
Tidak ada yang berani bergerak. Semua orang mengeluarkan keringat dingin. Akihiro menghentikan waktu, tapi percuma saja, kupu-kupu tersebut masih berterbangan bebas. Hingga pada akhirnya waktu kembali bergerak.
Pupil mata Enkai masih terlihat merah. Benar-benar pria tidak normal sama sekali."Light, hentikan! Apa tujuanmu kemari? Bukankah kamu memutuskan untuk berhenti menjadi Hunter?" tanya Akihiro.
Mungkin pemuda itu ingat tujuan awalnya. Hingga wajahnya saat ini tersenyum. Pupil matanya kembali ke warna hitam pekat."Maaf berbuat tidak sopan!" pemuda itu membungkuk 90 derajat. Bersamaan dengan ribuan kupu-kupu yang mundur ke belakang tubuhnya.
Semua orang pada akhirnya menghela napas lega. Tapi wajah mereka masih terlihat pucat pasi. Hawa racun yang bersifat korosif benar-benar terasa dari kupu-kupu hitam yang mengikuti Enkai.
"Jadi benar-benar putra angkat keluarga Zen?" Tanya sang politikus melonggarkan dasinya.
"Benar, tentang mantan narapidana, aku menggantikan posisi anak sah untuk menginap di penjara." Wajah ceria tanpa dosa begitulah ekspresinya saat ini. Membuat semua orang yang ada dalam ruangan bahkan tidak berani menatap matanya.
"Apa tujuanmu kemari?" Akihiro kembali bertanya.
"Aku ingin membuat laporan sebagai warga sipil. Sarang para monster level tinggi, ada dalam satu tempat. Bisa disebut juga sebagai Dungeon. Ini informasi yang cukup akurat." Ucap Enkai, meletakkan secarik kertas di atas meja.
"Kamu Dark Hunter, berapa bayaran untuk informasi ini?" tanya Akihiro.
"Aku ingin kalian menyelamatkan Sena. Dia ada di dalam sana." Jawaban dari Enkai, membuat semua orang terdiam sejenak.
Akihiro menghela napas kasar pada akhirnya. Menatap ke arah Enkai."Jadi karena ini?" tanyanya.
"Aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik untuk saling memanfaatkan." Pemuda yang menghela napas kasar, meninggalkan secarik kertas di atas meja rapat. Akihiro terlihat ragu, namun tetap meraihnya. Entah apa yang tengah ada di fikirannya saat ini.
*
Srak!
Suara rolling door ditutup terdengar. Pemuda yang menonggakkan kepalanya menatap ke arah langit malam. Tanda tutup sementara waktu telah dipasangnya.
Prioritasnya saat ini adalah mencari keberadaan Sena. Bergerak terlebih dahulu daripada Hunter pemerintah, yang mungkin tengah membuat perencanaan matang.
__ADS_1
Kairi dan Arashi kini sudah berada di dekatnya. Bersiap-siap untuk tauran, membawa berbagai macam senjata tajam.
Tiga orang yang naik ke dalam mobil milik Arashi menunju alamat yang didapatkannya. Kenapa tidak teleportasi secara langsung saja? Tentu saja untuk meninggalkan mobil mereka di depan rumah. Sebagai penanda jejak keberadaan mereka.
Butuh sekitar satu jam perjalanan, barulah kediaman dengan nomor rumah 666 itu terlihat. Menelan ludahnya sendiri mereka bertiga turun tanpa perencanaan yang matang.
Kala itu hari sudah gelap. Rumah yang benar-benar besar dan luas. Pintu gerbang terbuka sendirinya, seakan memang bersiap menyambut kedatangan mereka.
Pepohonan di halaman rumah tersebut mati, rumput-rumput berwarna coklat seakan tidak ada kehidupan di sana. Seorang pelayan cantik berdiri di depan pintu. Benar-benar cantik dan ramah."Silahkan masuk," ucapnya dengan lidah panjang menjulur, menjilat tubuh Arashi dan Kairi, seakan tidak sabar untuk mengoyak daging mereka.
Namun tidak dengan Enkai, entah kenapa monster tersebut tidak menjilatinya sama sekali. Pintu utama terbuka, rumah dengan penerangan yang luas. Ada monster yang merayap di dinding, memakai pakaian pelayan tapi tubuhnya berwarna seperti cicak, merayap di dinding, membawa kemoceng.
Ada juga pelayan yang memiliki leher panjang, lengkap dengan lidah panjang menjulur. Ada sekitar 20 pelayan yang dipastikan bukan manusia disana.
Tiba-tiba semuanya berbaris, menampakkan wujud bagaikan manusia sempurna yang rupawan. Membuat jalan bagi Kairi, Arashi dan Enkai.
"Selamat datang..." Ucap mereka ramah, bagaikan pelayan pria dan wanita yang profesional.
Aura rumah itu seketika berubah. Ada yang aneh, benar-benar ada yang aneh.
"Selamat datang," Ucapnya menundukkan 90 derajat.
Enkai menghela napas berkali-kali. Benar-benar waspada pada tempat ini. Menurut catatan sipil, rumah dan tanah ini dibeli atas nama Furohito.
Siapa sebenarnya si br*ngsek yang membawa Sena? Dan apa tujuannya?
"Mohon ikuti saya, jika ingin masuk ke dalam Dungeon," kalimat dari pria yang terlihat berasal dari ras iblis.
Mereka menghela napas kasar terlihat ragu. Tapi pada akhirnya mengikuti langkah pria ini. Pria yang mengambil pegangan lilin, api menyala tanpa menggunakan korek sama sekali.
Langkah demi langkah, membimbing mereka ke ruangan bawah tanah yang lebih gelap.
__ADS_1
"Apa sebenarnya Dungeon?" tanya Enkai memulai pembicaraan.
"Pada awalnya, akan dijadikan istana impian yang indah. Tapi, keadaannya berubah, Dungeon saat ini, dimensi yang sama luasnya dengan alam tengah (tempat manusia hidup), tempat pertahanan iblis dan monster. Bisa dibilang ini adalah benteng kami untuk mempersiapkan perang." Jawaban darinya, dengan langkah kaki yang terlihat tenang.
"Apa tujuan Furohito membawa Sena ke tempat ini?" Enkai kembali bertanya.
"Sebaiknya tanyakan sendiri padanya." Kalimat dari sang pria tua, sedikit melirik dengan pupil mata berwarna merah.
Kairi dan Arashi menelan ludahnya. Hingga pada akhirnya ruangan itu terlihat. Dengan beberapa prasasti tua yang berjajar. Tulisan kuno serta bahasa kuno yang tidak mereka mengerti. Di bagian tengah ruangan terdapat buku tua. Sang pria tua meletakkan lilinnya.
Membaca tulisan dari buku yang dibukanya. Kata-kata aneh terucap dari mulutnya. Bersamaan dengan angin yang kuat. Hawa dingin terasa, pintu gerbang yang cukup besar.
Tempat yang begitu gelap pada bagian awalnya. Mengingat harus melintasi labirin yang berliku-liku.
"Aku hanya akan mengantar kalian sampai sini saja. Selebihnya kalian yang harus berusaha sendiri." Pria paruh baya itu meninggalkan ruangan membawa lilin, meninggalkan mereka dalam ruangan yang cukup gelap.
Kairi menyalakan senternya."Tidak seperti bayanganku, kita akan bertarung habis-habisan untuk masuk," gumamnya.
"Sudahlah, lagipula Hunter pemerintah sebentar lagi akan datang. Jika terjadi sesuatu pada kita, setidaknya kita masih memiliki harapan untuk pulang dengan selamat." Ucap Enkai memasuki Dungeon diikuti Kairi dan Arashi.
Tapi apa benar? Harapan tinggal harapan. Tidak ada yang menyadari apa yang terjadi di gerbang depan.
Para pelayan yang merupakan monster level tinggi kini tengah mempermainkan tubuh beberapa Hunter level S yang dikirimkan Akihiro.
"Tuan!" Seorang pelayan yang memiliki 8 tentakel memberi hormat pada pria tua yang baru saja mengantar Enkai.
"Bantai mereka semua." Senyuman terlihat di wajahnya.
Para monster yang mulai menampakan wujud asli mereka.
Dhuar!
__ADS_1
Suara ledakan terdengar, Hunter dengan kemampuan meledakkan mengeluarkan serangan. Monster bertipe air, mengeluarkan air bagaikan sungai yang mengalir deras.
"Ingin mengalahkan monster?" Suara tawa pria tua itu terdengar. Menunjukkan wujud aslinya, pria paruh baya menggunakan seragam perang jaman dulu. Pedang berwarna hitam pekat. Menebas semua yang ada di hadapannya dengan sekali ayunan.