
Tepat pukul 3 pagi, pemuda itu kembali. Membuat ruang dimensi, melepaskan dan menyembunyikan segalanya dalam sebuah kotak yang ada di atas lemari. Pemuda yang menghela napas kasar memakai piyama bermotif Teddy bear.
"Aku lelah!" teriaknya merasa lebih bebas melakukan apapun di tempat ini. Tempat ternyaman baginya, menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidurnya yang ada di atas lantai. Cukup keras memang, tapi mau bagaimana lagi. Jika menggunakan semua uang bayarannya sebagai Hunter sekaligus, maka identitasnya akan terbongkar. Hunter pemerintah atau Sena akan mengetahui segalanya. Setelah mengumpulkan uang, barulah dirinya akan menceritakan segalanya pada Sena. Seseorang yang dapat disebut sebagai sahabat olehnya.
Kala Enkai memejamkan mata, saat itulah Sena terbangun. Wanita yang pindah ikut tidur di bawah. Tidak apa jika pemuda ini tidak menyukainya, dan berakhir meninggalkannya untuk menikah dengan wanita lain yang dicintainya. Dirinya hanya dapat menikmati waktu yang sedikit ini, tidak ingin berada seorang diri.
Hanya sebentar, namun walau hanya sebentar terasa benar-benar nyaman. Enkai yang belum benar-benar tertidur mengenyitkan keningnya. Tidak mengerti dengan wanita ini, perlahan membalas pelukannya. Lalu ikut tertidur.
*
Pagi menjelang, jendela apartemen masih berembun, akibat hujan salju yang turun semalam. Seperti biasanya beberapa jenis makanan telah terhidang. Entah kenapa apapun yang dimasak wanita ini selalu enak, jamur, bahkan sayuran yang sebelumnya tidak pernah disentuh Enkai.
Matanya memincing ada yang aneh dari Sena saat ini. Biasanya wanita pemalu ini akan diam, tapi tidak sediam ini. Hari ini benar-benar hening tanpa suara.
"Sayurannya terasa sedikit dingin mau aku hangatkan?" tanya Enkai penuh senyuman cerah. Biasanya dengan sedikit saja kalimat ambigu wanita ini akan bersembunyi karena malu.
"Em..." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Membuat suasana lebih hening lagi.
"Ada apa dengan wanita si*lan ini?" Enkai semakin menyipitkan matanya memandang curiga.
"Semalam kamu sengaja jatuh ke tempat tidurku? Apa ingin kita melakukannya?" pertanyaan yang lebih ekstrim lagi. Tidak ingin didiamkan seperti ini, penuh harap wanita itu akan menyembunyikan wajahnya, tersipu-sipu seperti biasanya. Pemuda yang menunjukkan pesona maksimalnya, ingin membuat wanita ini kembali ke keadaan semula.
"Tidak, hanya jatuh saat tidur." Jawaban lebih datar lagi. Dengan nada yang benar-benar datar.
Tak!
Sumpit di tangan Enkai seketika patah, wajahnya masih berusaha tersenyum. Namun, senyuman yang dipaksakan, mengepalkan tangannya kesal.
__ADS_1
"Bisa katakan kata-kata lain?" tanya Enkai.
"Coba tanya lagi." Itulah jawaban dari Sena membuat suasana semakin hening lagi.
Satu detik, dua detik, hingga detik ke sepuluh, tidak ada suara hanya ada suara dari orang yang tengah menikmati makanannya.
"Kamu sebenarnya kenapa? Apa datang bulan!" teriak Enkai menggebrak meja murka, membuat Sena beringsut mundur akibat angin dari teriakan pemuda di hadapannya.
"Mungkin." Itulah jawaban dari Sena, ekspresi wajah yang kembali datar. Enkai mengenyitkan keningnya, ikut makan dalam perasaan kesal yang mendalam. Wanita memang makhluk yang susah dimengerti bukan?
Sedangkan Sena lebih berfikir tentang masa depan. Nikmati hari ini, tapi tidak boleh terlena dengan hari ini. Sekali lagi, berharap itu menyakitkan, jadi lihatlah cermin dan terima kenyataan.
Pemuda itu merasa semakin kesal saja. Karena itu, maaf hal buruk ini dirinya lakukan. Menjatuhkan sendok supnya, kala memungutnya di bawah meja maka semuanya akan terlihat jelas.
"Sena pakaian dalammu berwarna pink." Kalimat datar dari Enkai sembari makan.
Bug!
"Mesum!" teriak Sena segera berlari ke dalam kamar. Meninggalkan Enkai yang mulai tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Tertawa sambil kembali makan menggunakan sumpit yang baru.
*
Wanita yang bagaikan menggunakan perisai menjaga jarak darinya. Namun ketika berada di atas bis tetap tidur sambil saling menyandar. Ada apa sebenarnya dengan kedua orang ini?
Pemuda yang kembali terlelap, mengalami mimpi yang aneh.
"Agghhh!" teriakan seseorang sembari menangis terdengar. Seluruh tubuhnya terbakar api di hadapannya, tidak menyisakan apapun kecuali pakaian berwarna merah.
__ADS_1
Enkai segera terbangun, napasnya tidak teratur. Melihat orang mati? Itu sudah hampir terbiasa olehnya, mengingat banyaknya pembunuhan oleh monster dan iblis yang berkeliaran. Namun mimpinya jauh lebih mengerikan. Sebuah istana bangunan yang indah menjadi tempat dalam mimpinya. Istana yang besar, namun halamannya dipenuhi dengan pepohonan yang sudah mati.
Tanah berwarna hitam pekat, ditambah dengan jeritan memilukan dari manusia, neraka, mungkin hanya itulah menggambarkan tempat tersebut. Kepalanya terasa berdenyut sakit, air matanya mengalir entah kenapa. Mimpi terakhirnya, dirinya meraup abu yang berselimutkan pakaian merah, pakaian yang bahkan sulaman benangnya terbuat dari benang emas.
Apa yang sebenarnya terjadi? Enkai menghela napasnya berkali-kali. Ini hanyalah mimpi, tidak memiliki makna apapun. Hingga bis pada akhirnya berhenti di halte. Seperti biasanya dirinya membangunkan Sena.
Berjalan berdua menunju restauran ayam goreng milik mereka. Tidak menyadari seorang pemuda tersenyum memakai topi dan meminum minuman hangat, hanya menatap mereka yang melangkah pergi.
Tapi sejenak Enkai menghentikan langkahnya, merasa pernah melihat pemuda yang duduk seorang diri di halte. Bukan hanya di restauran ayam goreng. Namun, pemuda yang juga ada dalam mimpinya.
Kala Enkai menoleh ke belakang, pemuda tersebut terlihat telah memasuki bis. Mungkin karena terlalu sering bertemu di restauran, itulah yang ada di benaknya. Alasan dapat melihat pemuda itu dalam mimpinya. Bukan sebagai orang yang terbakar habis, namun seseorang yang berdiri di belakangnya tanpa ekspresi.
*
Hari ini restauran tidak begitu ramai. Namun Sena masih mendiamkannya. Tapi ada yang aneh dengan wanita itu. Dirinya tidak mengijinkan Enkai keluar dari dapur, bahkan saat Eiji menanyakannya.
Sena tertunduk mengepalkan tangannya. Ingin melindungi Enkai, dari Hunter pemerintah. Apa yang terjadi? Apa Enkai akan menerima hukuman berat? Itulah yang ada di fikirannya.
Hingga seorang pria yang terlihat mencolok masuk. Memakai celana pendek, serta kemeja dengan motif bunga besar, benar-benar norak bagaikan hendak liburan di pantai padahal ini musim dingin. Memakai sandal jepit, lengkap dengan topi jerami.
Wanita yang mengenyitkan keningnya, orang ini petinggi HO. Itulah yang ada di fikirannya kala menatap beberapa Hunter yang tengah memakan ayam goreng menunduk memberi hormat padanya. Bahkan Eiji sendiri memberikan mejanya.
"Jangan lakukan ini, aku sedang dalam misi penyamaran." Ucap Akihiro pada Eiji, berbisik dengan suaranya yang dengan mudah dapat didengar oleh Sena.
"Misi penyamaran kentutmu!" batin Sena mengenyitkan keningnya. Bahkan warga sipil sepertinya dapat mengetahui pria berusia 34 tahun ini adalah petinggi militer.
"Tuan mau pesan apa?" tanya Sena tersenyum ramah. Seperti biasanya menyembunyikan separuh wajahnya, menggunakan rambut bagian depannya.
__ADS_1
"Wajahnya terkena luka bakar. Apa dia benar-benar istri Light? Maksudku Enkai." Tanya Akihiro dengan berbisik pada ajudannya. Suara yang juga dapat didengar Sena.
Eiji yang juga mendengar menghentikan aktivitas makannya sejenak, menggeleng heran."Masih ada saja orang tidak waras yang menyangka Enkai adalah Light," batinnya.