
Tidak terlalu jauh, mereka membawa Enkai mendatangi kediaman milik Aoyama. Kediaman yang terlihat tidak begitu besar, pemuda yang diletakkan di tempat tidur.
"Sebaiknya kita memanggil tabib," Hireguchi menghela napas kasar.
Kairi dan Arashi saling melirik."Tidak perlu, sedalam apapun lukanya akan sembuh dengan sendirinya." Ucap Arashi.
"Itu kemampuannya? Seperti dewa saja." Aoyama mulai bangkit, hendak mengantar mereka ke ruang tamu. Sedangkan sang anak yang terlihat berusia lima tahun masih diam di dalam ruangan. Memincingkan matanya menatap ke arah Enkai.
"Nak! Sebaiknya kamu ikut!" Arashi mencoba menariknya.
"Aku disini saja, aku takut dengan kalian." Ucap sang anak bagaikan ingin menangis. Keempat orang dewasa yang hanya dapat mengalah.
"Aku akan mencari kedua orang tuamu. Katakan setidaknya nama mereka." Ucap Aoyama berusaha bersabar.
"A...aku...aku lupa. Aku hanya memanggil mereka ibu dan ayah," gumam sang anak menunduk ketakutan.
Sedangkan Aoyama yang sudah mendapatkan buku dengan simbol kerajaan itu, mencoba membukanya. Tapi ada sihir aneh hingga dirinya tidak dapat membuka sama sekali. Mungkin jika dirinya menunjukkan buku pada penjaga kerajaan akan dapat dengan mudah menemukan identitas sebenarnya dari anak ini.
"Kamu boleh berada di sini. Omong-ngomong siapa namamu?" tanya Aoyama.
"Hime," jawaban jujur dari Sena.
"Tidak boleh menyamai nama anggota keluarga kerajaan. Bagaimana jika untuk sementara waktu kami memanggilmu Jiu?" Usul Aoyama, sang anak perempuan yang manis mengangguk.
Bersamaan dengan itu, mereka mulai meninggalkan ruangan. Anak aneh yang mengikuti mereka. Tapi juga takut pada mereka.
Perlahan pintu mulai tertutup. Kala itulah Sena yang masih menjadi anak kecil menyipitkan matanya menatap ke arah Enkai."Ini benar-benar wajah Arata..." gumamnya menahan tawa.
Bagaimana tidak, kala bertemu untuk pertama kali dengan Arata pemuda itu sudah berusia lebih dari 6000 tahun. Dengan wajah rentan usia sekitar 27 tahun. Wajah yang sama dengan Arata, hanya saja terlihat lebih muda dan rambutnya yang lebih pendek. Itulah Enkai.
Luka yang tertutup perlahan, sang pemuda mulai membuka matanya. Tempat yang tidak dikenalnya, serta seorang anak dengan mata jernih yang menatapnya.
"Kamu siapa?" tanya Enkai.
"Anakmu." Candaan Sena.
Enkai mengenyitkan keningnya, mengangkat tubuh bocah itu."Turunkan aku!" teriak Sena.
__ADS_1
"Siapa kamu!?" tanya Enkai lagi.
"Aku hanya anak yang tersesat. Kamu tidak iba padaku?" Mata sang anak berkaca-kaca bagaikan ingin menangis, membuat Enkai menghela napasnya.
"Dengar! Jangan bercanda, ini tempat apa? Dan apa kamu bertemu dengan temanku? Namanya Kairi dan Arashi." Ucap Enkai memijit pelipisnya sendiri.
Sang anak mengangguk."Mereka ada di ruangan sebelah."
Kala Enkai hendak bangkit, tangan kecil anak itu menghentikannya. Tangan dingin, sedingin kelopak bunga, menatapnya dengan tenang."Mau ikut ini?" tanyanya, membawa selebaran tentang kompetisi.
Dengan cepat Enkai mengangguk."Tapi kemampuanku tidak cukup."
"Aku dapat membantu kakak. Tapi bisa tinggalkan teman-teman kakak? Hanya seminggu. Aku akan memberi petunjuk, cara meningkatkan kemampuan dengan cepat." Ucap sang anak, dengan senyuman picik.
Enkai berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan sang anak kemudian mengusap pucuk kepalanya."Jangan berbohong, lebih baik temui orang tuamu dan pulang ya?"
Sang anak mengenyitkan keningnya."Kakak tidak takut mati?" tanyanya.
Enkai menghela napas tidak mengerti. Beberapa helai kelopak bunga beterbangan dengan kecepatan tinggi. Masuk dari jendela dan tercabut dari fas bunga. Matanya sedikit melirik, mengeluarkan kupu-kupu hitamnya guna melawan serangan. Namun sayang kupu-kupu hitam miliknya terhuyung jatuh bagaikan terkena ilusi.
"Intinya kakak mau aku ajari?" tanya sang anak lagi.
"Tidak!" jawaban tegas dari Enkai.
*
Langkah demi langkah, menelusuri jalan panjang ini. Dirinya tidak mengerti bagaimana dapat mempercayai anak ini pada akhirnya. Anak manis yang terlihat memiliki kulit tipis. Sedikit saja tergores sudah mengeluarkan darah.
Tapi hanya itulah harapannya untuk menemukan jalan. Sang anak yang terlihat memakan manisan dengan lahap. Sesekali bernyanyi dan melompat seperti anak kecil pada umumnya.
"Kita mau kemana?" tanya Enkai pada akhirnya.
"Hutan Utara, disana ada bola energi yang diperebutkan beberapa keluarga. Jika kamu berhasil memakannya, level kemampuanmu akan naik dengan cepat. Juga dapat mempelajari beberapa keahlian." Jelas sang anak.
"Kamu tau dari mana?" tanya Enkai memincingkan matanya.
"Pacarku, katanya Arata dewa yang perhitungan. Dia menyimpan beberapa jenis energi untuk dirinya sendiri. Memang dasar dewa busuk!" Celetuk sang anak, mengomel dengan benar-benar lancar.
__ADS_1
"Dewa busuk?" Geram Enkai kembali mengangkat tubuh sang anak.
"Kamu membencinya karena istrimu lebih memilih bersamanya! Kenapa kamu marah saat aku menyebutnya Dewa busuk!?" Sena meronta-ronta, ingin Enkai menurunkan tubuhnya.
Enkai menghela napas kasar, menurunkan sang anak. Kemudian memijit pelipisnya sendiri. Entah kenapa dirinya menjadi emosional setiap mendengar kata Arata. Namun jika ada yang mengata-ngatai nama itu dirinya menjadi kesal. Perasaan apa ini? Cinta dan benci?
"Maaf! Tapi hanya aku yang boleh mengata-ngatai tentang Arata." Ucapan tegas dari Enkai.
Sang anak hanya mengenyitkan keningnya, berusaha tersenyum. Padahal dalam hati mengumpat lebih banyak lagi.
Wilayah hutan Utara memang cukup luas. Dua orang yang melewatinya perlahan. Melangkah di tengah rimbunnya tanaman aneh. Berbeda dengan Enkai yang terlihat lebih waspada, Sena bergerak lebih santai.
Dhuar!
Suara ledakan tiba-tiba terdengar. Seekor monster harimau raksasa terlihat, di bagian atasnya terdapat seorang wanita dari kaum iblis.
Kipas aneh diayunkan sang wanita, membentuk ribuan cahaya berbentuk sabit. Bagaikan menyerang makhluk di hadapannya.
"Ingin mengalahkanku, jangan bermimpi!" Suara teriakan yang menggema, burung api yang indah terbentuk di langit. Burung raksasa, mungkin besar tubuhnya mencapai gedung bertingkat 18 lantai.
Udara panas membakar. Tembakan puluhan bola api ke arah wanita yang ada di atas monster harimau.
"Tabir pelindung!" Ucapnya, bersamaan dengan cahaya segel aneh yang terlihat di langit. Membentuk pelindung transparan.
Prang!
Dalam lima kali tembakan bola api pelindung itu pecah. Memusnahkan iblis wanita beserta monster harimau peliharaannya. Mungkin hanya abu dan wilayah sekitar yang terbakar tersisa. Inilah pertarungan antara iblis dan monster level tinggi.
Berbeda dengan iblis dan monster yang lepas di dunia manusia. Mereka berada di kelas yang lebih rendah.
Enkai terdiam, tertegun karenanya. Monster laba-laba saja, dirinya harus main keroyokan agar bisa menang. Tapi monster-monster di tempat ini bahkan berada dalam level yang lebih tinggi.
Fikirannya berkecamuk tentang pencipta dimensi ini. Lebih tepatnya orang yang menciptakan Dungeon. Hanya sebagai hadiah pernikahan? Kemampuan orang ini pasti jauh lebih tinggi.
"Sebenarnya Arata seberapa kuat? Bagaimana kemampuannya?" tanya Enkai ragu. Sena Berjalan menyentuh beberapa pohon yang mati, sejenak pohon-pohon itu hidup kembali.
"Arata? Dia berada di tingkatan yang melebihi dewa biasa. Menciptakan satu atau dua dimensi hal yang mudah baginya. Seperti menggoreng ayam..." Sarkas Sena, tanpa disadari oleh Enkai. Anak yang tetap menghidupkan kembali pohon-pohon tanpa sedikitpun menoleh ke hadapannya.
__ADS_1