Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab 50.Cinta Di Batas Cakrawala


__ADS_3

" Pak Tanu mau ketemu Tuan, kapan beliau ada waktu ?"


" Masalah apa ? bukannya sudah beres, pak Tanu mau pindah ke Palembang ke kantor cabang?"


" Iya, dia mau ngasih undangan...."


" Cieee....yang mau nikah, selamat ya, akhirnya...."


Rika memeluk erat sahabatnya , sangat bahagia Susi akan segera menikah.Kisah cinta keduanya yang awalnya rumit akhirnya akan berakhir di pelaminan.


" Ini semua karena kamu mau bantuin aku nelepon papa"


" Hi...Hi.. padahal sebenarnya aku juga takut sama papamu, ga nyangka juga akhirnya beliau mau memberi waktu calon mantunya setahun sebelum pindah Palembang"


" Makasih banyak Rika...."


" Semoga lancar sampai hari H ya"


" Kamu datang nanti kan ? "


Rika mengangguk lalu terdiam.


" Kenapa....?


" Hmmm...kamu udah bilang sama HRD kalau mau resign? "


" Sudah...."


" Aku akan kehilangan kamu..."


" Ayolah jangan sedih..."


" Aku ga bisa curhat lagi...."


" Kamu masih bisa meneleponku"


Rika menepuk pundak sahabatnya, tersenyum dan berlalu ke ruang Direktur.


Ia duduk di sofa, menunggu suaminya yang sedang menelpon.Tuan menelpon cukup lama, ia merasa mengantuk.Sepagian ini ia sibuk sekali.Menemani Calista di sekolah yang sedang lomba ketrampilan.Tentu saja Calista juara dengan ketrampilan andalannya baking-baking, untuk itu ia harus menunggu sampai acara selesai dan menyaksikan putrinya itu menerima piala.

__ADS_1


" Sayang..."


Ia kaget ketika suaminya menyentuh pundaknya.


" Maaf mas, aku ketiduran.."


" Kamu kelihatannya capai sekali"


" Tadi Calista ada lomba, aku nungguin sampai selesai"


" Kenapa ke kantor, harusnya kamu istirahat"


" Aku ingin menemanimu mas, nanti malam mas kan ke rumah Cristy.." jawabnya lirih.Matanya yang masih mengantuk menatap suaminya yang berdiri tegak di sampingnya.Tatapannya polos, seperti anak balita yang tidak mau ditinggal pergi oleh ayahnya.Suaminya menunduk, memegang kedua pundaknya.


"Apakah kamu mau hari ini aku pulang ke rumah...?"


Rika menggeleng.


"Mas harus jadi suami yang adil..."


Suaminya tidak berkata apa-apa lagi, dengan satu gerakan dia sudah membuat tubuh istrinya terbaring sempurna di sofa kulit yang besar dan empuk itu, untunglah ruangan itu mempunyai peredam suara sehingga tidak menggangu konsentrasi Susi yang sedang sibuk bekerja di mejanya.


****


Cristy menyadari posisinya, ia memang tidak berhak menuntut, tapi ia akan mencoba.Bukankah mereka sepasang suami istri yang terikat dengan janji suci pernikahan?Tidak peduli apakah pernikahannya resmi atau siri, baginya pernikahan adalah sesuatu yang sakral, sekali untuk seumur hidup.Janji suci yang sudah terucap tidak layak untuk diingkari.


Pintu kamarnya diketuk, yang ditunggunya muncul , berdiri tegak , tenang dan berwibawa.


" Mas...."


Cristy memeluknya dengan erat, membenamkan kepalanya di dada bidang itu.Mereguk kedamaian yang selalu didamba.


" Cristy.." Tuan mengusap kepalanya lembut, lalu perlahan melepaskan tangan Cristy yang memeluknya . Berjalan tenang memasuki kamar dan duduk di sofa.Bibirnya tersenyum tipis.


" Senang melihatmu semakin sehat" Cristy menghampiri dan duduk di sebelahnya.


" Aku sudah sehat mas, sangat sehat.Mas sudah makan ? Kita makan di luar ya mas ? " Ia merengek.Suaminya menggeleng.


" Lain kali saja, aku capai sekali" Cristy kecewa , tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.Ia berdiri, berjalan ke pojok kamar untuk mengambil dua gelas jus buah yang sudah ia siapkan di kulkas sejak tadi sore.

__ADS_1


" Minum dulu mas"


" Makasih..." Tuan menjawab sambil melihat ke arah HP yang dipegangnya.Cristy sejenak melirik, hmmm... apakah dia juga selalu pegang HP saat bersama Rika ? Rupanya Tuan sadar Cristy sedang memandanginya.Dia buru-buru meraih gelas dan meminum isinya sampai habis.


" Hmmm...segaaaar.., kamu yang bikin..? "


Cristy mengangguk senang.Tidak sia-sia sepulang kantor tadi ia menyiapkan jus dari campuran buah strawberry, apel, kiwi, melon jeruk ditambah dengan madu.Seribu cara akan aku pakai untuk mendapatkan perhatian darimu, mas, syukur-syukur cintamu.Cintamu adalah harapanku, meskipun untuk menggapainya seperti menyatukan langit dan bumi, tapi bukankah langit dan bumi pada akhirnya akan bertemu di batas cakrawala?Aku akan menunggumu di batas cakrawala.


****


" Mama..., mama...buka pintunya..."


Calista mengetuk pintu kamar orang tuanya berkali-kali.Rika yang sedang bersiap-siap mau tidur, tergopoh-gopoh membuka pintu.


"Calista kok belum tidur...? "


Calista berdiri di pintu sambil memegang piala , hadiah dari sekolahnya tadi siang.


" Calista mau kasih lihat ke papa dulu pialanya"


Gadis kecil itu mengangkat pialanya dan tersenyum bangga.


Sejenak Rika tertegun, perasaan sedih sekilas menyergapnya, tapi cepat-cepat disembunyikan.


" Eh...sayang, papa kan masih rapat di kantor.Tapi mama tadi udah kasih tahu Calista dapat piala.Sini taruh di kamar mama dulu ya, nanti papa pulang biar langsung lihat"


Rika mengambil piala dari tangan putrinya, menyimpan dengan hati-hati di atas meja, lalu kembali menghampiri Calista.


" Ayo, mama antar ke kamar"


Rika menggandeng tangan mungil Calista dan membawanya ke kamarnya.Dilihatnya Surti sedang membereskan buku-buku di atas meja.


" Oh, mbak lagi sibuk, mama temani tidur ya"


Calista menurut, tanpa bicara ia berjalan menuju tempat tidur dan berbaring.Rika membereskan bantal, ditepuk-tepuknya agar putrinya bisa berbaring dengan nyaman.


" Nah, cantik, pinter, bobok ya..." Ia menarik selimut dan ikut berbaring disisi Calista.Tak berapa lama merekapun terlelap.Tenggelam dalam mimpinya masing-masing.Mimpi seorang gadis cilik yang dengan semangat menyambut papanya , menghambur dalam pelukan dan memperlihatkan piala kebanggaannya, dan mimpi seorang ibu yang sedang bersedih ketika putrinya menanyakan keberadaan ayahnya yang sangat dicintai.Terpaksa berbohong untuk menutupi kesedihan putrinya dan kesedihannya sendiri.Ia berharap ini semua hanya mimpi dan ketika bangun sosok yang sedang ditunggunya itu masih terlelap tidur disampingnya.Tangannya yang kekar melingkar di lehernya hingga kadang-kadang membuatnya sulit bernafas , lalu dengan gemas tangan itu ia pindahkan ke samping.Hmmmm...mimpikah atau nyata? kadangkala memang sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan.


.

__ADS_1


__ADS_2