
Ada dua kubu perkemahan saat ini, dua klan yang berbeda menginginkan bola energi milik Arata. Satunya dari klan monster dan satu lagi dari klan iblis. Mereka memiliki tenda masing-masing.
Sudah lebih dari 2000 tahun, namun tidak ada yang dapat memiliki bola energi milik Arata. Mengapa? Karena monster berupa burung api raksasa yang menjaganya.
Harum aroma makanan tercium, tempat yang benar-benar lapang, cukup menyenangkan untuk berkemah.
Dua ras yang berseberangan. Terlihat saling menatap sinis. Ras monster yang kini memakan daging buruan, sedangkan ras iblis memakan energi dari pohon.
"Menyerahlah! Bola energi tuan Arata memang dipersembahkan pada kami. Sebagai rasa cinta tuan pada ras-nya sendiri." Ucap Onigumo pemimpin ras iblis, menyerap energi alam hingga rumput pun layu.
"Jangan bermimpi! Tuan Arata mendirikan dimensi yang nyaman untuk kami. Bola energi juga ada di wilayah kami." Geram Tsuya dari ras monster. Memakan daging buruan mereka dengan lahap.
Dua orang yang benar-benar kuat. Diutus oleh klan mereka masing-masing. Mata tajam mereka saling melirik, saling bersaing.
Hingga ada dua orang yang melangkah, remaja dan seorang anak, itulah yang terlihat pada kedua orang ini. Seperti seorang pemuda lemah yang membawa adiknya kemana-mana.
"Jangan lewat sini! Ini wilayah monster api!" cegah Onigumo, tidak ingin ada korban terluka.
"Burung itu peliharaanku. Jadi dia akan menurut." Ucap Sena tersenyum.
"Peliharaan? Jangan bercanda, nak ajari adikmu dengan baik." Tsuya menghela napas menghentikan aktivitas makannya.
"Iya, paman. Dia memang anak nakal!" Enkai berucap dengan ekspresi wajah datar tidak bersalah. Kala Sena tidak waspada, itu semua terjadi.
Plak!
Satu pukulan yang cukup keras di bagian ******. Benar-benar pria tidak ada akhlak, balas dendam pada anak manis tidak berdosa dengan cara seperti ini.
"Aduh!" Sena mengusap-usap p*ntatnya yang sakit.
__ADS_1
"Arata br*ngsek! Jika saja tidak menjadi anak kecil, aku sudah memukulmu." Batin Sena, menatap ke arah Enkai dengan wajah memelas.
"Makanya jadi anak kecil punya kemampuan sedikit jangan sombong." Ucap Enkai, tersenyum menatap sang anak yang hampir menangis.
"Ini wilayah terlarang. Kalian kelihatannya mempunyai kemampuan rendah. Untuk apa kalian kemari?" tanya Tsuya.
"Untuk mengambil bola energi," jawaban Sena, tapi dengan cepat tubuh anak itu diangkat. Mulutnya dibekap menggunakan tangan oleh Enkai.
"Kami kemari untuk mengagumi Arata. Adikku fans beratnya." Dusta Enkai, yang dapat berbohong tanpa berkedip.
Onigumo menghela napas kasar."Sebaiknya jangan memasuki wilayah ini."
"Adikku sakit parah. Dia hanya ingin melihat satu persatu peninggalan Arata. Sebenarnya ibuku meminum racun ketika mengandung dirinya. Dia terlahir dengan tubuh yang benar-benar lemah." Ucap Enkai dengan air mata mengalir. Benar-benar pandai berbohong, itulah dirinya. Mungkin selebriti papan atas akan malu melihatnya.
"Aku terlanjur menceritakan tentang Arata sebelum dia tidur. Jadi aku mohon ijinkan kami melihat pertaruhan kalian dari jauh. Hanya agar adikku dapat melihat bola energi. Dia hanya ingin melihatnya sekilas dari jauh," lanjut Enkai membungkuk 90 derajat dengan air mata mengalir.
"Baik, tapi hanya melihat dari jauh." Onigumo pada akhirnya mengalah, menghela napas kasar.
Sedangkan Sena melirik ke arah Enkai.
Brak!
Satu sentakan kaki pria itu diinjaknya dengan cukup kuat. Enkai menipiskan bibirnya menahan rasa sakit. Pada akhirnya menggendong anak s*alan itu di punggungnya, tidak ingin kakinya diinjak lagi. Benar-benar anak si*lan yang tersenyum menyeringai.
"Kakak, aku tidak berat kan?" tanya sang anak, menghembuskan napas di samping leher sang remaja, membuat Enkai merinding maximal.
"Diam!" teriaknya pada Sena. Tidak disangka orang yang dicarinya mati-matian kini ada di punggungnya.
Dirinya melangkah mengikuti Onigumo dan Tsuya. Yang akan membawa mereka pada letak sebenarnya dari bola energi. Anak itu tersenyum semakin menyeringai."Kak, kamu mengatakan aku sakit?" gumamnya berusaha terlihat sesendu mungkin.
__ADS_1
"Jika mendapatkan bola energi dan berhasil menyelamatkan Sena aku akan mentraktirmu makan ayam goreng!" Ucap Enkai pada sang anak yang ada di punggungnya.
Sena mengeratkan tangannya, yang berada di bahu Enkai."Apa kamu menyayanginya?"
"Tentu saja, Sena adalah satu-satunya keluargaku. Dua minggu lagi white day, aku ingin merayakan dengannya." Ucap Enkai pada sang anak yang ada di punggungnya.
Angin berhembus kala menggoyangkan pepohonan di sekitar mereka. Sena terdiam sesaat kemudian tersenyum. Ini sama dengan dulu, masih tetap sama."Aku memiliki sebuah cerita. Tentang seorang pria yang menginginkan kematian kekasihnya. Pada akhirnya kekasihnya mati, sesuai kata sang pria. Bukankah itu indah? Seorang gadis yang benar-benar penurut. Jika kekasihnya mengatakan dirinya lebih baik mati. Maka dia akan mati."
"Tapi sayangnya dia hidup kembali. Dan memutuskan akan mati kembali, seperti perintah kekasihnya dulu." Kalimat yang diucapkan Sena. Menonggakkan kepalanya menatap ke arah dedaunan yang berguguran.
"Jangan terlalu banyak membaca dongeng menyedihkan kamu masih terlalu muda." Ucap Enkai, masih berjalan mengikuti iblis dan monster yang berjalan jauh didepannya.
"Iya, aku akan mendengarkanmu. Mengikuti perintahmu." Kalimat yang diucapkan sang anak dengan wajah tenang. Setetes air mata yang mengalir tidak membuat senyumannya surut.
"Wanita s*alan! Kamu sengaja! Kurang baik apa aku memperlakukanmu? Kamu mengorbankanku!? Lebih baik kamu mati! Aku ingin kamu mati! Lebih baik kamu tidak ada di dunia ini!" bentakan Arata saat itu masih teringat di benaknya. Bukan Arata yang membunuhnya, tapi memang dirinya hanya mengikuti keinginan kekasihnya. Lebih baik mati? Semua itu dituruti olehnya.
Tidak dapat menembak kejadian setelahnya. Mungkin Arata akan tertawa dan menginjak tubuhnya yang telah menjadi abu. Itu memang pantas untuknya. Tidaklah mengapa, saat semua ingatan Arata kembali. Mungkin kata-kata yang sama juga akan dilontarkan olehnya.
Karena itu, dirinya memang harus mati. Mungkin akan mati, tidak akan menjadi abu kali ini. Tapi mati untuk melindungi Arata. Menjadi gadis baik dan penurut seperti yang dikatakan olehnya.
Detik-detik yang paling damai. Terkadang dirinya merindukan bagaimana rasanya menjadi sebatang pohon. Jika roh dan tubuhnya hancur, bisakah dirinya menjadi pohon kecil?
"Kita sudah sampai!" Ucap Onigumo menghentikan langkahnya.
Sena pada akhirnya turun dari punggung Enkai. Seorang anak manis yang tersenyum licik, mengamati segalanya.
"Tunggu disini, aku akan merebut bola energi." Ucap Enkai pada sang anak, mengusap-usap pucuk kepalanya. Membawanya bersembunyi di balik pohon besar.
Bagaikan memiliki ikatan batin, entah kenapa Enkai melindungi sang anak yang baru dikenalnya. Sedangkan anak itu hanya menonton, apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa Arata akan kembali?
__ADS_1