
Sore itu udara di Jakarta tidak terlalu panas, bahkan agak mendung.Angin bertiup semilir menggoyangkan pucuk- pucuk bunga mawar yang terlihat segar habis disiram.Seorang anak kecil memakai baju kuning, celana pendek warna biru dan sepatu warna biru, berlarian mengejar kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar.Ia hampir sampai ke arah pohon mawar itu ketika kupu-kupu terbang menjauh.Tangan kecilnya bertepuk tangan.
" Ebang...ebang...upu-upu....." serunya sambil tertawa, menampakkan gigi yang baru tumbuh beberapa buah.
" Ha...ha...ha.."
" Andra...." Seorang gadis kecil berlarian menghampirinya.
" Apa...? "
" upu....upu...." tangannya menunjuk ke atas ke arah kupu-kupu yang terbang menjauh.
Gadis kecil itu ikut melihat ke atas, ke arah yang ditunjuk anak kecil, lalu tertawa.
" Oh.. kupu-kupu" katanya tertawa.
" Andra..Calista..minum susunya dulu sayang"
Rika memanggil kedua anaknya.
Calista menggandeng tangan adiknya lalu dengan hati-hati dibimbingnya masuk ke rumah.
Rika tersenyum menyambut mereka.
" Pinter...." ujarnya sambil merengkuh tubuh Calandra.Sebelah tangannya lagi menuntun Calista menuju ruang tengah.Surti dan Tini dua orang baby sitter untuk anak-anaknya masing-masing sudah siap memegang segelas susu dan sepiring kecil cookies.
Rika tersenyum bahagia memandang kedua anaknya asyik minum susu dan makan cookies.
Terdengar suara mobil memasuki halaman.Tak berapa lama kemudian Tuan, suaminya muncul di ruang tengah.Kedua tangannya membuka lebar siap memeluk anak-anaknya yang berlarian menghampirinya.
" Papa......" seru keduanya berbarengan.Tuan tertawa dan memeluk keduanya.
" Papa kangen...." diciuminya anak -anaknya dengan bahagia.
" Papa lama amat pulangnya dari Bandung ya Pa? " tanya Calista sambil menggelendot manja di lengan Papanya.
__ADS_1
" Iya, sayang.Calista ga nakal kan di rumah jagain adik? " jawab Tuan sambil mengusap rambut putrinya.
Rika datang menghampiri dan mencium tangannya.
" Sayang...." suaminya mencium keningnya lalu menurunkan Calandra dari gendongannya.Diambilnya dua kotak coklat dari dalam tas dan diserahkan kepada anak-anaknya yang langsung berseru dengan ruang.
" totat...acih...papa..." Calandra berusaha membuka kotak coklatnya.Tangannya kelihatannya kesulitan.Calista mendekat dan membantu membuka kotak coklat adiknya yang mengawasinya dengan tidak sabar.
" yeeee...acih...akak..." serunya gembira.
Tuan menggandeng tangan Rika naik ke atas , menuju kamarnya.Meninggalkan kedua orang anaknya yang sedang gembira menikmati coklat oleh-olehnya ditemani baby sitter.
Begitu sampai kamar, Tuan meraih tubuh istrinya dan menciumnya bertubi-tubi.
" Mas ga man...di du..lu ? " Rika mecoba bertanya tersendat-sendat karena bibirnya di lu mat suaminya habis-habisan.
Tuan mengangguk, ia memeluk tubuh Rika dan menariknya ke arah kamar mandi.Rika yang habis mandi dan sudah berdandan menurut saja ketika suaminya membawanya ke kamar mandi.Lalu mereka mandi berdua sampai hari mulai gelap.Ga tahu apa saja yang dilakukan di kamar mandi sampai lama begitu, hanya mereka yang tahu.Yang jelas ketika keduanya keluar kamar mandi keduanya sama-sama tersenyum bahagia.
Rika menghidupkan lampu kamar, bibirnya tersenyum.Tadi masuk kamar mandi kamarnya masih terang benderang tanpa lampu.
" Masih ciumin baju.Kalau masih kurang nanti kita lanjutkan" katanya menggoda.
" Ih..mas, aku cium baju ini karena bahagia mas udah pulang, dua hari pergi ke Bandung rasanya kangen banget mas pakai baju ini lagi"
Lalu keduanya turun dan menuju meja makan.Rasanya lapar sekali.
Rika menyendokkan nasi ke piring suaminya , sepotong daging empal dan tumis sayuran.Setelah itu ia menyendok nasi untuk dirinya sendiri ditambah dengan ikan bakar dan pepes tahu, lalu ia mengambil mangkuk dan diisinya dengan sayur asem sampai penuh.Ia makan dengan lahap.Tuan memandanginya sambil tertawa kecil.
" He..he..lapar nih ya..., yang habis tempur "
Rika hanya tersenyum dan meneruskan makannya.
" Mau nambah mas..?" ia bertanya setelah dilihatnya piring Tuan kosong.
" Pinginnya sih, tapi....Buah aja deh..." Tuan mengambil jeruk dan mengupasnya.
__ADS_1
" Gimana sekolah Calista..? " ia bertanya sambil makan jeruk.
" Lancar mas, kemarin ia ikut lomba menari juara 1 " jawab Rika " ia minta les bikin kue , aku bilang ijin papa dulu"
" Emang ada les bikin kue untuk anak-anak? " tanya suaminya dengan heran.
" Ada, tapi tempatnya agak jauh, aku ga mau ia kecapekan"
Suaminya mengangguk-angguk.
"Nanti aku panggil chef di hotel aja kesini ngajarin ia bikin kue.Masih SD kok hobi masak ya"
" Wah boleh mas.Calista pasti senang, ia memang dari kecil kelihatan keibuan.Sama adiknya perhatian dan ngurusin banget" Rika tertawa.
" Ya sudah, besok saja kamu tanya Calista kapan mau mulai belajar masaknya"
Rika mengangguk.Ia bangga pada anak sambungnya itu.Walaupun masih kecil tapi mandiri dan sayang banget sama adik.Ia tidak pernah mau membebani Calista dengan kursus macam-macam.Biarlah masa kecilnya dilaluinya dengan sewajar mungkin , tanpa paksaan dari orang tua.Tapi ketika anaknya yang minta atas kemauan sendiri, barulah ia akan berusaha memenuhi permintaan anaknya.Untuk kursus menari juga Calista yang minta.Belakangan palah minta kursus bikin kue.Kedengarannya agak aneh untuk anak seusia dia, tapi sebagai Ibunya, Rika berusaha mengabulkan permintaannya.Sudah beberapa tempat kursus memasak ia hubungi, tapi rata-rata tempatnya jauh.Untunglah Papanya mau turun tangan, memanggil chef dari salah satu hotel miliknya untuk mengajari Calista membuat kue di rumah.
" Gimana rapatnya di Bandung mas ?" Mereka masih betah duduk di meja makan sambil mengobrol.
" Yah... begitulah, kamu kan tahu rapat kayak gitu kan formalitas saja.Ada sih beberapa keputusan, tapi kan belum tentu dijalankan secara konsisten oleh para anggota"
" Apalagi hasil rekomendasi ke pemerintah, butuh waktu dan birokrasi panjang untuk bisa terealisasi"
" Tapi minimal kita ketemu banyak pengusaha lain untuk mempererat hubungan"
Rika hanya mengangguk -angguk mendengarkan penjelasan suaminya.Sejak ia menikah dan fokus mengurus keluarga dan anak-anak, otaknya agak buntu kalau harus berpikir masalah pekerjaan.Sekali-sekali ia masih datang ke kantor suaminya, tapi tidak untuk bekerja.Kadang hanya mengantar makan siang atau hanya sekedar mampir kalau suaminya meminta datang.Untuk urusan kantor ia sudah tidak tahu menahu.Saat suaminya minta pendapat jika harus memutuskan hal-hal yang rumit, ia masih ikut memberikan saran dan pendapat.Tapi itu lebih sering dilakukan di rumah, sambil ngobrol santai di kamar ataupun sambil mengurus anak-anak.
" Oh ya, kamu masih ingat ga sama Cristy?"
Tiba-tiba Tuan bertanya.Rika tertegun, ga bakalan lupa ia sama perempuan itu, mantan tunangan suaminya yang pernah berkata kasar padanya.
" Aku bertemu dan sempat makan bareng sama dia..." Tuan melanjutkan dengan kalem.Apa? benarkah yang barusan didengarnya? bahkan suaminya bisa berkata setenang itu di hadapannya?
.
__ADS_1