Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab 5 Melayat


__ADS_3

Bu Mela mengemasi berkas yang ada di mejanya lalu berdiri,bersiap siap untuk pergi ke rumah Tuan, menyerahkan notulen meeting dan membahasnya bersama .Tetapi belum sempat kakinya melangkah ke luar ruangan, teleponnya berbunyi.


" Halo Bu Mela..." suara perawat di rumah Tuan yang bertugas menjaga Nyonya selama sakit, terdengar lirih seperti menahan tangis.


" Tuan menyuruh segera ke rumah sakit, Nyonya meninggal.,."


Bu Mela tersentak kaget.Tadi pagi memang Nyonya drop ,kabar itu Ia terima saat Tuan memimpin rapat.Dokter menelpon Bu Mela dan secepatnya meminta Tuan datang ke rumah sakit.


Tenyata hari ini Nyonya berpulang.Mendengar kabar duka itu mendadak tangan Bu Mela gemetar, wajahnya pucat ,ia terduduk lemas di kursi.Nyonya umurnya masih muda,orangnya sangat baik. Bu Mela merasa sangat kehilangan, karena ia cukup dekat dengan Nyonya.Sebagai sekretaris ia dipercaya untuk menangani urusan kantor dan seringkali urusan rumah dan keluarga Tuan, sehingga Bu Mela sering berhubungan langsung dengan Nyonya.


Kabar meninggalnya Nyonya, segera diumumkan ke seluruh karyawan.Semua karyawan kaget dan merasa sedih.Nyonya sangat baik kepada semua karyawannya.Baik yang berpangkat tinggi maupun office boy ataupun sopir.Semua karyawan merasa sangat kehilangan.


***


Rika ikut melayat ke rumah Tuan bersama rombongan karyawan.Semua karyawan tampak bersedih, sebagian besar menangis terisak-isak.Keluarga besar Narendra Grup berduka.


Ucapan duka cita dan karangan bunga dari relasi perusahaan terus mengalir.Bu Mela tidak henti-hentinya berbicara di telepon.Ia sibuk menangani semuanya.


Jenazah disemayamkan di ruang tengah yang sangat besar, besarnya mungkin 5 kali rumahku di kampung, batin Rika.Pilar pilar besar bercat putih dan gold berdiri kokoh di 4 sudut ruangan .Lampu kristal besar tergantung di langit langit .Lampu kristal itu tampak terdiri dari ratusan lampu lampu kristal kecil yang membentuk kerucut besar yang sangat artistik menjuntai dari atas ke bawah.Memantulkan cahaya ke seluruh ruangan ,terang tapi tidak membuat silau.


Tuan duduk di samping jenazah .Punggungnya membungkuk, tangan nya terus menerus mengusap usap wajah istrinya yang pucat dan dingin.Sesekali dia menghela nafas , sekedar untuk melepaskan beban di dadanya yang kian menghimpit.Kedua kakinya bersila , tapi dia merasa seakan melayang , pikirannya kosong . Urat sarafnya seperti mati rasa.Tidak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan kesedihan yang dirasakannya.


Ucapan duka cita dan doa-doa dari para relasi dan sanak saudaranya dijawabnya tanpa sadar.Bibir dan mulutnya bergerak tapi hatinya terasa beku.Istri yang sangat dicintai telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.Dia bingung apakah hari esok akan tetap datang tanpa kehadiran istrinya? Bagaimana ia akan menjalani kehidupannya setelah ini?


" Istriku.." dia berbisik, tapi tubuh itu tetap terbujur kaku.Tidak ada lagi senyum hangat di bibirnya, tidak ada lagi canda tawa riangnya.Diusapnya kembali wajah dingin itu.Seperti anak kecil ia berharap ada keajaiban.Tubuh kaku istrinya bisa bangun dan kembali menyapanya.Tapi itu tidak terjadi, dan tak akan pernah terjadi.


****

__ADS_1


Malam harinya setelah jenazah Nyonya selesai dimakamkan,diadakan acara tahlilan di rumah Tuan.Bu Mela yang mengatur semuanya meminta Rika untuk membantu.


Karena acaranya malam, Rika mengajak Susi.Ia takut pulang sendirian setelah acaranya selesai.


Banyak yang datang malam itu untuk memanjatkan doa buat almarhumah.Semua berdoa dengan khusyuk dipimpin oleh seorang Ustadz.Rika tidak melihat Tuan.Kata Bu Mela Tuan sakit dan harus istirahat.Tuan sangat terpukul , apalagi beberapa hari menjelang meninggalnya Nyonya dia sering tidak tidur .Hal ini yang membuat kesehatannya menurun.


Selesai acara pak Tanu menghampiri.


" Ayo saya antar pulangnya"


" Ga usah pak kita naik taxi saja"


" Udah ayo, sudah malam nanti lama nunggu taxi.Besok kan kalian harus kerja"


Mereka akhirnya menurut dan masuk ke mobil pak Tanu.


" Sekitar 30 tahun" jawab pak Tanu, dia melirik Rika " Nyonya sekilas mirip kamu "


" Ah masa? " Rika tak percaya.


" Mungkin hanya perasaan saya saja" pak Tanu buru-buru meralat, lalu melanjutkan " Nyonya cantik tapi orangnya simpel dan apa adanya.Walaupun harta berlimpah tapi penampilannya sederhana"


" Pantas Tuan sangat terpukul ya, ia sangat mencintai istrinya" Rika bergumam.


" Ya, pokoknya Nyonya itu benar-benar istri idaman"


Rika dan Susi mengangguk.Mereka sampai di tempat kost.Mobil berhenti, Susi dan Rika mengucapkan terima kasih dan turun dari mobil .

__ADS_1


Pak Tanu kembali mengemudikan mobilnya.


" Seandainya Rika bisa merasakan betapa aku peduli padanya" dia berkata pada dirinya sendiri.Ingin ia bisa mengungkapkan perasaannya, tapi ia khawatir gadis polos itu akan takut padanya dan mengganggu konsentrasinya dalam bekerja.Nanti saja kalau waktunya sudah tepat, pikirnya.Lalu ia melajukan mobilnya di jalanan yang semakin sepi.


****


Suasana berkabung masih menyelimuti kantor.Semua karyawan masih larut dalam kesedihan.Rata rata karyawan memang sudah lama bekerja di perusahaan itu.Jadi ikatan persaudaraan sangat erat terjalin.Apalagi yang meninggal adalah Nyonya, istri pemilik perusahaan .Kantin yang biasanya ramai pada saat istirahat , menjadi sepi.Orang orang hanya menikmati makan siangnya sambil berdiam diri.Kalaupun ada yang berbicara pasti seputar Nyonya.Tidak ada yang bercanda ataupun tertawa tawa.


Rika dan Susi yang sedang makan siang ikut terbawa suasana,walaupun mereka karyawan baru dan belum pernah bertemu dengan Nyonya.Mereka makan tanpa bicara, bahkan sangat hati hati , takut bunyi sendok dan garpunya membuat kaget di tengah suasana sepi itu.Selesai makan mereka buru buru ke luar.


" Sedih ya melihat suasana kayak gini.."


Susi berbisik setelah agak jauh dari kantin


" Iya, denger denger Nyonya orangnya sangat baik.Apalagi dulu sebelum sakit beliau sering ke kantor membantu Tuan, jadi semua karyawan mengenalnya dengan baik" Rika bercerita dengan berbisik bisik juga.


" Apakah mereka belum punya anak" tanya Susi masih dengan berbisik.


" Sudah , anaknya masih kecil.Lima tahun menikah mereka baru punya anak"


" Sakit kanker Nyonya ya?"


" Iya, sudah berobat sampai ke luar negri"


" Semoga Tuan kuat ya"


" He..eh, semoga Tuan kuat dan bisa melalui masa sulit ini" Rika mengangguk setuju.Ditinggalkan orang yang disayangi tentu sangat berat.Rika teringat Ibunya di kampung.Ia bisa membayangkan betapa sedih Ibunya saat ditinggal Ayah meninggal.Apalagi Ayah tidak meninggalkan harta , kecuali sepetak sawah dan rumah sangat sederhana.Rika masih kecil saat itu, tapi Ia ingat Ibunya sangat shock ,sedih dan bingung.Ia pingsan berkali kali di samping jenazah Ayah.Rika tidak tahu bagaimana setelah itu Ibu bisa bertahan dan bangkit untuk membiayai hidup dan menyekolahkan Rika, banting tulang dan memilih untuk tidak menikah lagi.

__ADS_1


__ADS_2