Master Of World

Master Of World
Menghina


__ADS_3

Pintu celah dimensi terbuka. Jalan menuju sebuah desa terpencil. Enkai menghela napas kasar, memijit pelipisnya sendiri."Kenapa tempat ini?" tanyanya.


"Memang benar, didekat sini tempatnya. Menurut vlog, tentang Arata hanya sedikit orang yang mengetahuinya." Ucap Arashi.


Kairi sedikit melirik, menghela napas berkali-kali."Kamu mencari situs yang membahas tentang takhayul..."


"Beberapa darinya mungkin kenyataan. Buktinya Arata benar-benar ada bukan?" Komat-kamit mulut Arashi mengomel.


Tiga orang yang masuk ke bagian dalam desa. Tidak begitu banyak penduduk yang terlihat. Benar-benar desa terpencil di kaki gunung. Beberapa kali juga mereka bertanya tentang kuil yang dimaksud. Tapi tidak ada satu orang pun yang tahu.


Hingga pada akhirnya, mereka bertanya pada seorang kakek tua."Kuil ini? Ada di atas bukit! Jangan ikut berdoa disana. Kuil itu milik iblis.".


"Milik iblis!?" Gumam Kairi. Mereka saling melirik, ingin melanjutkan perjalanan mencari informasi tentang Arata tapi ragu.


"Terimakasih..." Hanya itu ucapan dari Enkai. Berjalan melewati sang pria tua.


"Apa kita lanjutkan?" tanya Arashi ragu.


"Hanya ini satu-satunya informasi bukan? White day sudah dekat..." Jawaban aneh dari Enkai.


*


Berjalan cukup jauh, benar-benar jauh. Barulah tangga yang entah ada berapa undakan terlihat. Dengan pilar merah besar bagaikan gerbang.


"Jika Arata adalah dewa kuil, berarti tidak dapat ditemui. Hanya dapat bertanya pada Miko penjaga kuil." Enkai menghela napas berkali-kali menelan ludahnya sendiri.


"Ini satu-satunya jalan." Arashi ikut-ikutan menghela napasnya. Tiga orang yang pada akhirnya menaiki anak tangga menuju kuil.


Tangga yang benar-benar tinggi. Kuil itu terlihat, mungkin setelah mereka menaiki ratusan anak tangga. Kuil yang benar-benar bersih. Tidak seperti bayangan mereka, kuil kotor yang terbengkalai. Tapi seperti kata penduduk desa, tidak ada satupun umat disana.


Suara seseorang yang berbicara terdengar. Pada akhirnya mereka berjalan ke belakang area kuil, mencari asal suara. Satu keluarga yang menjadi Miko di kuil ini. Terdiri dari seorang pria tua, wanita paruh baya, serta seorang pemuda yang mungkin seumuran dengan Enkai.


"Maaf kami ingin bertemu dengan Miko disini, apa boleh?" tanya Arashi ramah.

__ADS_1


Tiga orang yang menoleh bersamaan terlihat ramah."Mari masuk," ucap sang kakek tua. Berjalan ringkih, membawa rumput yang telah dicabut di punggungnya.


Rumah tradisional, mereka duduk bersimpuh di lantai beralaskan bantal khusus. Sang wanita paruh baya menghidangkan teh dan semangka. Mengingat musim semi telah tiba, udara menjadi sedikit lebih hangat.


Suara kumbang terdengar, benar-benar tempat yang tenang. Diiringi kincir angin kecil yang berbunyi.


Suara bambu yang tertiup angin, mengantarkan hawa kedamaian. Bisa dibilang tempat yang benar-benar jauh dari perkotaan.


Sang kakek kini duduk di hadapan mereka. Terlihat dari peralatan di rumah ini. Mereka juga bekerja di lahan sebagai petani.


"Jadi apa tujuan kalian kemari?" Tanya Jiro, pemuda yang seusia dengan Enkai. Cucu dari sang kakek tua.


"Begini, kami sedang melakukan riset sejarah. Karena itu kami ingin mengangkat sejarah kuil ini. Saya Kairi dan ini teman saya Enkai dan Arashi." Alasan dari Kairi.


"Tentang kuil ini? Kalian pasti sudah mendengar rumor kuil ini adalah milik iblis." Gumam sang kakek tua.


"Tujuan kami ingin mengetahui tentang Arata." Ucap Enkai to the points.


"Anak muda memang tidak sabaran." Sang kakek menghela napas kasar, meminum tehnya. Matanya menelisik, tidak seperti mahasiswa atau orang-orang yang ingin membuat konten di media sosial. Mereka tidak membawa buku catatan atau alat perekam. Mungkin memang ada tujuan khusus dari ketiga orang ini, untuk datang.


"Biasanya para dewa enggan menampakkan wujudnya ketika menolong manusia. Tapi tidak dengan Arata. Dia terang-terangan membantu manusia, membuat manusia pada saat itu membuatkan kuil ini untuknya. Arata sebenarnya dewa yang baik, hanya saja dia sombong dan terlalu menonjolkan diri. Menyimpan sedikit energi miliknya dalam batu prasasti. Berkata jika itu akan dibagikan pada umat manusia suatu hari nanti. Hingga semakin banyak manusia yang datang menjadi umat di kuil ini. Berharap mendapatkan kemampuan dari Arata." Penjelasan tenang dari sang kakek.


"Lalu apa yang terjadi?" Enkai semakin penasaran.


Sang kakek mengambil kacamata bacanya. Meraih buku tua yang mungkin sudah disalin dari generasi ke generasi. Buku yang mungkin disalin sang kakek ketika usianya masih muda. Karena buku asli, tidak mungkin dapat bertahan ribuan tahun.


"Arata mati di hari pernikahannya. Dewa yang mengalami luka dalam. Tugasnya adalah menjaga perbatasan neraka dan alam manusia. Jika dia terluka maka gerbang perbatasan akan hancur. Saat itulah invasi pertama monster dan iblis terjadi 2300 tahun yang lalu. Tidak ada keterangan yang jelas, tentang penyebab luka dalamnya. Yang pasti dia mati untuk menghentikan monster dan iblis yang merangkak masuk ke dunia manusia dari neraka." Sang kakek melepaskan kacamata bacanya. Menghela napas kasar."Hanya itu keterangan tentang Arata."


"Arata mati untuk menyelamatkan manusia bukan? Lalu kenapa kuil ini sepi?" Satu pertanyaan yang ada di benak Arashi pada akhirnya diucapkan olehnya.


"Dewa kuil sudah mati, pada awalnya banyak yang mendatangi kuil sebagai rasa terimakasih mereka. Tapi berapa lama? Tidak akan sampai dua generasi mereka akan melupakan Arata. Apalagi Arata benar-benar sudah tidak ada. Maka tidak ada yang akan mengabulkan doa mereka. Kuil ini menjadi terlupakan, tidak seperti kuil-kuil lainnya. Dimana benar-benar memiliki dewa yang akan mungkin mengabulkan harapan mereka, dewa yang tidak terlihat tinggal di kahyangan. Kuil ini hanya kuil tanpa Dewa..." Ucap sang kakek tua dengan tenang.


"Lalu kenapa kakek masih tinggal dan merawat kuil?" tanya Arashi tidak mengerti.

__ADS_1


"Leluhurku adalah Miko pertama kuil ini. Begitu juga dari generasi ke generasi. Tempatku tumbuh dan dibesarkan. Tidak tau bagaimana dengan cucuku, tapi aku harap dia juga akan tinggal." Sang kakek menghela napas kasar menatap ke arah lonceng angin yang sedikit berbunyi akibat angin hangat yang berhembus.


"Tapi jika kalian benar-benar ingin bertemu dengan Arata. Dia sudah berjanji akan kembali saat segel yang dibuatnya 2300 tahun lalu retak. Kalian hanya harus mencari alamatnya. Mungkin di google map akan ada." Candaan dari Jiro, cucu sang kakek tua.


Sang kakek memijit pelipisnya sendiri, mendengar candaan cucunya."Arata memang berjanji, sebelum tubuhnya lenyap. Semuanya tertulis dalam buku milik leluhurku."


"Lalu kenapa kuil ini dikatakan sebagai milik iblis oleh warga sekitar?" Enkai mengenyitkan keningnya, menatap curiga. Mungkin saja Arata adalah musuh terbesar yang sesungguhnya. Fikiran yang benar-benar buruk, mengingat Hiroshi yang menyebutkan nama itu berkali-kali. Mungkin saja Arata adalah komplotan mereka.


"20 tahun lalu, saat gerbang retak, invasi iblis dan monster terjadi di seluruh belahan dunia. Banyak korban jiwa saat itu. Cucuku yang baru berusia tiga bulan hampir dimangsa iblis. Aku mencari cara untuk menyelamatkannya tapi tidak bisa. Hingga, satu hal yang aku ingat tentang legenda turun temurun. Arata menyimpan sedikit demi sedikit energinya dalam prasasti selama ratusan tahun sebelum kematiannya. Bertaruh dalam kepanikan, batu prasasti aku hancurkan menggunakan martil. Puluhan ribu sinar kecil aneh keluar dari dalam kunang-kunang. Menyebar ke seluruh belahan dunia, orang-orang yang beruntung mendapatkan kemampuan darinya. Termasuk putriku. Dia sendiri yang membunuh monster untuk menyelamatkan anaknya." Jawaban dari sang kakek tersenyum ke arah putri dan cucunya.


"Jadi dari sini kemapuan para Hunter berasal?" tanya Arashi antusias.


Sang kakek mengangguk."Tapi karena sinar kecil aneh yang menyebar, berdekatan dengan waktu kedatangan monster dan iblis. Warga sekitar, mengira ini perbuatan dewa kuil. Mengingat tugas Arata adalah menjaga perbatasan alam manusia dan neraka. Mereka menyebut kuil ini dengan kuil iblis."


"Apa Arata begitu hebat, apa ada kemungkinan dia berkomplot dengan iblis dan monster untuk menguasai dunia!? Bisa saja dia berambisi menguasai dunia manusia, menebar kejahatan." Pertanyaan antusias dari Kairi.


Pertanyaan yang terlalu berani, disadari oleh Arashi dan Enkai. Diam-diam kedua orang itu memasuki celah dimensi, kabur meninggalkan Kairi yang cari mati.


Sang kakek menahan senyumnya, rasanya ingin mencabik-cabik pemuda ini."Ambilkan sapu!" perintah sang kakek.


*


Dan benar saja, sesi mencari informasi yang berakhir dengan kericuhan.


"Ampun kek!" teriak Kairi, yang tengah diikat pada pohon dipukuli menggunakan sapu.


Sedangkan sang kakek menggunakan jepitan jemuran di hidungnya. Tidak ingin mencium aroma busuk Kairi."Berani-beraninya kamu menghina dewa kuil tanpa bukti! Karena Arata, kamu masih hidup dan mempunyai kemampuan busuk ini!" bentak sang kakek memukul Kairi tanpa henti.


Plak!


Plak!


Plak!

__ADS_1


"Kamu tidak menolongnya?" tanya Arashi pada Enkai. Dua orang yang bersembunyi di atas pohon.


"Tidak entah kenapa aku kesal saat dia menuduh Arata. Karena hanya aku yang boleh menuduhnya!" Kalimat dari Enkai penuh senyuman.


__ADS_2