
Ayunan pedang terlihat, benar-benar tajam. Bagaikan pedang berputar dengan angin tornado di dalamnya. Sedikit saja mendekati maka goresan tajam akan terasa. Pasukan monster dan iblis mundur tidak ingin terkena serangan atasan mereka. Sementara para Hunter level tinggi itu juga menjauh dari area pertarungan.
Hanya menyisakan Enkai yang berada di sana. Mengapa sampai seperti ini? Tentu saja untuk mengembalikan potensi/kemampuan asli dari Arata. Mati? Arata tidak dapat mati hanya dengan serangan seperti itu.
"Kamu serius!?" teriak Enkai tersenyum. Pemuda itu mengeluarkan ribuan kupu-kupunya mengitari angin tornado mencari celah untuk masuk.
Tapi sayangnya hanya kupu-kupu putih yang berhasil masuk. Kupu-kupu hitam dan besi massa yang lebih, sayap yang tidak elastis untuk digerakkan.
Tapi apa gunanya? Kupu-kupu putih mencoba hinggap pada tubuh sang jendral yang terdapat di tengah pusaran angin. Namun jendral itu tersenyum, dengan mudah menebasnya sebelum hinggap dan bertelur di kulitnya. Mengetahui inilah kupu-kupu pemakan daging milik Arata. Wujud yang cantik namun senjata paling mengerikan. Tabir pelindung pada kupu-kupu dengan mudah dihancurkannya mengingat kekuatan tabir pelindung yang tidak begitu besar.
Srash!
Srash!
Srash!
Tidak ada yang tersisa, Enkai yang berada di luar pusaran angin mengenyitkan keningnya wajahnya bertambah tersenyum."Kamu serius ingin membunuhku?" tanyanya pada jendral yang ada di dalam pusaran.
"Aku memang ingin membunuhmu!" teriak sang jendral dari dalam pusaran angin tajam.
Pintu dimensi terbentuk, Enkai memasukinya. Tiba-tiba muncul dalam pusaran angin dengan diameter bagian atas mencapai lima meter. Cukup luas untuk bertarung, dua orang dari ras iblis.
Tang!
Tang!
Tang!
Beberapa kali suara pedang beradu terdengar. Pertarungan yang cukup sengit. Namun tetap saja berat sebelah.
Srash!
__ADS_1
Tubuh Enkai terkena serangan, terhempas keluar dari pusara angin. Membuat tubuhnya yang terkena tajamnya angin tornado tajam yang dibuat sang jendral, terlempar terpotong menjadi beberapa bagian.
Akihiro yang baru turun menggunakan parasut dari pesawat. Mengingat jalanan di area pertarungan telah rusak parah, melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tubuh Enkai yang terbelah menjadi beberapa bagian, kembali menyambung hanya saja pakainya saja yang terlihat masih koyak.
"Dia bukan manusia!" Gumam Furohito melihat Enkai tertawa kembali masuk ke dalam pusaran angin melalui pintu dimensi.
Hingga dirinya mendarat di dekat area pertarungan, memang aneh parasut yang digunakannya tidak terseret masuk ke dalam angin. Kala dirinya melepaskan parasutnya.
Dhuar!
Hampir saja, berjarak 20 centimeter lagi, maka tubuh Enkai akan menabrak dirinya. Sangat cepat pemuda itu kembali terlempar dari dalam pusaran angin. Ini bukan pertarungan biasa, tapi pertarungan antara monster.
Matanya sedikit melirik, lampu jalanan yang bengkok, kemudian patah. Pemuda itu duduk dengan tubuh tidak lagi utuh bagaikan korban kecelakaan atau pembunuhan dengan pemotongan tangan dan kakinya. Tapi tidak, tubuh pemuda itu kembali tersambung. Matanya memerah, bagaikan merasa tertantang.
"Jenderal! Kali ini aku akan menamparmu!" teriak Enkai bagaikan sosok yang berbeda dengan yang ditemui Akihiro beberapa minggu lalu.
"Silahkan saja! Kalau bisa! Kalau kamu bisa aku akan mengijinkan sampah sepertimu masuk! Bermimpi menginginkan istri putra mahkota! Dasar g*la!" Ucap sang jendral masih ada dalam pusaran angin.
Enkai yang telah pulih dengan semua bagian tubuh yang tersambung kembali tersenyum. Sinar aneh terlihat dari bawah kakinya."Kemampuan 2%!" teriaknya yang pada awalnya bagaikan orang g*la yang hampir tidak memakai pakaian, akibat pakaiannya yang koyak. Kini memakai pakaian putih tingkat dasar dewa.
Srash!
Topi Akihiro terkena efek tebasannya, hingga bagian atas topinya terbelah. Tidak lupa juga bagian atas rambutnya ikut terpotong, menjadi botak licin di bagian atas. Dibelakang Akihiro pusaran itu juga terbelah, kemudian melewati gedung di belakangnya yang juga ikut-ikutan terbelah.
Akihiro menelan ludahnya. Menatap ke arah Enkai."Jangan bilang istriku," ucapnya seperti Light yang dulu, meletakkan jari telunjuknya pada bagian bibir.
Akihiro hanya tertegun, menelan ludahnya sendiri melihat Enkai bergerak cepat. Kembali bertarung dengan pria berpakaian hitam dari ras iblis tersebut.
Tang!
Tang!
__ADS_1
Tang!
Srash!
Lagi-lagi Enkai terkena tebasan, tapi lukanya juga segera sembuh. Pakaiannya yang koyak juga kembali seperti semula. Pakaian sutra putih yang mungkin sering dipakai orang-orang zaman dahulu.
Benar-benar tidak ada kesempatan berbicara dengan Enkai. Hingga pada akhirnya Akihiro menggunakan kemampuannya menghentikan waktu selama 15 detik. Menarik Enkai yang menoleh padanya dengan cepat. Membawanya bersembunyi di balik gedung.
Tepat setelah kemampuan menghentikan waktu itu berakhir sang pria berpakaian hitam dapat bergerak."S*alan! Kamu kemana!? Biar aku memberimu pelajaran lebih banyak lagi!" teriak sang jendral.
Sedangkan Akihiro masih membawa Enkai bersembunyi."Aku sedang ada urusan dengannya!" Ucap Enkai hendak keluar, menyingsingkan lengan pakaiannya.
"Tunggu! Bagaimana jika aku membantumu! Kamu ingin membunuhnya kan?" tanya Akihiro benar-benar sudah frustasi menghadapi belasan monster lengkap dengan pimpinannya ini.
"Tidak! Aku hanya ingin menamparnya! Agar dapat masuk ke dalam Dungeon." Jawaban santai dari Enkai, memang itu persyaratan dari sang jendral bukan? Memukul wajahnya.
"Itulah intinya! Jika aku menghentikan waktu dan kamu dapat menamparnya, kamu bisa masuk bukan? Sudah seminggu lebih, 192 negara sudah terlibat! Sampai-sampai hanya bom atom yang belum meluncur. Tapi kamu tau sendiri kan mereka tidak akan mati oleh senjata dunia fana seperti bom nuklir. Karena itu, aku tidak mengharapkan hasil apapun, hanya ingin mengetahui apa yang ada dalam rumah itu. Sebelum mendapatkan kritik dari politikus dan publik!" Ucap Akihiro benar-benar putus asa. Entah berapa banyak biaya yang dikeluarkan pemerintah. Dan berapa banyak pasukan elit yang turun. Tapi tidak ada hasil sama sekali.
Jadi jika tidak mendapatkan hasil berupa kekalahan monster dan iblis setidaknya dirinya mendapatkan laporan eksplorasi. Itu sudah cukup untuknya sementara waktu.
"Jadi?" Enkai mengenyitkan keningnya, dirinya harus menyusul Sena, sebelum wanita itu keluar dari labirin.
"Jadi aku akan membawa dua orang Hunter junior ikut denganmu. Hanya untuk merekam."Ucap Akihiro serius.
Begitulah bangsa iblis, semakin ditantang maka semakin menggila. Tidak seperti sebelumnya yang hampir mati kebosanan rasanya.
"Keluar kamu!? Ingin menyusul istrimu bukan!? Dia sedang bersenang-senang dengan Arata di dalam sana!" teriaknya ingin memancing emosi Enkai. Mengira pemuda itu belum mengingat statusnya yang sebenarnya.
"Dasar jendral b*suk!" Enkai melompat membuat lorong dimensi kecil. Pria itu tersenyum, menyadari Enkai yang akan segera muncul di dekatnya. Pergelangan tangan Enkai dipegangnya. Merasa sudah menang melawan pemuda ini.
Tidak menyadari Akihiro menghentikan waktu.
__ADS_1
Plak!
Wajah sang jendral berhasil ditamparnya.