Master Of World

Master Of World
After Valentine Day


__ADS_3

"Ketemu..." Pemuda dengan rambut panjang terikat ke belakang itu menarik rambut Sora. Membuat sang wanita keluar dari air es yang membeku.


"A...aku akan mengikuti perintahmu. Lepaskan aku." Pinta Sora, diam-diam membekukan air hendak melempar pada tubuh Hiroshi. Mengatur strategi agar dapat membekukan sang monster. Kemudian kembali melarikan diri. Dan benar saja.


Srash!


Krak!


Tubuh Hiroshi disiram menggunakan air kemudian dibekukan. Sora yang merasa lega setelah tubuh monster tersebut membeku, mulai keluar dari air.


Krak!


Trang!


Sora membulatkan matanya, melirik ke arah sang monster.


"Kamu fikir aku bodoh? Wanita busuk..." Ucap Hiroshi tersenyum menyeringai. Hanya ingin mengetahui apa rencana rendahan wanita ini.


"A...aku benar-benar..." Kalimat darinya terhenti kala Hiroshi mendekat mencekik lehernya. Mengangkat tubuhnya.


"Sudah terlambat..." Kalimat penuh senyuman dari Hiroshi. Wanita yang mencoba melawan itu perlahan menghentikan gerakannya. Tatapan matanya kosong, persis seperti Jasper.


Pemuda yang kemudian menjatuhkan tubuh Sora ke atas tanah. Wanita yang tidak mengatakan sepatah katapun, fikirannya benar-benar kosong.


Sedangkan Hiroshi kembali berkeliling."Siap atau tidak! Aku akan mencari lagi!" teriakannya menggema ke seluruh penjuru hutan.


Sedangkan, ketiga orang yang tersisa sudah siap dengan strategi mereka. Tidak seperti biasanya, Enkai akan terlihat lebih santai. Namun, kali ini ada yang berbeda darinya entah apa itu. Jemari tangannya mengepal, monster yang dihadapinya merupakan monster dengan level tinggi.


Sebuah rencana yang sempurna. Benar-benar sempurna ribuan kupu-kupu hitam dan putih berada di sekitarnya. Bersiap untuk menyerang. Begitu juga dengan Arashi yang selalu melaporkan pergerakan Hiroshi.


Sedangkan Kairi menelan ludahnya sendiri. Mencari tempat teraman untuk meluncurkan semburan api gas metana. Rencana yang belum matang. Namun, dirinya harus mencoba. Tempat ini berada dekat dengan pusat kota. Jika kabut ilusi kembali di buat sang monster, maka tidak menutup kemungkinan orang-orang yang berada di kota akan terkena dampaknya. Kedai ayam goreng akan tutup, dirinya juga harus pindah dari kota ini.


Enkai menyipitkan matanya, menatap kedatangan Hiroshi.


"Hai!" Ucap pemuda itu ramah, mengetahui tempat persembunyian mereka semua.


Dengan cepat Kairi menyalakan api, menyemburkan gas metana. Namun Hiroshi tersenyum melompat menghindar."Tidak kena!" ejeknya.


"Kairi! Kiri!" Kordinasi dari Arashi, hingga Kairi mengubah arah serangannya.

__ADS_1


Sedangkan ribuan kupu-kupu milik Enkai bergerak cepat, hendak menebas sang monster.


"Kak Arata! Dulu kamu lebih hebat!" suara tawa sang monster terdengar membuat pusaran angin di sekitarnya, menghempaskan kupu-kupu milik Enkai.


Enkai membuat pintu dimensi masuk ke dalam tengah pusaran angin. Yang bagian dalamnya memiliki diameter sekitar 10 meter, tempat Hiroshi berada.


Api milik Kairi yang ikut terhisap membuat pusaran api yang panas. Namun ada yang aneh dua orang yang ada di dalamnya tidak terbakar sama sekali. Tetap bertarung dalam pusaran angin berlapis api.


"Bodoh!" Suara tawa Hiroshi terdengar. Melompat menyerang Enkai.


Pusaran angin menghilang menyisakan pepohonan yang terbakar di sekitarnya. Enkai kali ini bergerak mundur, setelah beberapa kali terkena serangan dari Hiroshi. Sedangkan Kairi dan Arashi, bersembunyi dalam jarak yang aman mencari celah untuk menyelamatkan Enkai.


Pemuda yang tetap tenang, mengipas dirinya sendiri menggunakan kipas putih miliknya."Seperti baru keluar dari sauna." Keluh Hiroshi penuh senyuman.


"Aku tidak akan membiarkanmu terlepas ke kota." Kalimat yang diucapkan Enkai.


"Aku tidak akan membuatmu, melupakan manusia yang memuakan." Hitoshi mulai serius, pupil matanya berubah menjadi berwarna keunguan. Sinar putih berada di sekitarnya.


Memasang gerakan aneh, memundurkan kipasnya. Sedangkan Enkai membuat gerakan memundurkan pedangnya ke belakang. Gerakan aneh yang serupa.


Dua orang yang bertarung, beberapa goresan terlihat di pohon maupun batu.


"Kak Arata!" teriak Hiroshi tersenyum senang.


"Aku bukan Arata! Jangan memanggilku kakak!" teriak Enkai murka.


Kipas besi, dengan sutra khusus, melawan pedang milik Enkai. Saling menangkis, hingga dua mata itu beradu saling menghentikan pergerakan.


"Kamu begitu pengasih dan penyayang hingga mengijinkan semua orang memanggilmu kakak. Lebih tepatnya orang angkuh yang sombong! Membuang semua orang yang peduli padamu!" Hujatan dari Hiroshi. Meningkatkan kembali level kemampuannya.


Srash!


Kipas milik Hiroshi berhasil menggores tubuh Enkai. Pemuda yang tertunduk dengan luka cukup dalam, darah mengalir dari bagian dadanya.


Hiroshi, mengibaskan darah dari kipasnya. Berjalan mendekati Enkai."Masih sama saja seperti dulu. Membuang orang yang peduli padamu. Arata, kali ini kami yang akan membuangmu..." Kalimat dari Hiroshi, hendak kembali mengibaskan kipasnya.


"Apa aku akan mati disini?" batin Enkai, menutup matanya.


"Kita pulang," Suara seseorang terdengar, suara yang dikenali olehnya. Apa ini imajinasinya saja? Namun kala membuka matanya Sena memang ada di sana.

__ADS_1


"Pulang?" batin Enkai, dirinya memang ingin pulang. Tinggal di rumah, makan malam bersama wanita ini. Tangannya terangkat ingin meraih Sena yang mengapung di udara.


Tapi wanita itu hanya diam dengan wajah dinginnya."Kita tidak pernah saling mengenal," kalimat yang diucapkannya pada Enkai.


Kata yang membuat Enkai tertegun, wanita ini membuangnya?


"Sena," panggilnya dengan suara kecil, mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Hiroshi! Panggil Hiroyuki, kita akan pulang." Ucap Sena berbalik, memang seolah-olah tidak mengenal Enkai sama sekali.


"Baik..." Hiroshi tersenyum, mengikuti Sena yang melayang pergi entah kemana. Wajah pemuda yang tersenyum sinis melirik ke arah Enkai. Tapi hanya senyuman sekilas.


"Jangan khawatir, dalam satu minggu. Manusia-manusia yang kamu cintai akan kembali seperti semula. Senang bermain denganmu Arata!" teriak monster tersebut, terbang lebih cepat guna mengejar Sena.


Enkai terdiam mengepalkan tangannya. Tubuhnya benar-benar lemas."Ini hanya ilusi. Dia hanya membuat ilusi," gumamnya dengan kesadaran yang memudar.


*


Langit sudah terang kala Enkai terbangun. Pemuda yang bangkit, dengan cepat duduk di atas tempat tidurnya."Aku hanya bermimpi..." gumamnya berusaha tersenyum dengan bibir bergetar. Air matanya mengalir, merasa ketakutan saat ini.


Matanya menelisik, tempat tidur di sampingnya kosong. Suara benda dari luar terdengar. Mungkin Sena tengah menyiapkan sarapan, itulah yang ada dalam fikirannya.


Melangkah dengan cepat, membuka pintu. Namun, kala pintu dibuka, langkahnya terhenti. Kairi ada di sana menyiapkan makanan dengan Arashi.


Ruang tamu yang penuh dengan dekorasi aneh, benar-benar terkesan norak. Kemarin adalah tanggal 14 February.


"I...itu hanya mimpi," ucapnya pelan, berharap ini hanya mimpi yang akan berakhir.


"Kamu sudah bangun? Kami ragu untuk membawamu ke rumah sakit. Takut jika kamu diteliti oleh dokter karena dapat menyembuhkan luka dengan cepat. Karena itu kami membawamu pulang ke rumah." Ucap Arashi, menghidangkan sup diatas meja makan.


"Ke... kenapa kalian yang memasak? Dimana Sena?" tanyanya hanya ingin memastikan. Dirinya ketakutan, benar-benar ketakutan saat ini.


Dua orang itu terdiam saling melirik. Menghela napas kasar.


"Kamu harus merelakan istrimu kabur dengan pria lain. Kalau di fikir-fikir Hiroshi itu lebih humoris. Jadi memang lebih cocok dengan Sena yang introver. Bersabarlah sebagai suami teraniaya kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan Sena akan mati, jenazahnya terkena tabung gas yang menggelinding, masuk ke dalam cor-coran semen, terakhir ketika di kubur meteor jatuh ke atas kuburannya." Penjelasan dari Kairi berusaha menghibur.


Plak!


"Meteor kepalamu!" bentak Arashi menghela napas kasar. Melihat Enkai masih tertunduk.

__ADS_1


"Awalnya aku mengira itu bukan Sena. Semacam ilusi atau makhluk yang menyamar. Tapi setelah mengantarmu pulang, Sena tidak ada di sini lagi..." Penjelasan dari Arashi.


"A...apa jika aku berhenti menjadi Hunter dia akan pulang?" gumam Enkai berusaha tersenyum dengan air mata yang mengalir.


__ADS_2