
Sedikit melirik menelan ludahnya, namun baru hanya bagian kaki hingga pusar. Dirinya menatap kupu-kupu yang terbang di sekitarnya. Tiba-tiba saja seekor kupu-kupu dengan sayap berlian hitam beracun, menghampiri kupu-kupu putih. Mungkin Light sudah mengantisipasi Kairi akan tergoda. Tanpa mengetahui apa godaan terbesar bagi Kairi.
"Sena br*ngsek! Aku tidak akan mengkhianati Light!" Teriaknya menutup mata, sambil mendorong kepala makhluk itu dengan cukup kencang. Melarikan diri dengan cepat. Sumpah demi apapun, dirinya tidak takut pada monster kelelawar jika taruhannya dapat memeluk dan melucuti pakaian Sena sekalian. Tapi yang ditakutinya adalah Light.
Monster kelelawar mungkin hanya akan menghisap darahnya hingga kering. Tapi Light!? Dirinya akan diracuni dengan racun korosif dibiarkan mati perlahan dalam penderitaan. Tubuhnya mungkin akan dicabik-cabik oleh kupu-kupunya. Atau mungkin untuk pakan kupu-kupu monster pemakan daging miliknya?
Jadi satu kesimpulan yang diambil, terkadang teman yang menjadi musuh lebih menyeramkan daripada musuh yang benar-benar musuh dari awal. Karena belati yang dipegang teman akan lebih menancap ke hati, dibandingkan dengan pedang yang dipegang lawan.
"Kairi, aku mencintaimu..."
"Kairi, mau ikut aku?"
"Kairi, biar aku masakkan makanan kesukaanmu. Mau aku suapi?"
Lebih banyak monster lagi yang terlihat menampakan suara Sena. Dengan cepat Kairi berlari sambil berteriak."Aku tidak akan tergoda meskipun kalian tidak memakai baju! Light terlalu mengerikan! Aku tidak ingin dikejar sampai ke neraka olehnya jika ketahuan!"
*
Mereka bertiga bukan? Arashi dan Kairi tengah memasang bendera formasi. Sementara Enkai harus berjalan menuju bagian tengah formasi. Tujuannya adalah melemahkan monster-monster ini, setidaknya hingga musim kawin mereka berakhir.
Tidak ingin ada korban hanya untuk membuat monster-monster ini melahirkan bayi-bayinya dengan baik. Sejatinya pada keadaan normal monster kelelawar hanya melahirkan satu bayi. Namun, jika memiliki banyak makanan dan minuman berupa darah dan daging dapat melahirkan lebih dari 20 bayi monster.
Karena itu cara satu-satunya adalah melemahkan energi mereka.
Kabut semakin tebal, mungkin ini wilayah pemimpin kelompok mereka. Namun ada yang berbeda kala kabut itu menipis.
Tempat ini berubah menjadi seperti istana raja neraka 2300 tahun lalu. Tandu pengantin wanita kala itu baru saja turun. Wanita yang membuka kain merah yang menutupi wajahnya sendiri. Berjalan mendekati Enkai.
Namun, Enkai hanya menunduk, menatap ke arah kakinya sendiri."Arata, kamu tau yang paling menyakitkan? Yang paling menyakitkan adalah ketika kamu mencintai seseorang. Bersedia mengikutinya kemanapun, bahkan jika diminta, bersedia mati untuknya. Tapi orang itu membencimu. Benar-benar membencimu. Setelah 236 tahun hubungan kita, hanya ini yang aku dapatkan?" Tanya wanita yang terdengar seperti suara Hime.
Dirinya terdiam, menuduh tidak ada apapun yang dapat dikatakannya.
"Jika bisa aku ingin kembali menjadi sebatang pohon. Tidak memiliki hati sama sekali, Arata..." Benar-benar suara panggilan Hime. Sepatu indah yang disulam berbentuk bunga dan seekor kupu-kupu. Wanita itu sendiri yang menyulamnya, sulaman yang benar-benar indah, menyiapkan segalanya menyambut pernikahan mereka.
__ADS_1
Tidak seperti wanita yang terbiasa tinggal di khayangan lainnya. Pelayan Dewi yang bersedia tinggal dan menginjak tanah neraka itulah Hime.
"Aku ingin melihat wajahmu sebelum kematianku." Wanita di hadapannya kembali berucap, jemari tangan itu memerah. Pertanda tubuhnya mulai terbakar dari dalam.
Pada akhirnya air mata Enkai mengalir. Ini bukanlah kata-kata yang diucapkan Hime saat itu. Wanita itu hanya tersenyum, meminum sebotol arak beracun. Dirinya mencoba menghentikan, namun semua terjadi terlalu cepat. Akibat dari kata-katanya saat itu.
Wanita yang berusaha tetap tersenyum, tubuhnya memerah, terbakar habis dari dalam, menjadi abu hanya dalam dua detik, mengingat racun tingkat tinggi yang diberikan, jumlah yang diminum juga berkali-kali lipat lebih banyak dari Arata. Tidak ada yang tersisa, hanya sebuah sepatu bersulam bunga dan seekor kupu-kupu putih, gaun merah dan perhiasan indah. Tubuhnya? Hanya menjadi abu.
"Arata...aku mencintaimu. Kenapa tidak percaya padaku?" tanya wanita yang benar-benar menyerupai suara Hime. Tangan itu terbakar tapi lebih lambat daripada kejadian sebenarnya."Arata lihatlah aku..."
Namun, tanpa diduga Enkai mengangkat wajahnya. Pemuda yang tersenyum."Tentu aku akan melihat wajahmu yang memuakkan! Berani-beraninya kamu meniru Hime!?" ucapnya murka.
Monster kelelawar yang dapat membaca memori makhluk hidup itu tersenyum dengan wajah menyerupai Hime. Lebih tepatnya menyerupai Sena, namun terlihat lebih dewasa.
Tapi yang berbeda saat ini, karena pemuda ini menoleh, berarti pemuda ini adalah makanannya. Sobekan mulai terlihat dari bagian ujung bibir hingga pipinya, taring-taring kecil yang bagaikan taring hiu menghiasi sobekan tersebut.
Srak!
Dan benar saja sekali serang tubuh Enkai ditembus olehnya menggunakan tangannya yang memiliki kuku-kuku tajam, dari bagian perut hingga menembus punggung.
Srak!
Sang monster menarik tangannya. Hendak kembali menyerang dengan kukunya. Tapi Enkai menahan menggunakan satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain mengancungkan dua jari.
Srak!
Bagaikan setajam pisau bedah, dua jari yang memiliki energi aneh itu digerakkan seperti pedang.
"Agghhh..." Jerit monster yang terpotong menjadi dua bagian, beberapa detik kemudian berubah menjadi bangkai kelelawar.
Beberapa monster kelelawar lain mengintip, mencium bau darah yang sempat keluar dari luka di bagian perut Enkai. Ratusan monster kelelawar yang datang. Semuanya memakai gaun merah kuno bersulamkan benang emas yang dipakai Hime di hari pernikahannya.
"Arata... kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apapun, tapi kenapa kamu menginginkan kematianku?"
"Arata..."
Suara-suara yang diiringi tangisan. Tapi kali ini Enkai semakin marah lagi. Sinar merah terlihat dari bawah kakinya mungkin kemampuan yang meningkat menjadi 2,3 % dari kemampuannya sebelumnya.
"Kalian hanya merusak nama baik Hime! Dia tidak pernah marah padaku atau mempertanyakan perintahku!" Ucap Enkai mulai bergerak cepat, ribuan kupu-kupu berkumpul di sekitarnya terbang tidak terkendali. Seakan semakin mengganas.
"Kalian bahkan meniru sulaman di sepatunya yang dibuat susah payah? Dia berkata dia adalah sebatang pohon dan aku kupu-kupu yang menemaninya. Kalimat yang kalian katakan tidak mirip dengan Hime! Bualan! Br*ngsek!" Umpat Enkai dengan sengaja melihat wajah mereka satu-persatu. Pemuda yang bertambah murka saat ini, level kemampuan kembali merangkak naik 3,2%.
Bersamaan dengan itu semua monster kelelawar mendekat hendak menyerang. Enkai berlari dengan cepat jari tengah dan telunjuknya masih mengacung bagaikan membentuk pedang dari kilatan cahaya.
Ratusan kupu-kupu bergerak.
Srak!
"Agghh!" suara pekikan beberapa monster terdengar.
Srak!
Srak!
Beberapa monster berhasil ditebasnya, tapi ada juga yang berhasil menyerangnya. Pergelangan tangan Enkai sempat terputus oleh tajamnya kuku-kuku mereka. Tapi dalam beberapa detik tersambung kembali bagaikan tidak pernah terluka sedikitpun.
Wajah pemuda itu tersenyum, kembali menyerang ratusan monster yang datang secara membabi-buta. Tidak peduli tubuhnya yang dicabik-cabik. Ratusan kupu-kupu iblis pemakan daging miliknya bahkan lebih mengerikan.
"Agghhh!"
Suara teriakan para monster semakin banyak terdengar seiring munculnya ulat raksasa dari dalam tubuh mereka. Ulat ganas yang memakan tubuh mereka dari dalam. Benar-benar mengerikan, terkesan menjijikkan. Satu-persatu Tubu monster itu pecah dari dalam digerogoti ular yang semakin besar saja. Sedangkan kupu-kupu hitam bergerak terbang cepat menyayat-nyayat tubuh para monster kelelawar.
Srak!
Tubuh Enkai kembali diserang menggunakan panah oleh satu monster. Menembus dari bagian dada hingga punggung.
__ADS_1
Tangan Enkai bergerak mencabut anak panah di dadanya sendiri."Br*ngsek! Berani-beraninya kamu menggunakan penampilan Hime kemudian memanahku!?" teriaknya lebih murka lagi. Menghempaskan tangannya hingga ratusan panah cahaya terbang menembus sang monster.
3,4 % tinggal kemampuan Arata yang kembali. Tidak menyadari semakin dirinya murka maka akan lebih cepat keadaan kembali seperti semula.