
Pada akhirnya pemuda itu dapat tersenyum, berjalan menelusuri lorong menuju tempat Akihiro berada. Namun, kala dirinya melangkah Morie terlihat di sana.
"Kamu sedang apa disini?" tanyanya.
Enkai tidak menjawab, lebih memilih untuk pergi. Namun wanita yang sebelumnya terkena luka tembakan itu, kembali menghadang jalannya."Aku ingat, karenamu aku dipermalukan. Bahkan ada Hunter level tinggi yang memindahkan peluru milik Midori ke dalam perutku. Aku harus menjalani operasi karena pemilik kedai ayam kecil sepertimu."
"Hutangmu sudah lunas, selain itu kalian sudah membuat restauran ayam goreng milikku menjadi sepi. Seharusnya kamu yang kembali berhutang padaku." Senyuman menyeringai di wajah Enkai terlihat benar-benar sinis.
"Kamu hanya sampah! Bahkan pasanganmu wajahnya lebih buruk dari monster! Apa yang kamu harapkan!? Tapi cukup tampan, mau menghabiskan malam bersama kakak? Akan lebih banyak menghasilkan uang jika menjadi pria penghibur." tanya Morie tertawa kecil mengejek. Tidak menyadari seekor kupu-kupu yang terbuat dari besi tengah terbang di belakang lehernya.
Dapat membunuh tubuh rapuh wanita ini dengan mudah. Seseorang yang tidak menyadari nyawanya sedang terancam, mengeluarkan bola api dari tangannya, tiga bola api melayang di sekitar tangan Morie.
Namun, anehnya tidak ada raut wajah ketakutan pada diri Enkai sama sekali. Wanita sombong yang ingin menunjukkan kemampuannya di hadapan warga sipil.
"Kamu disini?" Seorang wanita memeluknya dari belakang, membekukan bola api yang dibuat Morie. Rambut putih, serta kupu-kupu besi yang terbang di belakang leher Morie, tentu saja dengan mudah Sora dapat mengenali Light.
"Sora dia ini..." Kalimat menggebu-gebu dari Morie terhenti, melihat betapa bucinnya atasannya.
"Namaku Sora, terakhir kali kita belum berkenalan..." Ucap wanita bertubuh menggoda dengan wajah rupawan itu, memainkan rambut panjangnya sendiri, serta membusungkan dadanya. Membuat pose indah dengan bentuk tubuhnya yang bahkan membuat semua pria ingin menjatuhkannya ke ranjang.
Enkai mengenyitkan keningnya. Kemudian berjalan melewati mereka. Tidak mengerti dengan apa yang dilakukan wanita ini. Sudah terbiasa, kala masa SMU-nya menjadi siswa idola. Tidak ada kesan sama sekali, hanya datar-datar saja.
"Setidaknya kita harus saling mengenal! Hingga dapat lebih dekat!" Gilanya lagi Sora berlari, kemudian bermanja-manja pada lengan Enkai. Pria yang tidak menggubrisnya sama sekali.
"Tunggu, Sora dia---" Kalimat Morie disela.
"Dia calon pacarku." Tatapan mengerikan dari Sora, seorang perwira wanita dari pasukan khusus.
__ADS_1
Enkai menghindar dengan berjalan cepat, namun dengan cepat juga Sora berusaha mengejarnya. Dua orang yang berlari mencari keberadaan Akihiro. Lebih tepatnya, Sora berlari mengikuti Enkai, sedangkan Enkai mencari Akihiro, sembari menghindar dari Sora.
Hingga akhirnya Akihiro terlihat memimpin jalannya pelatihan. Tapi anehnya sang ajudan tidak ada di sampingnya. Mata Enkai menelisik, berjalan mendekati Akihiro yang tengah ada di luar ruangan dengan suhu minus 5 derajat Celcius.
"Kamu? Kenapa kemari? Berubah fikiran?" tanya Akihiro, dijawab dengan gelengan kepala oleh Enkai.
"Dimana ajudanmu?" tanyanya.
"Dia mengeluh sakit kepala, kemudian pergi sekitar satu jam yang lalu. Memang ada apa?" Akihiro mengangkat satu tangannya, pertanda untuk sementara pelatihan di tunda. Sekitar 10 orang itu kembali memakai pakaian mereka, kemudian berlalu pergi. Sepuluh orang yang benar-benar hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan di udara yang terasa dingin.
"Dia diikuti," Jawaban dari Enkai.
"Diikuti?" tanya Akihiro tidak mengerti.
"Tidak sadar? Bayangannya terkadang bergerak berbeda dari tubuhnya." Jelas Enkai, sedangkan Akihiro terdiam sesaat, kemudian berjalan dengan cepat menunju ruangan keamanan. Ingin melihat CCTV HO.
Petugas yang gelagapan segera mencari rekaman CCTV terakhir."Dia meninggalkan HO satu jam yang lalu..." jawabnya menunjukkan rekaman CCTV dimana Shin memegangi kepalanya terhuyung-huyung, berusaha meninggalkan HO.
"Cari jejaknya sekarang! Retas CCTV jalan raya!" perintah Akihiro. Enkai terdiam sesaat, menghela napas kasar, pemuda itu bergerak secara acak. Bukankah seharusnya dikirim untuk melukai Akihiro, lalu kenapa meninggalkan kantor HO?
Angin menerpa tubuh sang pemuda, memegang erat topinya agar tidak terbawa angin."B*bi si*lan! Ingin menaikkan levelnya, jangan fikir aku tidak akan bertindak brutal!" gumam Furohito, yang kini ada di atas gedung pencakar langit. Mengetahui monster yang dikirimnya tidak lagi mengikuti Akihito.
Apa yang dicari sang monster? Makanan khusus, tanaman dari langit, atau mungkin daging makhluk langit, meningkatkan level kemampuannya. Untuk membunuh Furohito.
Ada beberapa disini, karena itu Furohito tidak dapat menentukan kemana b*bi si*lan itu akan pergi.
*
__ADS_1
Malam sudah semakin larut, Sena menguap beberapa kali. Ingin tertidur di ranjang yang hangat rasanya. Sekujur tubuhnya telah terasa pegal. Ditambah setelah ini harus menghubungi suplayer ayam potong.
Seorang pemuda tiba-tiba masuk, derap langkah memegangi kepalanya yang terasa sakit. Melangkah tanpa tujuan, tidak mengetahui kakinya membimbingnya ke tempat ini.
"Mungkin aku ingin membeli kompres dan obat," batinnya, sejatinya ingin berjalan menuju meja kasir. Namun, dirinya melawan keinginan aneh mencari kompres dan obat sakit kepala.
Sena menatap pria yang datang bersama Akihiro. Menghela napas kasar, tidak begitu peduli. Sesekali menatap ke arah cermin besar yang ada di sudut ruangan sebagai dekorasi. Wajahnya tersenyum, separuh wajahnya memang hancur, tapi separuhnya lagi tidak begitu buruk.
Namun, ada yang menarik perhatiannya monster seukuran tiga meter terlihat di cermin. Sena membulatkan matanya, segera menatap ke arah sudut ruangan tempat monster tersebut seharusnya berada.
Tapi yang terlihat di sana hanya sang ajudan, dari lencananya terlihat seorang Hunter level A. Tangan Sena gemetar saat ini, beberapa kali menoleh pada cermin dan sang pemuda. Masih terlihat sama saja, bayangannya bukan seorang pemuda berseragam biru. Melainkan monster berbentuk b*bi.
Tangannya gemetar, berusaha menghubungi Enkai."Angkat!" gumamnya dengan suara kecil ketakutan.
Enkai saat ini tengah mencari di beberapa lokasi. Berlari menaiki tangga apartemen tempat tinggal Shin (sang ajudan). Suara phonecell berbunyi, namun hanya mematikannya tanpa berniat melihat siapa yang memanggil.
Air mata Sena mengalir saat ini, wanita itu gemetar. Monster tersebut menoleh padanya, menyadari Sena terus menatap ke arah cermin. Wanita yang berusaha bersikap biasa-biasa saja. Kembali menghubungi Enkai.
"Angkat..." gumamnya kembali menghubungi Enkai, berharap tujuan monster ini bukan dirinya. Jika berlari maka monster ini akan semakin curiga identitasnya ketahuan, kemudian mengejarnya. Jika berlari pun, akan sulit untuk menghindar. Karena itu hanya ada satu kesempatan, berharap dirinya bukanlah sasaran monster ini. Sembari terus menerus berusaha menghubungi Enkai.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, tolong tinggalkan pesan---" Sena memutuskan panggilannya. Menyadari Enkai menonaktifkan phonecellnya sementara.
Tentu saja, pemuda itu akan membuat celah dimensi memasuki apartemen Shin. Tidak ingin ketahuan dirinya menyusup, kemudian sang monster melarikan diri.
"Nona, anda sedang apa?" tanya pemuda itu di hadapannya. Tidak memegangi kepalanya yang tadinya terasa sakit lagi.
"Maaf, tadi aku sedang menghubungi pacarku. Biar aku hitung." Ucap Sena berusaha bersikap biasa-biasa saja. Memasukkan belanjaan, menerima uang. Kakinya gemetar, air matanya tertahan. Berusaha keras untuk tidak takut, berharap monster ini akan pergi.
__ADS_1
"Monster dengan level tinggi dapat merasakannya. Setiap jejak yang tertinggal mendatangkan keberuntungan." Gumam Shin memutar kepalanya sendiri 360 derajat, kemudian tersenyum miring dengan bibir menghitam di hadapan Sena.