
Semakin dekat dengan kantor Narendra Grup, Cristy merasa semakin berdebar-debar.Janntungnya terasa berdenyut lebih cepat.Telapak tangannya dingin dan basah berkeringat.Perasaannya jadi campur aduk .Diambilnya kaca mata dari dalam tas.Sebenarnya ia tidak pernah pakai kaca mata, memang ada minus sedikit tapi matanya masih awas untuk membaca dan melihat.Ia hanya tidak ingin rasa gugupnya terlihat dari sorot matanya.
Ia sampai di lobi kantor, berpapasan dengan beberapa orang karyawan.Karyawan yang masih mengenalnya sebagai mantan tunangan Tuan, menganggukkan kepalanya lalu buru-buru menyingkir.Cristy mengangkat bahunya, terserah saja apa yang mereka pikirkan mengenai diriku, pikirnya.
Cristy memasuki lift dan langsung menuju ke ruang Direktur di lantai atas.Lift berhenti, pelan-pelan ia keluar dan menarik nafas untuk menenangkan pikirannya.
Memasuki pintu Direktur ia bertemu dengan Susi, sekretaris Tuan.
Susi sangat terkejut melihat kehadirannya.Ia tidak menyangka Direktur PT.Armico yang akan bertemu dengan Tuan adalah Cristy, setahunya Direkturnya Pak Gunawan.
" Non Cristy...? " Susi menatap Cristy dengan raut wajah bingung bercampur curiga.Susi masih ingat kejadian beberapa tahun lalu waktu Cristy memaki-maki Rika, sahabatnya yang sekarang adalah Nyonya Narendra.
Cristy menganggukkan kepalanya.
" Saya mau bertemu Tuan Narendra " jawabnya setenang mungkin.Ia sengaja menyebut Tuan dengan panggilan Tuan Narendra agar sekretaris itu tidak bertambah curiga.
Susi buru-buru menyilahkan tamunya masuk ke ruang Direktur.
" Cristy...??!!" Tak kalah terkejut Tuan melihat Cristy memasuki ruangannya.Susi bilang dia ada meeting dengan Direktur PT.Armico, Pak Gunawan.
" Maaf mas, Papa ga bisa datang " Cristy menjelaskan.Aduh, untung ia pakai kacamata, sedikit banyak bisa menutupi perasaannya.Bukankah mata adalah jendela hati?
Tuan mengangguk.
" Ayo silakan duduk" Tuan menyilakan tamunya duduk " Bukannya kamu di Jerman ? "
" Papa menyuruh saya pulang mas, dan memberikan saya kepercayaan memimpin PT.Armico"
__ADS_1
" Pantas, tadinya saya bingung.Sekretaris bilang Pak Gunawan yang mau bertemu" Lalu Tuan memanggil Susi.Tak berapa lama Susi masuk.
" Ya Tuan?"
" Berkas PT Armico sudah kamu siapkan?"
" Sudah Tuan"
" Baiklah saya rasa bisa kita mulai "
Mereka mulai bicara serius mengenai pekerjaan.Seperti biasa Susi sibuk mencatat, tapi sekali-sekali ia mencuri pandang ke arah Cristy.Dilihatnya ia sangat berubah dari penampilannya, cara bicara dan bersikap.Cristy mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan rok lebar sampai ke mata kaki . Rambutnya disisir rapi ke belakang dan diikat . Wajahnya nyaris tanpa make up, hanya memakai bedak tipis dan lipstik warna kalem. Terlihat sederhana tetapi tetap cantik dan elegan.Kaca mata yang dikenakan menambah kesan profesional.
Sangat berbeda dengan Cristy yang dilihatnya dulu ,dengan dress ketat warna terang dan makeup menyolok, dandanan rambut modern bergelombang.Diam- diam Susi merasa kagum kepada Direktur PT.Armico yang baru ini.
" Baiklah Cristy saya rasa semuanya berjalan baik, sudah selayaknya kita teruskan kerja samanya" Akhirnya Tuan berkata " Susi tolong diurus kontrak barunya ya"
Cristy bernafas lega, semuanya berjalan lancar.
" Terimakasih banyak mas" ucapnya .Ia masih belum beranjak dari tempat duduknya.
" Sama-sama.Kita kan memang sudah lama menjalin kerja sama" jawab Tuan kalem.Crusty mengangguk paham.Ia menatap Tuan seakan mau bertanya, tapi tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.Beberapa saat ia masih terdiam, sampai Tuan bertanya.
" Ada apa..? "
" Hmmmm.....gini mas...." Cristy tampak ragu-ragu, lalu melanjutkan " Saya baru belajar di dunia bisnis.Boleh suatu saat saya mengundang mas makan siang,.. mungkin saya...mau minta saran" agak terbata-bata Cristy mengutarakan maksudnya.
Tuan tidak langsung menjawab, ia terdiam beberapa saat.Cristy malu dan takut, lancangkah ia berkata seperti itu? Ia sendiri heran dengan dirinya sendiri mampu mengatakan hal itu kepada seorang bisnisman besar Direktur Narendra Grup.Tapi ia benar-benar ingin sering bertemu dengannya, dan ia harus mencobanya .
__ADS_1
" Boleh nanti kalau saya sedang ga sibuk" terdengar jawaban Tuan juga akhirnya.Cristy tersenyum.Walaupun ragu apakah jawaban Tuan adalah caranya menolak halus, tetapi minimal ada respon darinya.Lalu ia pamit . Mereka berjabat tangan.Sekali lagi Cristy menatap wajah Tuan dari balik kacamatanya.
Ah, Tuan Narendra yang sempurna,betapa bodohnya aku dulu , lagi -lagi ia menyesali dirinya.
****
Cristy kembali ke kantornya dengan perasaan riang.Seperti seorang gadis ABG yang habis bertemu dengan cinta monyetnya.
Ia meneruskan tumpukan pekerjaannya dengan gembira.Belum selesai ia periksa setumpuk berkas, Yana menghampiri dan membawa beberapa berkas lagi yang harus ditandatangani.
" Maaf Bu, saya pulang dulu" kata Yana sambil meletakkan berkas di meja.Cristy mengangguk dan tersenyum.
" Pulanglah.."
Setelah Yana pulang, Cristy mengambil HP nya.Diputarnya lagu-lagu romantis dari aplikasi di HPnya untuk menemaninya bekerja.Walaupun selama ini ia tidak terlalu suka mendengarkan musik, tapi saat ini alunan suara merdu dari sang penyanyi menambah suasana hatinya semakin riang.
Setelah semua pekerjaannya selesai.Cristy duduk termenung di kursinya.Ia mengingat pertemuannya dengan Tuan tadi siang.Cristy benar-benar mengagumi lelaki itu sekarang.Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Apakah ini hanya pelariannya setelah gagal mendapatkan Robert? Cristy menggeleng.Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri.Yang jelas ia ingin lebih sering lagi berada di dekat Direktur yang penuh kharisma itu.
Cristy sangat berharap Tuan memenuhi undangannya untuk makan siang bersama.Ia sebenarnya sangat malu ketika mengutarakan maksudnya di depan Tuan tadi.Wajar saja sebenarnya kalau sesama rekan bisnis mengundang makan siang bersama, pikirnya mencoba membela dirinya sendiri.Yang perlu dilakukan adalah bersikap sewajar dan setenang mungkin.Ia tahu Tuan adalah laki-laki yang sangat setia kepada istrinya.Jangan sampai Tuan mencium gelagat kalau ia menyukainya.Bisa-bisa langsung ditolaknya mentah-mentah dan bahkan akan berusaha menghindar.
Bagaimana nanti perasaan istrinya? Cristy harus sangat hati-hati.Ia tahu Susi adalah sahabat karib Nyonya Narendra.Apalagi semua orang tahu, ia mantan tunangan Tuan.
Tidak, ia tidak ingin merusak rumah tangga orang.Ia tahu betapa sakitnya ketika ditinggalkan oleh pasangan yang dicinta dan berpaling kepada orang lain.Dulu bahkan ia nyaris bunuh diri ketika mengalami hal itu.
Ia hanya ingin menikmati rasa sukanya dan sedikit saja perhatian dari Tuan.Tidak lebih, seperti ,katakan saja penambah semangat dalam menjalani rutinitas sehari-hari.Tapi benarkah hanya sebatas itu ? Cristy menjadi bimbang sendiri.Pengalaman hidupnya belum cukup untuk menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya.
Ah, sudahlah jalani saja, ikuti seperti air mengalir, aku berjanji kepada diri sendiri tidak akan merubah dan membelokkan aliran air itu.
__ADS_1