidak dapat ditangani pasukan khusus. Bayarannya cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari yang Hiderashi berikan." Ucap Akihiro.
Enkai meraihnya, membaca satu persatu lembaran tersebut baik-baik.
"Beberapa tahun ini, beberapa penjara monster dibobol seseorang. Bukan kelompok, dia hanya seorang diri, melukai puluhan Hunter level S. Bahkan banyak diantaranya yang koma hingga saat ini. Dia tidak melepaskan dan mencuri semua monster. Hanya beberapa monster secara acak, mungkin monster terkuat yang dicurinya adalah harimau petir. Sedangkan terakhir kali pemuda itu merobohkan tembok penjara hanya untuk mendapatkan seekor ular hitam kecil dengan tanda teratai di dahinya."
"Ini aneh, kasus yang benar-benar aneh. Pelakunya mengambil secara acak, melakukan apapun seperti untuk memenuhi koleksinya. Jika kamu tertarik aku bisa memilih dua Hunter level S untuk menjadi anggota timmu." Jelas Akihiro.
Enkai menggeleng."Aku akan datang dengan Arashi dan Kairi. Tugas ini tidak dapat tuntas sekaligus, hanya sebagai tugas sampingan."
Pemuda yang menutup map, hendak berjalan keluar."Aku tidak punya uang, bill di tempat ini kalian yang bayar. Dan ingat! Jangan melibatkan Sena." Celah dimensi terlihat, menembus langsung ke dapur restauran ayam goreng.
Akihiro mengangguk menyanggupi."Hati-hati!" ucapnya melambaikan tangan tersenyum, berusaha ramah. Hingga pada akhirnya Enkai menghilang memasuki celah dimensi.
"Kenapa tidak memaksa untuk merekrutnya?" tanya sang ajudan.
"Tidak bisa, dia membenci kita, sampai-sampai ingin mencabik-cabik tubuh kita," jawab Akihiro, menghela napas kasar.
"Bagaimana anda dapat yakin?" Pria berkacamata itu kembali bertanya.
"Tapi para politikus tidak akan senang jika anda menggunakan jasa Dark Hunter." Sang ajudan mulai ikut duduk di samping Akihiro, mengambil beberapa makanan yang terhidang.
"Mereka berani mengusik keputusanku? Kenapa tidak mereka saja yang masuk ke medan perang." Senyuman terlihat di wajahnya, memang pantas sebagai seorang petinggi yang bahkan tidak dapat diusik oleh pemerintah.
Dua orang yang tengah makan dengan tenang. Tidak menyadari bayangan di belakang sang ajudan menunjukkan gerakan yang berbeda. Dengan gerakan sang ajudan.
*
Semua kembali disiapkannya, beberapa peralatan dapur dibersihkannya. Sena pastikan sibuk seorang diri. Hingga kala dirinya melangkah keluar dari dapur, langkahnya terhenti.
"Aku serius kamu cantik seperti dulu," tawa seorang pemuda terdengar, diikuti dengan tawa sang wanita si*lan.
__ADS_1
Enkai sedikit menyipitkan matanya mengintip. Seorang pemuda yang sering datang ke tempat ini.
"Hai! Namamu siapa!? Ayo bergabung!" Ucap pemuda itu menebar aura penuh keceriaan tingkat tinggi. Lebih silau dari apapun, bahkan lebih silau dari piring yang usai di cuci sabun khusus dengan bau jeruk nipis.
Enkai yang semula menyipitkan matanya ikut tersenyum."Tengil!" batinnya.
Namun, dirinya juga harus dekat dengan pelanggan. Ingat! Ini bukan cemburu, karena dirinya dan Sena hanya sahabat yang kebetulan menikah. Lebih tepatnya menikah dulu baru bersahabat.
"Namamu siapa?" tanya Furohito.
"Enkai, aku suaminya Sena," Jawaban dari Enkai, bagaikan program keluarga berencana yang tidak memiliki konflik, merangkul bahu Sena.
"Namaku Furohito, baru saja aku memuji kalau sebenarnya Sena itu cantik. Tapi Sena sendiri tidak percaya." Ucap Furohito terkekeh.
Bagaikan menusukkan belati terang-terangan, sungguh luar biasa pemuda ini. Enkai masih tersenyum cerah."Terimakasih atas pujiannya. Tapi Sena tidak akan menganggapnya serius. Iya kan Sena?" tanyanya.
Namun wanita itu malah mengangkat phonecellnya, menggunakan kamera depan menyorot wajahnya sendiri. Apakah benar-benar cantik? Mungkin itulah yang ada dalam hatinya. Membuat Furohito dan Enkai menoleh bersamaan ke arahnya.
"Dia memang dari dulu cantik..." Furohito menghela napas kasar sembari tersenyum, tersipu-sipu sendiri seolah mengingat masa lalu yang benar-benar memalukan.
"Furohito, apa makananmu sudah habis, tidak bermaksud untuk pulang?" tanya Enkai padanya, berusaha tersenyum.
"Tidak, kalian adalah temanku. Jadi aku boleh berkunjung kapan pun. Benar kan Sena?" Furohito mengatur posisi duduknya, bagaikan akan lama berada di tempat ini. Apa maksud pemuda ini sebenarnya.
"Cari penyakit!" batin Enkai, menemukan satu jawaban dari pertanyaan dalam hatinya.
"Bukannya lebih baik jika kita punya teman di lingkungan ini? Tolong bantu aku..." Kalimat ambigu dari Sena. Dijawab dengan anggukan kepala oleh Furohito.
Semua tentang pembicaraan mereka sebelumnya dan juga tentang keterangan pemuda itu mengatakan profesi sampingannya adalah Dark Hunter. Berharap Furohito dapat menjaga Enkai dengan baik.
Pemuda yang mengangguk menyanggupi.
__ADS_1
Brak!
Suara gebrakan meja terdengar."Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan!?"