
Apa yang ada dihadapan mereka? Hanya jalan yang bagaikan labirin tidak berujung. Tiga orang yang melangkah perlahan. Hanya cahaya senter yang membimbing jalan mereka. Labirin yang panjang dan berliku-liku tidak jarang menemukan jalan buntu. Namun, mereka harus dapat. Bukan hanya harus tapi mereka memang sudah tersesat di dalam labirin. Tidak ingat jalan untuk kembali lagi. Pada akhirnya ketiga orang yang menghela napas, mulai memakan bekal mereka dalam labirin raksasa.
"Apa kita akan mati karena kehabisan makanan?" gumam Kairi dengan mulut penuh dengan roti."Apa aku boleh kentut?" tanyanya lagi. Dengan cepat kedua orang itu menggeleng.
"Jangan kentut!" Ucap Arashi.
Hanya dapat menghela napas, tidak menyangka Dungeon merupakan tempat se-mengerikan ini.
"Light! Coba gunakan gerbang teleportasi milikmu!" Usul Kairi antusias.
Pemuda itu membuka ruang dimensi. Hendak menuju rumahnya guna mengambil lebih banyak lagi makanan. Tapi tidak bisa ruang dimensi malah menembus area sekitar lima meter tempat tersebut."Tidak bisa..." gumam Enkai untuk pertama kalinya dirinya putus asa.
Tidak menemukan jalan keluar sedikitpun. Hingga dirinya tersenyum pada akhirnya, menebarkan ribuan kupu-kupu miliknya di setiap sudut labirin.
Kupu-kupu yang terbang. Enkai mulai menutup matanya, banyak kupu-kupu yang kini menemukan jalan buntu. Hingga ada seekor kupu-kupu yang menemukan jalan keluar.
Benar-benar aneh, suara nyanyian yang familiar bagaikan diingatnya perlahan. Cahaya yang hangat, tepat di pinggir sungai dengan air yang jernih.
Dua pasang kaki menari di atas batu, berusaha tidak terjatuh ke dalam sungai. Bukan arus yang deras, mereka hanya mencoba agar tidak basah.
Lagu aneh yang menunjukkan arah."Utara, kanan atau kiri, berbelok ke selatan maka hutan bambu akan terlihat. Tempat kita bertemu sudah dekat, jika kamu menyambut tanganku untuk belok ke arah matahari..."
Lagu yang cukup panjang benar-benar terdengar di telinganya. Pupil matanya memerah, lagu yang bagaikan sebuah permainan sepasang kekasih. Yang membuat syair sembari melompat perlahan pada batu-batu yang menyembul di sungai. Sebuah permainan, atau tarian? Entahlah...
Namun benar saja, dengan petunjuk lagu aneh seekor kupu-kupu dapat keluar dari labirin."Ikuti aku!" teriak Enkai, pupil matanya masih memerah, berlari dengan cepat mengikuti arah dari salah satu kupu-kupu miliknya.
Arashi dan Kairi berusaha mengimbangi langkah Enkai. Dua kilometer, mereka harus berjalan sejauh dua kilometer baru dapat keluar dari labirin yang entah seberapa panjangnya.
Tapi ada yang aneh ketika keluar dari labirin Enkai tertegun. Berbeda dengan yang ada dalam bayangannya hanya hamparan rumput yang luas. Kegelapan dalam labirin juga tidak terlihat. Area luar labirin masih terlihat siang.
Namun bukan itu yang membuatnya terdiam. Air matanya mengalir tiba-tiba. Tidak dapat dicegah olehnya, adegan terakhir dalam lagu, kedua orang itu terpeleset terjatuh dalam air, kemudian tertawa dan bermain. Pemuda yang melihat ke arah sekitarnya, dirinya seorang diri. Mengapa berbeda?
Ingatan yang bagaikan tumpang tindih. Tidak mengerti sama sekali.
"Light i...ini dimana?" tanya Arashi melihat tempat yang terlihat indah. Hamparan rumput hijau dengan pepohonan yang aneh. Mereka kini tengah berada di pinggir tebing.
Udara hangat berhembus, Kairi segera mematikan senternya. Tempat yang benar-benar luas dalam Dungeon. Bagaikan dimensi lain, tanaman yang serupa dengan tanaman biasa. Tapi memiliki bau berbeda, memiliki aura menyegarkan.
Dimensi yang benar-benar indah. Enkai mengenyitkan keningnya, pada awalnya ketika menyebutkan nama benteng dalam fikirannya benteng yang berdiri kokoh. Memiliki banyak prajurit dan senjata.
__ADS_1
Tapi tempat ini berbeda. Bahkan tempat yang lebih indah dari bayangannya.
"Kairi tampar aku," perintah Arashi.
Kairi mempersiapkan tenaga penuh. Kemudian meludahi tangannya sendiri.
Plak!
Tamparan yang begitu basah dan menyakitkan."Sakit!" bentak Arashi.
"Kamu yang menyuruhku menampar. Jadi sekalian saja." Gumam Kairi cengengesan.
"Aku hanya ingin memastikan aku belum mati. Ini benar-benar dalam Dungeon?" tanya Arashi kagum, mengelap pipinya sendiri menggunakan tissue basah.
"Ini benar-benar Dungeon." Mata Enkai yang memerah kembali seperti semula. Beberapa burung aneh dengan bagian kakinya bagaikan laba-laba terbang. Benar-benar hanya makhluk aneh yang tinggal di tempat ini.
Mereka melangkah lebih dekat. Gedung besar bagaikan istana terlihat, di sekitarnya ada aktivitas dan rumah-rumah kecil bagaikan kota.
Iblis dan monster hidup bagaikan manusia? Ini benar-benar aneh bagi mereka. Masih menelan ludah bagaikan masuk ke masa lalu.
Pakaian orang-orang disini benar-benar kuno. Wajah mereka tersenyum, ada yang bekerja di ladang. Bahkan ada yang hanya duduk di bawah pohon bagaikan melakukan pertapaan.
Kota kuno dengan bangunan yang terbuat dari kayu.
"Ki...kita tidak salah kan?" gumam Kairi.
"Tidak! Yang harus kita lakukan setelah ini adalah mencari informasi tentang Sena. Kemudian kembali dan tinggal di kedai ayam goreng." Enkai terlihat antusias saat ini. Memasuki desa, menuju kota yang lebih padat.
Sementara di tempat lain raja iblis mengenyitkan keningnya, mengetahui kedatangan Enkai."Bocah ini! Tunjukkan padanya betapa kejamnya dunia ini! Agar dia tidak naif seperti dulu." Itulah kata-kata yang terucap dari bibirnya penuh senyuman menyeringai. Berjalan meninggalkan tahtanya. Memutuskan untuk pergi ke tempat penelitian senjata baru. Tempat Sena berada saat ini.
*
Tiga orang yang memasuki arah desa terlihat canggung, beberapa monster dan iblis berbisik-bisik membicarakan mereka. Tapi sepertinya tidak memiliki niat untuk memakan mereka.
Dapat dirasakan dari auranya monster dan iblis disini hampir semuanya memiliki level kemampuan tinggi, dapat merubah wujud seperti manusia sepenuhnya. Tempat apa ini? Entahlah, dirinya hanya berjalan tanpa tujuan.
Brak!
Keributan terjadi di hadapan mereka. Seorang pria dituduh menipu."Kamu berbuat curang ketika bermain dadu! Dalam aturan sudah jelas tertulis tidak boleh menggunakan sihir!"
__ADS_1
"Aku tidak menggunakan sihir! Tapi menggunakan energi roh!" bentak Aoyama.
Hireguchi mengeluarkan pedang dari telapak tangannya, berlari mendekat menyerang Aoyama.
"Ingin serius! Baiklah kalau begitu!" Mata Aoyama memerah, melompat menghindari serangan. Ribuan daun hijau mengapung, bergerak cepat, entah kenapa menjadi setajam baja yang diasah.
Tiga orang yang tertegun, bukankah ini termasuk pertarungan level tinggi. Salah satu dari mereka bahkan menyemburkan api. Tang lainnnya menggerakkan tanah.
Hingga beberapa orang berseragam tiba-tiba lewat."Hentikan!" Perintahnya. Seketika dua orang yang bertarung itu menghentikan kegiatan mereka. Mungkin bagaikan unit kepolisian milik pemerintah. Benar-benar tidak mengerti dengan dimensi aneh yang baru dirinya masuki.
"Yah padahal sedang seru-serunya!" Ucap Aoyama, turun dari atap merangkul Hireguchi.
Hireguchi mengenyitkan keningnya."Kami sudah bertapa dan menambah kemampuan selama 2000 tahun lebih. Tapi tidak pernah berkelahi. Lalu untuk apa kami selalu didorong untuk menambah kemampuan!?"
"Ada titah dari raja, Nona Hime memerlukan pengawal pribadi. Sementara sebelum perencanaan perang matang." Ucap orang berseragam hitam. Menempelkan sesuatu di papan pengumuman."Kompetisi akan diadakan untuk memilih pengawal nona Hime."
Dua orang yang antusias, keadaan terlalu damai dalam Dungeon membuat mereka lebih kompetitif. Membaca pengumuman dengan antusias.
Pada awalnya Enkai tidak tertarik sama sekali. Hingga dirinya melihat gambar wajah nona Hime.
"Sena..." gumamnya, membaca pengumuman yang menyebar di segala penjuru.
"Nona Hime sudah kembali, apa pernikahan akan dilanjutkan?"
"Mungkin saja, tapi entahlah ini masalah keluarga kerajaan. Tapi mungkin ini yang membuat kita dapat keluar 20 tahun lalu dari penjara dimensi yang dibuat Arata."
"Ada dalam penjara dimensi tidak masalah. Toh selama ini kita tinggal dalam Dungeon. Tapi Arata juga terlahir kembali bukan?"
"Benar, menghalangi kita menghancurkan dunia tengah. Nona Hime mati karenanya, dia juga mati. Apa dia fikir kami akan dengan mudah melupakan dendam? Yang dibunuh adalah anggota keluarga kerajaan."
Enkai yang mendengar semua kata-kata makhluk-makhluk ini menyela."Siapa Hime dan siapa Arata?"
Aoyama mengenyitkan keningnya. Melihat penampilan Enkai baik-baik. Darah iblis mengalir dalam tubuhnya, dia bagian dari mereka, mungkin iblis yang baru lahir? Entahlah.
"Arata, dia anak tunggal raja neraka. Sedangkan Nona Hime istrinya." Penjelasan singkat dari Aoyama.
Enkai terdiam, tertunduk sejenak. Jadi Arata benar-benar musuh utamanya?
"Sabar, jika istrimu kembali pada mantan suaminya. Sudah nasibmu menjadi duda ..." cibir Kairi.
__ADS_1