
Satu tamparan yang cukup kencang. Jika manusia bisa mungkin kepalanya akan terlepas. Tapi tidak dengan pria yang ada di hadapannya, kekuatan Akihiro hanya dapat menahannya 7 detik, berbeda dengan orang lain yang mencapai 15 detik.
Pria yang mengenyitkan keningnya."Kamu menang dengan cara yang curang. Tapi tetap saja aku tidak dapat mengingkari kata-kataku." Pria itu turun memijak tanah, bersamaan dengan Enkai
Brug!
Enkai kembali ditendang hingga membentur tembok gedung. Pemuda yang bangkit dengan luka yang sembuh dengan cepat.
"Boleh lewat," Ucap sang pria berpakaian hitam.
Enkai tersenyum."Dasar!" ucapnya, masih saja orang ini balas dendam.
Berjalan memasuki rumah dengan cepat Akihiro mengikutinya membawa dua orang Hunter level S. Kali ini Jasper yang kebetulan berada di sana dan Nicole Hunter yang berasal dari salah satu negara di Utara.
"Mereka masuk bersamaku." Ucap Enkai kala para monster dan iblis ingin menghalangi jalan mereka.
Pada akhirnya keempat orang itu masuk. Rumah besar dengan interior yang megah, itulah yang terlihat. Kesan dingin yang mengerikan bukan karena pendingin ruangan.
"Akihiro, sebaiknya hubungi markas pusat. Katakan untuk menghentikan serangan. Mereka tidak akan melawan jika kalian tidak berusaha masuk. Mereka juga tidak akan mudah dihadapi. Ada beberapa yang mencapai level dewa dalam pertapaan mereka." Jelas Enkai, membuat Akihiro menelan ludahnya. Memang masuk akal baginya, dirinya melihat sendiri betapa mengerikan pusaran angin setajam pedang. Ditambah Enkai yang tidak mati walaupun tubuhnya terputus menjadi beberapa bagian, bahkan tersambung kembali seperti tidak terjadi apapun. Satu kesimpulan yang diambilnya mereka bukan manusia, Iblis atau monster biasa.
Pria yang botak akibat efek tebasan pedang Enkai itu segera menghubungi markas pusat. Agar untuk sementara waktu menghentikan serangan. Walaupun tidak masuk akal, namun itulah laporan terakhirnya. Seperti sebelumnya, Enkai mengeluarkan seekor kupu-kupu putih yang mengeluarkan sinar.
__ADS_1
Sebuah buku tua dibukanya, mengucapkan kalimat khusus, hingga pintu gerbang Dungeon terbuka. Akihiro hanya dapat menelan ludahnya, merekam menggunakan kamera handycam, ruang bawah tanah tempat ini, ditambah dengan puluhan prasasti dengan bahasa dan huruf kuno.
"Ikuti aku, jika kalian tersesat dan mati, itu bukan tanggung jawabku." Ucap Enkai terdengar dingin tidak berbalik sama sekali. Akihiro pada akhirnya hanya dapat mengikutinya saja, menelan ludahnya. Labirin yang benar-benar panjang dengan jalan berliku yang gelap hanya sinar kecil dari kupu-kupu yang menerangi jalan.
Nicole dan Jasper juga tidak banyak bicara. Tempat yang begitu mengerikan bagi mereka.
Hingga pada titik tertentu, Enkai menghentikan langkahnya. Merasakan hembusan angin."Utara, kanan atau kiri, berbelok ke selatan maka hutan bambu akan terlihat. Tempat kita bertemu sudah dekat, jika kamu menyambut tanganku untuk belok ke arah matahari..."
Pemuda itu bernyanyi sembari berlari, nyanyian yang sungguh indah. Dengan irama jaman dahulu yang terdengar. Lagu yang benar-benar cukup panjang. Bagaikan lagu itulah yang menunjukkan jalan. Akihiro, Jasper dan Nicole mengikuti langkahnya. Pemuda yang berhenti kala menapaki langkahnya keluar dari adalah labirin. Tempat yang benar-benar indah, angin bertiup kencang. Berbeda dengan labirin yang gelap, tempat ini benar-benar terang.
"Ini dimana?" tanya Akihiro.
"Dungeon, hadiah pernikahan dari Arata untuk kekasihnya." Jawaban dari Enkai menatap tempat di hadapannya. Ini adalah dimensi kesayangan Hime, mengumpulkan tanaman dari alam surga, membuat tempat yang nyaman untuknya. Kala merindukan alam surga nantinya, setelah mereka menikah dan tinggal di neraka.
Beberapa bola cahaya tertiup dari rerumputan. Bahkan energinya dapat dirasakan dari udara yang terhirup. Tidak heran raja neraka dapat membuat pasukan iblis dan monster sekuat ini. Jujur monster dan iblis juga terlihat lebih beradab, daripada 2300 tahun lalu.
Mereka relatif lebih senang mengunyah roh manusia dengan wujud yang mengerikan. Bahkan ketika naik ke alam tengah, entah berapa ribu manusia yang mereka makan sebelum Arata menyegelnya. Tapi kini berbeda, mungkin hanya iblis yang tinggal di luar Dungeon yang masih menunjukkan sifat asli mereka. Tapi iblis dan monster disini berbeda, lebih beradab, memiliki banyak aturan khusus.
"Sena sudah keluar dari labirin, aku tidak dapat memojokkannya." Keluh Enkai, menghela napas berkali-kali.
"Kamu sudah datang?" tanya anak itu dengan tangan kecilnya. Wajahnya yang polos ingin membuat Enkai memukulinya. Kenapa istrinya harus berpura-pura menjadi anak kecil!?
__ADS_1
"Ada anak kecil disini sebaiknya paman antar pada orang tuamu ya?" pinta Jasper mencoba meraihnya. Tapi dengan cepat Enkai menepis tangan Jasper.
"Jangan asal memegang anak ini!" Ucapnya posesif.
Jasper berusaha tersenyum, tapi hanya Enkai satu-satunya pembimbing mereka di tempat luas ini. Matanya melirik ke atas, ada planet dalam jarak yang lumayan dekat dengan planet ini. Pria yang membulatkan matanya. Jika ini bumi, maka itu mars atau venus. Tapi jika berada di jarak sedekat itu dengan bumi, bukankah akan terjadi tabrakan?
"I...ini dimana? Apa masih di bumi?" tanyanya mulai ketakutan.
"Bukan ini dimensi lain." Jawaban dari Enkai.
"Ta...tapi planet itu? Bagaimana jika terjadi tabrakan?" Jasper kembali bertanya penuh kecemasan.
"Tidak akan terjadi, ini dimensi yang berbeda dengan bumi. Memiliki ruang angkasa dan peraturan yang berbeda juga dengan bumi. Planet lain yang didesain melintasi hampir berdekatan, juga agar terdapat lebih banyak energi juga yang diserap di tempat ini. Ini adalah rancangan Arata sendiri. Dimensi dan aturan yang berbeda tekanan magnetik yang juga berbeda." Sang anak hanya dapat menghela napas kasar.
"Ada tempat seperti ini? Jika manusia ikut tinggal di tempat ini. Maka---" Kalimat Akihiro disela.
"Alam tengah merupakan tempat yang dipenuhi dengan ras manusia. Tempat yang diperuntukkan para dewa untuk meningkatkan kemampuan mereka. Semakin banyak umat, maka energi yang didapatkan para dewa juga semakin besar. Tapi ada juga dewa yang memang terlahir dengan kekuatan tinggi seperti Arata. Tapi, intinya adalah, manusia tidak bisa mengandalkan keserakahannya untuk berpindah tempat tinggal." Ucap sang anak, dengan cepat Enkai mengecup pucuk kepalanya.
"Dasar anak kecil yang pandai bicara! Sebaiknya kamu antar aku ke tempat pertandingan untuk menjadi pengawal pribadi Hime!" Enkai tersenyum, mengacak-acak rambut Sena. Sena menonggakkan kepalanya, menghela napas kasar.
Pada akhirnya menyerah, naik ke atas punggung Enkai."Kita berangkat!" teriak sang anak.
__ADS_1
Sementara Jasper, Nicole dan Akihiro masih tertegun merekam mengamati area sekitar.