Master Of World

Master Of World
Pelajaran


__ADS_3

Semua orang terkejut dengan hasilnya. Mungkin hanya satu orang yang tidak terkejut, tentu saja anak itu sendiri. Tidak ada yang berani berkomentar atau berucap mengingat anak raja neraka yang berasal dari klan iblislah yang memiliki potensi tertinggi. Bahkan hasil yang tidak pernah didapatkan satu orang pun.


"Makan yang banyak ya?" Ucap raja neraka, ingin tertawa mengejek rasanya, potensi yang begitu besar dimiliki putranya tersayang. Mengusap-usap pucuk kepala Arata.


"Pasti ada yang salah dengan bola ini..." Ucap Dewa yang membacakan hasil. Bagaimana bisa orang dari suku iblis mengalahkan potensi kemampuan dewa. Sedangkan kaisar langit berusaha tersenyum, walaupun sejatinya kesal.


Ini adalah acara yang diselenggarakan 1000 tahun sekali. Tidak boleh kacau sama sekali hanya karena sebuah bola. Acara untuk menguji kemampuan para putra dari Dewa.


"Acara kedua akan dimulai! Pengujian potensi untuk menghidupkan benda mati." Ucap Dewa yang bertugas, memanggil mereka sesuai urutan dengan bangkai makhluk hidup di hadapan mereka.


Ada beberapa yang berhasil kembali menghidupkan, bahkan menyembuhkan. Tapi lebih banyak juga yang gagal.


Namun, para pangeran putra kaisar langit rata-rata dapat melakukannya. Hingga makhluk hidup sembuh sempurna dari lukanya.


Seperti biasanya giliran terakhir adalah Arata. Kala anak itu maju, dirinya hanya terdiam. Tidak ada bangkai hewan yang dapat dihidupkan olehnya.


"Maaf, kami kehabisan bangkai hewan, mungkin kamu bisa mencoba 1000 tahun lagi. Sekali lagi, maaf ini kesalahan kami." Ucap sang dewa penguji, bagaikan sengaja.


Arata mengenyitkan keningnya, melihat aura suram dari ayahnya yang duduk di kursi paling belakang antara ratusan dewa. Ayahnya mungkin kesal merasa putranya dipermalukan, apalagi Arata adalah anak kesayangan. Suku iblis jika sudah marah akan sulit ditenangkan.


"Daripada ayah marah..." gumam sang anak k*mpret, melompat turun, mengambil dua ekor ikan yang sudah dimasak pelayan. Hendak dihidangkan.


"Yang penting bangkai hewan kan?" tanya Arata, dengan ekspresi yang benar-benar datar, membuat ingin rasanya memukul wajah tampannya yang menyebalkan.


Ikan yang sudah siap masak itu diletakkannya, kemudian dialiri energi. Namun, mungkin karena gugup, energinya menjadi berlebihan. Sinar terang terlihat, dua ekor ikan yang sudah siap masak itu, bukan hanya hidup kembali dan sembuh, bahkan berevolusi.


Dua ikan yang memiliki setengah tubuh manusia terlihat. Benar-benar setengah badannya manusia, tapi dari bagian pinggang hingga ekor tetap ikan.


"Kami hidup!" teriak mereka bersamaan memiliki kecerdasan seperti manusia.


Hasil yang mengejutkan sekaligus menyebalkan. Mungkin setengah manusia dan setengah ikan.


"Biar aku yang mendahului, hasilnya lulus kan?" Ucap Arata berjalan tanpa dosa ke tempat ayahnya. Sedangkan dua makhluk aneh yang baru diciptakan olehnya dilempar dari khayangan menunju lautan di alam tengah oleh dua orang pengawal.


Benar-benar anak menyebalkan. Tidak akan kalah, anak ini tidak mungkin memang di semua bidang bukan? Tapi kenyataan terkadang tidak sesuai ekspektasi.

__ADS_1


"Setengah manusia setengah ikan? Kamu membuat ras monster lainnya? Benar-benar anakku memiliki bakat pencipta!" Suara tawa raja neraka terdengar membanggakan putranya tercinta. Tidak ada yang menyahut atau melakukan apapun.


Mereka harus menahan kesabaran, bagaimanapun raja neraka, walaupun bukan dari ras dewa menguasai alam bawah. Suatu pekerjaan yang tidak ingin diambil dewa manapun. Tinggal di tempat panas, sekaligus dingin, tempat dimana para monster dan iblis menghukum roh manusia. Tidak hanya itu urusan kelahiran dan kematian yang tidak ada habis-habisnya. Karena itu jika raja neraka berhenti menjalankan kewajibannya, siapa yang akan mau mengambil alih tugasnya.


Suara tawa yang terus terdengar membanggakan Arata. Itulah kenyataannya, putranya memang jenius muda.


*


Tempat yang lapang kali ini ratusan meja perjamuan disiapkan. Seperti sebelumnya, kali ini kompetisi berkuda, sekaligus memanah. Kompetisi yang sejatinya sama dengan di dunia manusia. Namun, ini juga penting, peraturan yang tidak boleh menggunakan sihir sama sekali penyebabnya. Mengatur fokus strategi tidaklah mudah.


Putra pertama kaisar langit yang sudah terbilang dewasa yang paling menonjol disana. Sementara Enkai masih menikmati makanannya, menunggu gilirannya.


Seorang pelayan datang menyajikan makanan."Makanan ini berasal dari beberapa olahan daging dan tanaman dari alam tengah." Ucap sang pelayan menjelaskan.


Anak yang memakan sedikit demi sedikit. Hingga menyadari ada yang menyangkut di giginya. Dirinya terdiam sejenak mengeluarkan sesuatu yang ada di mulutnya."Biji?" gumamnya, menyipitkan matanya menatap benih kecil tanaman yang hampir tertelan olehnya.


"Apa makanannya tidak sesuai!? Berani-beraninya mereka memberikan makanan kotor pada putraku!" Raja neraka hendak bangkit. Namun Arata mencegahnya.


"Tidak apa-apa, aku akan menyimpan ini." Ucap Arata, meletakkan biji kecil di sakunya. Benar-benar seorang anak yang aneh.


Terlalu pendek, itulah dirinya sebagai peserta yang paling muda. Anak itu berusaha keras untuk menaiki kuda yang tidak mau diam.


"Naik saja susah! Bidang lain memang hebat! Tapi di bidang ini raja neraka tidak mempertimbangkan usia putranya!"


"Kesulitan naik? Astaga!"


"Bagaimana tangan sekecil itu bisa menarik panah?"


Namun tidak ada yang tahu selain ayahnya. Ini sudah biasa bagi Arata. Memanah objek yang bergerak. Lebih tepatnya menunggangi monster di neraka, sembari menembakkan panah api dengan roh manusia yang berlari ketakutan sebagai sasarannya.


Bukan orang yang baik, lagipula apa yang diharapkan dari putra raja neraka? Wajahnya tersenyum, gerakan monster tar lebih sulit dikendalikan dibandingkan seekor kuda. Anak panah yang terbakar jauh lebih menantang daripada busur dan anak panah yang kini dipegangnya.


Sasaran yang bergerak? Roh manusia yang menerima penghukuman, gerakannya lebih gesit untuk menghindar. Ini tidak ada apa-apanya.


Srash!

__ADS_1


Srash!


Srash!


Tiga kali dirinya menembakkan tiga anak panah sekaligus, jadi total ada 9 anak panah yang tertancap. Semuanya mengenai sasaran dengan sempurna.


Tidak sebanding dengan yang lainnya. Dialah putra kesayangan raja neraka."Aku pamit pulang, pengujian lainnya aku mengaku kalah tidak dapat mengikuti." Ucap Arata turun dari kudanya.


Lagipula siapa yang menginginkan kehadiran anak k*mpret ini disini. Total sudah tiga pengujian yang berhasil dilewatinya dengan baik. Aura kaisar langit juga terlihat suram. Pangeran pertama yang jauh lebih tua kebanggaannya tiga kali berturut-turut mendapatkan peringkat kedua.


"Kamu mau pulang?" Tanya Raja neraka, mulai bangkit. Kemudian memberi hormat guna meminta maaf pada dewa dan kaisar langit yang turut mengundangnya.


"Maaf, putraku masih terlalu muda. Mungkin dia masih ingin bermain di neraka, tidak begitu betah dikekang." Lanjut sang raja neraka tertunduk.


"Pulanglah," Ucap kaisar langit, dengan raut wajah lebih cerah, menatap kepergian dua orang dari suku iblis ini.


Arata ikut menunduk, benar-benar sopan untuk seukuran putra dari raja neraka. Berjalan pergi, ayah dan anak yang akan pulang ke alam bawah.


Namun tetap saja, pandangan sinis itu masih ada semakin kuat kejahatan maka akan semakin berbahaya. Itulah Arata di mata para dewa.


Semakin kuat putra mahkota dari raja neraka itu tidak menutup kemungkinan akan menyerang alam atas suatu hari nanti. Pupil matanya yang merah khas suku iblis masih diingat para dewa saat itu.


Pengujian kembali dilakukan tanpa kehadiran Arata, ada sekitar 108 pengujian. Untuk mendapatkan posisi dan pendidikan sebagai dewa.


*


Sementara apa yang dilakukan Arata kini? Anak itu meminta tandu ayahnya berhenti di alam tengah. Menanam biji tanaman yang hampir dimakannya di perjamuan.


"Kamu ingin pulang hanya untuk menanam tanaman ini?" tanya sang ayah.


Anaknya hanya mengangguk."Apa bisa hidup?" gumamnya meninggalkan biji kecil tanaman setelah disiramnya dengan air.


"Ayo kembali ke neraka." Ajak sang ayah.


"Iya! Kulit manusia yang melepuh akibat minyak panas. Apa sebaiknya lain kali masukkan langsung ke lahar?" tanya sang anak dengan pupil mata merahnya.

__ADS_1


"Ingat! Pertimbangkan dengan perbuatan mereka. Kalau terlalu buruk, kuliti dan cabut kuku-kukunya." Jawaban sang ayah mengajari putranya.


__ADS_2