
"Aku ingin berhenti. Mungkin ini alasan dia pergi." Gumam Enkai tertunduk. Sena hanya bercanda, wanita itu hanya tidak ingin dirinya mempertaruhkan nyawa sebagai Hunter.
Jika seperti itu, dirinya hanya perlu kembali seperti dulu, menggoreng ayam. Menghabiskan waktu dengan satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya.
"Light, dua monster sebelumnya, belum tertangkap. Bagaimana dengan keselamatan orang-orang---" Kalimat Arashi disela.
"Pers*tan, apa mereka pernah peduli padaku saat aku berada dalam penjara? Apa mereka mau menemani dan membuatkan makan malam untukku? Apa mereka peduli jika aku mati!?" Bentak Enkai dengan wajah tersenyum, matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang hendak mengalir.
Arashi menghela napas kasar."Aku dan Kairi tidak akan menerima misi. Kami akan membantumu mencari Sena. Untuk sementara waktu, tenangkan dirimu." Pemuda yang menghela napas kasar, meninggalkan Enkai seorang diri. Berjalan meninggalkan apartemen dengan Kairi.
Hanya semangkuk sup makanan hangat yang tersedia. Sementara di atas meja ruang tamu, ada begitu banyak makanan dingin. Matanya melirik, beberapa hidangan yang disukai olehnya.
Pada akhirnya Enkai duduk. Hiasan aneh yang begitu norak. Berapa lama wanita ini menyiapkannya?
"Jangan bersembunyi, aku sudah pulang. Maaf aku terlambat," kalimat dari Enkai mulai makan seorang diri. Kembali sendiri, seperti dulu saat di rumah keluarga Zen.
"Ja... jangan bersembunyi. Jika tidak aku akan menghabiskan semuanya." Ucap Enkai memakan makanan dingin dengan lahap. Harapannya memang telah pupus, tapi masih ingin berharap ini hanya bercanda. Atau Sena tengah merajuk padanya.
Dirinya memang pulang terlambat, terlalu sering pulang terlambat, bahkan karena kelelahan mengabaikan semua cerita wanita itu."Andai saja aku berhenti..."
Memaksakan dirinya memakan semua masakan. Hingga hanya cup cake yang tersisa. Dengan kartu yang ada di hadapannya.
'Aku menyukaimu'
'Sena'
Hanya itulah kata yang tertulis dalam kartu. Pemuda yang yang terisak."Wanita si*lan! Br*ngsek! Jika ingin menjadi lebih dari teman, aku mengijinkannya. Jangan bercanda lagi..."
*
Sekitar 10 hari telah berlalu. Tidak ada informasi apapun dari Kairi dan Arashi. Meminta bantuan pada Akihiro? Dirinya tidak ingin terlibat dengan Hunter lagi.
"Terimakasih sudah datang." Kalimat darinya berdiri di belakang mesin kasir. Beberapa pekerja paruh waktu yang memang dulu direkrutnya dan Sena masih bekerja seperti biasanya.
__ADS_1
Semua akan kembali seperti semula jika dirinya berhenti menjadi seorang Hunter. Itulah yang ada di fikirannya. Mengingat musim dingin yang hangat dilaluinya. Bersama seseorang yang dapat disebut sebagai keluarga.
Musim semi yang benar-benar hangat. Tapi ini adalah musim dingin baginya.
Teg!
Suara lonceng yang terletak di depan pintu masuk. Seseorang datang tepatnya Akihiro, diikuti ajudannya dan Sora.
"Selamat datang!" Enkai tersenyum mendatangi meja mereka sembari tersenyum ramah. Memberikan daftar menu."Mau pesan apa?" tanyanya.
"Ada misi..." Kalimat yang diucapkan Akihiro dengan suara kecil.
"Menu 'ada misi' tidak tersedia di restauran kami. Saya sarankan anda memesan spaghetti bolognese, kami memiliki farian rasa tuna dan sapi." Ucap Enkai masih setia tersenyum.
Seperti yang dikatakan Hiroshi, pengaruhnya yang membuat orang kehilangan kewarasan memang akan menghilang dalam waktu 7 hari. Dapat dilihat dari tingkah Sora saat ini.
"Light, misi ini sangat penting. Bayarannya juga besar." Pintanya mengedipkan sebelah matanya.
Hanya beberapa puluh detik suasana kembali hening. Hingga pada akhirnya Enkai kembali memulai pembicaraan."Jadi mau pesan apa? Sebelum istriku mengeluh saat kepulangannya nanti. Karena aku tidak becus mengelola restaurannya."
"Tiga porsi ayam bagian paha atas. Minumannya tiga diet coke. Omong-ngomong aku punya cara agar istrimu kembali." Ucap Akihiro terlihat iba, benar-benar bersungguh-sungguh.
"Anda sudah menikah? Aku tidak ingin menerima saran dari orang yang gagal total dalam kehidupan asmaranya." Jawaban begitu menusuk kalbu diucapkan oleh Enkai, membawa kertas order kemudian menyerahkannya pada pekerja paruh waktu.
"Aku bukannya gagal, tapi hanya kurang beruntung." Gumam Akihiro menghela napas kasar.
"Light! Boleh aku membantumu?" tanya Sora mendekatinya.
"Boleh, bersihkan kamar mandi," jawaban acuh dari Enkai menyodorkan mob lantai.
"Ta...tapi---" Kalimat Sora disela.
"Tidak mau, tidak apa-apa." Enkai menghela napas kasar, meraih mob lantai dan mulai memakai sarung tangan, serta masker.
__ADS_1
*
Kehidupan yang membosankan beberapa hari ini. Terkadang dirinya berfikir, mengapa hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. Atau terkadang suara lemari es. Benar-benar apartemen yang sunyi.
Tangannya meraba ke arah tempat tidurnya yang kosong. Bagaimana caranya agar wanita ini kembali? Dan Sena sebenarnya pergi kemana?
Tidak ada teman yang dimiliki oleh Sena. Furohito juga menghilang tanpa jejak. Apa mereka pergi bersama? Membuat hari tanpa Enkai? Tapi kenapa sampai 10 hari. Apa Sena tidak merindukannya?
"Aku juga menyukaimu." Ingin rasanya Enkai berucap. Tapi sayangnya wanita yang biasanya tidur di sampingnya sudah tidak ada. Mencium aroma parfum wanita itu lagi, yang sudah mulai memudar. Imajinasi yang indah, kala dirinya menutup mata.
Sekelebat, entah imajinasi aneh muncul. Dirinya melihat seseorang yang memiliki rupa persis dengan Sena. Hanya saja sedikit lebih dewasa. Menyentuh pohon yang sudah mati. Ajaibnya pohon tersebut hidup kembali, bahkan berbuah. Wanita yang kemudian memetiknya, membagikan pada warga desa.
Tidak mengatakan apapun, hanya mengatakan tiba-tiba keajaiban terjadi beberapa pohon yang mati di dalam hutan berbuah. Wanita cantik yang tidak menunjukkan kemampuannya. Namun, ada yang aneh, rambut putih pendek milik Enkai, kini lebih panjang. Memakai pakaian sutra putih jaman dahulu.
Dengan cepat Enkai membuka matanya, merasakan kesadarannya kembali oleh dering suara phonecell. Apa tadi sebuah imajinasi? Mungkin itulah yang ada dalam fikirannya.
Phonecell tersebut masih terus berbunyi tiada henti. Hingga pada akhirnya dirinya mengangkat panggilan dari Arashi.
Sudah 10 hari kedua orang yang katanya mencari informasi itu menghilang. Kenapa kali ini menghubunginya? Rasa jenuh mendera fikirannya. Mungkin kedua orang ini akan membujuknya untuk kembali bekerja.
"Light!" panggil Arashi penuh semangat.
"Ada apa?" tanya Enkai, bersiap-siap menerima kata-kata bujukan. Seperti yang diucapkan Kyo dan Akihiro.
"Kami memiliki petunjuk, tentang monster bernama Hitoshi. Kamu ingat dia pernah menyebut soal Arata?" Tanya Arashi membuat Enkai tertarik.
"Ingat!" jawaban darinya.
"Pada awalnya aku hanya mencari informasi tentang Furohito dan Hitoshi. Tapi tidak ada sama sekali. Tapi tentang Arata, dia benar-benar ada." Penjelasan singkat dari Arashi.
"Dimana alamatnya?" tanya Enkai antusias.
Helaan napas dari Arashi terdengar."Ini hanya cerita mitologi dari sebuah vlog. Ada yang mengatakan dirinya tinggal di dekat kuil dengan umat yang sedikit. Dewa kuil dengan nama Arata. Sebaiknya kita ke tempat itu mencari informasi. Mengingat, monster dan iblis dapat hidup ribuan tahun."
__ADS_1