Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab 1 Gadis Desa


__ADS_3

Hari masih pagi.Matahari baru saja terbit, bentuknya bulat sempurna, berwarna jingga seperti buah semangka yang dibelah dua.Sinarnya yang mengintip dari balik pohon belum mampu meluruhkan embun yang masih nyaman memeluk rerumputan , menjadikan warna rumput dan pucuk pucuk daun padi berubah putih keperakan.


Rika melangkahkan kaki dengan lesu.Sebenarnya ia masih mengantuk, tetapi ia harus pergi ke sawah untuk mengusir burung burung yang memakan bulir bulir padi yang mulai menguning.Pagi pagi begini akan banyak burung yang berlomba lomba memakan bulir padi dan meninggalkan tangkainya yang kosong meranggas.Ia berhenti di sebuah pondok kecil di pematang sawah, tangannya menarik tali rafia yang menjulur panjang sampai ke tengah sawah dengan gerakan ritmis sambil berteriak.


" Hayoooo....." benar saja sekawanan burung terbang karena kaget mendengar teriakannya dan goyangan batang padi karena tali rafia yang ditarik Rika.


Rika tersenyum puas.


" Tak akan kubiarkan kau mencuri butir butir padiku" sungutnya kesal.Ia tidak ingin panen kali ini berkurang karena banyak bulir padi yang dimakan burung.Hidupnya banyak bergantung pada hasil panen dari beberapa petak sawah ini.Dari hasil panen ini pula ia bisa melanjutkan pendidikannya sampai perguruan tinggi. Kantuknya sudah hilang.Ia duduk di bangku kayu di dalam pondok di pematang sawah itu.Diambilnya botol minum berisi teh hangat yang dibuatkan ibu untuknya.Diminumnya beberapa teguk, membuat perutnya hangat dan lebih nyaman.


Matahari mulai meninggi, sinarnya semakin hangat, warnanya berubah dari jingga menjadi putih menyilaukan.Rika mengambil topi, melindungi kulit wajahnya yang mulai kecoklatan terkena sinar matahari.Sesorang datang tergopoh gopoh menghampiri.Dimas teman akrabnya sejak kecil.


" Hai Rika...kamu ga kuliah?" tanya Dimas begitu sampai di hadapannya.


" Ga Dim, aku lagi libur semesteran"


"Aku ga nyangka kamu masih mau ke sawah, ga takut hitam?"


Rika tertawa mendengar pertanyaan Dimas.


" Emang kenapa kalau hitam? Dari hasil sawah ini Ibuku bisa membiayai kuliahku..."


Dimas terdiam, sesekali dia memperhatikan Rika.Gadis ini tak berubah, walaupun sudah kuliah di kota tapi tetap rajin membantu Ibunya ke sawah.Setahunya gadis seumuran Rika akan selalu menjaga penampilannya.Pergi ke sawah seperti ini bisa membuat kulitnya gelap karena terkena panas matahari.Belum lagi lumpur dan batang batang padi yang sesekali bisa mengotori dan menggores tangan dan kakinya.


" Sebentar lagi juga kuliahku selesai Dim.."


" Lu..lu..lulus kuliah...?" Dimas tergagap ." Lalu kamu balik dan seterusnya di kampung?"

__ADS_1


" Tentu saja tidak, aku akan mencari pekerjaan di kota " Enteng Rika menjawab.


Dimas tertunduk, dia kecewa mendengar jawaban enteng Rika.Sempat dia berpikir kalau sudah lulus Rika akan kembali ke kampung dan dia bisa setiap hari bertemu dengan Rika.


Tiba - tiba Rika menggenggam tangan Dimas, Dimas terkejut, jantungnya berdegup lebih kencang.


" Doain aku ya Dim, aku cepat dapat kerjaan.."


Canggung Dimas mengangguk.Huh...Rika jangankan cuma berdoa apapun akan kulakukan untukmu, batinnya.


Hari semakin siang, kalau sudah siang dan panas begini burung- burung juga sudah enggan hinggap di pucuk padi . Waktunya Rika untuk pulang. Ia mengemasi barang-barang nya di pondok, dan menghampiri Dimas.Mereka ngobrol sejenak.Sudah lama mereka tidak bertemu.Berteman sejak kecil, bahkan satu sekolah sejak SD sampai SMA.Lulus SMA Dimas tidak melanjutkan sekolahnya, membantu orangtuanya mengurus kebun dan sawah yang cukup luas.Sementara Rika memilih untuk melanjutkan kuliah di Kota.Ibunya berjuang sekuat tenaga untuk membiayai kuliahnya.Ibunya bertekad Rika harus bisa merubah nasib, jangan sampai seperti orang tuanya yang hidup sederhana di kampung mengandalkan hasil panen dari sawahnya yang tidak seberapa.


" Dim aku pulang dulu ya, lapar nih..." Rika berkata sambil mengusap perutnya.Dimas tertawa nyengir.


" Baru jam segini udah lapar aja" ujarnya .


" Udah ya, daah..." Rika pamit dan melambaikan tangannya.


Dimas hanya bisa mengangguk , membalas lambaian tangannya.Ia terus memandangi punggung Rika yang semakin menjauh dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan.Kakinya yang tidak memakai alas menendang pematang sawah dengan gusar.Rika..., gumamnya dengan getir.Sudah lama sebenarnya Dimas ingin mengungkapkan perasaannya.Ia menyukai Rika, selain cantik,pintar sahabatnya itu juga suka bekerja keras.Membantu Ibunya di sawah atau di rumah.


Tapi Dimas tidak pernah punya keberanian melihat Rika yang cuek dan sepertinya hanya menganggapnya sebagai sahabat.


****


Rika memasuki rumahnya.Rumah sederhana itu sepi.Ia mendorong pintunya yang tidak terkunci


dan masuk.Ibu rupanya belum pulang dari pasar.Lalu ia menuju dapur.Ada meja kecil di sana.Di atas meja itu sudah tersedia nasi dan lauk pauk sekedarnya. Perutnya terasa sangat lapar. Dia menyendok nasi dan duduk di depan tungku , lalu makan dengan lahap, sepiring nasi ,sayur daun singkong, sambal dan sepotong ikan cue tongkol habis tak bersisa.Rasanya nikmat banget.

__ADS_1


Dia bersandar di dinding dapur matanya sedikit terpejam.Capai dari sawah dan kenyang membuatnya mengantuk.Lebih baik aku mandi saja biar segar, batinnya.Kemudia dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi dia duduk di ruang tamunya yang sederhana.Ruang tamu itu juga merangkap ruang keluarga , memang hanya satu-satunya ruangan selain kamar, dapur dan kamar mandi.Hanya ada sebuah kursi panjang dari kayu dan meja pendek .Di sudut di atas meja kecil ada TV tabung yang sudah kuno, satu satunya hiburannya kalau sedang di rumah.Rika mendekati TV dan memencet tombol untuk menyalakan. Suaranya agak pecah dan gambarnya kadang- kadang goyang seperti tertiup angin.Sambil menonton dia merebahkan tubuhnya di kursi.Lama - lama ia mengantuk lagi .Tanpa ia sadari ia sudah terlelap.


" Rika.. kebiasaan banget sih kamu tidur , TV nyala" suara Ibunya yang baru pulang dari pasar membuatnya terbangun.Rika terbangun dengan kaget.Angin sepoi- sepoi dan suasana sepi di luar memang gampang membuatnya tidur.


" Ibu, sudah pulang..?. , habis dari sawah terus makan kok jadi ngantuk." ujarnya.


" Tidur di kamar sana.Ga baik anak gadis tidur di bangku kayak gitu" Ibu menggerutu dan menyimpan belanjanya di dapur.


Rika menarik tangan Ibu,


" Bu..sini dulu, Rika mau ngomong....Bentar lagi Rika lulus loh Bu..."


" Lulus ...? Syukurlah Nak..." ibu terlihat sangat lega.Tak sia-sia ia banting tulang setiap hari untuk membiayai kuliah anaknya.


" Setelah lulus Rika mau ke Jakarta ya Bu, cari kerja "


" Kenapa ga yang dekat-dekat sini saja nduk, biar kamu sering-sering pulang nengok ibu"


" Di kota sekitar sini susah Bu dapat pekerjaan.Namanya juga kota kecil, walaupun di Jakarta Rika janji akan sering nengok ibu.Doain ya Bu Rika cepat dapat pekerjaan"


Rika merebahkan kepalanya di pangkuan ibu, direngkuhnya kedua tangan keriput itu dan diciumnya,


" Rika bersyukur, punya ibu..."


Angin kembali berhembus perlahan.Rika memejamkan matanya dan kembali tertidur di pangkuan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2